KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Makmum yang diimpikan...


__ADS_3

"Annisa Maulida Zahro!" sapa Fathan ramah, Annisa menoleh. Terlihat Fathan duduk tak jauh darinya. Annisa duduk di teras masjid. Kebetulan Annisa dan Fathan berada di jalan saat magrib tiba. Sebab itu mereka memutuskan untuk berhenti sekadar sholat magrib. Kebetulan yang baik, Fathan dan Annisa bertemu. Awalnya Fathan ragu menyapa Annisa. Dia takut salah mengenali orang. Ternyata dugaannya tidak salah. Wanita bercadar yang dilihatnya, benar-benar Annisa Maulida Zahro. Dokter bercadar yang mengganggu malamnya. Wanita yang mengusik batinnya semenjak pertemuan pertama mereka di bandara.


"Fathan, kebetulan sekali kita bertemu disini. Awalnya aku ingin bertemu denganmu. Ada yang ingin aku sampaikan!" tutur Annisa lirih, Fathan mengangguk mengerti. Dengan hati berbunga, Fathan mengiyakan perkataan Annisa. Dia sangat bahagia mendengar, jika Annisa ingin menemuinya. Annisa berdiri dari teras masjid. Dia berjalan menuju mobilnya. Tanpa dikomando Fathan mengikuti langkah Annisa. Fathan tidak menyangka, jika Annisa ingin bicara berdua dengannya.


"Lebih baik kita bicara di warung depan masjid. Sembari kita menunggu waktu isya. Kita tinggalkan saja mobilnya disini!" ujar Annisa lirih, seraya menoleh pada Fathan yang berjalan disampingnya. Keduanya berjalan beriringan menuju luar masjid. Annisa memilih duduk di sebuah warung kecil. Annisa seolah tidak canggung berada di warung kecil.


Sebuah warung kecil yang terletak tepat di depan masjid. Hanya tersedia minuman dan beberapa jenis gorengan di meja. Annisa langsung duduk di salah satu meja. Seorang wanita paruh baya keluar hendak menawarkan minuman. Fathan terus memperhatikan Annisa. Rasa heran menyelimuti hati dan pikiran Fathan. Dokter hebat sekelas Annisa memilih duduk di dalam warung kecil. Tidak ada rasa risih atau jijik yang terlihat. Annisa seolah sudah terbiasa dengan warung-warung kecil seperti ini. Bukan cafe-cafe tempat anak muda berkumpul. Apalagi kehidupan Annisa selama di luar negeri. Akan sangat jauh dengan kesederhanaan ini.


Sang pemilik warung datang menawarkan minuman. Annisa seketika memesan segelas teh dan kopi. Fathan terdiam membisu, dia tidak pernah duduk di warung kecil seperti ini. Fathan sangat canggung, tidak seperti Annisa yang sudah terbiasa. Fathan sangat kagum akan sosok Annisa yang bersahaja. Dia bisa menempatkan diri, dimana dia berada? Sungguh kesederhanaan Hana yang seakan melekat dalam diri Annisa. Fathan semakin terpesona oleh kesucian hati Annisa.


"Sederhana, penuh dengan kelembutan. Aku melihat mama dalam dirimu. Cahaya iman yang selalu mama tanamkan padaku. Kesahajaan yang nampak jelas dimataku. Prinsip hidup yang ada dalam setiap langkahmu. Sosok yang selalu aku impikan dalam setiap mimpiku. Bukan wanita yang penuh dengan harta, melainkan wanita yang menghargai harta sebagai titipan. Bukan wanita dengan kecantikan wajah, melainkan kecantikan hati yang menghargai orang lain. Bukan wanita yang hanyut dalam perkembangan zaman, melainkan zaman yang mengikuti dirinya. Annisa Maulida Zahro, setiap yang ada dalam dirimu membuatku kagum. Keimanan yang terpancar nyata, membuka kedua mataku. Hanya dirimu makmum yang aku rindukan. Kesederhanaan hidupmu, seakan mengajarkanku arti sejati hidup. Menyadarkan diriku, bahwa aku hidup dengan kenikmatan tiada tara. Kemewahan hanyalah titipan yang tak berarti untukmu. Kelembutan sikapmu menghargai orang yang lebih tua. Membuatku yakin, dirimu mampu menjadi putri dari orang tuaku. Putri yang akan menjaga mereka layaknya orang tuamu sendiri. Aku bukan laki-laki sempurna, tapi aku yakin bersamamu akan membuatku sempurna. Imanku yang lemah, akan kuat seiring aku mengenal iman yang kamu pegang teguh. Aku tidak butuh kecantikan wajahmu. Hanya kecantikan hatimu yang senantiasa aku dambakan. Pantaskah aku menjadi imam dunia akhiratmu? Bersediakah kamu menjadi pemilik tulang rusukku? Penopang hidupnku yang telah hilang selama ini!" batin Fathan sembari menatap Annisa. Terlihat Annisa mengambil sesuatu dari tasnya.

