KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Pendarahan


__ADS_3

Seluruh keluarga Prawira sedang berkumpul. Hana selalu meminta Rafa untuk sarapan bersama keluarganya. Setelah seharian Rafa bekerja, sangat wajar bagi Hana meminta Rafa untuk berkumpul dengan keluarganya. Meski Rafa tidak menginginkan hal itu. Namun Rafa tetap melakukannya. Semua demi permintaaan sang istri.


Hubungannya dengan Gunawan masih sangat dingin. Rafa cenderung kaku dan dingin di hadapan keluarganya. Dia mencoba membentengi dirinya, agar tidak ada yang bisa mengaturnya. Termasuk tuan Ardi yang notabene kakeknya. Rafa selalu menutup diri, biasanya Rafa akan pergi ke tempat hiburan malam. Namun saat ini berbeda, Rafa akan pergi ke rumah Hana. Sebagai tempat dia menenangkan diri.


"Rafa, hari ini kamu sibuk. Papa ingin memintamu makan bersama siang ini. Keluarga Sesil memaksa mengundang kami. Sangat tidak pantas bila kita tidak datang!" ujar Gunawan, Rafa terus mengaduk makanan yang ada di depannya. Pikirannya hanya tertuju pada Hana. Semua makanan yang ada di depannya tidak bisa membangkitkan selera makannya.


"Rafa, aku tahu kamu tidak suka dengan Sesil. Setidaknya demi hubungan baik dua keluarga!" ujar Sabrina membantu suaminya. Sejujurnya Sabrina enggan ikut campur. Rafa tahu segalanya, jika Rafa marah padanya. Berakhir sudah hidupnya. Entah darimana Rafa tahu tentang masa lalunya? Masa lalu yang penuh dengan maksiat dan kegelapan.


"Rafa, papa dan mamamu sedang berbicara! Jangan bersikap tidak sopan dengan mengacuhkan mereka. Kakek tidak pernah mengajarkan padamu untuk bersikap tidak sopan!" ujar tuan Ardi, seketika Rafa mendongak menatap bergantian ke arah kedua orang tuanya. Rafa menatap tajam, jauh dilubuk hatinya hanya Hana yang sedang dia pikirkan. Sejak semalam hati Rafa gelisah. Rafa mencoba menghubungi Hana, tapi tidak tersambung.


"Aku tidak ada urusan dengan Sesil. Meski aku tidak hadir semua akan tetap sama. Sampaikan salamku pada mereka!" ujar Rafa sopan, dia menolak ajakan makan siang keluarga Sesil.


"Rafa, datanglah untuk makan siang. Keluarga Sesil sudah mengundang kita. Tidak baik mengecewakan mereka. Kakek akan menjamin pertemuan ini hanya untuk makan siang. Tidak akan ada hal yang lain!" ujar tuan Ardi, Rafa mengangguk pelan. Gunawan dan istrinya tersenyum. Mereka seolah sedang merencanakan sesuatu. Terlihat dari senyum mereka yang sedikit aneh.


"Baiklah, aku akan datang. Kirim saja alamat restorannya. Aku akan datang setelah rapat. Aku ingatkan lagi, hanya makan siang tidak lebih. Jika aku tahu ada acara jodoh-menjodohkan. Aku tidak segan-segan keluar dari rumah ini!" ujar Rafa tegas, lalu berdiri meninggalkan meja makan. Rafa tak menyentuh makanannya. Selera makannya menghilang, hanya cemas dan gelisah akan keadaan Hana memenuhi seluruh pikirannya.


"Rafa, kamu tidak sarapan. Setidaknya satu suap saja, kamu butuh tenaga untuk bekerja!" ujar tuan Ardi, Rafa menggeleng lemah. Dia langsung keluar dari rumah. Rafa hanya ingin secepat mungkin sampai di rumah Hana. Dia ingin melihat kondisi istrinya.


Semalam Rafa bermimpi Hana datang padanya. Setelah tangan mereka saling berpegangan, Hana melepaskan pegangan Rafa. Bayangan Hana menghilang tak berbekas. Rafa menjerit histeris melihat Hana menghilang darinya. Rafa tidak ingin semua itu terjadi. Semenjak itu jantung Rafa berdetak hebat, dia sangat takut bila mimpi itu menjadi kenyataan.


