
...IBU...
..."Seandainya kasih sayangmu terbuat dari kayu. Kelak akan keropos termakan rayap. Seandainya cintamu terbuat dari besi. Kelak akan berkarat seiring berjalannya waktu. Nyatanya kasih sayangmu lahir dari kemurnian jiwa. Menyayangi tanpa berharap balasan. Hakikatnya cintamu penuh ketulusan. Mencintai tanpa berpikir dan takut kecewa. Keikhlasan cintamu mengajarkan arti sebuah hubungan. Pengorbanan yang tersimpan dalam setiap kasih sayangmu. Menyadarkan betapa teguhnya rasa sayangmu. IBU, maaf dan terima kasih, untuk semua cinta tulusmu."...
...☆☆☆☆☆...
"Hana sayang, dimana kamu?" teriak Rafa mencari Hana. Rafa berjalan dengan langkah lebar. Dia mencari Hana ke seluruh ruangan di rumahnya. Rafa kebingungan mencari Hana yang tiba-tiba menghilang setelah sholat subuh.
Rafa memanggil-manggil Hana berkali-kali, tapi tak sekalipu Hana menyahuti. Rafa semakin cemas, ketika dia menyadari Hana menghilang sejak pagi buta. Teriakan Rafa menggegerkan rumahnya yang megah. Fathan dan Faiq merasa ada yang salah. Ketika dia mendengar Rafa memanggil-manggil Hana. Sontak keduanya keluar dari kamarnya dan berlari menghampiri Rafa.
Davina dan Annisa ikut terkejut mendengar teriakan Rafa. Keduanya sedang berada di dapur untuk memasak. Hari masih sangat pagi, keduannya menyiapkan sarapan untuk semua orang. Davina dan Annisa keluar dari dapur, mereka menghampiri Rafa yang kebingungan mencari Hana.
"Kenapa papa memanggil mama? Memangnya kemana mama pergi? Ini masih terlalu pagi, mama tidak akan keluar rumah!" ujar Fathan cemas, Rafa menggeleng lemah. Pertanyaan Fathan tak lain pertanyaannya. Kemana Hana pergi tanpa pamit? Selama ini Hana tidak pernah pergi tanpa Rafa. Dia selalu pergi dengan Rafa atau paling tidak Hana akan meminta izin. Bukan pergi tanpa pamit, seolah Hana sedang menyembuyikan sesuatu.
Rafa duduk di sofa ruang tengahnya. Dia menutup wajah dengan kedua tangannya. Pertama kali Rafa merasa akan kehilangan Hana. Setelah bertahun-tahun kehidupan rumah tangganya jauh dari berita buruk. Semua sangat tenang, tidak ada pertengkaran atau perdebatan antara dirinya dengan Hana. Namun pagi ini, tanpa ada angin atau hujan. Hana pergi tanpa pamit. Meninggalkan Rafa dalam kebingungan dan kegelisahan yang menyesakkan hatinya.
"Kemana kamu sayang?" ujar Rafa lirih hampir tak terdengar. Nyata suara Rafa menunjukkan, betapa dia sangat terluka dengan kepergian Hana. Kegusaran Rafa tak lagi mampu dibendung. Fathan dan Faiq melihat kerapuhan Rafa. Mereka pernah melihat cinta Rafa untuk Hana. Namun hari ini mereka melihat lemah Rafa tanpa Hana. Entaha kemana perginya Hana sepagi ini? Semua orang dibuat gelisah memikirkan perginya Hana tanpa pamit.
__ADS_1
"Memangnya papa dan mama semalam bertengkar. Tidak mungkin mama pergi tanpa pamit. Mama baik-baik saja semalam saat melihat TV bersamaku. Kenapa hari ini mama harus pergi?" ujar Faiq dingin, Rafa menggeleng lemah. Hanya itu yang bisa Rafa lakukan. Rafa tidak tahu kemana atau karena apa Hana pergi? Satu hal yang pasti, langit di luar sedang bersedih. Pagi yang indah berubah menjadi mendung. Angin dingin bertiup sangat kencang
"Sayang, kamu tidak melihat mama!" ujar Faiq pada Davina, lagi dan lagi hanya gelengan kepala yang terlihat. Faiq semakin gusar, dia tak kalah khawatirnya dengan Rafa. Fathan mungkin lebih manja pada Hana. Namun Faiq jauh lebih mengkhawatirkan Hana dari siapapun? Dia tidak ingin terjadi sesuatu pada Hana. Faiq bisa kehilangan akal bila terjadi sesuatu pada Hana.
"Kemana mama pergi?" ujar Faiq gusar, Fathan mencoba menghubungi Vania dan beberapa kenalan Hana. Selama ini tidak banyak orang yang ditemui Hana. Sejak Rafa pensiun, Hana jarang sekali keluar rumah. Bila Hana keluar selalu ada yang menemani. Tidak pernah dia pergi sendiri. Sebab itu semua orang cemas ketika Hana pergi tanpa pamit. Apalagi Hana pergi seorang diri dan seakan tak ingin ada yang mengetahuinya.
