
Semenjak seminggu yang lalu, Naufal berada dalam pengawasan Faiq. Hampir setiap hari Faiq berada di ruangan Naufal. Jika Faiq ada di dalam, Annisa tidak akan berani masuk. Sebaliknya bila ada Annisa di dalam ruangan Naufal. Faiq tidak akan masuk ke dalam. Selain Faiq menjaga batasan dengan Annisa. Faiq tidak ingin terjadi kesalahpahaman diantara dirinya dan Fathan. Faiq melihat jelas kekaguman Fathan pada Annisa. Faiq sedikitpun tidak berpikir ingin mengenal Annisa atau wanita lain.
Hanya ada satu wanita yang mengusik benak Faiq selama ini. Tidak ada wanita lain yang mampu membuat Faiq berpaling. Cinta dalam diam Faiq yang tersimpan rapat. Tanpa ada yang menyadari, bahkan sang pemilik hati Faiq tidak pernah mengetahui perasaan Faiq. Selama ini Faiq selalu bersikap dingin. Seolah dia tidak pernah membutuhkan sang kekasih hati.
Sikap dingin Faiq menjadi setelah kepulangannya. Namun sikapnya akan hangat bila berhadapan dengan pasien-pasiennya. Faiq terkenal dengan keramahan dan tangan dinginnya. Setiap pasien merasa nyaman dan senang berada dalam penanganan Faiq. Sikap yang jarang terlihat dalam kehidupan sehari-harinya. Dingin sikap Faiq menurun dari Hana. Sejak kecil Faiq terbiasa hidup mandiri, berbanding terbalik dengan Fathan yang sedikit manja. Bahkan terkadang orang menganggap Faiq sebagai kakak dan Fathan adiknya. Kedewasaan Faiq lebih terlihat, tapi secara kepintaran dalam hal bisnis. Faiq tidak sepadan dengan Fathan. Baik Fathan dan Faiq memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing. Faiq mungkin tidak sepintar Fathan dalam hal bisnis. Namun sebagai seorang dokter muda Faiq patut diperhitungkan. Dia memiliki kemampuan diatas rekan seusianya.
Fathan dan Faiq memiliki watak dan karakter yang berbeda. Namun dalam kepintarannya, keduanya memiliki kelebihan dibidang yang berbeda. Fathan menjadi CEO muda penuh kesuksesan. Sedangkan Faiq menjadi dokter muda berbakat. Hana bangga pada kedua putranya. Sebab kepintaran mereka berguna bagi semua orang. Tidak pernah Rafa dan Hana membandingkan satu dengan yang lain. Bagi mereka kedua putranya lahir dengan kelebihan dan kelemahan yang berbeda. Rafa tidak pernah merasa kecewa pada Faiq yang tak pernah ingin menjadi pembisnis seperti dirinya. Rafa mengikuti keinginan Faiq yang ingin menolong sesama. Cita-cita mulia sang mama yang ingin Faiq wujudkan.
Malam ini Salsa dan Annisa datang berkunjung. Kesehatan Naufal semakin membaik. Perawatan yang diberikan Faiq membuahkan hasil. Namun Naufal masih harus bergantung pada kursi roda. Kondisi fisiknya melemah setelah kecelakaan itu. Setidaknya kondisi Naufal jauh lebih baik dari keadaan semula. Kedatangan Salsa malam ini, secara khusus ingin berterima kasih pada Faiq. Berkat bantuannya Naufal bisa sehat kembali. Perawatan yang diberikan Faiq sangat tepat. Sehingga Naufal bisa pulih dengan cepat. Perawatan yang selama ini ditunggu demi kesehatan Naufal.
Malam ini Diana juga akan datang. Mereka akan merayakan kesembuhan Naufal. Hana sengaja mengundang Diana sahabat terbaiknya. Sejak dulu mereka bertiga selalu kompak dan saling mendukung satu dengan yang lain. Dalam sekejap rumah Hana ramai, makan malam akan sangat spesial dengan kedatangan saudara dan sahabatnya. Dalam hidupnya Hana hanya mengenal satu saudara dan satu sahabat. Hanya Salsa dan Diana yang ada di setiap suka dan duka Hana. Ketiganya saling mendukung dan menguatkan.
