KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Wajah yang Dirindukan


__ADS_3

Hampir satu bulan Hana tidak pernah bertemu Rafa. Setelah pertemuan itu, Hana memutuskan bekerja dekat dengan rumahnya. Kondisi Hana sering mengalami penurunan. Jarak yang terlalu jauh, membuat Hana mudah lelah. Sebenarnya Zyan masih sangat membutuhkan Hana. Namun Hana bersikeras ingin berhenti. Walau Zyan berniat memberikan kenaikan gaji. Hana tetaplah Hana yang teguh pada pendiriannya. Termasuk teguh akan cintanya pada Rafa. Suami yang tak pernah mengunjunginya.


Sebenarnya setiap tengah malam, Rafa selalu datang mengunjungi Hana. Rafa sengaja datang menggunakan Taxi, agar Hana tidak pernah menyadari bahwa itu Rafa. Namun Rafa hanya berhenti tak jauh dari rumah Hana. Setelah mengawasi rumah Hana cukup lama. Rafa kembali menuju rumahnya. Hidup Rafa berubah total. Bukan diskotik tempat Rafa mencari ketenangan. Cukup dengan memandang rumah Hana, Rafa sudah sangat tenang. Bukan minuman keras cara Rafa menghilangkan lelah. Dengan memandang foto Hana, Rafa sudah segar kembali.


Mungkin cinta itu indah, tapi menyakitkan bagi Rafa dan Hana. Mereka saling mencintai, tapi harus saling merelakan demi sebuah masa lalu. Hana selalu tenang, tidak ada cara dia mengingat dan mencintai Rafa. Selain hanya doa yang selalu terucap dari bibir mungilnya. Hanya Rafa laki-laki yang selalu ada dalam sujudnya. Suami yang kelak akan melindunginya. Meski semua seolah menjadi sangat mustahil. Keputusan Hana membuat Rafa menjauh, tak sekalipun Rafa menghubungi Hana atau menemuinya.


Seandainya saat itu hati Hana tidak terlalu beku. Mungkin saat ini Hana akan bahagia bersama Rafa. Menjalin hubungan penuh cinta. Kini Hana hanya bisa menyesalkan keputusan yang dibuatnya sendiri.


FLASH BACK


Pertemuan Rafa dan Hana menyisakan sebuah luka yang tak terlihat. Hana memutuskan untuk mengakhiri sebuah pernikahan tanpa cinta. Hana tidak pernah yakin akan cinta Rafa pada Hana. Rafa frustasi mendengar keputusan Hana. Meski Rafa menghiba, Hana bersikukuh dengan dengan keputusannya.


"Kak Rafa, tidak ingin turun! Sebaiknya makan dulu, Hana akan memasak untukmu! Setelah itu, Kak Rafa bisa pulang!"


"Jika ini makanan terakhir darimu. Aku tidak akan pernah bersedia. Lebih baik aku tidak makan! Lagipula untuk apa kamu peduli denganku? Perkataanmu sudah menghancurkanku. Aku sudah tidak ingin hidup lagi!" ujar Rafa lirih, Hana tersenyum. Dia membuka pintu mobil pelan. Dia melihat Rafa menunduk, dia meletakkan kepalanya di atas setir mobil.


"Kak Rafa, jangan putus menyerah. Aku tidak pergi menjauh darimu. Namun untuk saat ini, lebih baik bagi kita untuk tidak bertemu. Hiduplah dengan dunia yang pernah menghidupkanmu. Dunia yang membuat nama besarmu. Jika kamu sudah lelah dan bosan. Datanglah padaku sebagai Rafa yang baru. Aku tetap di sini, menunggumu!" ujar Hana, dia keluar dari mobil berjalan menuju rumahnya. Hana membuka pintu. Rafa mendongak kaget, saat mendengar perkataan Hana.


"Sayang, tunggu sebentar! Apa yang kamu katakan benar adanya? Aku tidak salah dengar!" ujar Rafa tidak percaya, dia berlari mengejar Hana. Rafa ingin memastikan jawaban Hana. Dengan pelan Hana mengangguk. Rafa menarik Hana dalam pelukannya. Namun lagi dan lagi Hana meronta menolak.


"Kak Rafa, aku masih butuh waktu. Apa yang aku lihat? Tidak akan dengan mudah menghilang. Semua masih terpampang jelas dalam ingatanku. Puaskan dirimu dengan wanita-wanita yang selalu bersamamu. Tidak akan ada yang marah. Hana Khairunnissa tidak akan pernah marah atau cemburu!" ujar Hana santai, Rafa memeluk Hana erat. Dia lega sekaligus kecewa dengan perkataan Hana. Namun semua sudah menjadi bubur, hanya dengan mengikuti perkataan Hana. Rafa mungkin bisa kembali bersamanya.


