
"Bundaaaaaa!" teriak Vania melengking. Raihan seketika terbangun, ketika dia mendengar suara teriakan Vania.
Vania menjerit sekuat tenaga memanggil Kiara. Dalam keadaan tidur Vania memanggil nama Kiara. Seolah dia sedang bermimpi hal yang buruk. Entah kenapa Vania memanggil Kiara? Apapun yang ada dalam mimpi Vania. Raihan terlihat panik melihat Vania menjerit. Raihan melihat kedua mata Vania masih tertutup rapat.
Raihan mengguncang tubuh Vania pelan. Terlihat Vania masih menutup kedua mata indahnya. Keringat dingin menetes membasahi wajah Vania. Raihan cemas melihat kondisi Vania yang tiba-tiba demam. Raihan mencoba membangunkan Vania, tapi tinggi suhu badan Vania. Membuat kedua mata Vania tertutup rapat. Raihan menyentuh pelipis Vania. Terasa sangat panas, sedangkan tubuhnya menggigil kedinginan. Bibir Vania mulai terlihat membiru dan pucat.
Raihan menarik tubuh Vania ke dalam pelukannya. Berharap Vania merasakan kehangatan tubuhnya. Setidaknya Vania tidak akan terlalu kedinginan. Raihan mencoba menyadarkan Vania. Namun Vania semakin kehilangan kesadaran. Raihan kalut melihat kondisi Vania yang terus menurun.
"Mamaaaa!" ujar Vania lirih, Raihan mendengar rintihan Vania. Suara lirih yang menyayat hatinya. Tubuh Raihan seakan lemah, tak mampu berpikir apapun. Hanya ada rasa takut kehilangan Vania. Selama mereka menikah, baru pertama kali ini. Raihan melihat Vania sakit.
Dalam kekalutannya, Raihan mengingat Faiq. Kakak sekaligus dokter pribadi Vania. Entah apa yang terjadi pada Vania? Akhir-akhir ini Vania sering melakukan konsultasi pada Faiq. Awalnya Raihan merasa biasa, sebab Faiq kakak laki-laki yang paling dekat dengan Vania. Raihan berpikir kehamilan Vania sedikit membuat Vania takut akan terjadi sesuatu. Jadi dia mencari Faiq sekadar untuk mencurahkan kegelisahan hatinya.
Rasa yang awalnya berubah menjadi kecemasan yang tak berujung. Ketika Raihan sering melihat Vania berdiri mematung menatap senja. Bukan sekali atau dua kali, Raihan melihat Vania berdiri menatap senja dengan sangat lama. Vania mampu berdiri hampir satu jam. Hanya demi melihat senja yang menyeruak di ufuk timur. Meski tidak pernah bertanya, Raihan jelas menyadari kegelisahan Vania. Sebab tidak akan mungkin Vania menatap senja begitu lama. Bila hatinya tidak sedang dalam kondisi cemas dan gelisah.
Sembari mendekap tubuh Vania, Raihan menghubungi Faiq. Kebetulan Faiq sedang berada di rumah sakit. Ada pasien gawat yang membutuhkan pertolongannya. Sebab itu Faiq ada di rumah sakit. Setelah berbicara dengan Faiq, Raihan membawa Vania menuju rumah sakit. Dia mengemudikan sendiri mobilnya menuju rumah sakit. Vania masih tidak sadarkan diri. Raihan semakin cemas, melihat keringat dingin yang terus menetes dari pelipis Vania. Sesekali Raihan mengusap lembut keringat Vania.
"Kak Faiq!" panggil Raihan sesaat setelah tiba di ruang IGD rumah sakit. Raihan langsung memanggil Faiq, ketika dia melihat Faiq sedang berbicara dengan seorang dokter.
Raihan meletakkan Vania di ranjang rumah sakit. Faiq menghampiri Vania bersama dokter Rima. Dokter spesialis kandungan yang menangani Vania selama ini. Faiq langsung menghubungi Rima begitu dia menerima telpon dari Raihan. Faiq takut terjadi sesuatu pada kandungan Vania. Ada beberapa obat yang tidak bisa dikomsumsi ibu hamil. Dan hanya dokter Rima yang tahu detailnya. Faiq takut melakukan kesalahan. Bila menangani Vania sendirian.
"Raihan, tunggulah disini. Aku akan memeriksa Vania bersama dokter Rima!" ujar Faiq lirih, Raihan menggeleng lemah. Dia ingin terus berada di samping Vania.
Sedetikpun Raihan tidak ingin meninggalkan Vania. Dia ingin selalu ada di samping Vania. Meski dia tahu Faiq akan melakukan apapun demi kesembuhan Vania. Namun Raihan tetap cemas memikirkan kondisi Vania. Raihan hanya akan tenang bila berada di samping Vania.