Sekitar pukul 19.00 wib, semua orang berkumpul di halaman belakang rumah Hana. Makan malam yang sama pernah terjadi puluhan tahun yang lalu. Kini Hana ingin mengulang kenangan itu. Hana menempatkan dua meja makan besar. Satu untuk para orang tua, satu lagi untuk anak muda. Sengaja Hana memisahkan para orang tua dan anaknya. Agar mereka bisa berbicara sesuai dengan usianya. Hana ingin melihat keakraban diantara putra-putri mereka yang beranjak dewasa. Dalam hati Hana pernah berharap hubungan persahabatan menjadi persaudaraan. Dia tidak ingin kehilangan Diana atau Salsa.
Terlihat Naufal dan Salsa duduk berdampingan. Diana dan Adrian tepat di sebelah Hana. Rafa terlihat berwibawa, duduk di kursi utama. Sedangkan di meja para anak muda. Fathan duduk bersebelahan dengan Annisa dan Davina. Rey duduk tepat di samping sang kakak. Sebenarnya Fathan ingin mengundang Farah, tapi dia batalkan mengingat makan malam ini khusus kerabat. Hanya Faiq sang dokter muda yang tidak terlihat. Kiara dan Rizal berada di luar kota. Mereka belum kembali, Kiara dan Rizal memiliki satu putri cantik yang usianya sama persis dengan Davina dan Farah. Faiq seolah tidak peduli akan makan malam yang diadakan sang mama. Sikap dingin yang tidak pernah peduli pada perasaan orang lain. Sikap dingin yang dibenarkan oleh Faiq. Namun salah dimata keluarganya. Namun Faiq tetaplah Faiq yang keras. Tidak akan pernah ada yang bisa membujuknya. Jika Rafa atau Hana memaksa Faiq. Itu artinya mereka harus siap kehilangan Faiq.
" Kak Hana, kenapa sejak tadi aku tidak melihat Faiq? Apa dia sedang keluar? Annisa mengatakan padaku, Faiq masuk pagi. Jadi kemungkinan dia ada di rumah malam ini!" ujar Salsa lirih, Hana menggeleng lemah. Raut wajahnya berubah pias. Salsa melihat kesedihan Hana dengan jelas. Sebenarnya Hana sudah mengajak Faiq makan malam bersama. Namun dengan sopan Faiq menolak. Dia beralasan tidak terbiasa berkumpul. Hana sedih bukan karena penolakan Faiq. Hana merasa malu, karena sebagai tuan rumah Faiq tidak menghargai tamu. Apalagi Salsa khusus datang, untuk mengucapkan terima kasih. Sikap Faiq yang sangat salah menurut Hana, tapi dia juga tidak bisa memaksa Faiq untuk makan malam bersama mereka. Dilema seorang Hana menghadapi Faiq yang super dingin.
"Maafkan aku, Faiq tidak bersedia turun. Dia tidak terbiasa dalam keramaian. Sejujurnya aku merasa malu pada kalian. Faiq tidak bisa menghargai kedatangan kalian. Namun apa dayaku? Faiq bukan anak kecil, dia sudah mengetahui resiko dari sikapnya!" ujar Hana lirih sembari menunduk malu. Rafa mengangguk meminta maaf pada yang lain. Sikap Faiq murni pemikirannya. Davina dan Annisa seketika menunduk, seakan mereka kecewa mendengar Faiq tidak akan ikut makan malam bersama. Sedikit banyak Annisa dan Davina berharap bisa makan malam bersma Faiq. Namun kenyataannya mereka harus menerima keputusan Faiq yang tidak akan pernah ikut makan malam.
"Hana, tidak perlu kamu meminta maaf. Sikap dingin Faiq kami sudah mengetahuinya dan kami memaklumi itu. Sebaliknya seharusnya kalian bangga padanya. Dia seorang dokter yang bertangan dingin. Dia selalu merawat pasiennya dengan sabar. Saat Davina sakit, aku melihat Faiq begitu hangat. Kecemasan Faiq seakan takut tidak bisa menolong putriku. Biarkanlah Faiq tetap dalam dinginnya. Kelak saat ada wanita yang mampu menghangatkannya. Tentu dia akan bersedia mengenal kita!" tutur Diana bijak, semua orang mengangguk setuju. Akhirnya semua memulai makan malam tanpa Faiq. Tidak ada yang merasa keberatan dengan sikap Faiq. Semua menyadari sikap Faiq, bukan karena membenci tapi ada sesuatu yang sengaja ingin Faiq hindari. Semua orang memahami, sifat Faiq jelas menurun dari Hana yang selalu tertutup akan masalahnya.
