
"Sayang, izinkan aku memiliki dirimu sepenuhnya!" ujar Faiq penuh kemesraan, Davina mengangguk lalu menunduk malu. Seketika Faiq menggendong Davina masuk ke dalam kamar. Faiq meletakkan Davina pelan penuh kelembutan. Lalu mencium lembut kening Davina. Melepas hijab Davina, menghirup harum rambutnya.
Tok Tok Tok
"Faiq, buka pintunya!" teriak Fathan sesaat setelah mengetuk pintu. Seketika Faiq memberikan hijab Davina. Dia meminta Davina memakainya kembali. Faiq berjalan perlahan menuju pintu. Dia ingin segera membuka pintu.
"Jangan keluar kamar sebelum kamu benar-benar siap. Aku tidak ingin kak Fathan berpikir yang tidak-tidak!" ujar Faiq sebelum keluar kamar. Davina mengangguk lalu masuk ke dalam kamar. Sedangkan Faiq langsung keluar kamar.
Kreekkk
"Ada apa? Malam-malam datang kemari!" ujar Faiq kesal, sesaat setelah membuka pintu. Dia melihat Fathan berdiri di depan rumahnya. Namun seketika Faiq menutup mulutnya. Saat dia melihat Annisa berdiri tak jauh di belakang Fathan. Faiq melihat Annisa membawa koper kecil. Banyak pertanyaan dalam benak Faiq.
"Maaf, jika kami mengganggu!" ujar Annisa lirih sembari menunduk. Sontak Faiq salah tingkah, dia berkata kesal seperti tadi hanya pada Fathan. Faiq tidak menyangka jika Annisa ikut dengan Fathan. Faiq merasa tidak enak hati saat mendengar Annisa berkata seperti itu. Faiq terbiasa bersikap dingin, bahkan cenderung blak-blakan. Namun terhadap Annisa dia tidak bisa bersikap sama, Faiq sangat menghargai Annisa. Sebagai senior di rumah sakit dan juga sebagai seorang kakak ipar.
__ADS_1
"Maaf kak Annisa, aku tidak tahu jika kamu ikut dengan kak Fathan. Aku pikir dia datang seorang saja. Dia selalu menggangguku di saat-saat penting. Maka dari itu aku berpikir, dia datang malam-malam hanya ingin menggangguku. Aku minta maaf, silahkan masuk. Davina sedang di kamar mandi!" ujar Faiq ramah, Annisa mengangguk pelan. Dia berjalan melewati Faiq. Sebaliknya Fathan terkekeh melihat Faiq salah tingkah. Jika Fathan bisa memilih. Dia tidak ingin datang malam-malam ke rumah Faiq. Sebagai seorang laki-laki dia mengetahui dilema pengantin baru.
"Faiq, maaf aku datang disaat yang tidak tepat. Seandainya aku bisa memilih. Aku tidak akan datang mengganggumu. Kakak iparmu menangis seperti anak kecil. Dia merengek ingin menginap di sini. Kamu saja tidak berkutik di depannya. Apalagi aku yang tidak sanggup melihat air matanya. Jadi sementara waktu, mengalahlah demi kakak ipar dan calon keponakanmu!" bisik Fathan lirih, Faiq mengangguk lemah. Fathan berjalan melewati Faiq yang berdiri mematung di depan pintu.
"Aku hanya bisa bersabar menghadapi kalian. Meski aku marah juga percuma. Kalian sudah datang ke rumahku. Kenapa kalian harus datang malam ini? Padahal selangkah lagi aku bisa memiliki Davina seutuhnya. Entah aku yang tidak beruntung memiliki kakak seperti kalian? Atau memang belum waktunya aku memiliki Davina. Aku tidak tinggal di rumah keluarga Prawira agar bisa berdua dengan Davina. Tapi kalian malah datang ke rumahku. Kalian berdua memang kakak yang perhatian. Sampai datang mengganggu malam pengantin adiknya!" batin Faiq sembari menggelengkan kepala. Dia tidak menyangka Faiq dan Annisa datang ke rumahnya. Seolah dengan sengaja mereka ingin mengganggu Faiq dan Davina.
"Davina, dimana kamarmu? Aku akan tidur bersamamu!" teriak Annisa lantang, Fathan dan Faiq saling menoleh. Mereka terkejut saat mendengar permintaan Annisa. Sebagai seorang laki-laki mereka merasa keberatan bila Davina dan Annisa tidur sekamar. Apalagi Faiq yang masih pengantin baru. Sedangkan Davina dengan polosnya tersenyum seraya mengangguk. Davina tidak merasa keberatan bila Annisa akan tidur bersamanya.
"Sayang, kita sudah berada di rumah Davina. Kita akan menginap disini beberapa hari. Lalu untuk apa kamu tidur sekamar dengan Davina? Kita tidak boleh mengganggu kebersamaan Davina dan Faiq. Mereka butuh privasi, apalagi mereka masih pengantin baru. Kamu tidur bersamaku saja. Aku akan menjagamu!" ujar Fathan, Annisa menggeleng lemah. Dia mendekat pada Davina. Annisa merangkul Davina, sedikitpun Annisa tidak ingin jauh dari Davina.
