
"Kakek, kapan datang? Seharusnya jika ingin bertemu Rafa, kakek hubungi Rafa. Pasti Rafa akan segera datang!" ujar Rafa, tuan Ardi tersenyum. Rafa mendekat pada tuan Ardi, dia mencium punggung tangan kakek yang membesarkannya. Nama baik keluarga Prawira sedikit pulih, tak ada lagi wartawan yang ingin mencari tahu tentang masa lalu menantu keluarga Prawira.
"Aku sengaja datang ingin melihat keluarga kecilmu. Dimana Hana cucu menantuku? Aku ingin bertemu dengannya. Aku ingin melihat perkembangan cicitku!" ujar tuan Ardi santai, Rafa mengangguk. Kebetulan Hana sedang berada di dapur. Dia tidak mengetahui kedatangan tuan Ardi. Sebenarnya tuan Ardi tidak datang sendiri. Dia datang bersama Gunawan.
Namun Gunawan tidak langsung masuk ke dalam rumah. Dia memutuskan mengelilingi rumah Rafa. Rumah yang dulu pernah menjadi tempat tinggalnya. Rumah yang harus terlepas dari keluarga Prawira. Akibat ketidakmampuan Gunawan mengelola perusahaan Prawira. Gunawan semakin pilu, melihat kenyataan dirinya terlalu lama hidup dalam kata nyaman.
"Rafa, aku datang dengan papamu. Tapi sepertinya dia ingin mengingat kenangan akan rumah ini. Gunawan berpamitan padaku untuk mengelilingi rumah ini. Apa kamu keberatan?" ujar tuan Ardi, Rafa menggeleng. Hana keluar dari dapur, dia membawa sepiring kue brownies yang dibuatnya sendiri.
Hana terkejut melihat tuan Ardi duduk bersama Rafa di ruang tengah. Seketika Hana mendekat, dia mencium punggung tangan kakek Rafa. Hana kembali ke dapur untuk membuat minuman.
"Sayang, buatkan 3 kopi. Papa ikut bersama kakek, tapi dia masih berkeliling!" pinta Rafa, Hana mengangguk pelan seraya tersenyum. Hana berjalan perlahan menuju dapur, dia membuat 3 cangkir kopi.
"Hana, kapan hari persalinanmu? Perutmu sudah sebesar itu, tapi kamu masih pergi ke dapur. Memangnya Rafa sudah bangkrut tidak bisa membayar ART!" goda tuan Ardi, Hana menggeleng. Rafa merangkul Hana, dia membungkuk mencium perut Hana. Tuan Ardi melihat sikap hangat Rafa. Dia melihat betapa bahagianya Rafa bersama Hana. Kebahagian seorang ayah yang menanti buah hatinya.
"Kemungkinan masih beberapa minggu lagi. Kak Rafa saja yang heboh, sampai dia tak ingin pergi bekerja. Padahal aku baik-baik saja!" ujar Hana santai, Rafa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Tuan Ardi mengangguk mengerti, Rafa bukan yang dulu. Dalam hatinya kini hanya ada cinta untuk Hana. Tak ada lagi ambisi Rafa untuk menyakiti orang lain.
"Biarkan saja Hana, Rafa harus menjagamu. Jangan sampai terjadi sesuatu padamu. Jika tidak Rafa akan brutal, hanya kamu alasan senyum dan marah Rafa. Jujur kakek bahagia melihat kalian berdua!" ujar tuan Ardi, Rafa dan Hana menganggguk bersama. Hana mengedarkan pandangannya. Dia mencari keberadaan Gunawan. Hampir setengah jam lebih. Gunawan tak kembali.
"Kak Rafa sayang, papa kemana?" ujar Hana merayu, Rafa menoleh dengan senyum yang paling manis. Dengan santai Rafa mengangkat kedua bahunya, menandakan dia tak mengetahui keberadaan Gunawan. Hana menyenggol lengan Rafa.
"Apa sayang? Aku tidak tahu dimana papa?" ujar Rafa lirih, Hana menatap Rafa dingin. Rafa mencubit bibir Hana yang manyun. Hana kesal melihat Rafa yang mengacuhkan keberadaan Gunawan. Tingkah suami istri tak luput dari perhatian tuan Ardi. Sikap mereka berdua membuat tuan Ardi tertawa geli.
"Kalian sungguh pasangan yang hangat!" ujar tuan Ardi, Hana menghempaskan tangan Rafa. Sedangkan Rafa tertawa melihat Hana yang kesal dengan sikapnya. Hana berdiri meninggalkan Rafa. Dia berjalan keluar untuk mencari Gunawan.