Semua diam menyatap hidangan yang tersedia. Hanya terdengar suara piring dan sendok yang beradu. Semua orang terlihat menikmati masakan Hana. Kemampuan Hana tetap sama dalam hal memasak. Tidak ada yang bisa meragukan kenikmatan masakan Hana. Bahkan Rafa terpikat pada Hana karena masakan yang dibuatnya. Semenjak Hana membuatkan sarapan untuk Rafa. Sejak itu hati Rafa terikat pada Hana. Bukan karena kenikmatan masakan Hana semata. Namun ketulusan Hana membuatkan masakan yang tidak melukai Rafa. Membuat Rafa merasa berharga dan dilindungi. Rasa cinta yang tiba-tiba muncul tanpa bisa dikendalikan lagi.
__ADS_1
"Dokter Annisa, bisa aku meminta bantuanmu!" ujar Fathan sesaat setelah selesai makan malam. Annisa menoleh lalu mengangguk pelan. Sebuah senyum simpul Annisa utas dibalik cadar. Meski tidak terlihat, Fathan bisa menyadari senyum Annisa. Cukup tatapan penuh keteduhan Annisa yang membuat Fathan terpikat. Kedua mata indah yang membuat Fathan terpesona. Sopan santun Annisa membuat Fathan berpikir tidak ada wanita yang lebih baik Annisa.
"Silahkan, selama saya bisa membantu. Insyaallah saya akan melakukannya. Namun sebelum itu, jauh lebih baik anda memanggilku dengan nama. Terasa janggal bila anda memanggil saya dengan panggilan dokter. Meski usia kita berbeda jauh, tapi tetap saja anda kakak saya. Lebih baik panggil dengan nama saja. Agar kita bisa saling akrab. Kita sudah lama saling mengenal. Jadi kurasa tidak perlu sopan santun yang berlebihan!" ujar Annisa, dengan tegas Fathan mengangguk. Dalam hati Fathan bersorak. Dia satu langkah lebih dekat Annisa. Davina dan Rey menjadi penonton, mereka hanya menyimak saat Annisa dan Fathan saling bicara. Sejak awal Davina dan Fathan tidak pernah memiliki hubungan lebih dari pertemanan. Sedangka Rey tidak terlalu dekat dengan Annisa. Sehingga bagi keduanya tidak terlalu penting ikut campur urusan Annisa dan Fathan.
"Besok aku ada urusan ke luar kota. Jadi aku tidak bisa ke rumah sakit. Padahal besok aku akan ada rapat dengan beberapa bagian. Bisa tidak jika kamu menggantikanku. Nanti hasil rapat, berikan padaku!" ujar Fathan tanpa ragu, Annisa terdiam membisu. Dia takut mengambil tanggungjawab yang besar. Namun jika dia tidak menyetujuinya. Annisa akan menjadi orang yang egois. Lama Annisa menimbang, akhirnya Annisa menerima permintaan Fathan. Annisa hanya membantu sebatas dia mampu. Tidak akan melebihi kemampuannya. Sebab Annisa hanya seorang dokter tanpa latar belakang sebagai pemimpin.
"Baiklah aku akan membantumu. Namun seaandainya apa yang aku lakukan salah? Tolong maafkan aku, tanggungjawab ini terlalu besar. Sehingga aku takut mengecewakanmu. Jadi aku ragu melakukannya!" tutur Annisa, Fathan mengangguk memahami kegelisahan Annisa. Tidak mudah melakukan kerja sama atau bisnis tertentu. Butuh pengalaman yang tidak sedikit. Jatuh bangun seakan menjadi makanan sehari-hari. Butuh jiwa pejuang yang sangat tangguh. Tidak sekali atau dua kali Fathan jatuh. Dia harus berkali-kali terjatuh demi menggapai kesuksesan yang kini ada digenggamannya.