__ADS_1


"Fathan, aku ingin memberikan ini. Berkas-berkas rumah sakit. Aku sudah menyelesaikan semuanya. Tidak ada lagi yang harus kamu khawatirkan. Aku tidak bisa lagi membantumu!" ujar Annisa lirih, Fathan mengeryitkan dahi tidak mengerti. Dengan raut wajah bingung, Fathan menerima berkas yang diberikan Annisa. Dia tidak mengerti maksud perkataan Annisa. Perkataan Annisa seolah mengisyaratkan sebuah perpisahan.


"Kenapa kamu tidak bisa membantuku? Memangnya kamu akan pergi!" ujar Fathan lirih, Annisa mengangguk tanpa ragu. Kedua bola mata Fathan membulat sempurna. Dunianya seakan runtuh, Fathan tidak menyangka jawaban Annisa telah menghancurkan hatinya. Seketika Fathan menunduk. Dia tidak mampu lagi berbicara. Suaranya menghilang tanpa sisa. Ada rasa sakit di dadanya, harapannya bersama Annisa hancur. Fathan tidak lagi bisa berdiri menopang tubuhnya.


"Besok malam aku akan kembali. Urusanku dikota ini sudah selesai. Keadaan papa sudah membaik. Lagipula ada dokter Faiq yang menjaganya. Jadi aku tidak perlu khawatir akan kesehatan papa. Ada dokter-dokter hebat yang menjaganya!" ujar Annisa, fathan menunduk lesu. Annisa memberikan harapan, lalu menghancurkannya. Senyum yang terlihat di wajahnnya. Seakan menabur garam di atas perih hatinya. Fathan tak lagi mampu berkata apa-apa? Semua sudah berakhir tanpa bisa diperaiki. Lama Fathan terdiam, dia berusaha memberanikan diri bertanya pada Annisa. Fathan ingin mengatakan semua isi hatinya. Fathan mengumpulkan seluruh keberaniannya. Dia akan berusaha membujuk Annisa agar bersedia tetap tinggal.


"Tidak bisakah kamu tinggal. Setidaknya jika bukan demi om Naufal. Tinggalah demi mama atau alasan yang lain!" ujar Fathan lirih, Annisa menggeleng lemah. Fathan semakin terluka. Ketika Annisa mengangguk, Fathan berharap Annisa menggeleng. Namun saat Annisa menggeleng, Fathan berharap melihat Annisa mengangguk. Fathan terpuruk dan sangat kacau. Dia mendengar Annisa mengucapkan perpisahan. Sebuah kata yang tidak pernah ingin Fathan dengar.


Terdengar suara murrotal masjid, menandakan waktu isya segera datang. Annisa mengajak Fathan kembali ke dalam masjid. Setelah membayar minuman, Annisa berjalan menuju masjid. Fathan mengikuti langkah Annisa dengan lemah. Dia tak lagi bisa berdiri tegak. Namun dalam hati Fathan berjanji akan berusaha sampai detik terakhir.


"Tunggu, seandainya ada laki-laki yang mengkhitbahmu. Seseorang yang ingin menjadikanmu makmum dunia akhiratnya. Akankah kamu tinggal dan menetap di kota ini!" ujar Fathan, Annisa menoleh seraya tersenyum. Sebuah senyum yang mungkin akan menghilang seiring kepergian Annisa. Fathan melihat cahaya cinta yang mulai meredup. Namun sekilas Fathan melihat harapan dari senyum Annisa.

