
Sang fajar menyapa dengan sinar hangatnya. Suara kicauan burung mengiring, menambah hangatnya pagi hari. Langit biru tanpa awan putih, menandakan cerahnya hari ini. Seindah dan sehangat hari, wajah Hana terlihat bahagia penuh dengan senyuman. Sejak bangun dari tidur, Hana sudah semangat mengawali hari ini. Bukan tanpa alasan kebahagian Hana pagi ini.
Setelah seminggu kedatangan Annisa, pagi ini Hana akan menemui Annisa di rumah sakit. Hana akan menjenguk Naufal, dia dan Diana berjanji akan menjenguk Naufal bersama. Rafa yang melihat kebahagian Hana sedikit cemburu. Rafa merasa senyum Hana bukan hanya demi Annisa, tapi kebahagian akan bertemu dengan Naufal. Semalam Rafa dan Hana memang selisih paham. Entahlah kenapa Rafa hanya cemburu pada Naufal? Bahkan kedekatan emosional Hana dan Annisa membuat rasa cemburu Rafa semakin kuat.
Setiap kali Rafa cemburu, saat itu juga Hana mampu membuat Rafa tersenyum. Tak pernah Rafa mampu marah pada Hana lebih dari satu jam. Sebab Hana menyadari bila kecemburuan Rafa ada. Ketika Rafa ingin dimanja atau dirayu oleh Hana. Bertahun-tahun pernikahannya, Rafa masih sama seperti dulu. Dia masih takut kehilangan Hana. Apalagi kasih sayang Fathan pada Hana yang begitu besar. Semakin membuat Rafa takut kehilangan keduanya. Jika dulu tanpa putranya Hana mampu meninggalkan Rafa. Apalagi sekarang dengan dua putra yang siap menjadi kaki penopang bagi Hana.
"Ada apa papa? Kenapa wajah papa murung?" ujar Fathan, dia duduk tepat disamping Rafa. Fathan melihat raut wajah Rafa murung. Kedua tangan Rafa menopang dagunya. Seakan sedang kesal memikirkan sesuatu. Sikap yang memperlihatkan Rafa sedang marah atau kesal. Rafa hanya diam menatap Fathan. Dia tak berpikir untuk menjawab pertanyaan Fathan.
"Papa sedang marah pada mama. Dia cemburu sebab mama akan ke rumah sakit menjenguk om Naufal. Aku heran sama papa, anaknya sudah sebesar ini. Masih saja cemburu yang tidak penting. Lagipula buat apa mama berhubungan dengan om Naufal? Bukankah om Naufal itu adik ipar mama. Suami dari tante Salsa!" sahut Faiq dingin seraya menggelengkan kepala tak percaya. Fathan sontak menoleh pada Rafa. Seakan butuh penjelasan dari Rafa, dengan santai Rafa mengangguk pelan. Mengiyakan perkataan Faiq, seketika Fathan tertawa sembari menggelengkan kepala. Dia tidak menyangka jika Rafa masih bisa cemburu pada Hana.
"Papa serius cemburu dengan om Naufal. Kenapa papa tidak cemburu pada orang lain? Masih banyak laki-laki lain selain om Naufal. Dia adik ipar mama, bukan orang lain! Sungguh cinta membuat papa buta!" ujar Fathan tak kalah dingin dari perkataan Faiq. Rafa menatal tajam ke arah kedua putranya. Bukannya mendukung, keduanya seakan mengejek dan tidak percaya bila cemburu Rafa benar. Hana tersenyum mendengar kedua putranya menggoda Rafa. Sikap kekanak-kanakan Rafa akan tetap sama. Dia hanya akan cemburu pada Naufal. Sebab Naufal orang yang pernah menjadi penolong Hana. Meski cinta tak mungkin terjadi, tapi entah kenapa Rafa selalu cemburu bila Hana bahagia bertemu dengan Naufal.
"Tertawalah, papa tidak apa-apa? Kelak kalian akan merasakan hal yang sama dengan papa. Saat kalian mencintai seorang wanita. Hidup kalian hanya akan berputar padanya. Saat itulah kalian akan merasakan yang papa rasakan. Cemburu itu bukan keinginan, tapi akan kita rasakan bila hati mulai merasa tidak nyaman!" ujar Rafa ketus, menjawab sindiran kedua putranya. Fathan dan Faiq menggeleng serempak. Keduanya seakan ingin mengatakan, tidak akan mencintai seorang wanita.