"Jangan cemas, aku akan mendukung setiap keputusanmu. Jika memungkinkan kita bisa saling menghubungi saat rapat berlangsung!" ujar Fathan, Annisa mengangguk pelan. Kekaguman Fathan pada Annisa semakin besar. Sikap hati-hati Annisa membuat Fathan merasa. Annisa akan menjadi istri dan calon ibu yang bijak. Tak ada alasan Fathan menolak pesona Annisa. Semakin dia mengenal Annisa, semakin Fathan menyukai pribadi Annisa.
"Kak Fathan, mulai minggu depan aku akan magang di rumah sakit. Jadi aku mohon bantulah aku, agar nilaiku tinggi!" ujar Davina, Fathan mengangguk sembari tertawa. Dia merasa ada yang sedang dikejar oleh Davina. Dia mengenal Davina melebihi siapapun? Kedekatan mereka terkadang dislah artikan oleh orang lain. Namun Fathan hanya menganggap Davina seperti adiknya sendiri. Fathan selalu melindungi Davina layaknya seorang kakak melindungi adiknya.
"Kenapa kamu magang di rumah sakit? Kenapa tidak di kantor kakak? Kamu sengaja melakukannya, karena ingin dekat dengan Faiq!" ujar Fathan menggoda, Davina menggeleng lemah. Sebaliknya Rey terlhat marah mendengar perkataan Fathan. Annisa menggelengkan kepala, seakan isyarat dia tidak ingin terlibat dalam perjodohan Davina dan Faiq. Annisa melihat raut wajah kecewa Rey. Meski keduanya tidak dekat, Rey tetaplah adiknya. Annisa bisa melihat cinta Rey pada Davina. Namun entah kenapa Rey sengaja menutupinya?
"Kenapa aku harus dekat dengan dia? Alasannya berada di rumah sakit, karenamu bukan aku. Jadi jangan pernah sangkut pautkan aku dengannya. Satu hal lagi, minta dia menjaga sikap selama di rumah sakit. Jangan mengacaukan pekerjaan orang lain. Dia hobi membuat masalah!" tutur Faiq yang sudah berdiri tepat di belakang Annisa. Davina menunduk sembari memegang dadanya yang terasa nyeri. Dia merasa sesak napas, setelah mendengar perkataan Faiq. Davina akan merasa biasa saja. Bila orang lain yang mengatakannya. Namun ini Faiq orang yang dia cintai. Alasan sesungguhnya Davina bekerja di rumah sakit. Dunia seakan runtuh menghantam tubuhnyam Davina marah dan kecewa mendengar Faiq sangat membencinya. Bahkan Faiq lebih tidak percaya bahwa Davina bisa bekerja.
"Dokter Annisa, ini rekam medis om Naufal. Semua sudah aku tulis, anda hanya perlu mengikuti langkah yang tertulis. Aku tidak bisa merawat om Naufal lagi. Besok pagi aku akan pergi, jadi akan keserahkan sepenuhnya pengobatan om Naufal padamu!" ujar Faiq, tangannya memberikan berkas berwarna merah pada Annisa. Dengan sopan Annisa menerimanya. Ada rasa aneh dalam hatinya. Sebuah rasa kehilangan yang tak bisa diartikan. Annisa tidak berharap Faiq meninggalkan tugasnya merawat Naufal. Namun seperti sebelumnya, tidak ada yang bisa memaksa atau menahan Faiq untuk tinggal.
Beberapa hari ini Annisa merasa nyaman saat menjadi makmum Faiq saat sholat di rumah sakit. Namun disisi lain, Annisa merasa bahagia bila sedang bersama Fathan. Annisa terjebak diantara dua saudara. Davina menunduk sangat dalam, sesaat setelah dia mendengar kepergian Faiq. Rasa cinta yang dulu dia kubur, entah sejak kapan muncul kembali? Sikap dingin Faiq selalu menyakitinya. Namun rasa kagum akan sosok Faiq seakan membuatnya tetap tegar. Seolah perkataan Faiq belum cukup melukainya, kini Davina harus mendengar kepergian Faiq. Entah kenapa Faiq selalu pergi di saat Davina ingin mendekat? Sikap yang selalu sama dan menyakiti Davina. Air mata Davina seakan kering menghadapi sikap dingin Faiq. Namun hanya Faiq yang mampu membuat Davina tersenyum dan merasa bahagia. Itulah cinta sejati, menyakitkan sekaligus membahagiakan.