"Hana, tolong beri pentunjuk. Dimana kamu sekarang? Aku tidak bisa berpikir lagi!" ujar Rafa lirih, Fathan dan Faiq berjalan mondar-mandir gelisah. Mereka berdua gelisah memikirkan Hana. Sungguh pertama kalinya Hana pergi tanpa mengatakan apapun. Kepergian yang membuat ketiga pewaris keluarga Prawira hancur.
Akhirnya Faiq tak sanggup lagi berdiam diri. Dia mengambil kunci mobil. Dia akan berkeliling menuju tempat yang pernah dan mungkin dikunjungi Hana. Setidaknya Faiq bisa mengurangi rasa gelisahnya. Berdiam diri di rumah tanpa berbuat apa-apa? Hanya akan membuatnya semakin gelisah. Davina memaksa ikut dengan Faiq. Bukan tanpa alasan Davina ikut. Kegelisahan Faiq bisa membuatnya celaka dijalan. Davina harus mengawasi Faiq, agar emosinya terus stabil dan tenang.
"Papa, aku yang akan mengemudi. Kita akan pergi ke tempat mama biasa datangi. Faiq akan pergi ke arah lain. Seandainya mama membawa ponselnya. Kita bisa melacak keberadaannya!" ujar Fathan lirih, Faiq tidak peduli dengan perkataan Fathan. Dia langsung pergi meninggalkan Fathan dan Rafa. Kecemasan Faiq sudah tidak bisa dibendung. Pikirannya kalut dan tak lagi berpikir jernih. Faiq benar-benar khawatir memikirkan Hana.
Jedddeeeerrr Jedddeeeerrrr
Terdengar langit bertasbih menyebut keagungan Allah SWT. Suara langit yang menggema, semakin menambah kegelisahan Faiq akan kondisi Hana. Davina melihat kondisi Faiq tidak baik-baik saja. Pertama kalinya Davina melihat kegelisahan Faiq. Tanpa berpikir ingin menyimpannya. Davina melihat bibir Faiq terus bergetar, bahkan Davina melihat tangan Faiq yang terus mengepal. Menunjukkan betapa Faiq khawatir akan Hana.
"Mama!" ujar Faiq cemas, Davina menoleh ke arah Faiq. Sekilas dia melihat air mata Faiq jatuh menetes. Sontak Davina menarik tangan kiri Faiq. Menggenggam erat tangan Faiq yang terasa dingin.
__ADS_1
"Mama!" ujar Faiq lagi, Davina semakin erat menggenggam tangan Faiq. Dia berharap Faiq bisa kuat.
"Mama pasti baik-baik saja!" ujar Davina menenangkan, Faiq hanya diam membisu. Pikirannya terus fokus mencari Hana. Tidak akan ada yang bisa membuat Faiq tenang. Kecuali melihat Hana baik-baik saja. Kegelisahan Faiq bukan tanpa alasan. Dia mungkin putra yang menjauh dari Hana. Namun Faiq putra yang memahami Hana, sebab mereka terlahir dengan watak yang sama.
Faiq bisa merasakan betapa sakitnya menahan rasa gelisah sendirian. Menahan rasa bahagia atau sedih tanpa orang lain menyadarinya. Pribadi Hana dan Faiq, sangatlah rapuh namun terlihat kuat dan tegar. Bukan angkuh mengakui kelemahan, bila mereka butuh orang lain. Rasa takut menjadi beban bagi orang dicintai. Terkadang membuat mereka egois dan angkuh. Berpikir dengan diam dan menyimpan kegelisahan hatinya sendiri. Jauh lebih baik, daripada melihat orang lain cemas.
"Semoga yang kamu katakan benar, dua hari yang lalu aku melihat mama menangis sendirian di balkon. Mama melihat senja dengan air mata yang dia tahan. Seumur hidup aku akan menyesal bila terjadi sesuatu pada mama. Mungkin kamu wanita yang kucintai dan hidupku ada untukmu. Namun mamaku jauh lebih dari itu. Dia dunia yang menyimpan napas dan harapanku. Aku tidak akan bisa bernapas tanpa senyum mama. Dia segalanya dalam hidupku. Mama, jangan buat aku menyesal seumur hidupku!" tutur Faiq lirih, Davina mengangguk mengerti.
"Aku tahu itu, air mata yang menetes di kedua matamu mengatakan semua itu. Sekarang aku mengerti, kamu sanggup bertahan tanpa diriku. Kamu mampu menopang dan menerima lemahku. Semua itu karena mama yang menjadi semangat dan napasmu. Tidak akan ada kata cemburu dariku. Mama wanita yang melahirkanmu, tak pantas aku bersaing dengannya. Wanita yang dengan ikhlas melepas putranya demi bersamaku. Tanpa berpikir ingin bergantung, ketika dirinya membutuhkanmu!" ujar Davina lirih.
"Kak Faiq, mungkinkah mama pergi ke makam kakek dan nenek!" ujar Davina tiba-tiba, Faiq menoleh terkejut.
...☆☆☆☆☆...
Sudi kiranya para pembaca setia author mendukung tulisan receh author yang baru. Selalu dukung author, satu dukungan kalian menjadi semangat terbesar author. Terima kasih selama ini selalu ada untuk author.😗😗😗😗
__ADS_1