KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Saling Menyayangi


__ADS_3

"Assalammualaikum!" ujar Raihan lirih, lalu berjalan masuk lebih dalam. Malam ini Raihan dan Vania akan menginap di rumah Rafa. Seperti biasa dalam satu minggu, ada satu hari Vania akan menginap di rumah Rafa. Kesepakatan yang tak pernah dibicarakan. Namun telah menjadi sebuah pengertian antara Vania dan Raihan.


"Waalaikumsalam!" sahut Faiq dan Fathan hampir bersamaan. Keduanya kebetulan sedang berada di ruang tengah. Fathan dab Faiq sedang bermain game. Keduanya mengadu keahlian dalam bermain game. Terkadang keduanya membuat hukuman yang aneh. Pertaruhan yang dijadikan sebagai semangat semata. Bukan perjudian atau taruhan sungguhan.


"Bersihkan dirimu dulu, pasti kamu lelah badu saja pulang dari luar kota. Vania pasti sudah menyiapkan keperluanmu. Pergilah ke kamarnya, jika kamu lelah istirahatlah. Jika tidak bergabung dengan kami disini!" tutur Fathan hangat, Raihan mengangguk mengerti. Meski dalam hati dia tidak percaya, Vania sudah menyiapkan keperluannya


"Memangnya sejak kapan Vania menyiapkan keperluanku? Bukan kehangatan yang aku terima setiap pulang kerja. Tapi tatapan penuh rasa cemburu yang selalu Vania tunjukkan. Entah ini salahku sebagai laki-laki tampab? Atau Vania yang jauh lebih perasa semenjak hamil. Satu hal yang pasti, Vania aku selalu mencintaimu. Entah itu perhatian atau sikap tak peduli? Sebab aku yakin kamu juga mencintaiku!" batin Raihan.


Raihan berjalan perlahan menuju kamar Vania. Namun saat tiba di kamar, dia tidak menemukan Vania. Entah kemana perginya Vania? Hanya saja yang dikatakan Fathan benar Vania menyiapkan seluruh keperluannya. Bahkan air panas untuk Raihan mandi sudah siap. Perhatian kecil Vania membuat Raihan bahagia. Dia memutuskan untuk turun dan bergabung dengan Faiq dan Fathan. Raihan tidak akan melewatkan malam ini begitu saja.


Setelah membersihkan diri dan sholat isya, Raihan turun ke bawah menamui Faiq dan Fathan. Saat tiba di ruang tengah, dia melihat Vania berdiri di depan meja makan. Entah apa yang sedang dikerjakan Vania? Raihan melihat Vania begitu sibuk. Raihan menghampiri Vania, lalu mengecup kening Vania mesra. Sedikit kehangatan yang selalu Raihan lakukan setelah pulang kerja.


"Kak, makanlah dulu. Kamu baru saja pulang. Aku sudah menyiapkan makan malam!" ujar Vania, sesaat setelah Raihan mencium keningnya. Raihan menghentikan langkahnya, dia menoleh ke arah Vania. Raihan menatap heran ke arah Vania, lalu mengangguk pelan. Sikap hangat Vania nyata, tapi penuh keanehan.


"Ada apa dengan Vania? Bukan cemburu yang dia tunjukkan. Sikap hangatnya benar-benar membuatku takut. Mungkinkah Vania tidak lagi meragukanku atau sebaliknya? Vania menemukan cinta lain yang jauh lebih baik dariku? Ada apa sebenarnya ini?" batin Raihan penuh kebingungan.


Raihan duduk di meja makan, lalu Vania menyiapkan makan malam Raihan. Meski hatinya penuh dengan pertanyaan. Raihan tetap mengikuti kemauan Vania. Jika boleh jujur, Raihan sudah makan malam dengan rekan kerjanya. Namun perhatian Vania tidak akan pernah ditolak Raihan. Meski setelah ini Raihan kekeyangan. Dia akan menanggungnya, selama Vania terus tersenyum ke arahnya.

__ADS_1


"Kamu makan malam atau menatap wajah Vania? Memangnya ada yang aneh dengan wajah Vania. Aku rasa dia tetap jelek dan pendek!" ujar Fathan, sembari mengambil segelas minuman. Sontak Raihan menatap Ke arah Fathan heran. Lalu menoleh ke arah Vania yang menunduk lemah. Terdengar isak tangis dari bibir Vania.


"Sayang, kamu kenapa menangis?" ujar Raihan cemas, seketika Vania menunjuk ke arah Fathan. Sontak Fathan terkekeh melihat Vania yang mulai menangis. Entah kenapa Fathan merasa sangat senang bisa membuat Vania menangis? Raihan langsung memeluk Vania, mendekap erat tubuh mungil Vania. Meski dia merasa heran, Raihan tetap saja berusaha menenangkan Vania.


"Sayang, jangan menangis. Kak Fathan hanya menggodamu. Lihat dia tertawa melihatmu menangis!" tutur Raihan lirih, Vania mengangguk pelan. Lalu memeluk Raihan sangat erat. Pelukan yang sangat jarang meski mereka sedang berdua.