"Tunggu Faiq, kenapa kepergianmu mendadak? Bukankah semua baik-baik saja selama ini. Kenapa sekarang kamu pergi lagi? Faiq berlari bukan cara menyelesaikan masalah. Hadapilah dengan berani. Katakan pada Kakak, apa yang sebenarnya sedang kamu hindari?" ujar Fathan dengan raut wajah terkejut. Faiq hanya diam membisu. Dia tidak menjawab pertanyaan Fathan, mungkin juga pertanyaan orang-orang yang sayang pada Faiq. Dia akan tetap diam selama Faiq masih mampu menyelesaikannya. Tidak pernah Faiq berpikir ingin bergantung pada orang lain. Terutama pada kakaknya Fathan atau kedua orang tuanya.
"Semua sudah aku putuskan, aku akan pergi beberapa minggu. Aku akan menjadi relawan gempa di kota terpencil. Mereka butuh bantuanku. Jadi salah jika berpikir aku menghindari sesuatu!" ujar Faiq lirih, lalu berjalan menjauh. Rafa dan Hana sudah mengetahui keputusan Faiq. Sekali lagi mereka kalah oleh keras hati Faiq. Tidak akan ada yang bisa merubah keputusan Faiq. Termasuk Hana orang yang paling disayangi Faiq. Dia akan tetap pergi bila demi kemanusiaan.
__ADS_1
"Kenapa kak Faiq? Kenapa harus pergi lagi? Apa yang sedang kamu pikirkan? Kamu terus berlari menjauh dari keluargamu. Apa kepergianmu kali ini? Kerena keberadaanku. Jika memang iya, aku siap menjauh. Selama kamu bersedia tetap tinggal. Apa sebenarnya kesalahanku? Sehingga aku harus menerima kebencianmu. Sikap dinginmu membuatku membeku, hatiku tak lagi menghangat dan tulangku tak lagi mampu berdiri tegak. Perkataan yang terucap dari bibirmu. Mampu membunuhku, meninggalkan rasa sesak yang teramat. Haruskah aku mendatangimu, bertanya alasan untuk setiap kebencianmu!" batin Davina pilu, akhirnya dia berdiri masuk ke dalam rumah. Dia berjalan dalam kondisi yang sangat kacau. Davina hancur, bukan karena sikap dingin Faiq atau rasa yang harus dia kubur. Namun kepergian Faiq seakan membawa misteri yang harus dia selesaikan.
Tok Tok Tok
Terdengar suara pintu kamar Faiq diketuk. Dengan segera Faiq membuka pintu kamarnya. Faiq terkejut saat melihat Davina berdiri mematung di depan kamarnya. Entah keberanian apa yang membuat Davina mengetuk pintu kamar Faiq? Sesuatu yang tidak mungkin dilakukan Davina. Bahkan tidaj pernah ada dalam bayangan Davina. Sekarang dengan penuh keyakinan Davina mengetuk pintu Faiq. Bertanya alasan kepergian Faiq.
"Ada apa?" ujar Faiq dingin, dia bersandar di daun pintu kamarnya. Terlihat beberapa baju di atas tempat tidurnya. Ternyata Faiq sedang berkemas. Kepergian Faiq bukanlah kebohongan, dia akan pergi dan entah kapan Faiq akan kembali? Davina semakin sesak melihat Faiq sedang bersiap. Davina seolah tak lagi mampu membendung kesedihannya. Ingin rasanya Davina berlari memeluk Faiq. Menahan tubuh Faiq, agar tidak menjauh.
Davina mematung di depan kamar Faiq. Dia terdiam melihat semua persiapan kepergian Faiq. Dadanya terasa sesak, kedua matanya terasa panas. Davina bingung mengatakan isi hatinya pada Faiq. Sikap dingin Faiq membuat tubuh Davina membeku. Sedangkan Faiq melakukan hal yang sama. Dia diam menanti Davina berbicara. Dia ingin mengetahui alasan dibalik keberanian Davina mengetuk pintu kamarnya. Lama Davina dan Faiq terdiam, suasana malam yang sepi semakin sunyi. Suara detak jam dinding terdengar sangat nyata.
