
Vania dan Raihan menghentikan perdebatan tanpa menemukan titik temu. Keduanya pergi ke kantor dalam kondisi yang kacau. Vania mungkin terlihat tenang, tapi jauh dalam hatinya dia merasa bersalah. Tanpa sengaja Vania telah membuat Raihan marah. Seorang suami yang mulai merasa terhina dengan sikap keras dan mandirinya. Terkadang Vania bingung mengambil sikap. Ketika dia melunak dan bersikap manja. Raihan merasa Vania anak belasan tahun. Namun ketika Vania kembali pada sikapnya. Raihan merasa tak dibutuhkan dan diacuhkan.
Entahlah Vania mulai merasa lelah dengan kesalahpahaman yang terus terjadi. Vania mungkin harus mengalah, selama bukan harga dirinya yang terinjak. Mungkin dia seorang istri yang harus patuh pada suami. Namun ada kalanya Vania bersikap tegas. Bila harga diri sebagai seorang wanita dipertanyakan atau direndahkan.
Setelah keluar dari rumah Raihan. Vania mengemudikan mobilnya menuju sebuah rumah sederhana. Rumah yang terlihat nyaman dan tenang. Rumah yang sengaja Vania sewa saat mencari ketenangan. Tidak ada banyak orang yang mengetahui rumah ini? Hanya Faiq dan Farah yang mengetahui rumah tempat Vania mencari ketenangan. Lama Vania tidak datang ke rumah ini. Semenjak menikah dengan Raihan, rumah ini tidak pernah Vania tempati. Meski Vania tidak pernah datang, ada seseorang yang sengaja Vania pekerjakan sebagai ART rumah ini. Bik Yam warga sekitar yang membersihkan rumah yang Vania sewa.
Hari ini sengaja Vania datang, bukan hanya mencari ketenangan. Janji Vania pada Raihan yang mengatakan proyek luar kota menjadi pekerjaan terakhirnya. Membuat Vania harus kerja ekstra menyelesaikan semua pekerjaan yang terlanjur dia terima. Vania akan menyelesaikan semuanya secepat mungkin. Sehingga dia tidak lagi memiliki beban pekerjaan. Setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan, barulah Vania akan pergi menuju tempat proyek di luar kota.
Secara perlahan Vania melangkah masuk ke dalam rumah sederhana berlantai dua. Terlohat bik Yam sedang membersihkan halaman depan. Setelah menyapa bik Yam dan meminta dibuatkan secangkir kopi. Vania naik ke lantai dua menuju ruangan tempat dia biasa bekerja. Ruangan yang selalu membuat Vania merasa nyaman. Seolah waktu berputar begitu cepat di sekitarnya. Sampai Vania lupa akan sepi yang selama ini tersimpan dalam hatinya. Kesepian yang tak pernah Vania perlihatkan pada orang lain. Hanya senyum yang selalu terlihat, meski hati dan jiwa Vania menangis dalam sepi.
"Kenapa aku begitu sulit dimengerti? Aku tidak pernah berharap lebih. Diperhatikan dan dimengerti, hal sederhana yang selama ini aku dambakan. Semua orang berpikir aku baik-baik saja. Tanpa mereka bertanya, apa yang kurasakan dan berusaha memahami yang sedang kurasakan? Aku tidak akan mengeluhkan rasa sepi yang aku alami. Sejatinya hidup cukup yang kurasakan, sudah lebih dari cukup. Namun egoiskah aku bila merasa sepi dan sunyi. Ketika aku memiliki keluarga, tapi tidak memiliki waktunya. Haruskah aku terus bersembunyi dalam keramaian? Agar tak ada yang merasakan sepiku. Sekali aku mencoba mengutarakan sakitku. Saat aku mencoba mengutarakan rasa cemburu? Bukan pengertian yang aku terima. Hanya keraguan dan tatapan penuh amarah yang kulihat. Mungkin cemburuku salah, sehingga suamiku merasa tertekan akan rasa itu. Sekuat aku mencoba memahami orang lain. Selemah itu mereka langsung menilaiku salah. Aku ditakdirkan hidup dalam keramaian, tapi merasa sepi tanpa ada sandaran. Selamanya takkan pernah ada yang bisa memahami lukaku. Entah karena aku yang teguh menutup rapat lukaku? Atau Orang lain yang takkan pernah bisa memahami luka yang tersirat dalam setiap sikapku!" batin Vania sembari menatap ke luar jendelanya. Ketenangan yang selalu dia dapatkan dalam sepi dan sunyi rumah sederhananya.
