
Di pusat perbelanjaan terbesar berdiri beberapa pegawai dengan posisi membungkuk. Mereka bukan dalam posisi menyambut kedatangan tamu atau pelanggan yang terhormat. Namun mereka tengah menghadapi sidak mendadak sang pemimpin. Mereka tak pernah menduga, hari ini menjadi hari persidangan bagi para petinggi di pusat perbelanjaan ini. Tanpa ada yang menduga, Rafa Akbar Prawira pemilik sekaligus pemimpin perusahaan Prawira datang melakukan kunjungan.
Rafa dan Adrian sengaja datang ingin melihat kondisi pusat perbelanjaan. Rafa terlalu sering mendengar keluhan akan pelayanan pusat perbelanjaan ini. Rafa ingin menegur langsung kepala divisi. Hari menjadi hari yang tidak beruntung untuk para pegawai.
Adrian melihat Rafa begitu kesal dan marah. Biasanya dia tenang dan santai, tapi hari Rafa benar-benar dalam kondisi yang tidak baik. Adrian merasa kasihan pada mereka. Meski mereka salah, tapi melihat kondisi emosi Rafa. Adrian yakin mereka tidak akan bisa dengan mudah menghindar. Tidak akan ada yang mampu membela mereka. Rafa sangat tegas dan disiplin dalam bekerja. Rafa tidak akan mentolelir kesalahan yang mengakibatkan keluhan pada pelayanan.
Hampir satu jam Rafa meluapkan amarahnya. Semua divisi mendapat amarah yang sama. Setelah mengatakan semua yang harus dikatakan. Rafa mengelilingi seluruh stan yang ada di pusat perbelanjaan. Adrian dan para kepala divisi mengekor di belakangnya. Rafa berjalan penuh wibawa. Dia memeriksa seluruha stan yang ada. Dia tidak ingin melihat adanya kelalaian dalam pelayanan.
Rafa berjalan dengan gagah. Tidak akan ada lagi yang meragukan kewibawaannya. Rafa terlihat mempesona. Banyak mata kaum hawa yang menatap penuh kekaguman. Namun tak sedikitpun Rafa menoleh. Sekadar tersenyum ramah ke arah mereka. Bagi Rafa tak ada lagi yang berhak menatap senyumnya selain Hana Khairunnisa. Rafa terus berjalan mengelilingi stan. Cara kerja Rafa selalu cermat dan tepat, dia selalu mengetabui dengan cepat letak kesalahan pegawainya.
Sepasang mata menatap lekat Rafa yang berjalan dengan gagah. Dua mata indah yang melihat betapa tegas dan penuh kharismanya sang pemimpin. Mata indah yang tak lain milik Hana Khairunnisa. Kebetulan Hana sedang berada di tempat yang sama dengan Rafa. Sejak awal Hana sudah melihat Rafa. Dia terus mengikuti arah langkah Rafa. Bahkan dengan mudah Hana menebak. Jika Rafa dalam kondisi penuh emosi. Dia terlihat sangat marah, Hana mengetahui dengan pasti raut wajah Rafa yang penuh amarah.
"Papa!" teriak Fathan dengan suara cadelnya. Dia berlari menghampiri Rafa yang sedang berdiri menghadapi para pegawainya. Fathan langsung memeluk kaki Rafa. Sontak Rafa kaget melihat Fathan yang langsung memeluk kakinya. Adrian terperanjat melihat Fathan yang datang dengan wajah lucunya. Hana sengaja membiarkan Fathan menghampiri Rafa. Dia sudah lelah melihat Rafa yang terus-menerus marah. Hana merasa kasihan melihat para pegawai yang dimarahi Rafa.
