KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Akhir Sebuah Hubungan


__ADS_3

"Hana, tunggu!" teriak Diana, dia berlari ke arah Hana. Terlihat Hana akan berjalan keluar dari restoran. Kebetulan hari ini Diana sedang makan siang dengan beberapa rekan kerja perusahaan Prawira.


Hana yang mendengar Diana memanggil, sontak saja menoleh. Tanpa sengaja Rafa juga sedang melihat ke arah Hana. Tatapan Rafa dan Hana bertemu. Namun dengan cepat Hana menunduk, seolah tidak ingin melihat wajah Rafa suaminya.


"Sejijik itu kamu padaku, sampai kamu menunduk tidak ingin melihatku. Tidakkah ada kata maaf untukku. Aku merindukanmu Hana!" batin Rafa sesaat setelah Hana membuang muka.


"Ada apa Diana? Aku harus segera bergegas" ujar Hana, Diana senyum-senyum sendiri. Sebenarnya Diana hanya ingin menyapa Hana. Dia tahu kalau Rafa dan Hana sedang mode diam. Terlihat dari sikap Rafa yang mudah marah, meski hanya karena masalah sepele.


"Kita makan bersama, sudah lama aku tidak makan berdua denganmu. Aku malas bila makan bersama mereka. Sekarang jam makan siangmu, bukan!" ujar Diana antusias, Hana menggeleng lemah. Bukan maksud mengecewakan Diana, tapi Hana memang tidak napsu makan. Sudah beberapa hari Hana enggan untuk makan! Hanya susu dan buah yang mampu Hana konsumsi.


"Aku harus segera ke mushola. Sebentar lagi waktu dhuhur habis, aku belum sempat sholat. Sejak tadi restoran ramai!" ujar Hana, Diana mengangguk pelan. Akhirnya Diana kembali ke mejanya. Sedangkan Hana berjalan perlahan menuju mushola yang kebetulan ada di depan restoran.


"Diana, kenapa kamu kembali sendiri? Bukan mengajak Hana duduk di sini. Dia bisa menjadi penghilang lelah. Aku terlalu bosan melihat wajahmu!" ujar Adrian, Diana mendengus kesal mendengar perkataan Adrian. Sebaliknya Rafa bersikap acuh, dia tidak bisa memikirkan apa-apa sekarang?


"Hana akan mushola, dia lebih takut kehilangan waktu dhuhur. Daripada makan bersamaku di sini. Tapi sepertinya ada yang aneh dengan Hana. Wajahnya terlihat pucat, saat aku memegang tangannya sedikit hangat! Apa mungkin dia sedang sakit?" ujar Diana, seketika Rafa mendongak. Dia gelisah memikirkan Hana, Rafa takut terjadi sesuatu pada Hana.


"Kenapa kamu malah di sini? Bukan menemaninya jika memang dia sakit!" ujar Rafa marah, Diana menunduk ketakutan melihat wajah marah Rafa. Kegelisahan memenuhi pikiran Rafa, tidak ada yang bisa membuat Rafa tenang.


"Rafa, kenapa kamu cemas mendengar pelayan itu sakit? Biarkan saja dia sakit, lagipula ada Zyan di sini. Aku rasa wanita seperti itu, akan dengan mudah menggaet laki-laki kaya!" ujar Sesil sinis, Rafa menoleh pada Sesil. Tatapan Rafa sudah mampu menjawab pertanyaan Sesil. Rafa sudah benar-benar kalut. Adrian memberikan isyarat pada Diana untuk menyusul Hana. Jika tidak Rafa bisa marah besar.


Diana segera menyusul Hana, Zyan dan Sesil melongo melihat sikap Rafa yang tiba-tiba marah. Adrian mencoba menenangkan Rafa. Dia tidak ingin rahasia yang sengaja Rafa tutupi terkuak. Tak berapa lama, Diana malah krmbali ke dalam tanpa Hana. Rafa yang melihat Diana datang sendiri. Semakin kalut, ingin rasanya Rafa menghampiri Hana. Memeluknya erat, mendekap Hana sekuatnya. Namun pandangan jijik Hana menghentikan langkahnya. Rafa tidak peduli bila semua orang mengetahui statusnya. Namun sikap dingin Hana yang membuat Rafa frustasi dan hancur.


