KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Fakta Terkuak


__ADS_3

"Aku tidak mengerti!" ujar Raihan singkat, Faiq tersenyum ke arah Raihan. Terdengar Faiq menghela napas panjang. Mencoba mencari ketenangan dalam bimbang hati.


"Daffa tidak lain kakak sepupu Vania. Dia keponakan laki-laki om Rizal. Dia putra satu-satunya tantr Mila. Saudara sepupu om Rizal. Karena Vania anak perempuan, dia tidak bisa menjadi pewatis pesantren milik keluarga om Rizal. Jadi Daffa menjadi pewaris tunggal. Namun Daffa menolak semua itu, jika keluarga menolak pinangannya pada Vania!" ujar Faiq, Raihan mendongak kaget.


"Kak Faiq, dia kakak sepupu Vania. Kenapa dia bisa mencintai Vania? Pantas saja Vania langsung terbangun ketika mendengar suaranya. Aku rasa tidak salah bila cemburu, ketika melihat kehangatan Vania padanya. Laki-laki dari masa lalu Vania yang menyimpan kenangan paling indah dalam hidupnya. Aku hanya suami tanpa kenangan indah dalam hidup Vania!" ujar Raihan, Faiq menggeleng lemah.


"Vania tidak pernah mencintai Daffa. Dia menganggap Daffa layaknya kakak kendungnya. Cinta yang dirasakan Daffa itu sepihak, tanpa Vania berpikir ingin membalasnya. Sejak awal cinta Daffa pada Vania itu salah dan tak pantas diperjuangkan. Kehangatang yang diberikan Vania. Hanya bentuk rasa maag pada Daffa. Vania menyalahkan dirinya, karena Vania telah membuat Daffa jauh dari keluarganya. Daffa keluar dari keluarga besarnya. Hanya demi bertahan akan cintanya pada Vania. Meski jelas Vania menolak rasa Daffa untuknya. Vania terbangun setelah mendengar suara Daffa. Bukan berarti dia mencintai Daffa, sebaliknya dia tidak menjadi alasan kepergian Daffa kedua kalinya!" tutur Faiq, Raihan diam mencoba memahami perkataan Faiq.


Penuturan Faiq seakan pembenaran dalam salah yang dilakukan Vania. Kisah cinta Daffa tak seharusnya disembuyikan. Apalagi dari Raihan suaminya. Ada rasa marah dan kecewa di hati Raihan. Menyadari terlalu banyak rahasia yang tersimpan dalam hidup Vania. Semua terasa menyakitkan, ketika Raihan mendengarnya dari orang lain. Bukan dari mulut Vania sendiri. Seolah Raihan menjadi orang paling bodoh dan tak berarti dalam hidup Vania.


"Raihan, mungkin kamu merasa Vania tidak pernah menghargaimu. Vania selalu menempatkanmu pada posisi paling akhir. Vania selalu keras dan marah setiap kali kamu melakukan kesalahan. Semua yang kamu pikirkan benar tapi juga salah. Kamu benar merasa Vania membuatmu menjadi yang terakhir. Namun kamu salah bila berpikir Vania tak menghargaimu. Vania selalu keras, hanya demi menutupi rasa takut kehilanganmu. Vania menjaga namamu dalam hatinya. Jauh sebelum dia melihat wajahmu. Alasan kepergian Vania ke luar negeri. Bukan sepenuhnya menutup ilmu, tapi Vania ingin jauh dari pinangan yang datang padanya. Pinangan yang berasal dari pewaris pesantren-pesantren besar. Semua hanya demi menjaga hatinya untukkumu!" tutur Faiq lagi, Raihan diam termenung.

__ADS_1


Sekali lagi Raihan melihat sifat Vania yang tak pernah dia ketahui. Selama ini Raihan mencoba memahami Vania. Namun selalu dan selalu ada salah paham diantara mereka. Raihan merasa tak dihargai, sedangkan Vania merasa was-was akan kehilangan Raihan. Rasa cinta yang didasari dengan prinsip yang berbeda.


Hubungan Raihan dan Vania, ibarat pohon yang tumbuh tanpa akar yang kuat. Perjodohan diantara mereka, terjadi tanpa adanya pengertian akan sifat masing-masing. Cinta diantara mereka, bagai daun di atas ranting-ranting yang rapuh. Akan jatuh ke tanah, ketika angin meniupnya. Butuh kasih sayang yang besar. Agar daun bisa kembali tumbuh di atas ranting-ranting rapuh itu.


"Kak Faiq, Vania selalu menyimpan rahasia dariku. Aku selalu mengetahui fakta tentang Vania dari orang lain. Bahkan kisah rumit diantara Vania dan Daffa. Aku menjadi orang terakhir yang mengetahuinya. Aku bahkan layaknya orang yang kehilangan akal. Aku berlari kesana kemari. Hanya agar hatiku tenang. Aku meninggalkan Vania yang baru tersadar. Menekan kerinduan yang aku rasakan. Semua karena rasa cemburu melihat kehadiran Daffa yang tiba-tiba!" ujar Raihan, Faiq mengangguk mencoba memahami pola pikir Raihan.