"Hana, dimana kamu sayang?" teriak Rafa, setelah membuka rumah Hana. Rafa mencari Hana di sekeliling rumah. Rafa semakin cemas, dia mencoba menghubungi Hana. Namun suara ponsel Hana terdengar dari arah kamar. Ternyata Hana tidak membawa ponsel. Rafa semakin kalut mencari Hana. Rafa mengusap wajahnya kasar, Rafa gusar dia tidak mengetahui keberadaan Hana.


...☆☆☆☆☆...


DI PEMAKAMAN UMUM


Sejak pagi Hana berada di area pemakaman tak jauh dari rumahnya. Entah kenapa Hana sangat merindukan kedua orang tuanya? Semalaman Hana menangis sendirian. Dia merasa kesepian tanpa kedua orang tuanya.


Hana duduk diantara dua makam. Dia menatap dua nisan secara bergantian. Tatapan Hana pilu, dia ingin berkeluh kesah. Namun bingung pada siapa? Seluruh tubuh Hana seolah lemas, dia tak mampu lagi menopang tubuhnya. Hana ingin berlari sekuat tenaga. Menjauh dari hubungan yang tak akan pernah mandapat restu.


FLASH BACK


Sekitar pukul 20.00 wib, Hana mendapatkan tamu. Mereka dua orang yang sangat berkelas. Terlihat dari mobil yang mereka gunakan. Sebuah mobil mewah dengan supir pribadi dan seorang pengawal. Hana sudah bisa menebak siapa mereka? Hana hanya berurusan dengan satu keluarga yang setara dengan mereka.


Tamu yang mengetuk pintu rumah Hana. Tamu yang sengaja datang ke gubuk Hana dengan membawa sebuah luka. Mereka tak lain, Gunawan Adi Prawira dan istrinya. Kedua bola mata Hana membulat sempurna, saat kedua orang yang pernah menghinanya berdiri di depannya. Tubuh Hana bergetar hebat, dia benar-benar tidak menyangka akan kedatangan mereka.


"Silahkan masuk!" ujar Hana ramah, mereka masuk ke dalam rumah Hana. Gunawan mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah Hana. Dia melihat sebuah rumah yang jauh dari kata layak baginya. Namun membuat putranya Rafa nyaman akhir-akhir ini. Sebaliknya Sabrina menunjukkan sikap yang seakan jijik duduk di kursi lama milik Hana.


"Kamu yang bernama Hana, apa hubunganmu dengan Rafa!" ujar Gunawan dingin, Hana menunduk ketakutan. Dia tidak bisa mengatakan apa-apa? Sebab Rafa pernah meminta padanya untuk menyembuyikan status mereka.


"Saya tidak memiliki hubungan apapun dengan pak Rafa. Kami hanya bertemu beberapa kali. Dia mantan bos saya!" ujar Hana sopan, Gunawan tersenyum sinis. Dia tahu sebenarnya siapa Hana? Gunawan menyewa seseorang untuk mengikuti Rafa. Gunawan telah mencari informasi hubungan Hana dan Rafa.

__ADS_1


"Kamu berbohong, kamu dan Rafa sudah menikah. Dia suamimu, tapi sayangnya Rafa tidak ingin mengakuimu. Buktinya kamu hanya dikenalkan sebagai seorang pelayan. Sejak awal, kamu seorang pelayan dan akan tetap menjadi pelayan!"


"Aku heran ada wanita seperti dirimu. Kamu menggadaikan tubuhmu hanya demi sebuah kemewahan. Lihat perbedaanmu dengan Rafa, kamu jauh di bawah kaki Rafa!" sahut Sabrina, Hana terdiam mendengar hinaan demi hinaan dari kedua orang tua Rafa. Hana ingin melawan mereka, tapi apa yang akan dia dapatkan? Kepuasan sesaat yang tetap akan meninggalkan luka.