"Fathan, sedang apa kamu? Mama dimana?" ujar Rafa lirih, emosi yang meledak-ledak seletika menghilang. Para kepala divisi yang tadinya tegang. Kini berubah menjadi tenang. Mereka melihat perubahan emosi Rafa secepat kilat. Tak ada lagi emosi atau amarah, yang terlihat Rafa yang penuh kasih sayang dan kehangatan. Adrian terkekeh melihat sahabatnya dengan mudah menurunkan emosinya. Adrian mengakui cinta mampu merubah segalanya.
Rafa mengendarkan pandangannya, mencari Hana yang berada tak jauh darinya. Hana tersenyum saat Rafa menatap ke arahnya. Beberapa pegawai melihat, Rafa terlihat tunduk pada senyum Hana. Namun mereka hanya diam memendam dalam hati. Tak ada satu orangpun yang berani mengkritik atau mengatakan pendapat mereka. Mereka menatap dengan pendapat yang berbeda-beda. Ada yang kagum pada Rafa, ada yang menatap heran melihat sikap hangat yang tiba-tiba ada. Menghilangkan amarah yang mampu membunuh seseorang dengan tatapannya.
__ADS_1
Rafa mendekat pada Hana sembari menggendong Fathan. Rafa menyerahkan masalah pegawai sepenuhnya pada Adrian. Sengaja Rafa mendekat pada Hana. Sebab Rafa mengetahui jelas, jika Hana tidak mungkin menghampirinya. Hana tidak pernah ingin menampakkan diri di depan para pegawai Rafa. Hana selalu merendah, hanya segelintir orang yang mengenal Hana sebagai istri seorang Rafa Akbar Prawira.
"Sayang, kenapa tidak mengatakan padaku? Aku bisa menemanimu berbelanja!" ujar Rafa, Hana menggeleng dengan mengutas senyum. Hana bergelayut manja pada lengan Rafa. Sontak sikap manis Hana membuat Rafa heran. Dengan mengeryitkan dahi, Rafa menoleh pada Hana.
"Kak Rafa, aku ingin memakan sesuatu. Bisa tidak kita pergi dari sini. Aku benar-benar lapar. Fathan juga lapar, sejak tadi dia berlari kesana kemari!" ujar Hana manja, Rafa mengangguk ragu. Bukan menolak atau merah mendengar permintaan Hana. Rafa hanya heran, kenapa sikap Hana sangat manis?
"Sayang, sebenarnya apa yang ingin kamu katakan padaku? Jangan bersikap manis, jika meninggalkan rasa pahit!" ujar Rafa kesal, Hana mendongak menatap Rafa. Hana mampu melihat dua bola mata hitam legam milik Rafa. Terlihat sangat jernih dan penuh pesona. Fathan terlihat tertidur dalam gendongan Rafa. Dia merasa nyaman berada dalam dekapan hangat papanya. Hana melihat Rafa yang berbeda. Lama Hana menganggumi Rafa, lalu dia merangkul erat tangan Rafa. Menempelkan kepalanha pada lengan Rafa yang kokoh.
"Kak Rafa sayang, aku hanya ingin menghentikan amarahmu. Kedua mataku lelah melihatmu marah dan berteriak. Setiap aku mendengar bentakan demi bentakanmu pada mereka. Perutku langsung kram, seolah bayi kita enggan melihat papanya marah. Sebenarnya aku tidak ingin mendekat padamu. Namun sepertinya amarahmu benar-benar tidak terkendalikan. Entah apa kesalahan mereka? Satu hal yang pasti, aku tidak ingin melihat amarahmu. Maaf jika akhirnya aku harus ikut campur. Aku membuat kak Rafa malu di depan para pegawai. Namun perutku sangat sakit, sehingga aku tidak bisa melihatmu marah lagi!" ujar Hana lirih, sontak Rafa menoleh. Rafa melepaskan rangkulan Hana. Dengan cemas tangan Rafa mengelus perut rata Hana. Dengan penuh penyesalan, Rafa menyentuh lembut perut Hana.