__ADS_1
"Sayang, kamu akan pergi kemana?" teriak Rafa cemas, Hana tidak peduli dengan teriakkan Rafa. Hana terus berjalan menyusuri halaman rumahnya.
...☆☆☆☆☆...
"Tuan Gunawan, kenapa berada di sini? Kita masuk ke dalam, aku sudah membuatkan secangkir kopi untuk anda!" ujar Hana sopan, Gunawan menoleh dengan terkejut.
Hana menemukan Gunawan sedang duduk di halaman sebelah kiri. Di bawah pohon mangga dimana terdapat ayunan kayu yang sudah lapuk? Entah kenapa saat Hana meminta Rafa membongkarnya? Rafa menolak dengan tegas. Rafa beralasan akan membuat ayunan yang lebih kuat, tapi tidak akan membongkar ayunan kayu ini. Kecuali ayunan ini jatuh sendiri.
"Hana, kamu mencariku. Maaf aku membuatmu cemas. Tempat ini menyimpan kenangan indah Rafa dan ibunya, sampai membuatku lupa diri. Halaman ini tempat Rafa kecil bermain. Sejak kecil dia tidak pernah memiliki teman. Ibunya teman satu-satunya Rafa, hanya bersama ibunya Rafa kecil bermain!" tutur Gunawan sembari memandang jauh ke depan. Mengedarkan pandangannya ke segala penjuru halaman yang begitu luas. Hana termangu mendengar penuturan Gunawan. Hana tidak pernah tahu, jika rumah ini milik keluarga Prawira.
"Maksud anda?, rumah ini tempat kak Rafa tinggal. Lalu rumah yang ditempati sekarang? Itu rumah siapa?" ujar Hana bingung, Gunawan tersenyum. Dia menoleh pada Hana, dipandanginya wajah menantu yang membuat putranya berubah menjadi hangat penuh cinta.
"Sudah kuduga Rafa tidak menceritakan padamu. Begitu berartinya dirimu, sampai Rafa tidak mengatakan tentang rumah ini. Rumah yang penuh dengan pahit dan manisnya hidup Rafa. Rumah dimana Rafa kecil tumbuh hingga remaja. Rumah tempat dia dan ibunya bermain tanpa diriku di sisinya. Setiap kenangan indah Rafa tanpa adanya diriku!" ujar Gunawan lirih, Hana menggeleng tidak mengerti.
"Lihatlah Hana, kamar pojok di lantai dua yang menghadap kemari. Itu kamarku dan Ainun, sedangkan kamar Rafa di sebelahnya. Setiap hari aku melihat dari jendela kamarku. Kebersamaan Ainun dan Rafa tanpa diriku. Suara tawa mereka seakan mengiris hatiku. Namun aku tak pernah berani mendekat. Aku merasa tersisih tanpa bisa memeluk Rafa!"
"Jika anda begitu menyayangi kak Rafa. Kenapa anda seakan jauh darinya? Dia putra kandungmu, meski kehadirannya tanpa cinta. Tak seharusnya anda mengacuhkan kak Rafa. Bukankah kak Rafa berhak mengenal siapa ayahnya? Sebesar apapun cinta anda pada nyonya Sabrina, takkan mungkin mengalahkan besar cinta anda pada kak Rafa!"
"Kamu benar Hana,sebesar apapun cintaku pada Sabrina. Aku merasa sepi tanpa Rafa, tapi setiap kali aku ingin memeluknya. Tatapan benci Rafa padaku, membuat tubuhku kaku. Aku tak mampu menyentuh Rafa, bahkan saat dia masih kecil. Setiap kali aku merindukan Rafa, bibirku kelu sekadar untuk memanggilnya. Rafa membangun dinding tinggi diantara kami!" tutur Gunawan, Hana menggeleng lemah.
"Aku tak pernah tahu, seberapa besar luka yang dirasakan suamiku. Aku tak pernah bertanya, alasan dia begitu keras pada hidupnya dulu. Hanya satu yang aku tahu, suamiku masih mempertahankan kenangan masa kecilnya. Kak Rafa tak pernah mengatakan, jika rumah ini tempat tinggalnya dulu. Hanya agar aku tak pernah bertanya semua kenangan yang ada di rumah ini. Saat aku meminta dia membuang ayunan kayu ini. Kak Rafa menolak dengan tegas, dia bersedia membuatkan ayunan yang lebih kuat selama ayunan ini tak disentuh. Hanya demi mengingat hadiah pertama dan terakhir dari anda!"