"Maaf tuan dan nyonya yang terhormat. Saya tidak menginginkan apapun dari status saya sebagai istri pak Rafa. Harta dan kemewahan yang anda katakan, tidak serta merta membuat saya gelap mata. Pernikahan kami terjadi karena sebuah kesalahan. Jika anda merasa keberatan dengan status saya yang seorang pelayan. Anda tidak perlu khawatir, selamanya saya akan menyembuyikan status saya. Putra anda berhak menikah dengan wanita lain. Tidak akan pernah saya melarang!"


"Sombong kamu Hana, apa kamu pikir bisa hidup tanpa harta keluarga Prawira? Bukankah selama ini, kamu makan dan minum dari uang yang Rafa berikan. Jangan-jangan kehamilanmu, kamu gunakan untuk menjerat Rafa agar tetap di sampingmu!" sahut Sabrina ketus, Hana menggeleng lemah. Ternyata kedua orang tua Rafa tidak lebih dari orang pintar, tapi buta akan sopan santun. Hana tersenyum sinis mendengar perkataan Sabrina. Hana tidak pernah menyangka, ada seorang wanita yang mampu menilai wanita lain rendah. Padahal belum tentu dia tidak lebih rendah dari Hana.


"Tuan dan nyonya, saya masih bersyukur belum pernah menggunkan ATM yang pernah diberikan pak Rafa pada saya. Jika memang anda memintanya, sebentar akan saya ambilkan. Mungkin anda lebih butuh dari saya!" ujar Hana, lalu berdiri menuju kamarnya. Hana mengambil ATM yang sudah lama diberikan padanya.


"Ini kartu yang diberikan pak Rafa. Satu sen saya belum pernah menarik uang. Alhamdulillah sampai detik ini, saya masih bisa makan dengan keringat saya sendiri!" ujar Hana santai, dia meletakkan kartu ATM tepat di depan kedua orang tua Rafa. Kedua mata Sabrina berbinar, melihat kartu ATM tanpa limit milik keluarga Prawira. Dia saja yang menikah dengan Gunawan. Tidak pernah bisa memiliki kartu itu.


"Satu hal lagi tuan yang terhormat. Mungkin bayi yang aku kandung memiliki darah keluarga Prawira. Namun tidak akan pernah dia menyandang nama Prawira. Sampai saat ini, anak ini milikku. Bukan milik pak Rafa!"


"Apa maksud semua ini Hana? Kamu menghina kami miskin. Pantang bagi kami mengambil barang yang sudah diberikan pada orang lain. Jika memang kamu tidak punya niat jahat. Besok temui kami di restoran XX. Minta Rafa meninggalkanmu dan menikah dengan Sesil. Hanya Sesil wanita yang pantas untuk Rafa!" ujar Gunawan ketus, lalu pergi meninggalkan Hana yang termenung sendiri.


FLASH BACK OFF


"Rafa, duduklah di samping Sesil!" ujar Gunawan, Rafa datang setelah setengah hari mencari keberadaan Hana. Rafa benar-benar sudah tidak bisa berpikir. Bahkan Diana tidak mengetahui keberadaan Hana.


"Semua sudah datang, kita mulai saja. Takutnya nak Rafa sibuk, tidak baik membuang waktunya terlalu lama!" ujar ayah Sesil, tuan Gunawan menggeleng. Semua orang bingung dengan jawaban Gunawan, hanya Rafa yang seolah tidak peduli.


"Tenang saja papa, aku hanya mengundang seseorang yang sangat penting untuk Rafa. Dia ingin mengatakan sesuatu!"


Kreeeekkk


"Assalammualaikum!" sapa Hana sopan, Rafa mendongak ketika dia mendengar suara Hana. Meski terlihat aneh, tapi Rafa tidak peduli. Baginya yang terpenting, Hana sekarang berada di depannya.


"Sayang!" ujar Rafa, dia memeluk Hana sangat erat. Rafa tidak peduli jika semua orang melihatnya. Tubuh Hana dingin, tak ada kehangatan yang mampu menembus beku hati Hana saat ini. Rafa heran melihat sikap Hana yang berubah.