Tok Tok Tok
Terdengar suara pintu diketuk. Seketika Vania tersadar dari lamunannya. Vania menoleh ke arah pintu. Dia berjalan mendekat, lalu membuka pintu. Vania melihat bik Yam berdiri membawa nampan berisi secangkir kopi dan cemilan.
"Mbak Vania, bibik bawakan kopi dan makanan kecil. Nanti siang bibik akan memasak makanan kesukaan mbak Vania. Sekarang bibik tinggal ke dapur!" ujar bik Yam, Vania mengangguk seraya mengutas senyum. Bik Yam meletakkan nampan, lalu keluar dari ruang kerja Vania.
"Terima kasih!" ujar Vania, bik Yam mengangguk lalu meninggalkan Vania. Selama ini Vania merasa nyaman dan tenang dalam rumah ini. Bik Yam sangat menyayangi Vania, dia sudah menganggap Vania seperti putrinya sendiri. Kehidupan Vania jauh dari pantauan keluarganya, damai tanpa ada yang mengganggu dan mencampuri.
Hampir setengah hari Vania berkutat dengan kertas dan alat tulisnya. Sebagian pekerjaannya telah selesai dan sebagian lagi masih belum tersentuh. Vania mulai merasa lelah, terdengar suara perutnya keroncongan. Vania turun menuju meja makan. Terlihat beberapa menu masakan kesukaannya. Bik Yam bukan hanya ART bagi Vania. Dia sudah seperti ibu yang selalu memanjakan Vania dengan berbagai macam masakan kesukaannya. Tanpa butuh waktu lama, Vania melahap semua makanan yang ada. Kebetulan kehamilan Vania tidak terlalu rewel. Vania bisa mengkonsumsi apa saja? Selama itu tidak pedas dan bersantan.
Sekitar pukul 14.00 wib, Vania keluar dari rumahnya. Dia melesat menuju luar kota. Memang sudah sangat siang, tapi Vania harus tetap pergi ke lokasi proyek. Dia harus datang untuk berpamitan pada warga sekitar. Sebab biasanya Vania datang satu bulan sekali. Setelah ini Vania tidak akan datang. Bila tidak untuk hal yang sangat mendesak.
...☆☆☆☆☆...
__ADS_1
"Raihan, Vaaz menolak tawaran kerjasama kita. Dia sudah mengumumkan mengundurkan diri. Sementara waktu dia akan vakum. Kerjasama yang sudah terjalin. Dia akan segera menyelesaikannya!" ujar Sovia, sesaat setelah membaca berita bisnis. Raihan mengangguk mengerti, meski dalam hati Raihan tidak percaya. Sebab Vaaz adalah arsitek yang sangat hebat dan dicari banyak perusahaan.
Farah yang kebetulan berada dalam satu mobil dengan Sovia dan Raihan. Diam menyimak berita yang sedang beredar. Meski dalam hati Farah bertanya alasan mundurnya Vaaz menjadi seorang arsitek. Sebab Farah mengetahui benar. Vaaz bermimpi menjadi seorang arsitek yang hebat. Namun tanpa ada angin atau hujan, Vaaz memilih mundur ketika kesuksesaan sudah diraihnya.
"Biarkan saja, kita akan menemukan arsitek yang lain. Dia terlalu misterius dan susah ditebak. Aku yakin ada orang lain yang lebih hebat darinya. Minta dia menyelesaikan semua kontrak dengan kita!" tutur Raihan, Sovia mengangguk.
Hari ini mereka bertiga akan meninjau lokasi mega proyek yang ditangani bersama. Farah datang menggantikan ayahnya. Lokasi yang berada di luar kota dan sedikit terpencil. Membuat Raihan memutuskan untuk menggunakan satu mobil saja. Raihan tidak merasa salah dengan keputusannya. Sebab Farah ada ditengah-tengah dirinya dan Sovia.
