
"Kak Rafa, hari ini tidak ke kantor. Kenapa memakai pakaian santai?" ujar Hana heran, Rafa tidak peduli dengan perkataan Hana. Rafa duduk di meja makan. Hana menyiapkan sarapan untuk Rafa sembari menggendong si kecil. Hana dan Rafa sepakat tidak menggunakan jasa pengasuh bayi. Hana ingin merawat putranya sendiri. Jika sudah tidak mampu baru Hana akan meminta bantuan pengasuh bayi.
"Sayang, aku bisa mengambil sendiri. Kasihan putra kita, kelihatannya dia sedang haus. Apa dia sedang sakit? Kenapa kamu menggendongnya?" ujar Rafa, Hana mengutas senyum tipis. Rafa mengeryitkan dahinya, dia tidak mengerti arti senyum Hana. Apalagi Rafa melihat Hana tidak mengambil makanan untuk sarapan.
"Aku akan pergi menemui Diana dan Salsa. Kami bertiga semalam berjanji akan sarapan di warteg depan ruko. Aku ingin makan disana sejak lama, tapi kak Rafa melarangku makan di sembarang tempat saat mengandung si kecil. Jadi hari ini aku ingin makan di warteg!" ujar Hana lirih, Rafa mengangguk. Tiba-tiba Rafa mendorong piring yang ada di depannya. Lalu berdiri dari meja makan. Hana terperanjat melihat sikap Rafa. Hana takut jika Rafa marah, karena dia ingin sarapan diluar rumah.
"Sayang, ayo berangkat. Kenapa malah melamun? Katanya ingin sarapan di warteg. Hari ini aku akan menjado supir pribadimu dan tuan muda. Aku cuti menjadi seorang CEO!" ujar Rafa, Hana melongo melihat Rafa lebih antusias daripada dia.
"Kak Rafa, sejak kapan beralih profesi sebagai sopir? Memangnya istrinya tidak marah. Penampilanmu juga mencurigakan, jangan-jangan kamu menjadi supir hanya untuk menyamar. Kak Rafa ingin menggoda mahasiswi atau dosen cantik!" ujar Hana kesal, Rafa terkekeh. Rafa menghampiri Hana, dia memegang pundak Hana. Suara napas Rafa terdengar jelas di telinga Hana.
"Sayangku, demi dirimu aku mampu menjadi apapun? Jangankan supir pribadi, menjadi tukang kebunmu aku sanggup. Soal penampilanku yang tampan, itu sudah sejak lahir. Jadi bukan salahku, kamu harus mengajui itu!" ujar Rafa seraya tersenyum, Hana melengos mendengar perkataan Rafa.
"Hmmm! Memangnya siapa yang minta kak Rafa menjadi supirku? Aku akan pergi sendiri dengan Diana dan Salsa!" sahut Hana datar, Rafa menggeleng menolak permintaan Hana.
"Kamu sudah merebut hakku membiayai kuliah Salsa. Sekarang aku akan melakukan tugasku sebagai seorang kakak. Aku akan mengantar kemanapun kalian pergi. Kapan lagi aku pergi menemani sang tuan muda!" ujar Rafa lalu mencium pipi gimbul si kecil. Hana mengembik sembari berjalan keluar dari rumah. Hana masuk ke dalam mobil sport milik Rafa.
...☆☆☆☆☆...
"Kak Rafa, maafkan Salsa merepotkan. Demi mengantar Salsa, kak Rafa harus cuti kerja. Seharusnya kak Hana tidak meminta bantuan kak Rafa! Aku bisa meminta bantuan Diana!" ujar Salsa lirih, Hana sontak menoleh ke belakang. Dengan tatapan tajam, Hana menoleh pada Salsa. Diana tersenyum melihat sikap Hana yang kesal.
"Bukan aku yang meminta bantuannya. Kak Rafa tercintamu yang ingin bertemu dengan dosen cantik di kampus XX. Awas saja, sekali dia mendekati dosen atau mahasiswi cantik. Aku akan pergi dari rumah membawa si kecil. Aku tidak akan pulang!" ujar Hana ketus, Rafa tertawa mendengar perkataan Hana. Tangan kiri Rafa memegang dahu Hana gemas.
"Sayang, aku akan berada disampingmu. Jika perlu kamu ikat aku dengan tali. Agar semua orang tahu, jika aku suamimu seorang. Lagipula hanya ada dirimu yang ada dimataku!" ujar Rafa santai, Hana menatap Rafa dengan pandangan tak percaya.
"Salsa, kak Rafa tersayangmu tidak akan bangkrut, jika sehari saja dia tidak bekerja. Sebaliknya kak Hana tercintamu yang akan kelabakan, melihat suaminya menjadi idola di kampus nanti!" goda Diana, Hana cemberut mendengar perkataan Diana.