Fathan menoleh pada Raihan, lalu mengacungkan jempol ke arahnya. Akhirnya kini Raihan mengerti. Apapun yang dilakukan Fathan. Semua hanya demi membantu Raihan semakin dekat dengan Vania. Raihan mengangguk seraya mengucapkan terima kasih. Sebuah ucapan dengan isyarat, agar Vania tidak mendengarnya.


"Kak Raihan, jangan sejahat itu padaku. Kak Fathan dan kak Faiq jahat. Mereka mengatakan aku jelek dan pendek. Padahal aku cantik dan imut!" ujar Vania manja, Raihan mengangguk sembari mengelus kepala Vania. Raihan mendekap erat tubuh mungil Vania.


Tak berapa lama ganti Faiq yang mendekat ke arah meja makan. Dia melihat Raihan dan Vania saling berpelukan. Sontak Raihan dan Vania saling melepas pelukan mereka. Ada rasa canggung saat Faiq melihat mereka berpelukan. Meski sebenarnya Faiq tidak merasa keberatan dengan yang dia lihat.


"Kenapa dilepas? Teruskan saja, aku tidak keberatan melihatnya. Lagipula kalian sudah menikah. Kecuali kalian masih belum sah. Aku orang pertama yang akan marah!" ujar Faiq dingin dan acuh. Lalu meninggalkan Raihan dan Vania berdua. Faiq pergi setelah mengambil makanan ringan yang sudah dibuatkan Davina.


Raut wajah Vania dan Raihan bak kepiting rebus. Mereka merasa malu dan bahagia sekaligus. Kedua kakaknya benar-benar unik. Menyayangi Vania meski dengan cara yang berbeda. Fathan selalu menggoda, bahkan membuat Vania menangis. Demi bisa memiliki alasan dekat dengan adik perempuannya. Sedangkan Faiq dalam sikap acuh dan tegasnya pada Vania tersimpan sayang yang selalu melindungi.


"Sayang, aku iri padamu. Kamu memiliki dua cinta dari mereka. Cinta yang melindungi dan menyayangimu. Sejak kecil aku hidup sendiri, tanpa ada saudara. Tak pernah aku merasakan kehangatan sebuah keluarga layaknya disini. Jangan pernah membenci mereka, sikap mereka padamu menyimpan cinta yang sangat besar untukmu!" ujar Raihan, lalu mencium lembut puncak kepala Vania.

__ADS_1


Setelah selesai makan, Raihan dan Vania memutuskan bergabung dengan Faiq dan Fathan. Terlihat keduanya masih terus bermain. Tak ada rasa lelah atau bosan yang tersirat dari raut wajah keduanya. Baik Faiq atau Fathan larut dalam permainan. Keduanya layaknya dua anak kecil yang sedang bermain bersama. Tanpa mereka sadari, Hana memperhatikan kedekatan kedua putranya. Kedekatan yang seolah jarang terlihat, bahkan tak pernah terlihat.


"Mereka tetap saudara yang akan saling menyayangi. Meski jarak selalu membuat mereka menjauh. Namun darah yang sama, akan tetap menyatukan. Cinta yang melahirkan mereka, tidak akan bisa terpisahkan!" batin Hana sendu.


"Raihan, bagaimana kelanjutan proyek pembangunan impian Vania? Tadi aku sudah mentransfer pembayaran pertama. Jika ada kendala katakan padaku!" ujar Fathan, Raihan menoleh pada Fathan dengan heran


"Tidak perlu heran, diantara kami bertiga kak Fathan yang lebih pintar dalam hal keuangan. Vania yang bertanggungjawab akan rancangan bangunan. Sedangkan aku hanya bertugas dalam pemilihan karyawan yang kelak akan bertanggungjawab disana. Satu hal lagi, aku bertugas mencari investor!" ujar Faiq dingin, Raihan semakin heran dengan perkataan Faiq.


"Raihan, proyek itu memang impian Vania. Sekaligus harapan dan bakti mereka bertiga. Rasa terima kasih mereka pada Hana. Mungkin kamu tidak menyadari. Tempat proyek itu, tak lain kampung tempat Hana dilahirkan. Kampung tempat kedua orang tua Hana tumbuh besar. Jadi jangan heran bila mereka bersatu dalam satu impian!" tutur Rafa.


"Lantas kenapa aku tidak bisa menjadi bagian dari impian itu? Aku bisa menjadi investor dalam proyek itu!" sahut Raihan.


"Sejak kamu mengambil alih proyek itu. Tanpa bicara kamu sudah menjadi bagian dari impian itu. Satu hal yang harus kamu lakukan. Percepat pembangunan dan fokuskan pikiranmu pada proyek itu!" ujar Fathan.


"Terima kasih!" ujar Hana, sontak Faiq, Fathan, dan Vania menoleh bersamaan.


"Kami menyayangimu!" teriak mereka serempak, lalu memeluk Hana bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2