
"Faiq, sarapan dulu!" teriak Hana, ketika melihat Faiq yang langsung berangkat tanpa sarapan. Faiq menoleh seraya menggeleng lemah ke arah Hana. Faiq melihat Hana sedang duduk di meja makan. Sedangkan Fathan duduk melamun di sofa ruang tengah. Termenung memikirkan sesuatu yang tak pernah ada ujungnya.
Sekilas Faiq melihat Fathan yang sedang melamun. Fathan bukan pribadi yang mudah menyimpan rahasia. Dengan mudah Faiq bisa menyadari kegelisahan Fathan. Sebaliknya Fathan tidak akan bisa melihat kegelisahan Faiq dengan cara apapun. Sebab Faiq terdidik menyimpan rahasia dengan sangat rapi. Faiq tidak mudah dipahami. Pribadi yang nyata diturunkan oleh Hana. Meski Faiq heran melihat sikap Fathan? Namun dia tidak akan bertanya bila Fathan tidak mengatakannya. Faiq bukan pribadi yang ingin tahu, tapi dia yang paling khawatir bila terjadi sesuatu pada keluarhanya.
Faiq menghampiri Hana, mencium punggung tangannya untuk berpamitan. Faiq tidak bisa ikut sarapan. Sebab dia harus mengadakan evaluasi dengan beberapa dokter. Dia sudah mengatakan pada Davina semalam. Meski kecewa, Davina harus bisa menerima kesibukan Faiq sebagai seorang dokter. Sebagai seorang istri Davina berusaha mengerti kesibukan Faiq.
Namun sebagai seorang wanita, terkadang Davina merasa Faiq kurang membagi waktu dengannya. Ada rasa cemburu, ketika Faiq lebih fokus pada pekerjaannya. Sejak dulu sampai sekarang, Faiq selalu mementingkan keselamatan orang lain. Daripada kepentingan pribadinya. Namun ada saat Faiq merasa perlu memperhatikan Davina. Sehingga Faiq meminta bantuan dokter lain menggantikannya. Faiq tipe pemimpin yang disegani. Sebab dia memerintah dengan hati bukan keangkuhan. Faiq akan melakukan apapun sendiri selama dia bisa melakukannya.
"Maaf mama yang cantik. Aku ada rapat, jadi aku akan sarapan roti isi bekal dari Davina saja. Nanti siang aku ada janji makan dengan papa Andrew dan mama Diana. Hari ini perayaan pernikahan mereka. Sebab itu aku harus menyelesaikannya tepat waktu. Agar nanti tidak datang terlambat!" ujar Faiq lirih, seketika Hana menoleh tidak percaya.
Faiq dengan lantang mengatakan akan ada perayaan pernikahan Andrew dan Diana. Namun tak ada satupun dari Andrew atau Diana yang mengabarinya. Entah kenapa Andrew dan Diana sengaja menyembunyikan fakta itu? Padahal Hana bukan hanya sahabat mereka, tapi besan yang artinya orang tua putrinya juga.
Hana kecewa sekaligus tidak menduga. Bila memang hari ini perayaan pernikahan Diana. Kenapa dia tidak diundang? Setidaknya sebagai mertua Davina. Dia berhak mengetahui hari bahagia Diana. Bahkan hubungan Hana dan Diana lebih dari besan. Mereka telah menjadi saudara sejak masa belia. Lantas apa kesalahan Hana sampai Diana tidak berniat mengundang atau sekadar memberitahunya! Kekecewaan Hana seakan benar, ketika kenyataannya dia tidak menjadi bagian dari acara Andrew dan Diana. Namun apapun yang dipikirkan sahabat sekaligus besannya itu. Hana hanya bisa diam dan pasrah. Terlalu menuntut juga tidak akan baik bagi hubungan mereka.
Seketika Faiq menutup mulutnya, dia keceplosan mengatakan tentang perayaan pernikahan mertuanya. Faiq merasa bersalah ketika melihat raut wajah Hana berubah menjadi sedih. Faiq merasakan sakitnya tak dianggap, meski sebenarnya rasa sakit Hana tidak beralasan. Sesungguhnya perayaan hari pernikahan Andrew dan Diana tidak akan dirayakan. Namun sifat keras kepala Davina yang memaksa. Agar perayaan pernikahan kedua orang tuanya dirayakan. Sebab itu tidak ada satupun orang yang diundang dalam perayaan tersebut. Hanya akan ada makan siang bersama dengan Davina dan Faiq. Tak pernah ada niat untuk merayakan. Hanya sedikit kehangatan sebuah keluarga tidak lebih dari itu.