__ADS_1
"Kak Faiq, aku mohon biarkan aku tetap di samping Vania. Aku janji tidak akan mengganggu kalian. Aku mohon!" ujar Raihan lirih, sembari menangkupkan kedua tangannya. Faiq diam membisu, dia bingung akan menjawab apa?
Seandainya permintaan Raihan tidak melanggar peraturan rumah sakit. Mungkin dengan mudah Faiq akan mengizinkan. Sebagai seorang suami dia bisa merasakan kekhawatiran Raihan. Namun sebagai seorang dokter dia tahu benar resiko yang kemungkinan terjadi. Bila Raihan berada di dalam ruang perawatan Vania. Statusnya sebagai pemimpin sekaligus pemilik rumah sakit tidak berarti. Sebab di atas semua itu, ada peraturan dan kode etik penanganan pasien yang harus diikuti Faiq.
"Tetaplah disini, percayalah Vania akan baik-baik saja. Jika kamu memaksa, aku terpaksa meminta tim keamanan memaksamu keluar dari rumah sakit. Apapun yang kulakukan, semua demi kebaikan Vania!" ujar Faiq tegas, Raihan tertunduk lesu. Perkataan Faiq terdengar final.
Faiq bukan pribadi yang bisa ditawar. Selama ini dia selalu tegas, bila berhubungan dengan kesehatan seseorang. Apalagi sekarang kesehatan Vania yang sedang Faiq perjuangkan. Tanpa menunggu bantahan dari Raihan. Faiq berjalan masuk ke dalam ruang perawatan Vania.
"Kak Faiq!" panggil Raihan memelas, sontak Faiq menoleh dengan tatapan tajamnya. Bak tatapan mata burung elang yang siap memangsa buruannya. Raihan mundur beberapa langkah, tubuhnya lemas membentur dinding rumah sakit. Faiq berlari menghampiri Vania.
Raihan menatap punggung Faiq yang menghilang, bersamaan dengan ditutupnya pintu ruang perawatan Vania. Raihan hanya bisa diam menunggu Faiq keluar. Dengan harapan Vania akan baik-baik saja. Tidak ada yang lebih diinginkan Raihan selain kesembuhan Vania.
"Raihan!" ujar Rafa, dia datang bersama Hana dan Fathan. Faiq sempat menghubungi keluarganya. Mengatakan jika Vania dilarikan ke rumah sakit. Sebab itu Fathan datang bersama Hana dan Rafa. Kecemasan dan rasa khawatir Raihan sebanding dengan rasa cemas mereka yang menyayangi Vania.
"Bukan lemah yang dibutuhkan Vania. Namun kuatmu yang ingin dilihat Vania. Yakinlah Vania baik-baik saja. Ada Faiq yang akan merawatnya. Percayakan semua pada dokter yang merawatnya. Jika kamu tidak bisa tenang, siapa yang akan menenangkan dan menjaga Vania!" ujar Rafa, Raihan hanya diam.
Hana berdiri di depan pintu, dia menunggu Faiq keluar membawa kabar gembira. Mengabarkan kondisi Vania baik-baik saja. Fathan berdiri di samping Hana. Dia mencoba menghibur Hana. Meski Vania tidak terlahir dari rahim Hana. Fathan memahami jika Vania sudah selayaknya putri bagi Hana.
Sekitar satu jam Faiq melakukan pemeriksaan pada Vania. Tak berapa lama terlihat Faiq keluar bersama dokter Rima. Segera Raihan bangkit menghampiri Faiq. Dia ingin mengetahui kondisi Vania yang sebenarnya.
"Tenang Raihan, Vania sudah baik-baik saja. Namun kondisinya belum pulih. Dia masih harus terus dipantau. Jadi sementara waktu aku menempatkan Vania di ruang khusus. Akan ada perawat yang menjaganya selama 24 jam. Jika memungkinkan besok pagi, Vania baru akan kupindahkan ke ruang rawat biasa!" tutur Faiq lirih, sebelum Raihan sempat bertanya.
Meski kabar yang dikatakan Faiq masih belum memuaskan. Namun setidaknya mereka mengetahui Vania sudah melewati masa kritisnya. Raihan bersyukur mendengar Vania sudah sedikjt lebih baik. Dia tidak masalah apapun perawatan yang diberikan Faiq pada Vania. Selama itu bisa membuat Vania sehat kembali.