Setelah hampir dua jam lebih, mobil Raihan dan satu mobil timnya masuk ke area proyek. Tepat saat mobil Raihan masuk. Ada mobil lain yang masuk, mobil sport keluaran terbaru dan dengan kecanggihan yang lebih baik. Raihan dan Sovia heran melihat mobil tersebut masuk ke area yang sama dengan mereka. Sebaliknya Farah bersikap tenang bahkan biasa saja. Seolah dia mengenal siapa pemilik mobil sport tersebut. Mobil tersebut berhenti sedikit menjauh dari mobil Raihan.
"Vania!" gumam Farah, sontak Raihan dan Sovia menoleh. Mereka merasa mendengar nama Vania disebut. Walau tidak terlalu jelas. Saat Raihan bertanya pada Farah, hanya gelengan kepala yang dilihat Raihan. Seakan mengatakan Farah tidak mengatakan apa-apa?
"Pak Rudi, saya Raihan dan mereka rekan kerja saya. Kami ingin melihat cetak biru proyek ini. Jika tidak ada kendala, kami akan segera melakukan pembanguanan!" ujar Raihan tegas penuh dengan wibawa. Sovia dan Farah hanya diam mengikuti arahan Raihan. Pak Rudi mengangguk mengiyakan. Dia memberikan cetak biru yang dimaksud Raihan.
Pak Rudi bukan pemilik atau investor proyek ini. Sebaliknya arsitek yang membuat cetak biru itulah. Pemilik mega proyek yang akan dikerjakan Raihan dan timnya. Pak Rudi mengajak Raihan dan timnya menuju tenda yang ada di pinggir. Tenda yang dibuat ala kadarnya, untuk tempat istirahat sementara.
Sebuah rancangan banguanan yang begitu megah dan besar. Pembanguanan besar-besaran yang akan dibangun ditengah-tengah kota kecil yang jauh dari kemajuan. Raihan mengagumi rancangan yang begitu indah. Sebuah mega proyek yang akan menjadi proyek terbesar tahun ini bagi perusahaannya. Nilai kontrak yang tidak main-main dengan keuntungan yang tidak sedikit.
Raihan meletakkan rancangan pembangunan. Dia berjalan menuju tanah kosong yang siap menjadi area pembanguanan mega proyeknya. Raihan berdiri di atas lahan kosong. Luas lahan yang puluhan hektare, siap disulap menjadi area kemajuan kota ini. Lahan yang akan dibangun semua fasilitas umum. Mulai dari rumah sakit, sekolah dari Tk sampai SMU serta masjid yang akan berada dalam satu wilayah. Sungguh Raihan ingin bertemu dengan pemilik proyek ini sesungguhnya. Seseorang dengan kesuksesan yang tidak bisa diragukan lagi.
"Pak Rudi, dia siapa yang berada disana? Dia seperti tidak asing bagiku. Apa dia selalu menatap senja seperyi itu?" ujar Raihan penasaran.
"Dia Vania Aulia Azzahra, istrimu!" sahut Farah, Raihan langsung menoleh ke arah Farah. Raihan kaget melihat Farah tiba-tiba berdiri di belakangnya. Sontak pak Rudi mengangguk mengiyakan. Memang benar Vania yang berdiri tegak di tengah tanah kosong. Dia menatap matahari sore yang berubah menjadi senja.
"Maksudmu!" ujar Raihan tak percaya. Sovia tersenyum sinis. Sedikitpun Sovia tidak percaya akan perkataan Farah.
__ADS_1
"Dia memang Vania, jika kamu tidak keberatan. Aku akan memanggilnya!"
"Vaniaaaaa!" teriak Farah, sonfak Vania menoleh. Raihan dan Sovia tercengang melihat Vania wanita yang berada tak jauh darinya. Pak Ridu merasa heran, ketika melihat Raihan dan Farah mengenal Vania.
"Tuan Raihan, dia mbak Vania pemilik proyek ini. Mbak Vania juga yang membuat cetak biru itu. Dia juga investor dalam proyek ini. Sayangnya hari ini dia datang untuk terakhir kali. Mbak Vania berpamitan pada kami!" ujar pak Rudi, Raihan terdiam membisu.