"Sayang, tidak ada wanita dalam hatiku. Salahku yang selalu kalah oleh napsu. Aku akan yakinkan padamu. Bahwa tidak akan ada Rafa seperti itu. Akan kulakukan apapun? Asalkan kamu tetap menjadi istriku! Kita akan bersama, aku pastikan itu!" ujar Rafa tegas, Hana mengangguk lemah. "Kak Rafa, duniamu terlalu menakutkan. Masa lalumu tidak mudah aku hadapi. Jika mencintaimu harus terluka. Sungguh aku tidak pernah menginginkan cinta ini. Namun hati ini telah terpaut. Hanya belajar menerima dan melupakan kenangan pahit itu. Satu-satunya cara agar kita tetap bersama!" batin Hana, tetap dalam pelukan Rafa. Rafa mendekap erat Hana. Sebuah dekapan yang entah kapan bisa dia lakukan lagi! Rafa sangat takut kehilangan Hana. Memikirkannya saja mampu membuatnya hancur. Rafa hanya berharap semua akan baik-baik saja.


"Sayang, bolehkah aku menciummu. Aku tidak tahu, kapan hatimu akan luluh menerimaku? Setidaknya sebuah ciuman yang akan meyakinkanku. Bahwa dirimu, masih milikku dam selalu menjadi milikku!" ujar Rafa, Hana mengangguk malu. Rafa bahagia mendengar jawaban Hana. Rafa mencium puncak kepala Hana, lalu kening Hana. Rafa mencium hampir seluruh bagian wajah Hana.

__ADS_1


"Terima kasih!" ujar Rafa, Hana mengangguk. Rafa pergi mininggalkan Hana sendirian. Rafa kembali pada hidup mewahnya. Hana menjadi gadis sederhana tanpa sebuah beban.


FLASH BACK OFF


"Zyan, setiap kali aku kemari. Aku tidak pernah melihat Hana. Biasanya jam segini dia akan keluar menuju mushola!" ujar Adrian, Zyan menggeleng lemah. Adrian bertanya, karena dia tahu tidak mungkin Rafa sahabatnya bertanya meski dia cemas.


"Hana sudah berhenti sejak sebulan yang lalu. Kondisi Hana sering menurun, tidak sekali dua kali Hana pingsan. Maka dari itu, Hana memutuskan berhenti. Aku sudah membujuknya, tapi kamu tahu sendiri Hana!" ujar Zyan, Adrian mengangguk berkali-kali mengerti maksud perkataan Zyan.


"Kamu tahu dimana dia kerja? Barangkali dia menceritakan, kemana dia akan bekerja?" cecar Adrian, Zyan menggeleng lemah. Dia tidak pernah tahu, kehidupan pribadi Hana. Pribadi kuat dan tertutup membuat semua orang tidak pernah tahu masalah Hana!


Kreeeekkk


Terdengar suara pintu terbuka, masuklah seorang gadis berhijab. Dia terlihat lebih gemuk dan berisi. Wajah terlihat segar, paras cantik wajahnya jelas terpancar. Meski tanpa polesan make up.


"Hana!" sapa Diana, seketika Hana menoleh. Rafa mendongak menatap ke arah pintu. Jantung Rafa berdetak hebat, kerinduannya pada Hana membuncah. Setelah sebulan lebih, Rafa tak pernah menatap wajah Hana. Hari ini tanpa sebuah perencanaan, dia melihat wajah yang sangat dirindukan.


"Hana, ini apa? Kamu sedang? Apa pak Rafa mengetahuinya?" ujar Diana gembira, Hana menggeleng lemah. Tanpa sengaja Diana melihat isi dari kantong kresek yang dibawa Hana. Diana memeluk Hana erat, dia menjadi orang pertama yang mengetahui kabar gembira itu.


"Jangan katakan apapun! Dia tidak berhak mengetahuinya, Diana aku lapar sekarang. Kebetulan kamu di sini, temani aku makan. Aku sengaja datang kemari, karena ingin memakan sesuatu. Izinlah dulu pada bosmu, takutnya dia marah!" ujar Hana, Diana mengangguk lalu berlalu. Hana memesan makanan yang sejak semalam ada dalam benaknya. Rafa terdiam melihat Hana yang seolah mengacuhkan keberadaannya.