"Kenapa?" ujar Hana lirih, dia terduduk di kursi meja makan. Sontak Faiq cemas melihat kesedihan Hana. Tidak pernah Faiq ingin melihat air mata atau duka Hana. Sekarang dengan nyata Faiq membuat Hana bersedih dan merasa tersisih. Satu kata yang terucap dari bibir Hana. Mampu menunjukkan betapa dia kecewa. Hana merasa tak berarti lagi bagi Diana. Sebagai seorang sahabat, Hana mulai melupakan hari bahagia sang sahabat. Mungkin rasa tersisih yang sama. Juga dirasakan Diana, ketika dia menyadari Hana telah melupakan hari bahagianya.
Faiq diam melihat raut kecewa Hana. Tidak pernah Faiq berpikir, perkataannya telah melukai hati Hana. Tanpa sengaja Faiq mengisyaratkan perpecahan diantara Hana dan Diana. Perpecahan setelah bertahun-tahun bersama. Faiq merasa bersalah sekaligus menyesal. Dirinya penyebab kesedihan Hana.
"Mama, jangan kecewa meski mama Diana tidak mengatakan pada mama tentang perayaan ini. Sejujurnya mama Diana tidak pernah ingin ada perayaan. Namun Davina merengek ingin merayakannya. Walau dengan sederhana. Davina tetap ingin ada perayaan. Jadi bukan salah mama, bila mama Diana tidak mengatakannya!" ujar Faiq menenangkan Hana. Dia berjongkok di depan Hana yang termenung.
__ADS_1
Hana bukan hanya kecewa, tapi dia merasa bersalah dan marah pada dirinya sendiri. Sebagai seorang sahabat Hana tidak mengingat hari paling bahagia sahabatnya. Sejak dulu saat belia, Diana orang pertama dam satu-satunya yang selalu ada di sampingnya. Diana yang selalu berada paling depan membela Hana. Diana yang menjadi penyemangat dan teman dalam sepi hidup Hana. Diana yang membuat Hana lupa, jika dia hidup sebatang kara. Diana yang selalu membuat Hana tersenyum dan lupa cara menangis.
Kini tanpa Hana sadari, dirinya telah bersikap egois. Melupakan hari paling bahagia sahabatnya. Seharusnya tanpa Diana bicara, Hana sudah mengetahui hari penting ini. Namun kehidupan dan waktu Hana bukan lagi untuk sahabatnya. Mengingat satu hari bersejarah sahabatnya saja. Hana tidak bisa, lantas sekarang pantaskah Hana disebut sebagai sahabat terbaik.
"Faiq, kenapa mama bisa sejahat ini? Dia sahabat mama sebelum menjadi mertuamu. Kenapa mama bisa melupakan hari paling bahagia dalam hidupnya? Sedangkan Diana tidak pernah lupa, hari paling bahagia dan sedih dalam hidup mama. Diana orang yang pertama kali menghapus air mata mama sebelum papamu. Diana yang selalu menggenggam erat tangan mama. Ketika tangan papamu tak ada untuk menggenggamnya. Mama egois dan angkuh Faiq!" ujar Hana lirih, lalu menunduk.
Hana sangat menyesal dan marah pada dirinya sendiri. Dia sahabat yang tidak pernah mengingat sahabatnya. Hana menjadi pribadi yang sangat-sangat egois. Seseorang yang ingin diingat, tapi tidak pernah berpikir mengingat orang lain. Berharap kebahagian dari orang lain. Namun lupa memberikan kebahagian untuk orang lain.
Faiq terdiam melihat raut wajah sedih Hana. Sejak awal Diana sudah mengingatkan Faiq, untuk tidak mengungkit acara siang ini. Diana tidak ingin melihat Hana kecewa dan sedih. Sebab Diana tidak ingin bahagia, ketika di hari yang sama Hana bersedih. Hari bahagia Diana menjadi hari terburuk bagi Hana. Sebab itu Diana tidak ingin ada acara apapun. Sebagai cara dia menghormati Hana sahabatnya.