Annisa begitu ingin dekat dengan Davina. Semenjak hamil selalu ada saja keinginan Annisa yang aneh. Bukan tanpa alasan Fathan sampai di rumah Faiq. Sejak siang Annisa ingin datang ke rumah Faiq. Namun Fathan mengacuhkannya, sebab dia tidak ingin mengganggu Faiq dan Davina. Sampai malam hari, sikap Annisa semakin menjadi. Dia menangis tanpa henti, memaksa untuk pergi ke rumah Davina. Dengan terpaksa Fathan memenuhi permintaan Annisa. Tanpa banyak bicara, Annisa menyiapkan semua keperluannya. Dia memasukkan beberapa baju, seolah Annisa ingin tinggal selamanya di rumah Faiq. Fathan sempat marah, dia tidak percaya bila yang dilakukan Annisa murni karena keinginan bayinya. Sikap Fathan bukan meredakan tangis Annisa. Malah membuat Annisa menangis lagi. Akhirnya Fathan kalah dan mengalah. Dia harus memikirkan kondisi ibu dan calon bayinya.
"Aku ingin tidur dengan Davina. Semua ini bukan keinginanku. Anakmu yang ingin dekat dengan tantenya. Kenapa kamu yang keberatan? Faiq dan Davina saja diam. Mereka tidak keberatan bila aku tidur dengan Davina. Lagipula ini keinginan calon keponakan mereka. Kamu memang tidak menyayangiku. Sejak tadi kamu melarangku, padahal Davina senang melihatku disini. Anakku menyayangi mereka, lihat mereka juga menyayangi anakku!" tutur Annisa lirih penuh kekesalan. Seketika Fathan menepuk jidatnya pelan. Dalam sikap dewasa Annisa tersimpan sikap egois yang tidak peduli pada orang lain. Davina tersenyum mendengar perdebatan antara suami istri di depannya. Hanya Faiq yang menelan ludahnya kasar. Kemesraan yang sudah dia bayangkan seketika berakhir. Tak ada lagi kebersamaannya dengan Davina. Kedatangan kedua kakaknya, menghancurkan impian Faiq. Dengan langkah pelan, Faiq mendekat pada Fathan.
__ADS_1
"Kakak anakmu hebat, belum juga dia lahir. Anakmu sudah berebut Davina denganku. Kemarin siang, dia sudah meminta Davina memasak untuknya. Malam ini dia ingin tidur dengan Davina istriku. Sungguh anak dan ayah yang kompak. Tidak pernah ingin melihatku bahagia. Belum lahir dia sudah menjadi keponakan yang menyebalkan. Dia tahu cara menghancurkan malam pertamaku!" bisik Faiq lirih, Fathan menoleh dengan tatapan yang tidak bisa diartikan lagi. Sebagai kakak Fathan menyadari dia telah mengganggu adiknya. Sebagai laki-laki normal, Fathan pernah merasakan sakitnya hasrat yang tertunda.
"Sayang, kasihan Faiq tidur sendiri. Jangan buat anakmu menjadi keponakan yang menyusahkan pamannya sebelum dia lahir!" ujar Fathan pada Annisa, Davina menggeleng lemah. Annisa tersenyum saat melihat Davina menggeleng. Itu artinya dia tidak setuju dengan perkataan Fathan. Sontak Faiq melotot ke arah Davina. Dia kesal melihat jawaban Davina.
"Kak Faiq, sementara waktu kita tunda dulu malam pertamanya. Kamu harus bersedia mengalah pada keponakanmu. Akan banyak malam lain kita bersama. Sekarang biarkan aku bersama kak Annisa. Aku tidak ingin melihat keponakanku ileran saat dia lahir!" bisik Davina pada Faiq dengan mengutas senyum semanis mungkin. Dengan terpaksa Faiq mengangguk pelan. Dia menarik tubuh Davina ke dalam pelukannya. Annisa dan Fathan melotot melihat Faiq memeluk Davina di depan mereka.
"Sekarang aku akan mengalah, tapi kamu harus bersiap membayar semuanya lunas dengan bunganya. Aku akan membuatmu mengingat malam pertama kita selamanya. Akan kubuat kamu merasakan besarnya cintaku. Saat itu terjadi, tidak akan ada lagi pengganggu. Aku akan memilikimu dengan cara apapun. Malam yang akan indah, penuh dengan kehangatan. Davina Nur Latifah akan menyerahkan kesucian yang selama ini dia jaga. Akan kubuat Davinaku melupakan dunia dan membuatnya hanya mengingatku saja. Bersiaplah menunggu malam itu tiba!" bisik Faiq tepat di telinga Davina yang tertutup hijab. Faiq meniup pelan telinga Davina, lalu Faiq mencium lembut tengkuk Davina. Fathan dan Annisa terdiam mematung melihat sikap mesra Faiq. Mereka tidak menyangka bisa melihat Faiq yang dingin bersikap mesra.
"Kak Annisa tidurlah dengan Davina. Aku harap keponakanku hanya menyusahkanku disaat dia belum terlahir. Jangan sampai saat dia lahir, akan jauh lebih menyebalkan dan menyusahkan!" ujar Faiq, lalu menarik tangan Fathan berjalan ke luar dari rumah.
"Ayo pergi, biarkan mereka berdua. Kamu harus menemaniku begadang. Sebagai ganti rugi hasratku yang tidak tersalurkan. Aku begini karena calon putramu!" ujar Faiq kesal, Fathan hanya mengangguk sembari mengikuti langkah Faiq.
"Dasar keponakan menyebalkan, belum lahir sudah menyusahkanku. Awas saja saat kamu lahir. Jangan sampai kamu lebih menyebalkan dari papamu yang manja. Aku tidak akan bahagia bila ayah dan anak ini terus menggangguku!" batin Faiq kesal.
__ADS_1