__ADS_1
"Terima kasih sudah merawat Vania, tapi apa yang terjadi pada Vania? Kenapa kak Faiq belum mengatakannya?" ujar Raihan lirih, semua orang mengangguk membenarkan perkataan Raihan.
Raihan merasa aneh dengan sakitnya Vania. Faiq juga terlihat berbeda. Seolah ada yang sedang Faiq sembuyikan. Dengan nyata Raihan melihat sikap gugup Faiq. Seolah ada rahasia yang sedang Faiq sembuyikan. Raihan merasa pantas mengetahui alasan tumbangnya Vania. Sebagai suami dia berhak menjadi orang pertama yang mengetahui alasan sakit Vania.
Faiq menghela napasnya panjang. Jelas ada yang sedang membebani pikirannya. Raut wajah Faiq seketika berubah pias. Raihan menangkap ada sesuatu yang salah dengan kondisi Vania. Bahkan Rafa dan Hana menyadari semua itu.
"Faiq, mama mohon katakan yang sebenarnya!" ujar Hana tegas, Faiq mengangguk lemah. Hana juga merasa Faiq sedang menyembuyikan sesuatu. Ada alasan yang kuat dibalik tumbangnya Vania. Hana merasa penasaran akan tumbangnya Vania. Berkat desakan Hana. Faiq mulai mengatakan alasan tumbangnya Vania.
"Vania mengalami depresi, sehingga tekanan darahnya tinggi. Sempat Vania mengalami kejang dan demam. Semua itu reaksi tekanan darah yang terlalu tinggi. Jika kita terlambat melakukan penanganan. Kemungkinan terburuk Vania akan mengalami pecah pembuluh darah otak. Sehingga Vania akan mengalami koma. Sesak napas yang sempat terjadi, imbas dari kadar oksigen yang mulai menipis!" ujar Faiq tegas, Raihan menggelengkan kepalanya berkali-kali. Dia tidak percaya akan perkataan Faiq.
Jangankan Raihan, Hana dan Rafa tidak percaya. Bila Vania yang selalu ceria mengalami depresi. Apa yang sedang terjadi pada Vania? Sampai dia mengalami depresi dan tekanan darahnya tinggi. Pola hidup Vania sangat sehat, dia selalu tepat waktu saat istirahat. Vania selalu mengkonsumsi vitamin dan susu ibu hamil. Jadi sangat tidak mungkin bila Vania mengalami gejala depresi.
"Maaf Raihan bila semua ini membuatmu terkejut. Namun faktanya memang seperti itu. Aku hanya mengatakan sesuatu yang aku ketahui. Tentang alasan kenapa Vania mengalami semua itu? Hanya Vania yang berhak mengatakannya. Aku tidak berhak mengatakan semua itu. Namun seandainya Vania tidak sanggup mengatakannya padamu. Aku yang akan mengatakannya!" ujar Faiq, Rafa mendekat pada Faiq.
"Apa semua ini ada hubungannya dengan tantemu Kiara?" ujar Rafa dingin, Faiq mengangguk pelan. Rafa menghela napas panjang. Hana dan Fathan tak mengerti apa yang terjadi? Mereka memang menyayangi Vania, tapi sifat Vania yang tertutup. Membuat mereka sulit melihat permasalahan yang disimpan Vania. Beberapa hari yang lalu Kiara sempat menghubungi Rafa. Menceritakan semua yang terjadi diantara dirinya dengan Sabrina. Sebab itu Rafa langsung sadar akan alasan tumbangnya Vania. Jelas terlihat kecemasan yang menguasai raut wajah Faiq. Kecemasan yang sama di wajah semua orang.
"Raihan, kamu tidak perlu mencemaskan apapun. Jagalah Vania, jangan buat dia khawatir. Masih ada papa disini yang akan menyelesaikan semuanya!" ujar Rafa tegas, lalu menoleh ke arah Fathan. Hana semakin tidak mengerti dengan sikap Rafa.
"Fathan, besok pagi panggil pengacara kita. Papa ingin bicara dengannya. Sekaligus papa minta siapkan dokumen pengalihan beberapa aset milik papa ke Vania dan tante Kiara!" ujar Rafa, Fathan mengangguk mengiyakan. Meski sebenarnya dia tidak pernah mengerti maksud Fathan dbalik perintahnya.
"Kak Rafa, apa semua ini berhubungan dengan permintaan tante Sabrina?" ujar Hana lirih.
"Entahlah sayang, apapun itu aku hanya peduli pada kesehatan Vania. Meski aku harus menyerahkan hartaku pada Vania. Aku sangat siap, sebab kssehatan Vania jauh lebih penting!" ujar Rafa dingin, Faiq mengangguk mengiyakan.
__ADS_1