"Tidak mungkin Rafa mempertahankan ayunan ini. Hanya karena diriku, Rafa membenciku. Takkan pernah Rafa menyayangiku. Dia marah padaku, karena aku membuat Ainun sedih!" ujar Gunawan. Hana menatap wajah Gunawan.
__ADS_1
"Selamanya seorang putra takkan membenci ayah kandungnya. Sebab darah yang sama mengalir dalam tubuhnya. Air mani sang ayah yang membuatnya tercipta. Jika tanpa ayah, takkan pernah ada seorang putra terlahir. Bertahun-tahun kak Rafa menunggu pelukan hangat anda. Ayunan ini saksi bisu besarnya cinta seorang putra pada ayahnya. Hanya ayunan ini kenangan yang dimiliki kak Rafa bersamamu. Ayunan ini dibuat dengan tangan kekar seorang ayah. Bagi kak Rafa dan mama, ayunan ini seolah tanganmu yang memeluk tubuh kak Rafa. Kehangatan dan suara tawa mereka, sebagai bentuk keutuhan sebuah keluarga yang tak pernah tercipta. Sudah saatnya anda kembali pada putra yang merindukan pelukan hangat!" ujar Hana, Gunawan menunduk malu. Seakan perkataan Hana sebagai sesuatu yang tak mungkin terjadi.
"Rafa tidak membutuhkanku. Sejak kecil sampai sekarang dia mampu berdiri tanpa bersandar padaku. Rafa putraku sudah bahagia, aku tak ingin membuatnya terluka. Biarkan hubungan kami seperti ini, selama aku bisa melihatnya. Semua sudah lebih dari cukup, aku sudah bahagia!"
"Suamiku memang tidak membutuhkan anda, seorang Gunawan Adi Prawira yang bertekuk lutut pada cinta Sabrina. Kak Rafa membutuhkan pelukan hangat seorang ayah. Seorang laki-laki yang dengan tegas mengucapkan ijab qobul bersama Ainun Rahmawati. Seorang suami yang pernah mencintai ibunya dengan tulus. Jika anda bukan orang yang saya maksud. Jangan pernah berpikir ingin memeluk suamiku. Sebab menemuinya saja anda tidak pantas. Suamiku merindukan ayahnya, kembalikan ayah suamiku. Agar dia mampu berdiri tegak di depan putranya. Jangan karena cinta anda terhina. Sebab kodrat seorang laki-laki itu dihargai, bukan terhina!" tutur Hana lirih, dia meninggalkan Gunawan sendiri yang membisu mengingat setiap kenangan pahit yang dia berikan pada Rafa.
"Hana, seandainya aku meminta Rafa meninggalkanmu agar dia bisa bersamaku. Apa jawabanmu?" ujar Gunawan, Hana membalikkan badannya seraya mengulas senyum.
"Aku akan meminta kak Rafa memilih anda. Sebab kak Rafa berhak bahagia, tapi aku yakin anda sudah tahu. Bersama siapa kak Rafa bahagia? Aku yakin anda tidak akan menghancurkan kebahagian kak Rafa. Untuk alasan yang sama, anda meminta kak Rafa menikah dengan Sesil!"
"Aku takkan pernah meninggalkanmu, meski demi dirinya!" ujar Rafa tegas.
"Tidak akan ada yang bisa memisahkan kita. Sebab ada ikatan tak terlihat diantara kita. Temui papamu, demi sebuah awal baru putra kita. Dia tidak salah, putra kita berhak mengenal kakeknya. Aku tak memiliki orang tua, hanya tuan Gunawan orang tua kita. Restunya ridho kita!" ujar Hana, Rafa menggeleng lemah. Hana merangkul Rafa, dia menyadarkan kepalanya.
"Ayunan kayu membuktikan kamu merindukan kasih sayang tuan Gunawan. Rumah ini menandakan kamu tidak bisa melupakan kenangan masa kecilmu. Jangan terlalu keras, setiap orang pernah salah. Tidak ada yang sempurna, jika kita tidak pernah melakukan kesalahan. Kapan kita akan mengetahui kebenaran? Buka hatimu untuk memaafkan!"
"Sayang, aku merasa kamu cerewet hari ini!" ujar Rafa sembari mencium puncak kepala Rafa.
"Jika bukan hari ini aku mengingatkanmu. Entah kapan aku bisa mengingatkanmu lagi? Sebab kita tidak pernah tahu, kita akan hidup sampai kapan?"
"Tidak, jangan katakan hal yang mengerikan. Aku bisa tiada tanpamu!" ujar Rafa dingin sembari menutup mulut Hana.
...☆☆☆☆☆...
__ADS_1
TERIMA KASIH😊😊😊😊