
FAIQ POV
Sinar mentari menyinari wajah polos seorang gadis remaja. Kehangatan sang mentari menyentuh lembut kulit putihnya. Mengalahkan dinginnya pagi yang menelisik jauh ke dalam hatinya. Senyum manis menghiasi wajah ceria yang mengusik hati dan pikiranku. Seorang gadis belia berseragam putih abu-abu. Hijab putih menyempurnakan penampilannya. Wajah polos yang mampu meneduhkan kedua mataku. Gadis belia yang tawa riangnya selalu terdengar ditelingaku.
Entah sejak kapan wajah itu mengusik hatiku? Hatiku merasa gelisah, ketika kedua mataku tak melihat wajah itu. Pikiranku kacau tak berarah, saat aku tak mendengar suaranya. Tubuhku serasa beku, bila sehari aku tak menatap wajah ceria. Suara cempreng yang dengan manja memanggil namaku. Seakan air segar yang menyejukkan hati dan jiwaku. Gadis ceria penuh dengan tawa. Gadis SMU yang selalu membuatku tersenyum dalam dinginnya hatiku. Gadis yang membuatku merasa berarti dan dihargai. Kepeduliannya membuatku merasa diperhatikan. Keagresifannya menjadikan diriku laki-laki yang beruntung. Setiap kenakalannya membuatku bahagia. Sikap manjanya membuatku tersenyum.
Gadis manis yang memiliki kecantikan wajah dan hati. Alasan hatiku terpaut dan tak bisa berpaling. Gadis yang membuatku merasa bahagia. Seseorang yang tak ingin aku khianati. Deminya aku rela menutup kedua mataku. Agar tak ada lagi gadis lain yang mengusik hatiku. Kesederhanaan dan kepolosannya seakan menghipnotis pikiranku. Davina Nur Latifah, gadis manja putri sahabat mama. Seorang teman yang mulai mengusik pikiran dan jiwaku. Pilihan hati dalam keyakinan dan keimanan. Seseorang yang membuatku yakin dialah yang tercipta dan terbaik untukku. Seseorang yang kuharapkan menjadi penyempurna imanku.
Davina gadis yang ada dalam setiap mimpiku. Davina nama sederhana yang ada dalam sujud dan doaku. Sosok yang akan kujadikan makmum dunia akhiratku. Gadis yang membuatku mantap ingin memilikinya. Tidak akan sanggup hatiku, bila melihat dia bersanding dengan laki-laki lain. Aku tidak akan mampu berdiri. Jika bukan tanganku yang dia genggam. Aku tidak akan pernah sanggup. Bila dia menjadi milik orang lain. Namun seandainya rasaku tak terbalas. Demi bahagianya aku akan bahagia.
Dengan keyakinan dan rasa takut kehilangan. Puluhan tahun yang lalu, aku memberanikan diri menemui mama dan tante Diana. Aku berharap kejujuranku akan membuat mama menjadikannya makmum dunia akhiratku. Meski aku tahu, usia dan kemampuanku belum bisa menjadi seorang imam. Namun cinta dan sayangku membuatku buta. Keyakinan akan rasa cinta yang begitu besar. Kepercayaan hanya Davina jodoh yang aku tunggu. Membuatku berani mengambil keputusan. Kumantapkan hati mememui mama dan tante Diana. Rasa yang ada dalam hatiku, seolah tak lagi mampu kubendung. Aku akan mengatakan semuanya. Agar rasaku tidak salah dan tetap suci.
Malam itu tepat sehari sebelum keputusanku meninggalkan kota ini. Kebetulan malam itu mama dan tante Diana sedang bicara di ruang tengah. Aku menemui mereka dengan harapan yang begitu besar. Pemuda yang belum mampu menjaga dirinya. Namun berpikir menjaga anak orang lain. Sungguh cinta membuatku berani dan nekat. Aku berjalan perlahan mendekat pada mama dan tante Diana. Meski mereka akan menolak, aku akan tetap mengatakannya. Satu keyakinanku pada malam itu. Mengatakan rasa yang tersimpan rapat dihatiku. Agar kudapatkan restu dari orang yang paling aku sayangi.