"Aku tidak ingin terjebak dalam cinta yang rumit. Saat ini aku hanya ingin menolong orang sebanyak mungkin. Hanya mama wanita yang ada dalam hatiku. Jika kak Fathan mungkin, secara dia dekat dengan banyak wanita. Salah satunya yang berdiri mematung di belakangnya!" ujar Faiq dingin, Fathan dan Rafa menoleh. Terlihat Davina berdiri mematung tak jauh dari meja makan. Fathan mengangguk mengerti arah perkataan Faiq. Semua semakin jelas bagi Fathan. Sikap dingin Faiq tak lebih dari rasa cemburu yang tak terasa.
__ADS_1
"Kenapa kalian bicara tanpa henti? Cepat sarapan, mama harus segera pergi. Lihat Davina sudah datang. Artinya Diana juga sudah sampai. Jika kalian tidak selasai juga sarapannya. Kapan aku akan berangkat ke rumah sakit?" sahut Hana kesal, lalu duduk di samping Faiq. Rafa semakin kesal, Diana dam Adrian berjalan mendekat. Adrian melihat raut wajah Rafa yang sedang kesal. Adrian mengetahui alasan kekesalan Rafa. Dengan santai Adrian menepuk punggung Rafa.
"Kenapa lagi kamu? Cemburu mengetahui Hana akan menjenguk Naufal. Masih saja kamu cembutu padanya. Padahal sebentar lagi kamu sudah akan memiliki menantu dan cucu. Usiamu sudah tidak muda lagi!" ujar Adrian menggoda Rafa, sontak Rafa menoleh dengan mata merah menahan amarah. Diana terkekeh melihat dua sahabat yang selalu bertengkar. Namun dibalik pertengkaran ada kehangatan yang tak tergantikan.
"Om Adrian saja mengetahui, jika cemburu papa tidak penting!" sahut Fathan, Hana menggeleng melihat suaminya terus-menerus ditekan. Dengan lembut Hana menarik tangan Rafa. Dia mencium punggung tangan Rafa. Semua mata menatap heran pada sikap Hana.
"Kak Rafa, aku hanya ingin menggenggam tangan ini bukan yang lain. Meski kamu tidak cemburu, aku sudah mengetahui besarnya cintamu padaku. Biarkan mereka meragukan atau menertawakanmu. Hanya aku yang bisa memahami cintamu!" sahut Hana, Rafa mengangguk mengerti. Fathan dan Faiq tersenyum bahagia menatap kehangatan kedua orang tuanya yang tak pernah lekang oleh waktu.
"Hana, kita berangkat sekarang. Aku masih harus mengantar Davina ke kampus. Percuma merayu kak Rafa. Kapan dia tidak cemburu padamu? Bahkan demi dirimu dia siap kehilangan segalanya. Adrian tidak sebesar itu mencintaiku. Karena itu dia tidak akan peduli, meski aku bertemu laki-laki lain!" sahut Diana, Hana mengangguk sembari berdiri. Adrian menggeleng lemah, lalu menahan tangan Diana. Seakan ingin mengatakan dirinya mencintai Diana. Namun dengan kasar Diana menepisnya. Rafa terkekeh melihat Adrian yang tidak dipedulikan Diana.
"Mama, Faiq berangkat dulu!" ujar Faiq, dia hendak mencium punggung tangan Hana bergantian dengan Diana. Fathan melakukan hal yang sama. Dia mencium punggung tangan Hana juga Diana.
"Mama, kenapa tidak berangkat bersama Faiq saja? Bukankah Faiq juga akan pergi ke rumah sakit. Jadi tante Diana tidak perlu mengemudikan mobil sendiri. Sekalian Faiq bisa mengantar Davina ke kampus!" ujar Fathan sengaja, dia ingin melihat ekspresi Faiq saat diminta mengantar Davina. Belum sempat Hana mengangguk, Faiq sudah menyahuti perkataan Fathan.