"Hana, silahkan duduk. Sudah lama kami menunggunmu!" ujar Gunawan, Hana mengangguk. Dia melepaskan pelukan Rafa tanpa menoleh. Hana bersikap dingin, bahkan Hana duduk menjauh dari Rafa.


"Gunawan, apa maksud kamu membawa Hana? Jangan macam-macam kamu Gunawan! Rafa bisa kalap, jika kamu berani menyentuh Hana!"


"Aku tidak melakukan apa-apa? Semua murni keinginan Hana. Papa dengar saja dari mulutnya!" ujar Gunawan, tuan Ardi merasa ada yang salah.


Rafa tak henti menatap wajah Hana. Sesil sudah mengetahui rencana Gunawan. Sengaja bergelayut manja pada Rafa. Sedangkan Hana hanya tertunduk, dia tidak melihat ke arah Rafa dan Sesil. Gunawan memberi isyarat pada Hana, agar dia mulai mengatakan semuanya.


"Maaf sebelumnya, mungkin saya datang tanpa diundang. Namun kedatangan saya hanya ingin mengucapkan selamat atas pertunangan tuan Rafa dan nona Sesil. Dari lubuk hati saya yang paling dalam. Saya mendoakan semoga kalian bahagia selamanya. Mengenai hubungan saya dengan tuan Rafa. Mulai detik ini, semuanya berakhir. Saya tidak akan menuntut apapun dari tuan Rafa!" ujar Hana mantap, kedua mata indah Hana menatap wajah sang suami. Rafa menatap tajam ke arah Hana, dia mengingat mimpinya semalam. Semua berputar dengan sangat indah.


Tatapan Rafa dan Hana bertemu di udara. Seolah berbicara dari hati ke hati. Tak ada air mata yang menetes. Hana sudah mantap mengakhiri semuanya. Setelah merasa semua sudah selesai, Hana berdiri menghampiri Rafa.

__ADS_1


"Selamat kak Rafa, aku akan mendoakan kebahagianmu. Anggaplah pertemuan kita seperti debu yang akan menghilang bersama dengan angin. Dia jauh lebih pantas untukmu. Terima kasih telah menemaniku selama ini. Izinkan aku mencium tanganmu, untuk yang terakhir kali. Sebagai rahmatku menjalani hidup!" ujar Hana lalu mencium lembut punggung tangan Rafa. Hana tetaplah seorang wanita, dia akan menangis bila terluka. Air mata Hana menetes tepat di atas tangan Rafa.


"Tuan, terima kasih pernah berpikir ingin menerimaku!" pamit Hana, dia mencium lembut punggung tangan tuan Ardi. Hana berjalan perlahan, dia pergi membawa luka.


"Tunggu Hana Khairunnissa. Tidak semudah itu kamu pergi. Bukankah kamu ingin melihat pertunanganku dengan Sesil. Kenapa kamu tidak tinggal dan menyaksikannya? Agar hati kita sama-sama hancur tak tersisa! Mereka menghancurkan keluargaku, maka dengan tanganku sendiri. Akan kuhancurkan keluarga Prawira!" ujar Rafa sinis, Hana diam mematung. Tuan Ardi berdiri, dia tahu kemana arah perkataan Rafa? Dengan santai Rafa mengangkat ponselnya. Dia akan hendak menghubungi seseorang.


"Rafa, jangan gegabah. Semua bisa dibicarakan baik-baik!" cegah tuan Ardi, Rafa melihat ke arah Hana. Tak sedikitpun Hana menoleh ke arahnya. Rafa berjalan mendekat ke arah Hana. Dia memutar tubuh Hana 180° menghadap ke arahnya.


"Hana, katakan semua ini hanya mimpi. Bangunkan aku Hana, agar aku tidak tersiksa. Jujur Hana, aku tidak sanggup bila harus melihatmu pergi. Jangan dengarkan mereka, tetaplah di sisiku. Demi buah hati kita!" ujar Rafa menghiba. Dia menggenggam tangan Hana, mencium lembut tangan Hana.