__ADS_1


"Aku akan tinggal, ketika tanganku sudah menemukan pegangannya. Tidak ada alasanku pergi. Seandainya imamku menginginkan aku tinggal. Siapapun imam dunia akhiratku? Dialah laki-laki yang terbaik dan terpilih untukku. Bukan imam berharta dan bertahta. Aku butuh imam yang mampu memberiku mahar termahal di dunia. Mahar iman dan islam yang kelak akan menuntunku menuju jannah-NYA!" ujar Annisa lirih, sontak Fathan tersenyum. Dia berjalan cepat mendampingi Annisa. Lalu dengan tegas berbisik pada Annisa. Fathan mengatakan dengan penuh keyakinan dan kepercayaan. Bahwa dia mampu menjadi imam yang diharapkan Annisa.


"Malam ini akan kukatakan pada dunia, kamu makmum yang aku impikan. Tanganku yang akan menggenggam tanganmu. Ikutlah denganku pulang, mama akan meminangmu secara langsung. Akan kupastikan hanya padamu hatiku berlabuh. Akan kujadikan iman dan islam sebagai mahar pernikahan kita!" bisik Fathan lirih, Annisa menggeleng. Seakan tidak percaya akan perkataan Fathan. Annisa terdiam mendengar suara azan isya. Fathan menatap Annisa lekat. Seseorang yang tidak percaya akan kesungguhan hatinya. Wanita yang dia impikan meragukan ketulusan hatinya. Namun Fathan tidak patah semangat. Dia yakin Annisa akan percaya pada ketulusannya kelak.


"Muhammad Fathan Alfarisqi, segala sesuatu yang ada di dunia ini tidak pasti. Jangan pernah berjanji akan sesuatu yang belum tentu bisa kamu tepati. Selalu tanamkan dalam hatimu, segala yang pasti hanya milik-NYA. Bukan milik kita, karena kita berjalan dengan ketetapan dan kepastian-NYA. Hanya suara azan yang pasti akan memanggil hamba yang beriman. Tanpa lelah dan merasa merugi. Aku percaya akan perkataanmu. Namun aku tidak akan meyakini. Jadi tidak akan ada tuntutan dalam janjimu. Kita akan bertemu mama Hana. Seandainya kita berjodoh, tentu aku akan datang ke masjid ini dengan status menjadi istrimu!" tutur Annisa lirih, Fathan terdiam membisu. Semua yang dikatakan Annisa membuat tubuhnya bergetar, seakan ada sesuatu yang janggal. Annisa merasakan desiran aneh dihatinya. Dia tidak percaya pada perkataan Fathan. Namun dalam hati terdalamnya dia berharap. Fathanlah yang kelak menjadi imamnya.


"Mama, pasti menyetujui permintaanku!" sahut Fathan lantang, sebaliknya Annisa menggeleng lemah. Seakan dia merasa dirinya bukan menantu yang diidamkan Hana.


"Mama Hana mengetahui yang terbaik untuk putranya. Siapapun yang dia pilihkan untukmu? Terimalah, yakinlah ridhonya itu ridho Allah SWT. Jangan pernah membencinya, jika bukan aku makmum yang dia pilih untukmu!" ujar Annisa, dia berjalan menuju masjid. Fathan diam mematung, ada rasa takut sesaat setelah mendengar perkataan Annisa.


"Mama, mungkinkah yang dikatakan Annisa ini benar. Akankah mama menjadi orang yang paling menyakitiku. Sanggupkah aku menolak permintaanmu, seandainya bukan Annisa jodoh yang kamu pilihkan untukku. Mampukah aku menyakiti hatimu. Melanggar janji yang pernah aku ucapkan dulu. Mama, aku memilih Annisa karena dia mengingatkanku akan dirimu. Kebaikan hati dan kesederhanaan hidup yang dia miliki. Mengingatkanku akan kasih sayangmu. Namun demi mama, aku sanggup mengubur dalam rasa ini. Hanya mama, wanita yang akan selalu ada dalam langkahku. Tanganmu yang akan selalu aku genggam erat. Sampai mama melepas tanganku untuk makmumku!" batin Fathan.

__ADS_1


__ADS_2