Namun langkahku terhenti, tepat di samping dinding ruang tengah. Aku mendengar suara tawa mama dan tante Diana. Kebahagian yang begitu besar. Sebuah tawa yang tercipta, tatkala perjodohan antara Fathan dan Davina tercipta. Harapan dua ibu, yang menginginkan kebahagian kedua putra-putrinya. Keinginan kecil dari persahabatan yang berharap berubah menjadi persaudaraan. Aku mendengar jelas harapan mama. Sebuah harapan yang menghancurkan impianku. Harapan yang menyadarkanku, bahwa impian cintaku kandas. Bukan aku yang kelak menggenggam tangan Davina. Mama memberikan tangan Davina pada kakakku. Fathan kakak kandungku yang kelak terpilih menikah dengan gadis impianku.
__ADS_1
Aku marah pada mama, kenapa dia harus menjodohkan Fathan dengan Davina? Padahal aku ada sebagai putranya yang lain. Aku benci pada mama, dia melupakan diriku. Mama menyisihkan diriku dan mengutamakan Fathan. Mama menganggap Fathan lebih baik dariku. Malam itu mama menjadi orang yang paling menyakitiku. Mama orang yang aku sayangi, seketika menjadi orang yang kubenci. Mama menghancurkan cinta dan impianku dalam satu kata. Perjodohan, bukan diriku dengan Davina. Tapi perjodohan Fathan dan Davina.Perjodohan yang menghancurkan harapan dan impian cintaku.
Hatiku seketika hancur tak bersisa. Tawa mama saat itu, ibarat air garam yang menyiram lukaku. Terasa perih dan tak tertahankan. Dadaku serasa sesak, keberanianku menghilang. Tak ada lagi impian dalam benakku. Tak ada lagi rasa cinta untuk gadis berhijabku. Semua hancur dalam semalam, aku terpuruk dan tak berguna. Malam dimana aku menyadari? Aku bukan siapa-siapa dibanding Fathan? Dia jauh lebih segalanya dariku. Fathan lebih mapan dan dewasa dariku. Pemuda tanpa harapan dan impian. Pemuda yang masih mencari jati diri. Tanpa memandang dan memikirkan masa depan. Namun berpikir ingin menjadikan Davina makmum dunia akhiratnya. Sebuah hasrat tanpa kepastian yang nyata. Aku seolah buta akan rasa ingin memiliki. Namun mataku terbuka lebar. Aku hanya pemuda lemah yang tak pernah dianggap.
Sesaat setelah aku mendengar perkataan mama akan perjodohan Fathan dan Davina. Aku berlari sekuat tenagaku. Aku pergi menembus gelapnya malam. Sunyi dan sepi malam seakan hatiku yang gelap tanpa cahaya cinta. Cinta dari dua wanita yang paling penting dalam hidupku. Cinta yang ingin aku genggam, tapi menghilang dari genggamanku. Bukan tanganku yang terpilih, tapi tangan Fathan yang berhak akan tangan mereka. Tangan mama dan Davina yang seolah menjauh dariku. Cinta mereka bukan untukku, tapi cinta yang tercipta hanya untuk Fathan. Aku merasa sendiri di malam yang sunyi. Aku lemah tanpa penopang, ketika aku mengetahui fakta diriku tak berharga. Cintaku yang tulus tidak akan berarti tanpa restu dari mama. Aku kalah sebelum berperang. Cintaku musnah seketika tanpa sisa.
Derasnya hujan malam itu, seakan menambah kesempurnaan luka hatiku. Air hujan yang turun dengan derasnya. Seakan ingin menyembuyikan air mataku yang mengalir tanpa mampu aku hentikan. Suara gemuruh langit, bagaikan suara hatiku yang menjerit merasakan sakit yang tak tertahankan. Aku menangis dalam derasnya air hujan. Aku menjerit kesakitan bersamaan dengan gemuruh suara langit. Malam paling menyakitkan dalam hidupku. Malam yang tidak akan pernah terlupakan seumur hidupku. Malam dimana hatiku hancur tak bersisa.