"Aku mohon, jangan tinggalkan aku. Jika memang keluarga ini menyakitimu. Aku akan pergi bersamamu. Aku akan meninggalkan keluarga Prawira, tapi jangan pernah meninggalkan aku!" ujar Rafa memohon, Hana tetap diam seribu bahasa. Gunawan melihat kehancuran seorang Rafa. Dia melihat putranya menghiba di depan seorang pelayan. Jika dulu Gunawan menikah dengan seorang pelayan karena terpaksa. Sekarang putra kebanggaannya mencintai seorang pelayan.


"Rafa cukup, kamu tidak pantas memohon padanya. Dia hanya seorang pelayan. Kamu bisa mendapatkan puluhan wanita seperti dia. Kamu harus bisa menjaga kehormatan keluarga Prawira. Wanita seperti itu tidak pantas menjadi bagian keluarga Prawira!"


"Gunawan, kamu jangan lupa. Dulu aku hanya seorang kuli. Memangnya ada yang salah dengan Hana. Mungkin kenyamanan yang kuberikan membuatmu lupa akan asal usul keluarga kita. Jangan pernah menghina Hana!"


"Ayah, kita berbeda dengan dia! Hana hanya wanita kampung tanpa status. Dia hidup sebatang kara, tanpa ada orang tua. Hanya harta yang dia inginkan dari Rafa. Mungkin juga bayi yang dia kandung, hanya alat untuk menjerat Rafa!" ujar tuan Gunawan semakin Kasar, tuan Ardi hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikap Gunawan yang tak pernah sadar. Sebaliknya Rafa semakin meradang, telinganya panas saat mendengar istri dan putranya terhina di depan matanya. Rafa mengepalkan tangannya, dia berbalik ingin memukul Gunawan.


"Sudah cukup aku dan bayiku terhina. Tidak bisakah aku pergi dengan tenang. Jika kak Rafa memukul mereka, hinaan seperti apa lagi yang harus aku dengar? Jujur kak Rafa, aku tidak sanggup mendengar hinaan lagi. Mungkin terlahir sebagai orang biasa hina dimata keluargamu. Namun aku bisa apa? Aku selalu bersyukur hidup dalam kesederhanaan. Jangan jadikan aku orang yang lalai, karena menyesal tidak terlahir sederajat denganmu. Jangan sakiti siapapun karena diriku? Aku lelah dihina, aku lelah!" ujar Hana terduduk di lantai, kedua tangannya menangkup di depan dada. Dia mendongak menatap Rafa yang ada di depannya. Hana meratapi pertemuannya dengan Rafa.


"Lihatlah, dia yang kamu hina. Menghiba pada putramu demi keutuhan keluarga kita. Hana merelakan pernikahannya, hanya karena takut Rafa dipermalukan. Selamanya kamu tidak akan mengerti arti ketulusan. Kamu buta oleh harta dan cinta wanita malammu. Mungkin Sabrina terbaik untukmu, tapi dia tidak jauh lebih hina dari Hana!" ujar tuan Ardi, Gunawan termangun memikirkan perkataan ayahnya.


"Sayang!"


Brukkkk


Tubuh Hana jatuh ke lantai, Rafa kaku melihat istrinya pingsan tepat di depannya. Tuan Ardi berlari menghampiri Hana. Dia menyadarkan Rafa yang termangu melihat tubuh Hana yang tiba-tiba membiru.


"Rafa, angkat Hana! Jangan hanya diam saja!"


"Rafa!" panggil tuan Ardi, Rafa tersadar. Seketika dia mengangkat tubuh Hana. Rafa kalut, dia harus segera membawa Hana ke rumah sakit.


"Rafa, ada darah keluar!" ujar Sesil cemas, semua orang menjadi panik. Apalagi mengingat Hana sedang mengandung. Rafa semakin frustasi, dia berlari menuju mobilnya.


"Gunawan, kamu berhasil menghancurkan hati putramu. Berdoalah jangan sampai terjadi sesuatu pada Hana. Jika tidak semua akan berakhir juga untuk keluargamu!" ujar tuan Ardi dingin, Gunawan dan istrinya termenung. Dia memang tidak menyukai Hana, tapi tidak pernah dia berpikir ingin membuat Hana keguguran.


"Rafa, tunggu kakek!"


...☆☆☆☆☆...


TERIMA KASIH😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2