"Mama jangan menyalahkan diri sendiri. Tidak pernah mama Diana berpikir mama melupakannya. Mama Diana tidak ingin merayakannya. Sebab hari ini bertepatan dengan hari kematian kakek dan nenek. Mama Diana tidak ingin merayakan sesuatu. Ketika mama bersedih kehilangan kedua orang tua mama!" ujar Faiq menjelaskan, Hana mengangguk dengan mengutas senyum simpul.
Diana tetaplah Diana sahabatnya dulu. Dalam setiap langkahnya dia hanya akan peduli pada kondisi Hana. Entah sebuah pengertian yang terlalu besar? Atau persahabatan mereka yang begitu erat. Hana dan Diana seakan takkan mudah terpisahkan. Keduanya akan selalu bersama dalam suka dan duka. Bahagia Hana akan menjadi bahagia Diana. Sebaliknya duka Hana akan menjadi duka Diana.
"Faiq, itulah Diana sahabat mama. Dia tidak akan memikirkan bahagianya. Sebelum dia melihat mama bahagia. Dia tidak akan bahagia, bila melihat mama bersedih. Cukup satu saudara seperti Diana dalam hidup mama. Tidak ada gunanya, bila memiliki banyak saudara tapi seakan hidup sendiri!" ujar Hana, Faiq mengangguk mengerti. Faiq menggenggam erat tangan Hana.
Faiq mencoba menenangkan Hana. Membuatnya Hana tidak larut dalam penyesalannya. Sebab Faiq memahami watak Hana yang akan terus menyalahkan dirinya sendiri. Faiq tidak ingin melihat Hana larut dalam penyesalan yang tak berarti.
"Percayalah ma, tanganmu dan mama Diana yang akan selalu Faiq genggam. Kebahagian kalian alasan hidup Faiq. Kebaikan hati kalian yang menyatukanku dengan Davina. Akan Faiq bayar seumur hidup. Akan Faiq perjuangakan kebahagian kalian!" batin Faiq sendu.
"Mama, nanti ikutlah denganku. Kita akan merayakan bersama hari pernikahan mama Diana. Tidak akan mama Diana marah melihat hadirmu. Kedatangan mama akan menjadi hadiah paling berharga bagi mama Diana!" ujar Faiq lirih, Hana mengangguk lalu mencium puncak kepala Faiq.
__ADS_1
Faiq tahu bagaimana cara menenangkan hati Hana. Dia tidak akan pergi meninggalkan Hana. Jika belum bisa membuat Hana tenang. Faiq selalu mementingkan Hana di atas segalanya. Faiq bukan hanya menghormati Hana. Bahagia Faiq hanya ada bersama Hana.
Terlihat Fathan berjalan menghampiri Hana dan Faiq. Sontak Faiq berdiri ketika melihat Fathan duduk di samping Hana. Fathan mendengar jelas pembicaraan Hana dan Faiq. Walau sesungguhnya Fathan tidak begitu peduli dengan pembicaraan mereka. Dilema yang dihadapinya jauh lebih besar. Daripada masalah perayaan pernikahan Diana dan Andrew.
"Mama benar, cukup satu saudara yang mengerti kita. Dibandingkan dengan banyak saudara tapi acuh pada masalah kita. Saudara yang bersedia membantu kakaknya menyelesaikan masalahnya. Bukan saudara seperti Faiq yang seolah bahagia melihat pertengkaranku dengan Annisa!" ujar Fathan kesal, Faiq dan Hana menoleh hampir bersamaan.
Mereka tidak mengerti maksud perkataan. Terutama Faiq yang langsung menjadi sasaran utamanya. Sembari mengeryitkan dahinya Faiq menatap ke arah Fathan. Namun Fathan seolah tidak peduli akan keterkejutan Faiq dan Hana.
Fathan mengacuhkan keterkejutan Hana dan Faiq. Seolah apa yang dikatakannya bukan masalah serius? Fathan sengaja mengatakan hal itu, agar Faiq mengerti kesalahannya. Ketika Hana terkejut mendengar keluhan Fathan akan Faiq. Keluhan yang mungkin akan membuat kedua putranya bertengkar. Faiq justru terkekeh mendengar perkataan Fathan.