Aku berlari terus berlari, kedua kakiku seakan tak merasa lelah. Aku menembus derasnya hujan malam itu. Kulawan gelap dan sunyi malam itu. Tak ada lagi rasa takut, karena ketakutan terbesar dalam hidupku telah terjadi. Kehilangan Davina dan melepaskan tangannya, untuk Fathan kakak kandungku. Rasa yang harus aku lupakan demi kebahagian mama dan tante Diana. Hatiku merasa dingin dan beku. Sedingin angin malam yang menembus tulang-tulangku. Air hujan bagaikan es yang membekukan hati dan jiwaku. Tak ada lagi kehangatan dalam hatiku. Hanya ada luka dan kepahitan. Cinta yang terasa indah, bagai ribuan duri yang menusuk hatiku. Tak ada lagi senyum atau bahagia. Semua berakhir dengan air mataku.
Tepat di depan pintu, aku mendengar suara tangis. Hatiku terenyuh mendengar suara tangis dari dalam rumah. Aku membuka pintu rumah yang sedikit reyot. Aku mendorong pintu perlahan. Kuedarkan pandangan ke seluruh bagian rumah. Aku melihat rumah yang tak bersekat, tidak ada perabotan. Hanya ada tikar lusuh sebagai alas tempat tidur sang pemilik rumah. Semua sangat jauh dari kata layak. Hanya keterbatasan yang terlihat nyata.
Seketika aku jatuh lunglai, aku bukan hanya gagal menjadi seorang imam. Namun kenyataan yang aku lihat. Seakan mengatakan aku tak lebih dari insan tanpa rasa syukur. Aku tak pernah merasa bersyukur akan segala kemewahan yang kurasakan. Sedangkan di depan mataku, aku melihat keluarga tidur hanya dengan tikar lusuh. Sebuah tikar yang akan aku buang ke tempat sampah. Aku malu akan diriku yang tak berguna. Aku melihat sebuah keluarga yang saling merangkul dalam kondisi yang paling sulit. Sebaliknya aku selalu mengacuhkan kasih sayang orang tua dan saudaraku. Aku bersikap dingin, tanpa peduli pada perasaan mereka. Tanpa aku sadari, mama dan papa terluka akan sikap dinginku. Suara tangis yang aku dengar, mengingatkanku akan tangis mama. Beliau menangis di saat melihatku sakit. Mama terjaga demi merawatku, tanpa peduli lagi akan kesehatannya. Namun malam itu, aku marah dan membencinya. Seakan mama orang paling jahat padaku. Padahal mama orang yang paling berjasa dalam hidupku. Seorang ibu yang menyayangiku melebihi hidupnya. Aku merasa malu telah mengecewakan mama. Aku merasa sakit, ketika mama meminta Davina untuk Fathan. Padahal selama hidupku, mama tidak pernah meminta apapun. Dia memberi tanpa berpikir ingin meminta padaku. Aku telah menerima banyak cinta dari mama. Kenapa merelakan satu cinta saja seolah aku tak sanggup?
Lama aku termenung memahami apa yang aku lihat? Aku tersadar saat, aku mendengar suara jeritan seorang anak. Aku berlari menghampiri tubuh kurus laki-laki paruh baya. Aku melihat dia kesakitan, tanpa berpikir panjang aku menggendongnya. Aku berlari menuju rumah sakit terdekat. Namun bukan perawatan yang dia terima, tapi penolakan hanya karena dia orang miskin. Aku tertegun melihat kenyataan yang begitu menakutkan. Seorang pasien ditolak hanya, karena status sosial. Aku merasa bodoh dan tak berguna. Aku hanya diam melihat seorang perawat menghina sang bapak tua. Tanpa bisa berbuat apa-apa? Kedua kalinya aku tersadar. Jika aku bukan siapa-siapa tanpa harta kedua orang tuaku? Fakta yang membuka mata hatiku. Mengingatkan aku pengorbanan mama sangatlah besar untukku. Sangat tidak pantas bila aku menolak bekorban untuknya.
