KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Putri yang Cantik


__ADS_3

"Tante Hana!" sapa seorang anak perempuan manis kira-kira berusia 6 atau 7 tahun. Dia berlari ke arah Hana dengan merentangkan tangan. Hana menerima pelukan hangat dengan wajah penuh keheranan. Hana merasa tidak pernah merasa mengenal anak manis yang berteriak memanggilnya.


Hari ini Hana diizinkan pulang, Rafa yang akan mengantar Hana pulang. Semalam Hana sudah menghubungi Rafa. Ada yang harus diselesaikan diantara keduanya. Sesuatu yang salah dan harus diluruskan. Diana mendorong kursi roda Hana. Saat anak kecil itu datang, Hana dan Diana berada di lobi rumah sakit. Menunggu Rafa yang sedang mengambil mobil.


"Hai anak manis, siapa namamu?" sapa Hana ramah setelah anak itu melepas pelukannya. Kedua tangan mungil memegang tangan Hana erat. Ada suatu ikatan yang tak terlihat, sebuah kasih sayang yang tak pernah bisa diduga. Hana menatap wajah anak perempuan di depannya. Meski masih kecil, dia sudah belajar menggunakan hijab. Hati Hana teduh saat menatap wajah polos dengan iman yang melekat pada si anak.


"Maaf tante, aku lupa kita belum berkenalan. Aku Annisa, salam kenal tante!" ujarnya sembari mencium punggung tangan Hana. Diana melihat interaksi Hana dengan Annisa. Layaknya hubungan antara anak dan ibu. Hati Hana terenyuh saat bibir mungil Annisa menyentuh telapak tangannya. Ada rasa rindu akan hadirnya putra. Perasaan seorang ibu menelisik ke dalam hati Hana.


"Annisa sayang, kamu cantik dan pintar! Tapi dimana orang tuamu? Apa tante mengenal mereka?" ujar Hana, Annisa mengangguk dengan senyum. Hana terdiam memikirkan putri siapa yang sedang menyapanya?


Annisa mungkin anak kecil, tapi dilihat dari cara bicara dan sopan santunnya. Annisa bukan anak sembarangan, dia pintar untuk seusiannya. Didikan orang tuanya sangat baik, sehingga Annisa mengerti cara bersikap pada orang yang lebih dewasa.


"Anak cantik, ada tante Diana disini! Kenapa hanya tante Hana yang dipeluk?" ujar Diana lirih, Annisa menggeleng lemah. Diana terperangah melihat gelengan Annisa. Bagaimana mungkin anak sekecil Annisa? bisa memilih ingin memeluk siapa?


"Aku hanya ingin memeluk tante Hana, karena aku ingin tante Hana menjadi mamaku!" ujarnya santai, Hana dan Diana saling menoleh. Mereka berdua terkejut mendengar perkataan Annisa. Hana baru pertama kali bertemu dengan Annisa, tapi anak kecil ini mengatakan ingin Hana menjadi mamanya.


"Sayang, memangnya mama Annisa kemana? Tante Hana tidak mengenal papa Annisa, tidak mungkin tante Hana menjadi mamamu!" ujar Hana ramah, dia berkata selembut mungkin agar Annisa tidak terlalu kecewa.


"Aku hanya ingin tante Hana, bukan tante yang lain!" ujar Annisa, Hana mencium kedua tangan mungil Annisa. Hana berusaha memahami keinginan Annisa.


"Annisa bisa menganggap tante Hana sebagai mama. Sekarang Annisa senang!" ujar Hana, Annisa menggeleng lemah sembari menunduk. Lagi dan lagi Diana dan Hana saling menoleh. Mereka heran dengan sikap Annisa yang seolah sangat mengenal Hana. Sebaliknya Hana tak merasa mengenal Annisa.


"Hana maafkan Annisa, pasti dia berkata yang tidak-tidak!" ujar Naufal lirih, dia berjalan setengah berlari menghampiri Annisa. Diana mengangguk pelan mengerti, apa yang sedang terjadi?


"Kak Naufal, Annisa putrimu!" ujar Hana lirih, Naufal mengangguk seraya mengedipkan mata. Sebenarnya sejak awal Hana sudah menduga, bahwa Annisa putri Naufal. Namun Hana ragu, karena Hana tidak pernah bertemu dengan Annisa sebelumnya.


"Anak cantik, bagaimana kalau tante Diana yang jadi mamanya Annisa?" goda Diana, Annisa menggeleng lalu memeluk Hana erat. Diana terkekeh melihat Annisa begitu menyayangi Hana. Padahal mereka baru saja bertemu.

__ADS_1


Tin Tin Tin


Suara klakson mobil Rafa mengejutkan Annisa. Sehingga Annisa melepaskan pelukannya. Hana melihat Rafa turun dari mobil. Rafa membuka pintu mobil bagian depan. Hana mengangguk pada Rafa, lalu menoleh pada Annisa.


"Sayang, kamu sudah siap!" ujar Rafa lirih, Hana mengangguk pelan.


"Sebentar, aku pamit pada Annisa!" sahut Hana, Annisa menggenggam erat tangan Hana. Seolah tak ingin melepaskan tangan Hana


"Sayang, tante Hana pulang dulu. Nanti kalau tante Hana sudah sehat, tante janji akan membuatkan makanan khusus buat Annisa cantik!" pamit Hana, lalu berjalan perlahan menuju Rafa.