"Kak Faiq!" sapa Davina, sontak Faiq mendongak. Dia menatap wajah Davina yang terlihat sedih. Tak ada senyum yang pernah membuat Faiq merasa teduh.
"Tidak bisakah kak Faiq tetap tinggal. Maafkan aku, bila keberadaanku membuatmu terluka. Aku tidak bisa melihatmu pergi lagi. Tinggallah bersama keluargamu, mereka membutuhkanmu. Sebagai gantinya aku akan pergi dari kota ini!" ujar Davina, Faiq menunduk. Dia diam tidak menggubris perkataan Davina. Sebab Faiq tetap akan pergi, dengan atau tanpa restu keluarganya.
"Kak Faiq, aku mohon tetaplah disini!" ujar Davina lagi. Faiq berdiri dengan tegak, dia menarik tubuh Davina. Menyandarkan tubuhnya di dinding kamarnya. Faiq mengurung tubuh mungil Davina dengan kedua tangannya yang menopang di dinding. Davina memejamkan kedua matanya. Dia takut melihat wajah Faiq yang begitu dekat. Desiran hangat mengalur dalam tubub Faiq, hembusan napas Faiq menyentuh lembut pipi Davina. Sedangkan Davina tak mampu lagi mengendalikan hawa napsunya. Detak jantungnya berdetak lebih cepat dari jarum jam. Keduanya larut dalam angan yang berbeda.
"Davina Nur Latifah, cahaya cinta yang lemah lembut. Seorang gadis yang pernah menggetarkan hatiku. Seorang teman yang membuatku merasa hangat ketika menatap senyummu. Seorang saudara yang pernah mengukir indah kisah dihatiku. Seorang gadis yang membuatku enggan mengenal wanita lain. Wanita berhijab yang membuatku terpesona, sekaligus menderita. Itulah pendapatku tentang dirimu selama ini. Wanita yang aku impikan dan ingin aku jauhi. Kamu benar jika kepergianku karena keberadaanmu. Aku tersiksa setiap kali melihat wajah polosmu. Aku marah setiap kali menatap kamu tersenyum pada orang lain. Aku terpuruk ketika mengingat kamu bukan untukku, kita tidak ditakdirkan berjodoh. Selemah arti namamu, selemah itu kekuatan rasa diantara kita. Aku pergi untuk mencari jati diri. Meski kamu pergi, tidak akan merubah apapun. Kita selalu berada di persimpangan jalan yang berbeda. Sebaiknya kamu menjauh dariku dan aku menjauh darimu!" tutur Faiq, lalu menjauh dari Davina. Meninggalkan Davina yang shok mendengar kejujuran isi hati Faiq.
"Pergilah, aku harus istirahat!" ujar Faiq dingin tanpa rasa iba sedikitpun pada Davina.
"Kak Faiq, jika memang rasa itu ada. Kenapa kamu mengacuhkannya? Apa aku tak pantas menerima rasa itu? Sehina apa diriku? Sampai kamu mengacuhkan rasa yang telah ada. Meski cahaya cintaku lemah, tapi aku percaya rasa itu teguh untukku. Buktinya rasa itu ada sampai saat ini. Sikap dinginmu menjadi jawaban adanya rasa itu. Seandainya memang rasa itu tak pantas ada, katakan padaku? Apa yang membuatmu menganggap diriku tak layak untukmu!" tutur Davina, Faiq memutar tubuhnya. Menghadap ke arah Davina.
"Rasa itu tak pantas ada, karena bukan aku orang yang akan menggenggam tanganmu. Rasa itu tak pantas ada, karena lengan orang lain yang akan menjadi sandaranmu. Rasa itu tak pantas ada, karena tubuh laki-laki lain yang akan melindungi. Aku harap malam ini semua berakhir. Meski sulit aku melupakan rasa yang terlanjur ada. Demi sebuah janji persahabatan, aku siap belajar melupakan keberadaan dirimu. Sekarang pergilah, aku tidak ingin melihatmu!" ujar Faiq ketus, dia membanting pintu kamarnya dengan sangat keras.
__ADS_1
Brraaaakkk
"Kamu kejam, kamu tak berhati!" ujar Davina lirih, sembari mengusap air mata yang terlanjur menetes.