"Maaf pak Rafa, saya ingin makan bersama sahabat saya. Mungkin juga saya akan pergi keluar bersamanya. Saya ingin merayakan sesuatu. Jadi hari ini saya cuti!"


"Diana, seenaknya kamu cuti. Memangnya perayaan apa? Sampai kamu berani pulang di saat jam kerja!" ujar Adrian ketus, Diana tidak peduli. Setelah mengambil tasnya, dia menghampiri Hana. Makanan pesanan Hana sudah datang. Diana melihat Hana begitu lahap memakan semua makanan yang tersaji. Diana senang melihat sahabatnya semangat kembali. Semua gerak-gerik Hana tidak luput dari tatapan Rafa. Namun Hana sedikitpun tidak menoleh pada Rafa.


"Hana, pelan-pelan makannya. Aku tidak akan memintanya. Setelah ini, kita pergi jalan-jalan. Setidaknya mengingat masa lalu!" ujar Diana antusias, Hana mengangguk dengan tetap mengunyah makanan. Hana seperti orang kelaparan, Diana tetap bangga pada pribadi Hana yang kuat.

__ADS_1


"Rafa, kamu yakin tidak ingin menemuinya. Setidaknya menyapa, setelah sebulan lebih tidak bertemu. Ada yang berubah dari Hana! Kamu tidak ingin mengetahui apa itu? Hana masih istrimu, kamu tidak pernah mengucapkan talak padanya!" bisik Adrian, Rafa terdiam. Jika Hana memiliki Diana, makan Rafa memiliki Adrian. Sahabat yang akan selalu mendukung, menjadi sandaran dikala terpuruk.


Lama Rafa terdiam, dengan langkah mantap dia menghampiri Hana. Diana terkejut melihat Rafa, sebaliknya Hana tetap mengacuhkan Rafa. Baginya dulu atau sekarang, adanya Rafa sama saja. Rafa mungkin suaminya, tapi Hana mulai belajar mengerti kondisi pernikahannya. Mata Rafa tertuju pada kantong kresek yang ada di samping Hana. Saat tangan Rafa hendak mengambilnya. Hana merebutnya, dia tidak ingin Rafa mengetahui isinya.


"Jangan pernah mengambil barang yang bukan milik anda. Tidak semua yang anda inginkan, akan dengan mudah terpenuhi!" ujar Hana dingin, Rafa melihat sikap lembut Hana menghilang tanpa sisa. Rafa mulai kesal melihat sikap Hana yang dingin. Diana merinding berada di antara dua suami istri yang mudah bertengkar, mudah juga untuk rujuk. Namun sepertinya saat ini Hana menutup pintu maaf itu.


"Hana, aku ingin melihat apa isi kantong itu? Berikan padaku, sebelum semua berubah kacau! Kamu mengenal diriku lebih dari siapapun? Jangan pernah buat diriku menyesal, karena marah padamu!" ujar Rafa kesal, Hana menggeleng. Dia memasukkan kantong tersebut ke dalam tas. Hana berdiri membayar makanan. Dengan sigap Rafa menarik tangan Hana. Hampir saja tubuh Hana menghantam meja.


Braakkk


"Hana!" teriak Diana histeris, bersamaan dengan jatuhnya meja yang ditendang Rafa. Tubuh Hana terhuyung saat Rafa menariknya.


Plaakkk


"Pak Rafa, anda ingin membunuh sahabat saya. Jangan pernah dekat dengannya, jika hanya luka yang anda berikan. Jika sesuatu terjadi pada Hana, anda orang pertama yang akan menyesal seumur hidup!" ujar Diana emosi, tamparan Diana seolah menyadarkan Rafa akan sikap kasar pada Hana.


"Diana, kamu jangan kurang ajar!" ujar Adrian, Diana tidak peduli. Dia memeluk Hana, mengajak Hana menjauh dari Rafa.


"Tuan Rafa Akbar Prawira, ini yang ingin anda ketahui. Silahkan anda lihat sepuasnya!" ujar Diana kesal, ternyata Diana memeluk Hana untuk mengambil itu dari tasnya. Hana dan Diana berjalan menjauh dari Rafa. Mereka menghentikan taxi, meninggalkan Rafa yang termenung.


"Hana, dia....!" ujar Rafa, kertas yang dibacanya jatuh.


"Rafa, ada apa?"


"Hana, dia....?"

__ADS_1


...☆☆☆☆☆...


TERIMA KASIH😊😊😊😊


__ADS_2