__ADS_1
"Sekali lagi kamu menggodaku. Aku akan meminta Adrian mencari calon istri yang lain. Kamu akan merasakan sakitnya ditinggal selingkuh!" sahut Hana ketus, Diana terkekeh. Rafa menarik tangan Hana, menggenggam erat lalu menciumnya lembut. Diana dan Salsa menjadi penonton setia. Hana dia mematung meski Rafa bersikap romantis.
"Sayang, katakan pada mama. Papa tidak akan mencari wanita lain. Hanya mama yang ada dihati papa!" ujar Rafa sembari mengelus pipi si kecil. Hana membuang muka, dia melihat keluar mobil.
Mobil sport Rafa terparkir manis di halaman kampus XX. Hana melarang Rafa ikut ke dalam, sebab Hana ingin melakukannya sendiri tanpa bantuan Rafa. Sebenarnya kampus XX menjadi salah satu kampus yang dikelola dibawah Rafa. Namun terlalu banyak pekerjaan yang ditangani. Rafa hanya sekali datang ke kampus. Sekadar untuk menghadiri acara tertentu.
Rafa bukanlah pribadi kacang lupa kulitnya. Meski Rafa jauh dari iman, tapi dia mengingat nilai-nilai agama yang pernah dia pelajari. Rafa tidak pernah lupa akan arti dari sedekah. Bahkan jauh sebelum bertemu Hana. Rafa sudah memiliki program beasiswa untuk para santri yang berprestasi. Program yang dirancang tidak main-main.
Hampir setiap tahun Rafa mampu membantu puluhan santri yang kekurangan. Namun dengan bantuan Rafa, mereka menjadi santri berprestasi dengan iman. Sisi lain Rafa Akbar Prawira yang tak pernah diketahui orang lai. Termasuk Hana istrinya, pribadi yang ringan tangan tanpa ingin orang lain mengetahuinya.
Rafa juga menyediakan lapangan pekerjaan atau bantuan modal awal. Perusahaan Rafa berkembang dengan dukungan penuh para santri berprestasi. Rafa selalu meyakini dengan iman, seseorang mampu menjalankan bisnis dengan kepercayaan.
"Rafa Akbar Prawira!" sapa Rizal, seketika Rafa menoleh. Dia menatap seorang laki-laki seusianya. Terlihat dari pakaiannya yang rapi, sangat jelas jika dia seorang ustad. Rafa memutar otak mengingat, siapa orang yang menyapanya? Rizal tersenyum melihat Rafa kebingungan.
"Aku Muhammad Rizal Saputra, sahabat semasa di pondok pesantren!" ujarnya, Rafa mengeryitkan dahinya. Sedetik kemudian Rafa mengingat, siapa Rizal sebenarnya? Rizal mendekat pada Rafa, mereka berdua berpelukan. Pertemuan setelah bertahun-tahun lamanya.
"Aku sedang mengurus keperluan anak-anak santri yang mendapatkan beasiswa. Aku mendengar kampus ini dibawah kepemimpinanmu. Bahkan beasiswa ini proyek pribadimu. Kamu sekarang menjadi orang sukses!" ujar Rizal tak percaya, Rafa menunduk malu. Sebenarnya Rafa tidak pernah mengatakan pada siapa-siapa tentang proyek ini? Adrian sendiri tidak pernah mengetahuinya. Rafa sendiri yang mengurus beasiswa ini.
"Aku hanya ingin membantu. Aku tidak ingin kepintaran mereka terhenti hanya karena biaya. Lagipula aku hanya membantu beberapa anak. Sebenarnya aku masih membangun asrama untuk mahasiswa luar kota yang mendapat beasiswa. Agar beban biaya tidak terlalu besar, tapi proyek itu masih berjalan lima puluh persen!" ujar Rafa lirih, Rizal mengangguk mengerti. Rizal melihat Rafa yang sama seperti beberapa tahun yang lalu. Hanya saja dia bukan Rafa yang sederhana. Penampilan Rafa jauh berbeda, Rafa kini salah satu CEO muda dengab keahlian yang tak dapat diragukan.
"Aku datang juga karena masalah tempat tinggal mereka. Sejak lama ayah menyewa dua rumah di samping kampus. Satu untuk santri putri dan satu untuk santri putra!" ujar Rizal, Rafa menunduk lemah.
"Maaf, aku belum bisa membantu. Setelah bangunannya selesai, aku akan mengabarimu!" ujar Rafa, Rizal mengangguk mengerti. Meski Rafa tidak membantu, pihak pesantren tidak keberatan. Biaya kuliah hingga lulus, sudah sangat besar. Mereka tidak berharap lebih, bisa kuliah saja sudah sangat bersyukur.