"Tante Hana!" panggil Annisa sembari memeluk Hana dari belakang. Hana membalik tubuh Annisa, dia melihat kedua mata indah Annisa berkaca-kaca. Hana berusaha berjongkok di depan Annisa. Hana memeluk erat Annisa yang manis.


"Sayang, tante pulang dulu. Jika tante ada waktu, kita bisa pergi bersama. Sekarang Annisa bersama papa dulu. Tante Diana bisa menemani Annisa!" ujar Hana lirih, Annisa mengangguk pelan.


Rafa berdiri mematung melihat kedekatan Hana dan Annisa. Ada rasa aneh dalam hati Rafa, ketika melihat ketulusan yang tiba-tiba hadir diantara Hana dan Annisa. Sebaliknya Naufal terenyuh melihat putrinya begitu menyayangi Hana. Meski ini pertemuan pertama bagi Hana, tapi tidak bagi Annisa.


"Kak Naufal, masih adakah rasa itu untuk Hana. Sampai putrimu bisa menyayangi Hana setulus itu!" bisik Diana, Naufal mengangguk tanpa ragu.


"Namun ada atau tidak rasa itu semua sudah tidak penting. Hana sudah menemukan penyempurna agamanya, imam sholat dan langkahnya. Nama yang ada dalam sujud dan doanya bukan namaku, tapi Rafa Akbar Prawira. Ayah dari janin yang dia kandung, pemilik sepenuh hatinya!" batin Naufal.


...☆☆☆☆☆...


"Sayang!" sapa Rafa lirih, ada rasa takut Rafa saat memanggil Hana. Rafa tidak ingin Hana terganggu dengan sikapnya.


Semalam Hana menghubunginya meminta bertemu. Sejak semalam Rafa tidak bisa tidur, dia memikirkan pertemuan hari ini. Rafa tidak ingin melakukan kesalahan yang membuat Hana marah.


"Hmmm!" sahut Hana santai, kedua mata Hana terpejam. Kepalanya masih sedikit pusing, efek obat masih terasa oleh Hana. Rafa sengaja menurunkan kursi mobil. Agar Hana merasa nyaman berbaring. Rafa melihat wajah teduh Hana saat terpejam. Perut buncitnya terlihat jelas, ingin rasanya Rafa menyentuh sang buah hati. Mengusap lembut perut Hana, merasakan detak jantung dan tendangan si kecil yang mungkin mulai terasa.

__ADS_1


"Siapa anak perempuan tadi? Kenapa dia begitu dekat denganmu? Bahkan aku melihat dia sangat menyayangimu!" ujar Rafa, Hana membuka matanya. Dia menoleh pada Rafa, tatapan mereka bertemu. Ada kerinduan mendalam Rafa akan Hana. Tangannya seakan ingin menarik tubuh Hana masuk ke dalam pelukannya. Kerinduan yang tak pernah mampu dilupakan oleh Rafa.


"Dia putri kak Naufal, namanya Annisa. Dia ingin aku menjadi mamanya. Entahlah aku sendiri tidak tahu, kenapa Annisa ingin aku menjadi mamanya?" ujar Hana santai.


Ciiiiiittttt


Seketika Rafa menginjak pedal rem. Rasa terkejutnya membuat Rafa refleks menghentikan mobilnya. Rafa terperangah mendengar Hana mengatakan semua itu dengan santai tanpa beban. Rafa merasa Hana akan meninggalkannya demi Annisa.


"Awwwsss!" teriak Hana kesakitan, Rafa seketika menyentuh perut Hana. Jantungnya berdetak hebat, dia merasakan tendangan pertama putranya. Hati Rafa menghangat saat tangannya menyentuh perut Hana. Rafa merasa seakan-akan putranya menyapanya.


"Anak papa sayang, kamu menyapaku. Maafkan papa, hampir saja papa melukaimu. Kuatlah selalu, satukan papa dan mama. Jangan biarkan siapapun merebut mama dari papa? Sehat selalu sayang!" batin Rafa.


"Kak Rafa, kenapa menginjak pedal rem mendadak?" ujar Hana kesal sembari memukul pundak Rafa pelan.


"Sayang, maaf! Aku panik sehingga menginjak pedal rem. Sebelah mana yang sakit sayang!" ujar Rafa khawatir, Hana menggeleng.


"Sudahlah, aku tidak apa-apa? Memangnya kenapa kak Rafa panik? Jangan Terbiasa menginjak pedal rem tiba-tiba. Takutnya akan membuat kak Rafa celaka!" ujar Hana kesal, Rafa menunduk menyesal.


"Maaf sayang! Aku panik memikirkan kamu akan menjadi mamanya Annisa, itu artinya kamu akan pergi jauh dariku!" ujar Rafa lirih, Hana menahan senyum mendengar kegelisahan Rafa.


"Aku masih belum memikirkannya, tapi semua itu mungkin terjadi. Bila kak Rafa tetap seperti ini. Aku akan semakin menjauh, karena aku tidak mungkin tinggal bersama orang yang tak berhati!"


"Maksudmu apa sayang? Aku sudah berubah, aku mencintaimu dengan tulus!" ujar Rafa lirih, sembari menggenggam tangan Hana. Rafa mencium lembut tangan Hana. Rafa meluapkan kerinduan yang membuncah dalam hatinya.


"Aku akan pergi saat kak Rafa terus bersikap keras. Kak Rafa harus ingat, setiap orang punya masa lalu. Terutama aku yang memiliki masa lalu. Tapi tak seharusnya masa lalu menghancurkan masa depan!"


...☆☆☆☆☆...

__ADS_1


TERIMA KASIH😊😊😊


__ADS_2