"Sayang, maafkan papa!" ujar Rafa lirih sembari mengelus perut rata Hana. Rafa seakan berbicara dengan bayi dalam kandungan Hana. Adrian menghampiri Rafa yang sedang sibuk membujuk Hana. Sebaliknya Hana tertawa melihat sikap Rafa yang sangat lucu. Berbicara dengan bayi yang belum tentu bisa mendengar perkataannya.
"Apa sayang?" ujar Rafa mesra, Hana tersenyum.
"Boleh tidak aku yang memberikan hukuman. Aku ingin memberikan hukuman yang berat pada mereka. Sebab mereka suamiku yang tampan marah-marah dan berteriak tanpa henti!" ujar Hana lirih, Rafa dan Adrian mengangguk serempak. Rafa senang bila Hana mulai menunjukkan dirinya di depan para pegawainya. Rafa ingin semua orang mulai mengenal Hana. Sedangkan Adrian ingin melihat hukuman apa yang bisa diberikan Hana? Jika Rafa yang memberikan hukuman. Adrian yakin semua kepala divisi tidak akan selamat. Namun jika Hana yang turun tangan, Adrian berpikir akan berbeda hasilnya.
"Terima kasih tuan-tuan yang tampan!" ujar Hana lirih, dia berjalan ke arah para pegawai. Semua menunduk takut, tak pernah mereka melihat istri sang bos. Hari ini mereka akan berhadapan langsung dengan Hana. Dengan langkah santai, Hana menghampiri para pegawai yang sedang menunggu untuk dihakimi.
__ADS_1
"Maaf permisi semuanya, saya Hana istri pak Rafa. Kalian tidak perlu menunduk dihadapanku. Saya bukan bos kalian, jadi tidak perlu takut atau sungkan. Sekarang saya mohon, angkat kepala kalian. Saya tidak ingin bicara tanpa menatap wajah kalian!" ujar Hana lirih, para kepala divisi mengangkat kepala mereka. Hana tersenyum sembari menatap mereka. Rafa dan Adrian terus melihat dan mengawasi Hana. Mereka berdua ingin melihat, apa hukuman yang akan diberikan Hana?
"Terima kasih, sudah bersedia mendengarkan. Sebenarnya saya ingin mengucapkan permintaan maaf mewakili pak Rafa. Sebab sejak tadi beliau sudah membentak kalian. Sejujurnya pak Rafa hanya sedang menegur dan mendisiplinkan kalian. Tidak ada maksud dia memarahi kalian. Sebagai ganti shok yang kalian terima. Silahkan bergabung dengan saya, mari kita makan siang bersama. Nanti semua pak Rafa yang membayar. Setelah ini saya mohon bekerjalah dengan baik. Agar bos kalian yang pemarah itu tidak bisa menemukan alasan memarahi kalian!" tutur Hana, Rafa melongo mendengar hukuman yang dijatuhkan pada para pegawai. Adrian sangat terkejut mendengar hukuman dari Hana. Bukan hukuman atas dasar amarah, tapi hukuman penuh kehangatan dan persaudaraan. Hana meminta para pegawai menuju restoran yang ditunjuknya. Rafa menghampiri Hana dengan wajah kesal dan heran.
"Sayang, kamu tidak seharusnya melakukan ini. Makan siang bersama bukan hukuman, tapi kelonggaran yang kelak membuat mereka lalai!" ujar Rafa kesal, Hana tersenyum lalu memeluk tubuh Rafa dari samping. Terkadang amarah bukan menyelesaikan masalah, tapi akan menambah masalah. Hana menyadarkan tubuhnya pada Rafa. Sikap yang sangat tidak mungkin dilakukan Hana di depan umum.