"Ternyata kak Annisa belum memaafkanmu. Seharusnya kakak berusaha lebih giat lagi. Agar kak Annisa memaafkanmu. Bukan malah menyalahkan aku!" ujar Faiq lirih sembari menggelengkan kepala tidak percaya.
Faiq tidak merasa bersalah, dia tidak bisa disalahkan sebab Fathan yang tidak berusaha mendapatkan kata maaf dari Annisa. Faiq terkekeh melihat kecemasan Fathan. Bukan rasa kasihan atau simpati. Terkadang Fathan harus merasakan susahnya meluluhkan hati Annisa. Agar dia mengerti arti cinta dan merasakan besar cintanya pada Annisa.
"Bahagianya kamu melihatku tersiksa. Anehnya kenapa Davina tidak cemburu? Melihatmu bertemu dengan Zahra. Sedangkan Annisa begitu marah dan cemburu. Meski aku meminta maaf dan membujuknya. Tetap saja dia marah dan mendiamkan aku!" ujar Fathan kesal, Faiq tersenyum puas melihat Fathan gusar. Sekali saja Fathan harus merasakan kegusaran dalam hidupnya. Agar Fathan tidak selalu berada pada zona nyaman. Fathan selalu sukses dalam mendapatkan apapun. Hari ini dia harus merasakan arti berjuang demi cintanya pada Annisa.
"Kak Fathan, cinta kak Annisa dan Davina itu sama. Cara pandang mereka dan rasa cemburu mereka itu sama. Satu hal yang membedakan, hanya cara kita dalam menenangkan dan meyakinkan mereka. Dengan kelembutanku, aku bisa membuat Davina yakin dan percaya. Bahwa dalam hidupku hanya ada namanya. Sebaliknya kamu meyakinkan kak Annisa. Bukan dengan kelembutan tapi dengan argumentasi yang berbelit-belit. Sehingga kak Annisa tidak merasa layaknya istrimu melainkan asetmu!" ujar Faiq, Fathan menatap Faiq lekat. Seakan dia tidak mengerti arah pembicaraan Faiq.
"Kakakku yang tampan dan pintar. Cinta itu suara hati yang tidak bisa dinalar. Hanya dengan hati pula, kita bisa memahami besar dan kesungguhannya. Jika kakak membujuk kak Annisa dengan logika dan akal. Tentu saja dia tidak akan percaya. Sebab hati kak Annisa masih belum mampu kamu sentuh. Ingatlah kak, cinta itu bukan bisnis yang butuh alasan untuk disatukan. Cinta tidak memandang untung dan rugi. Sebab sedih dan bahagia selalu menjadi warna di dalamnya. Saranku untukumu, rasakan cemburu kak Annisa sebagai ungkapan cintanya. Agar kakak bisa menghargai keberadaannya!" ujar Faiq, Hana mengangguk setuju. Fathan diam mencoba menelaah perkataan Faiq.
Fathan terlihat bodoh di depan pengertian Faiq. Sebagai seorang adik. Faiq lebih mengerti arti cinta sesungguhnya. Entah kenapa Faiq dan Fathan memiliki perbedaan yang begitu besar? Meski mereka terlahir dari rahim yang sama. Namun sepertinya keduanya memiliki kelebihan dalam hal yang berbeda. Baik Faiq atau Fathan memiliki cara pandang yang berbeda dalam segala hal. Keduanya tak akan pernah sama dalam hal apapun. Namun tak pernah ada kata beda yang memecahkan keduanya.
__ADS_1
"Ternyata pewaris keluarga Prawira luluh dihadapan wanita-wanita sederhana!" ujar Hana lalu berdiri meninggalkan Fathan yang termenung.
Hana melihat cinta yang begitu besar dimata Fathan untuk Annisa. Cinta yang seolah takkan bisa tergantikan oleh apapun. Layaknya Rafa yang mencintain wanita sederhana seperti dirinya. Faiq dan Fathan seolah mengikuti jejak Rafa. Mencintai Davina dan Annisa yang sederhana dalam sikap dan penampilannya. Tak ada cinta yang berlebih, tapi cinta yang penuh ketulusan dan pengorbanan.