"Aku harus apel pagi. Jadi tidak akan sempat bila memutar ke kampusnya. Lagipula kenapa harus aku yang mengantarnya? Bukankah kak Fathan lebih dekat dengannya. Jadi kak Fathan saja yang mengantarnya. Aku akan mengantar mama dan tante Davina ke rumah sakit!" aahut Faiq dingin, Davina langsung menunduk. Lagi dan lagi dia mendapat penolakan dan sikap dingin Faiq. Hana dan Diana mengangguk setuju dengan usul Faiq. Akhirnya diputuskan Fathan yang akan mengantar Davina. Namun giliran Davina yang menolak.
__ADS_1
"Mama Hana, aku pergi dengan taxi saja. Kasihan kak Fathan bila mengantarku ke kampus. Jarak kantor kak Fathan ke kampus sedikit jauh. Aku bisa pergi ke kampus sendirian!" ujar Davina lirih, dia berbicara tanpa menoleh pada Faiq yang berdiri tak jauh darinya. Hana menggeleng tidak setuju, Faiq menghela napas panjang. Faiq berjalan menuju mobilnya melewati Davina yang terus menunduk.
"Bukankah kamu senang bila satu mobil dengan kak Fathan. Lalu kenapa menolak?" ujar Faiq lirih, Davina menggeleng seraya mendongak. Tanpa sengaja dia menatap kwdua mata Faiq. Sontak Davina langsung menunduk.
"Aku akan mengantarnya dulu, lalu kita pergi menuju rumah sakit!" ujar Faiq dingin, lalu masuk ke dalam mobilnya. Fathan tersenyum simpul melihat sang adik yang kesal. Hana dan Diana masuk ke dalam mobil. Mereka memilih duduk di belakang. Sedangkan Davina suka tidak suka harus duduk di depan bersama Faiq.
"Pakai sabuk pengamanmu, aku tidak ingin ditilang karena dirimu!" ujar Faiq dingin, Davina mengangguk pelan. Davina sungguh tak pernah mengira sikap dingin Faiq akan terus berlanjut. Setelah kepergiannya selama bertahun-tahun. Sedangkan Hana dan Diana terdiam melihat sikap dingin Faiq. Entah kenapa keduanya malah tersenyum? Sikap dingin Faiq yang memiliki banyak arti.
"Kenapa Faiq kamu selalu dingin padaku? Aku tak pernah menyakiti atau membencimu. Bahkan aku selalu bersikap hangat padamu. Sikap yang sama aku tunjukkan pada kak Fathan. Sejak tadi kita bertemu, tak sekalipun kamu menyebut namaku. Kamu seakan jijik menyebut namaku. Memangnya apa salahku padamu? Tidak bisakah kita berteman, setidaknya kamu bersikap baik padaku. Aku merasa hanya kebencian yang kamu tunjukkan padaku. Sungguh aku berharap setelah kepergianmu. Kamu akan berubah dan menganggapku ada. Aku tidak butuh cintamu, sungguh Faiq. Aku hanya ingin berteman denganmu. Layaknya pertemanan kedua orang tua kita!" batin Davina pilu. Lama Davina menunduk, merenungkan sikap dingin Faiq yang tak pernah menghangat.
"Kenapa melamun? Menyesal aku yang mengantarmu bukan kak Fathan!" ujar Faiq dingin, membuyarkan lamunan Davina. Sontak Davina mendongak kaget sembari menoleh pada Faiq. Terlihat Faiq fokus menatap ke depan. Sedangkan Davina semakin heran melihat sikap Faiq yang berubah-ubah. Dia tak pernah mengira, jika Faiq memperhatikannya.
"Jangan menatapku seperti itu!" ujar Faiq, Davina mengangguk malu. Pandangan Faiq lurus ke depan, tapi dia mengetahui bila Davina menatapnya penuh keheranan. Sungguh Davina tidak mengenal siapa sebenarnya Faiq? Dingin sikapnya yang semakin menjadi setelah lama tidak bertemu. Membuat hati Davina sakit, tapi disisi lain Davina merasa sikap dingin Faiq. Layaknya rasa khawatir yang sengaja ditutupi.
"Maaf!" sahutnya lirih.
__ADS_1