Namun pemikiran Raihan hanya didasari amarah sesaat. Raihan tidak pernah mencoba percaya pada cinta tulus Vania. Keyakinan Raihan hanya diujung lidahnya. Tak ada kepercayaan akan hati yang terus dijaga Vania untuknya seorang. Raihan bersikap terlalu sempit dalam menghargai cinta Vania. Namun disisi lain, Faiq memahami kegelisahan hati Raihan. Cinta Vania yang begitu besar, membuat Raihan takut akan kehilangan Vania. Singkatnya perkenalan diantara mereka. Menambah deretan rasa pesimis Raihan akan cintanya pada Vania.


"Sama halnya dirimu yang menyimpan banyak rahasia kelam di masa lalumu. Jika kamu mampu menutupi kekuranganmu. Vania juga berhak diam menutup aib yang ada di masa lalunya. Sampai kamu menanyakan semua padanya. Vania tidak pernah ingin menutupi apapun darimu. Waktu menjawab semua keraguan hatimu. Sebab waktu juga yang akan membuat kalian saling mengenal!" ujar Faiq, Raihan menatap lekat Faiq.


"Kak Faiq hanya ingin menggertakku. Tidak mungkin Vania mengetahui semua keburukanku. Tentu dia akan menolak perjodohan denganku. Jelas aku laki-laki yang jauh dari kata pantas untuk Vania. Namun kak Faiq melihatnya sendiri. Bukan hanya melanjutkan perjodohan denganku. Kami juga melangsungkan pernikahan dan akan segera menjadi orang tua. Dimana aku bisa percaya? Vania mengetahui keburukanku!" tutur Raihan tak percaya, Faiq mengangguk pelan.

__ADS_1


"Jika kamu pikir aku akan tinggal diam melihat Vania menikah denganmu. Tanpa aku mencari tahu jati dirimu. Kamu terlalu percaya diri Raihan. Vania adikku satu-satunya, tidak mungkin aku akan membiarkan dia menikah tanpa aku tahu jelas jati dirimu. Sejak aku mengetahui sepak terjangmu dalam dunia bisnis dan kehidupan glamourmu. Aku mengatakannya pada Vania. Namun bukan rasa jijik atau amarah yang diperlihatkan Vania. Dia mengatakan padaku, sejak kamu mengkhitbahnya, Vania sepenuhnya menjadi milikmu. Tidak ada hak Vania menilai baik dan burukmu. Jika memang kamu yang dituliskan untuk menjadi imam dunia akhiratnya!" tutur Faiq dingin, Raihan menunduk malu.


"Kak Faiq, katakan bila kamu berbohong. Betapa bodohnya aku telah menuduh Vania. Namun sesungguhnya aku yang menjadi tertuduh. Vania menerimaku dengan tulus, tapi aku selalu merasa kurang. Aku laki-laki tak bermoral. Aku mengeluh akan Vania, tapi tanpa aku sadari. Aku yang selalu menyakitinya!" ujar Raihan, Faiq menepuk pundak Raihan pelan.


"Raihan, Vania bukan wanita yang mudah kamu hadapi. Diam dan keras Vania menyimpan cinta yang begitu besar untukmu. Tak pernah Vania ingin mengacuhkan atau tak menghargaimu. Terkadang kita sebagai laki-laki harus bisa melihat cinta seorang wanita di balik sikap keras kepalanya!" ujar Faiq lirih, Raihan mengangguk pelan.


"Achmad Raihan Maulana, meski ada banyak langit yang ingin menjadi tempatku berlindung. Aku hanya akan memilih langitmu. Sebab di langit gelap dan sunyimu. Cahaya cintaku bersinar terang. Meski aku sangat kecil tak diperhitungkan. Kita ada untuk satu sama lain. Bukan untuk saling mencari kelemahan masing-masing!" ujar Vania lantang, Vania berdiri tidak jauh dari Raihan. Dia datang bersama Daffa.


Seketika Raihan berlari menghampiri Vania. Memeluk tubuh Vania yang masih sangat lemah. Raihan mencium kening Vania lembut. Daffa dan Faiq melihat kehangatan yang mulai terasa kembali.


"Maaf!" ujar Raihan, Vania menggeleng lemah.

__ADS_1


"Tanpa kata maaf, aku sudah memaafkanmu. Aku tidak akan pernah marah padamu. Cintaku membuatku lemah dan akan terus mengalah. Aku akan belajar memahamimu dan menjadi seorang istri terbaik untukmu!" ujar Vania lirih dan lemah.


"Aku Daffa, kakak iparmu bukan sainganmu!" ujar Daffa dingin dan tegas.


__ADS_2