"Kak Rafa sayang, tidak selamanya marah akan membuat mereka menyadari kesalahannya. Terkadang kita butuh kehangatan supaya mereka mengerti. Kak Rafa lupa, sebelum kak Rafa mencintaiku. Tak pernah kak Rafa bersikap manis padaku. Sebab kak Rafa belum merasakan kasih sayangku. Kak Rafa tidak pernah menyadari arti diriku. Seperti itulah kita pada mereka, kita mengingatkan mereka dengan kehangatan dan rasa persaudaraan. Agar mereka nyaman berada di sisimu. Terus membantumu mengelola bisnis ini. Tidak mudah menemukan orang-orang hebat seperti mereka. Jangan menganggap mereka semua bersalah. Atas kesalahan satu orang. Lagipula setiap orang pernah melakukan kesalahan. Takkan pernah ada Rafa Akbar Prawira, tanpa mereka yang mendukungmu selama ini. Pemimpin harus bisa merangkul semua bawahannya. Agar takkan ada perbedaan antara bos dan anak buah. Sebab sejatinya kita semua sama dihadapan Allah SWT. Putramu yang ada dirahimku, tidak ingin melihat papanya menjadi pemimpin yang arogan. Menyalahkan tanpa berpikir dirinya bisa juga melakukan kesalahan. Sekarang lebih baik kita makan siang. Aku benar-benar lapar, perutku juga masih sakit akibat kram tadi!" ujar Hana manja, sengaja mengalihkan perhatian Rafa. Namun sikap manja Hana yang akan selalu ditunggu Rafa. Bersandar pada Rafa bukan berdiri sendiri tanpa menganggap keberadaan Rafa.
"Sayang kamu memang unik!" ujar Rafa lalu mencium puncak kepala Hana yang tertutup hijab. Hana pergi meninggalkan Rafa. Dia berjalan menuju restoran. Adrian mendekat pada Rafa. Dengan tersenyum simpul, Adrian menoleh pada Rafa.
"Rafa, hana kelak wanita yang akan menjadi perisai sekaligus pedangmu. Dia yang akan menjaga kehormatanmu, takkan pernah dia membiarkanmu jatuh pada kehancuran. Pemikiran sederhananya ibarat pedang tajam yang mampu menusuk tepat hatimu yang keras. Sebuah pedang yang akan menuntunmu melawan dunia dengan kehangatan. Dia wanita hebat yang akan selalu kamu butuhkan. Aku melihat jelas, cara berpikir Hana yang takkan pernah ada dalam pemikiran kita. Melawan amarah dengan kehangatan, merangkul bawahan dengan pelukan persaudaraan. Kamu sungguh beruntung. Jangan pernah lepaskan dia, jika tidak akan banyak tangan yang ingin menggenggamnya!" ujar Adrian lirih, Rafa mengangguk pelan. Dia mengerti arah pembicaraan Adrian. Dengan penuh kesadaran dan keteguhan Rafa akan mempertahankan Hana.
"Takkan pernah aku ingin melepas tangannya. Sebab cukup dengan menggenggam tangannya aku merasakan kehangatan. Hana segalanya untukku. Akan kulawan dunia demi terus bisa menggenggam tangannya!" sahut Rafa, Adrian mengangguk lalu berjalan bersama Rafa menyusul Hana. Adrian bahagian melihat perubahan Rafa. Persahabatan diantara mereka, membuat Adrian mengetahui isi hati Rafa. Dia pernah melihat Rafa ketika berada di titik terendah. Adrian tidak ingin Rafa kembali pada dunia malam yang pernah menghancurkannya. Hanya pada Hana, Adrian menitipkan sang sahabat. Agara Rafa tetap bahagia dan tidak terpuruk lagi.
"Dia bukan hanya perisai dan pedang dalam hidupku. Hana pelita dalam gelapnya hatiku. Sebuah langit takkan terang tanpa sinar bulan. Seperti hatiku yang terus akan gelap tanpa cahaya cintanya. Demi apapun akan kuperjuangankan dia tetap disisiku. Dia pelita sekaligus semangat hidup Rafa Akbar Prawira!" batin Rafa.
...☆☆☆☆☆...
__ADS_1
...TERIMA KASIH dan MAAF...