"Tidak perlu Rafa, aku dan Mila sudah mengurusnya. Kamu masih ingat Mila bukan! Dia juga ikut denganku hari ini. Sebab dia akan ada pelatihan di kota ini. Aku dengar kamu bertemu dengannya kemarin. Saat mengantar adikmu!" ujar Rizal senang, Rafa mengangguk pelan. Rizal mengetahui benar jika Mila dan Rafa saling mengagumi satu sama lain. Namun Rafa tak pernah ingin Mila mengetahuinya. Sebaliknya Mila tak pernah berpikir ingin menjadi bagian hidup Rafa.
__ADS_1
Deg Deg Deg
Degub jantung Hana berdetak hebat, saat telinganya mendengar Rafa membicarakan seseorang. Anggukan kepala Rafa seolah sebuah isyarat yang nyata. Jika dia istimewa dihati Rafa. Naluri seorang istri yang membuat semua terasa benar dan nyata. Tubuh Hana membeku, melihat Rafa dan temannya begitu akrab.
Hana sengaja mendatangi Rafa lebih dulu. Sebab Salsa dan Diana sedang berkeliling. Hana lelah jika harus mengikuti mereka. Apalagi dengan menggendong si kecil. Tak lama terlihat seorang wanita berhijab. Penampilannya serupa dengan Hana. Dia mendekat pada Rafa dan Rizal. Hana memilih berdiri tak jauh dari mereka. Diam menjadi jalan yang dipiiha Hana.
"Rafa, Kamu masih mengingat Mila!" ujar Rizal, Rafa berdiri sembari tersenyum pada Mila. Rizal melihat pertemuan yang beegitu indah. Mila menangkupkan kedua tangannya seraya mengutas senyum.
"Apa kabar Mila?" ujar Rafa, Mila tersenyum tipis. Rizal terkekeh melihat Mila gugup bertemu Rafa. Semua yang terjadi tak luput dari pandangan Hana.
"Baik, kak Rafa sendiri bagaimana? Melihat penampilan kak Rafa sekarang. Sepertinya kak Rafa baik-baik saja!" ujar Mila ramah, Rafa mengangguk.
"Jika kalian lama di kota ini. Mungkin kita bisa makan bersama. Aku yang traktir, sekadar mengingat masa-masa bersama kita!"
"Setuju!" sahut Rizal, Rafa dan Mila mengangguk bersama. Hana tertegun melihat Rafa yang hangat. Jika ada yang mengatakan cemburu itu sakit. Kini Hana benar-benar merasakannya, sakit sangat sakit. Hana sampai kesulitan bernapas, dadanya terasa sesak.
"Siapapun wanita ini? Terlihat jelas dia jauh lebih baik dariku. Iman dan islam menjadi pegangannya. Jika dulu Sesil tidak membuatku cemburu, kali ini dia mampu membuatku merasa rendah. Siapapun dia? Aku berharap hanya diriku yang ada dalam hatimu. Namun jika memang dia, aku siap untuk mundur. Bahagiamu menjadi alasan hidupku. Meski kehilanganmu, aku masih bersama separuh jiwamu!" batin Hana.
"Hana, aku pikir kamu dimana? Kita pulang sekarang!" ujar Diana lantang, Hana mengangguk pelan. Salsa sibuk menggoda si kecil.
Rafa mendengar suara lantang Diana, ketika dia menoleh Rafa bertemu dengan tatapan Hana. Sontak saja Rafa terkejut, sebaliknya Hana membuang muka saat Rafa melihat kearahnya. Hana berjalan menjauh dari kantin. Diana dan Salsa mengikuti langkah Hana. Rafa melihat jelas kecemburuan dan amarah Hana.
"Jika rasa cemburu dan amarahmu membuat kita semakin dekat. Maka aku akan siap menerima amarahmu. Namun jika kecemburuanmu menjauhkan kita. Maka akan kupastikan pemikiranmu salah. Meski Mila jauh lebih baik darimu. Meski dia pernah ada dalam hatiku, tapi hanya senyum dan wajahmu yang terpahat indah dihatiku. Terima kasih atas rasa cemburumu, sebab dengan rasa itu aku tahu, kamu mencintaiku!" batin Rafa lalu pamit pada Rizal dan Mila untuk mengejar Hana.
"Sayang, dia mungkin lebih baik darimu. Tapi dirimu jauh lebih berarti untukku. Cemburulah atau marahlah, sebab rasa itu yang membuatku yakin dirimu mencintaiku!" bisik Rafa, sembari mengecup lembut kepala Hana.
__ADS_1
...☆☆☆☆☆...
TERIMA KASIH😊😊😊