KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Malam yang Sunyi


__ADS_3

Rumah tangga ibarat sebuah perahu di tengah laut lepas. Terombang-ambing ombak yang tak pernah ada hentinya. Namun sebuah perahu takkan mudah goyah dan tenggelam. Bila sang nakhoda dan penumpang bekerjasama dalam menyeimbangkan perahu. Agar tak ada badai atau angin yang mampu menghancurkan dan membuat perahu karam.


Pernikahan sejatinya sebuah ikatan yang tak layak untuk dipermainkan. Pernikahan ikatan suci dua hati. Sebuah proses pengenalan diri dua insan manusia. Meski selama proses selalu ada saja salah paham, sebab hakikatnya pernikahan bukan untuk menyamakan. Namun saling menerima perbedaan satu dengan yang lainnya.


Sama halnya dengan Hana dan Rafa. Keduanya berasal dari dunia yang berbeda. Hana hidup dalam dunia sederhana, tanpa gemerlap kemewahan. Sebaliknya Rafa hidup dalam dunia penuh kemewahan. Namun Rafa selalu berusaha mengikuti hidup Hana yang penuh kesederhanaan.


Hanya dengan memahami cara hidup Hana. Rafa membuktikan cintanya pada Hana. Sebab memahami Hana jauh lebih sulit, daripada mencintainya. Rafa mengikuti alur cinta Hana yang sederhana. Terkadang sikap diam Hana, seakan mengatakan pada Rafa bahwa dia butuh perhatian. Mengenal Hana membuat Rafa mengerti arti mencinta.


"Kak Rafa, boleh aku masuk!" ujar Hana, Rafa mendongak lalu mengangguk. Hana melihat Rafa sibuk dengan laptop dan berkasnya. Sehari Rafa tak bekerja, harus dibayar dengan begadang hingga larut malam. Seolah pekerjaan Rafa tak ada hentinya. Sebuah tanggungjawab yang diemban Rafa Akbar Prawira sebagai seorang pewaris keluarga dan penopang hidup keluarganya.


"Sayang, kenapa belum istirahat? Sudah larut malam, kasihan si kecil tidur sendirian!" ujar Rafa, Hana mendekat seraya menggeleng lemah. Hana meletakkan secangkir kopi dan makanan ringan. Hana menghampiri Rafa, dia melihat berkas-berkas berserakan. Sebelum masuk Hana sempat melihat Rafa memijat pelipisnya. Seakan mengatakan kedua matanya mulai lelah.


Hana berdiri di belakang kursi Rafa. Tangan mungil Hana memijat bahu Rafa pelan. Hana ingin membantu Rafa menghilangkan rasa lelah. Rafa bahagia merasakan perlakuan hangat Hana. Bukan ingin menyusahkan Hana, tapi sekecil apapun perlakuan Hana. Seolah besar bagi Rafa, sebab saat itu Rafa merasakan benar kasih sayang Hana. Rafa tahu jika Hana mencintainya, tapi semua tertutupi dengan sikap diamnya. Sebab itu Rafa sangat-sangat bahagia bila Hana menunjukkan perhatiannya.


"Seandainya aku bukan orang yang bodoh. Mungkin malam ini aku bisa membantumu. Sayangnya kak Rafa harus menikah dengan wanita dari dunia yang berbeda. Sehingga kak Rafa harus melakukannya sendiri. Maaf aku tidak bisa membantumu!" ujar Hana lirih, sembari tangannya terus memijat pundak Rafa. Hana melihat betapa susahnya Rafa harus mengerjakan semua tugas kantor tanpa ada yang membantu. Hana melihat jam sudah sangat larut, tapi Rafa masih tetap terjaga dengan tangan masih mengutak-atik berkas dan laptop.


Rafa memegang tangan Hana, dia memutar kursi menghadap ke arah Hana. Rafa menatap wajah Hana lekat. Wajah yang memenuhi benaknya, nama yang berputar dalam pikirannya. Dengan tersenyum simpul, Rafa menarik tubuh Hana duduk dipangkuannya. Keduanya duduk di kursi yang sama, Rafa memeluk tubuh Hana erat. Saat Hana meronta ingin turun, Rafa semakin memeluknya erat. Dengan terpaksa Hana duduk di atas pangkuan Rafa.

__ADS_1


Rafa menyadarkan kepalanya pada bahu Hana, sembari tangannya memeluk tubuh Hana erat. Hana mampu mencium harum rambut Rafa. Hana merasakan kehangatan dekapan Rafa. Dekapan yang selalu Hana tolak dengan sikap acuhnya. Sifak keras Hana tak pernah membuat Rafa terluka. Sebaliknya sifat lunak Rafa membuat Hana malu dan mengakui betapa berharganya Rafa dalam hidupnya.


Malam semakin larut, tak sejalan dengan dua insan manusia yang larut dalam pikirannya masing-masing. Sepi dan sunyi malam, tak terasa hanya terdengar suara detak jatung dua insan yang berdegub kencang. Tarikan napas yang naik dan turun seirama. Seakan ingin mengatakan pada dunia, hanya mereka yang ada di dunia.