__ADS_1
Aku merasa bodoh, ketika aku menangis dan marah akan jalan yang tertulis. Namun aku tak pernah menyadari. Kemewahan yang kurasakan, jauh di atas bapak tua ini. Aku hanya merasakan sedikit sakit, tapi aku menganggap Allah SWT tidak adil padaku. Padahal bapak tua ini harus merasakan hinaan dan cacian selama hidupnya. Bahkan disaat dia meregang nyawa, bukan pertolongan yang dia terima melainkan hinaan yang harus dia dengar.
Malam dimana aku terluka dan terpuruk? Malam yang sama aku merasa terlahir kembali. Kujadikan luka hatiku sebagai semangatku. Kujadikan air mataku sebagai senjataku. Aku berjanji takkan lagi meratapi cinta yang bukan tercipta untukku. Pertemuanku dengan keluarga itu, membuatku bertekad menjadi seorang dokter yang menyembuhkan. Bukan dokter yang akan membedakan.
Kuputuskan pergi mencari jati diri. Melupakan cinta yang pernah ada. Bukan ingin menyalahkan mama, karena bukan salah mama memilih Fathan. Sebab Fathan jauh lebih baik dariku. Dia dewasa dan memiliki tujuan hidup yang pasti. Aku pergi menjauh dengan harapan. Aku tidak akan pernah menjadi bagian dari perjodohan itu. Namun harapan tinggal harapan. Aku tetap menjadi bagian dari malam perjodohan ini. Setelah bertahun-tahun rasa itu tetap ada. Namun bukan rasa ingin memiliki, tapi sebatas rasa ingin melindungi. Siapapun yang kelak menggenggam tangannya? Aku pertama yang akan mendoakan kebahagian mereka. Tidak akan aku marah atau terluka, karena kebahagian sejati. Ada ketika kita melihat orang yang kita sayangi bahagia.
FAIQ POV END
"Kopi!" sapa Annisa sembari mengutas senyum, Faiq menoleh dengan raut wajah terkejut. Annisa berdiri sembari membawa segelas kopi.
"Terima kasih!" ujar Faiq lirih, sesaat setelah menerima kopi dari Annisa. Faiq menyeruput kopinya pelan. Annisa duduk di samping Faiq. Keduanya sedang berada di taman rumah sakit. Suasana rumah sakit masih sangat sepi. Faiq datang ke rumah sakit. Dia datang saat ada panggilan darurat. Bahkan sejak semalam Faiq belum tidur. Dia duduk di taman sengaja ingin menenangkan pikirannya.
"Dokter Faiq, aku ingin bertanya sesuatu. Maaf jika ini bersifat pribadi. Namun jujur aku sangat ingin mengetahuinya. Aku ingin tahu, kenapa anda tetap diam? Sedikitpun anda tidak berjuang mendapatkan Davina. Meski anda mengetahui, jika Fathan akan dijodohkan dengan Davina. Wanita yang sangat anda sayangi. Apa hati anda tidak sakit? Bila melihat Davina bersama laki-laki lain!" ujar Annisa, Faiq diam membisu. Lalu menghela napas panjang dan membunganya pelan.
"Aku menyayanginya, bahkan setelah bertahun-tahun aku menjauh. Hatiku tidak hanya sakit, tapi hancur bila melihatnya bersama laki-laki lain. Namun diamku bukan rasa takut atau lemahku. Tapi diamku cara menyayanginya. Aku menyayanginnya, tanpa aku berharap memilikinya. Aku mencintainya, tanpa rasa takut kehilangan dirinya. Sebab dia selalu ada dalam hatiku, menemani setiap langkahku. Dia bukan barang yang pantasa aku perebutkan. Karena Dia jauh lebih berharga dari diriku sendiri. Dia tidak perlu diperjuangkan, karena rasaku tulus tanpa berharap bisa bersamanya. Aku menghargainya dengan segenap hatiku. Sebab itu hanya pada kak Fathan aku mempercayakan dirinya!" tutur Faiq, Annisa mengangguk mengerti. Dia mencoba memahami cara Faiq mencintai Davina.
__ADS_1
"Tapi aku ingin kamu perjuangkan!"