"Maaf pak Zyan, saya akan membawa Hana ke klinik. Jadi mungkin Hana akan izin untuk hari ini!" ujar Diana, tanpa aba-aba Rafa berdiri terkejut. Apa yang dia takutkan terjadi? Rafa sudah kehilangan akal. Dia tidak peduli lagi akan pemikiran orang lain.


Braaakkk

__ADS_1


Suara kursi yang jatuh sempurna menghantam lantai. Rafa berdiri dengan tergesa-gesa, pikirannya kacau saat mendengar Hana akan dibawa menuju klinik. Dengan segera Rafa berlari menghampiri Hana, disusul Diana yang berlari di belakang Rafa. Adrian sudah menduga, jika hubungan Hana dan Rafa sedanf tidak baik. Sesil berusaha mengejar Rafa, tapi ditahan oleh Adrian.


"Jangan mengikuti Rafa, jika tidak ingin perusahaanmu hancur. Rafa sedang dalam posisi marah. Jika kamu terus mendesaknya. Aku pastikan, hasilnya tidak akan baik untukmu!" ujar Adrian, Sesil mendengus kesal. Namun perkataan Adrian benar adanya. Dia tidak mungkin menghancurkan perusahaannya karena cinta butanya.


Di depan restoran, tubuh Rafa mematung. Melihat orang yang dicintainya sakit. Semua salah Rafa, sehingga Hana terluka. Kedua kaki Rafa seolah kaku, saat melihat Hana kesakitan. Hatinya terasa ngilu, saat mendengar rintihan suara Hana. Rafa berjalan perlahan menghanpiri Hana. Dia malu akan semua sikapnya pada Hana.


"Hana!" ujar Rafa lirih, Hana mendongak lalu menunduk lagi. Rafa mengusap wajahnya kasar, dia marah pada dirinya sendiri. Bahkan disaat Hana sakit. Dia tidak ingin melihat wajah Rafa. Hana mencoba untuk berdiri, tapi tubuhnya sangat lemah sehingga dia terhuyung ke belakang.


"Hana!" teriak Rafa, tangannya menggenggam erat Hana. Rafa menarik Hana ke dalam pelukannya. Hana meronta, dia tidak ingin dipeluk oleh Rafa.


"Tuan, lepaskan!" ujar Hana dingin, Rafa melepaskan pelukannya. Dia menarik tangan Hana menuju mobilnya. Hana mencoba melepaskan pegangan tangan Rafa. Diana mematung melihat Rafa menarik tangan Hana.


"Masuk!" ujar Rafa dingin, Hana terdiam. Rafa tidak peduli lagi jika semua orang mengetahui status hubungannya dengan Hana.


"Masuk, jika tidak aku pastikan besok restoran tempat kamu bekerja akan bangkrut. Jangan pernah menguji kesabaranku!"


Diana melihat Hana ketakutan merasa iba. Tanpa merasa takut, Diana menghampiri Hana. Dia tidak peduli jika karirnya harus berakhir sekarang juga.


"Cukup pak Rafa! Bukan dengan amarah anda memperlakukan Hana. Mungkin dia tidak akan menangis saat tersakiti berkali-kali. Namun satu amarah seseorang, mampu membuat Hana menangis. Sudah cukup anda menyakiti sahabat saya. Dia tidak salah apa-apa? Hana hanya wanita biasa sebelum bertemu anda. Jadi biarkan dia tetap seperti itu. Jangan bawa Hana ke dalam dunia anda, dunia yang jelas akan menolak dan hanya menghinanya!" ujar Diana lantang, Hana menggenggam tangan Diana. Hana menggeleng lemah, air mata jatuh dari kedua mata indahnya.


"Diam kamu, Diana! Apa hubunganmu dengan Hana? Aku lebih berhak atas dirinya daripada kamu!" ujar Rafa marah, dia menatap tajam ke arah Diana yang sedang memeluk Hana. Emosi Rafa sudah tidak bisa dikendalikan. Dia ingin meminta maaf, malah dia membuat Hana semakin takut melihatnya.