"Sayang, kamu tidak pernah bodoh. Aku yang bodoh pernah mengacuhkan dirimu. Aku yang lalai pernah mengabaikan kehadiranmu. Seandainya sejak awal aku mengakui hadirnya dirimu. Mungkin sudah lama aku merasakan kebahagian ini. Jika memang kamu merasa dirimu bodoh, maka aku jauh lebih bodoh. Sebab hanya dirimu yang kini mengusai pikiranku. Sejujurnya jika dulu aku mampu menyelesaikan semua ini dalam satu dua jam. Sekarang aku butuh waktu lebih. Sebab pikiran dan hatiku terpecah, hanya dirimu yang berputar dalam benakku. Lagipula jika kamu mampu membantuku, aku belum tentu bisa membantumu. Mengurus rumah ini, merawatku dan si kecil jauh lebih berat. Jika tanganku lelah memegang pena, tanganmu tidak hanya lelah tapi berubah kasar tak lagi sehalus dulu. Tanganmu ini yang merawatku, menyiapkan seluruh keperluanku. Jika tangan ini pula yang akan membantuku. Sungguh aku tidak akan pernah rela. Aku kerja demi dirimu dan si kecil, aku harus menopang saudaraku. Jangan pernah berpikir dirimu bodoh. Dirimu terlalu berarti untuk hidupku. Tanganmu sudah terlalu lelah. Jangan lagi meminta tangan indah ini terus bekerja. Tangan yang selalu ingin aku genggam selama hidupku!" tutur Rafa lirih, sembari mencium lembut tangan Hana. Hembusan napas Rafa terasa hangat menyentuh kulit tangan Hana. Desiran hangat mengusai Rafa dan Hana. Dekapan hangat Rafa memancing gairah yang tersembunyi. Sunyi dan dinginnya malam menambah hasrat ingin bersatu dalam indahnya cinta.


"Tunggu, aku harus melihat si kecil. Takutnya dia terbangun. Jika memang aku tidak bisa membantu, aku pergi saja. Kak Rafa cepat selesaikan, aku pergi tidur dulu!" ujar Hana mengalihkan hasrat yang mencuat, dengan meronta Hana turun dari pangkuan Rafa. Hana ingin segera kembali menuju kamarnya. Hana takut bila si kecil terbangun. Rafa terkekeh melihat tingkah Hana. Dengan sigap Rafa menahan tangan Hana yang ingin pergi.


"Sayang, si kecil perlu saudara. Agar dia tidak merasa kesepian sepertiku. Malam ini aku menginginkanmu!" bisik Rafa mesra. Hana merinding mendengar bisikkan Rafa. Sebaliknya Rafa semakin erat memeluk Hana. Rafa mencium rambut Hana yang tertutup hijab.


"Bukankah kak Rafa sedang sibuk. Jadi aku tidak ingin mengganggu. Lebih baik aku pergi ke kamar. Aku harus memberikan ASI padanya!" ujar Hana sembari berlalu.


"Sayang, aku juga butuh dirimu. Jangan hanya si kecil!" ujar Rafa lantang, Hana tak bergeming. Dia meninggalkan Rafa di ruang kerjanya.


"Kalau tahu jadinya begini, aku tidak akan masuk ke dalam ruang kerjanya. Aku pasti tidak akan tidur malam ini. Kak Rafa pasti menggangguku semalaman. Bodoh, Hana bodoh kenapa harus memancing singa tidur? Aku harus cepat tidur, sebelum kak Rafa menyusulku ke kamar!" batin Hana kesal.


Hana berjalan cepat menuju kamarnya. Firasatnya benar si kecil terbangun, Hana memberikan ASI pada si kecil. Terdengar suara pintu kamar terbuka. Hana menepuk jidatnya pelan.

__ADS_1


"Sudah aku duga, kak Rafa pasti menyusulku. Aku pasti tidak akan bisa tidur mendengar rengekannya. Kenapa aku tadi menemuinya? Hana oh Hana, betapa bodohnya dirimu!" batin Hana.


"Sayang, sudah tidur. Aku tidak akan memintanya malam ini. Aku tahu kamu sangat lelah. Kapanpun aku bisa meminta adik, untuk si kecil meski bukan sekarang!" ujar Rafa duduk di samping Hana yang berbaring. Seketika Hana menoleh dengan wajah heran.


"Serius!" ujar Hana, Rafa mengangguk pelan.


CUP


"Satu kecupan keningmu sudah mengobati rinduku. Aku mencintaimu sepenuh hati, bukan hanya untuk hasrat semata. Satu senyummu sudah cukup membahagiakan diriku! Tidurlah, aku akan tidur disampingmu!" ujar Rafa, Hana mengangguk pelan.


"Sayang, aku mencintaimu!" bisik Rafa mesra, dia membenamkan kepalanya ditengkuk Hana. Tangannya merangkul tubuh Hana. Tak berapa lama terdengar dengkuran halus dari Rafa.


"Terima kasih, aku beruntung menerima cintamu. Kamu pasti sangat lelah, terlihat dari cepatnya kamu tertidur. Demi kami kamu harus bekerja sangat keras. Terima kasih!" batin Hana sembari memegang tangan Rafa yang merangkulnya erat.


...☆☆☆☆☆...


TERIMA KASIH😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2