Dari tempatnya dia melihat banyak warga desa yang berdiri tak jauh dari Vania. Ada satu mbil boks yang terlihat di samping mobil Vania. Raihan semakin terdiam, dia tidak bisa berpikir apa-apa? Banyak yang ingin dia ketahui, tapi pada siapa dia bertanya? Perdebatannya dengan Vania tadi pagi. Membuatnya enggan bicara dengan Vania.
"Pak Rudi, tolong bagikan bahan pokok yang saya bawa itu. Sekaligus sampaikan permintaan maaf saya. Mungkin setelah ini saya akan jarang kemari. Namun pak Rudi tenang saja. Bantuan saya akan tetap datang dan tolong pak Rudi yang mengaturnya!" tutur Vania sesaat setelah turun dari mobilnya. Pak Rudi mengangguk pelan. Dia sangat menghargai Vania, meski usia Vania jauh dibawahnya.
"Apa semua ini?" ujar Raihan lirih, Vania menatap Raihan lekat. Sebenarnya tidak pernah Vania berpikir ingin mengatakannya pada Raihan. Namun semua sudah terlanjur dan harus segera diselesaikan.
"Harapan dan impianku, setelah ini aku tidak akan bekerja. Tidak ada lagi keinginanku, semua akan tewujud dengan selesainya pembangunan ini!" ujar Vania lirih, Raihan menatap raut wajah Vania. Penuh ketenangan dan keteduhan.
"Cetak biru ini, apa yang pak Rudi katakan benar? Kamu yang membuatnya!" ujar Raihan, Vania mengangguk pelan.
"Kamu Vaaz!" sahut Sovia, lagi dan lagi Vania mengangguk. Raihan frustasi mendengar kenyataan yang sengaja Vania simpan. Raihan mengusap wajahnya kasar. Dia gusar memikirkan sikap yang harus dia pilih. Haruskah dia marah dan kecewa mendengan semua kebenaran ini. Ataukah Raihan bahagia melihat betapa baiknya hati istri yang dinikahinya.
"Kenapa kamu diam tentang semua ini? Tidak pentingkah aku bagimu, sampai aku tidak menyadari. Betapa misteriusnya istriku? Aku seolah tidak mengenalimu!" ujar Raihan, Vania mendekat pada Raihan. Dia menarik tangan Raihan, lalu mencium punggung tangannya.
"Maafkan aku, bila membuatmu kecewa. Semua ini impian dan harapanku sejak putih abu-abu. Jadi tidak ada hak aku mengatakannya padamu. Tentang pekerjaanku sebagai arsitek, aku merasa tidak perlu mengatakannya padamu. Selama kamu merasa tidak perlu bertanya padaku. Pernikahan kita hampir berjalan satu tahun, tapi tak satu kali saja aku mendengar kamu bertanya tentang hidupku dan harapanku. Jadi sangat pantas bila kamu tidak mengenal diriku!" ujar Vania lirih, Raihan menggeleng lemah tak percaya.
"Lantas kamu merasa berhak menyimpan semua ini. Raihan suamimu, dia berhak mengetahui semua tentangmu. Bukan malah dengan angkuhnya kamu menjadikan Raihan pembantumu!" ujar Sovia kasar, Farah mendekat pada Vania. Dia berada dibalik Vania, membela dan mendukung sahabatnya.
"Memang ini proyekku, harapan dan impianku. Namun aku hanya investor tidak lebih. Jadi aku tidak berhak atas keputusan pembangunan. Jika masalah cetak biru, aku melakukannya hanya demi terwujudnya impianku. Aku hanya ingin menjadi senja yang indah untuk warga kota ini!" ujar Vania.
__ADS_1
"Sovia, diamku cara aku menjaga kehormatan suamiku. Sebesar apapun sukses yang kudapat. Aku harus menguburnya, demi tanggungjawab sebagai seorang istri. Setinggi apapun pendidikan yang kuterima. Harus kututup rapat agar suamiku selalu lebih tinggi dariku. Bahkan kemewahan dan jerih payah yang kupunya. Tidak akan pernah aku tunjukkan pada suamiku. Sebab sebanyak harta yang aku punya. Tetaplah harta suamiku yang membuatku nyaman dan tenan. Sebab pintanya adalah perintah untukku. Kata-katanya hukum dalam hidupku!" ujar Vania lirih.