"Cukup, aku akan ikut denganmu! Diana, kamu tidak perlu mencemaskanku. Aku pergi bersama orang yang seharusnya melindungiku. Jadi tidak mungkin dia menyakitiku, aku akan aman bersamanya!" ujar Hana, sembari melepaskan pelukan Diana. Hana masuk ke dalam mobil Rafa. Disusul Rafa masuk ke sisi yang lain.


Brakkkk

__ADS_1


Rafa menutup kasar pintu mobilnya. Hana diam mematung, dia kecewa melihat sikap kasar Rafa. Hana tidak pernah ingin melihat Rafa yang seperti ini. Sebaliknya Rafa kesal melihat sikap dingin Hana. Rafa menghentikan mobilnya di sebuah danau. Rafa harus menyelesaikan semua kesalahpahaman diantara mereka berdua.


"Kita harus bicara!" ujar Rafa, dia mulai bisa mengendalikan emosinya. Hana menatap ke luar mobil. Melihat keindahan alami danau. Hana sangat menyukai keindahan yang alami.


"Apa yang ingin anda katakan? Aku akan mendengarnya!" sahut Hana dingin, tanpa menoleh pada Rafa. Sikap Hana menghancurkan Rafa tanpa sisa.


"Hana, tidak bisakah kita bicara dari hati ke hati. Bukankah kita saling mencintai! Tidak adakah, kata maaf untukku. Apa yang kamu lihat belum tentu sebuah kebenaran?"


"Apa yang aku lihat mungkin belum tentu benar? Tapi melihat seorang wanita berada di kamar suamiku. Hanya berdua dengan badan setengah telanjang. Aku rasa itu bukan hal yang pantas! Tuan Rafa, anda tidak perlu menjelaskan apapun pada saya! Pernikahan kita suci, tapi dasar dari ikatan itu yang salah. Sejak saat itu, aku membebaskan dirimu sepenuhnya. Aku sepenuhnya melepasmu, kamu berhak bahagia!" ujar Hana santai, Rafa meradang mendengar perkataan Hana.


Bugh Bugh Bugh


Dengan sekuat tenaga, Rafa memukul setir mobil. Amarah Rafa memuncak, dia tidak pernah berpikir ingin mengakhiri hubungannya dengan Hana. Namun dengan jelas dan tegas, Hana ingin melepas semuanya. Hana sudah tidak peduli akan cinta yang mulai ada diantara mereka berdua.


"Percuma kak Rafa marah. Semua sudah terjadi, aku siap jika harus terluka. Semoga kak Rafa bahagia, nona Sesil jauh lebih baik dariku. Aku tidak akan menuntut apapun darimu!"


"Maafkan aku kak Rafa, aku harus mengatakan semua ini. Tidak ada alasanku untuk mencegahmu tetap disisiku. Aku tidak akan menuntut apapun! Sejak pertama, pertemuan kita salah. Namun jalan takdir seolah memaksa pertemuan kita. Selamanya kamu akan menjadi hadiah terindah untukku! Bahagia dan tersenyumlah, karena itu alasanku tetap bertahan!" batin Hana.


"Maafkan aku, Hana jangan pergi dariku. Percayalah, apa yang kamu lihat itu semuanya tidak benar? Tidak ada Sesil di hatiku! Jangan pernah tinggalkan aku!" ujar Rafa lirih, dia menggenggam tangan Hana. Mencium lembut seraya menghiba. Hana diam tak bergeming, seolah seluruh hatinya sudah beku.


Hana melepaskan genggaman tangan Rafa. Dia berjalan turun, menuju ke danau. Hana berdiri tepat di tepi danau. Menarik napas sedalam-dalamnya, melepaskan semua beban yang ada. Entah kenapa rasa sakit Hana menghilang tak tersisa?


"Sayang, maaf!" ujar Rafa, tangannya melingkar manis di perut ramping Hana.


"Maaf!"

__ADS_1


...☆☆☆☆☆...


TERIMA KASIH😊😊😊😊😊


__ADS_2