KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Ahcmad Faiz Akbar


__ADS_3

Semenjak Raihan resmi menjadi tunangannya. Vania bersikap sedikit hangat pada Raihan. Tidak ada lagi sikap acuh, sebaliknya Vania mulai menghargai setiap perlakuan Raihan. Vania tidak lagi membentengi dirinya seperti dulu. Vania mulai menerima perhatian Raihan. Sebagai rasa sayang Raihan padanya. Vania tidak ingin terus bersikap dingin dan mandiri. Adakalanya Vania harus mengalah, agar tidak ada hati yang tersakiti. Selama ini sikap Vania keterlaluan. Dia selalu acuh akan perhatian Raihan yang membuat hubungan keduanya seakan menjauh.


Siang ini Raihan ingin makan siang dengan Vania. Biasanya Vania akan menolak dengan alasan kesibukan. Baik Raihan dan Vania jarang bertemu, karena kesibukan masing-masing. Namun bagi Raihan bertemu dengan Vania tidak akan pernah di lewatkan. Sesibuk apapun Raihan, dia akan ada atau datang saat Vania menghubunginya. Sebaliknya Vania mulai mengiyakan setiap ajakan Raihan. Setidaknya dia menghargai perjuangan Raihan yang menyempatkan waktu bertemu dengannya. Sangat tidak pantas dia terus menolak ajakan penuh ketulusan.


Siang ini Vania dan Raihan janji bertemu di salah satu cafe. Letaknya tidak jauh dari sekolah Vania dulu. Kebetulan juga pemiliknya salah satu kakak kelas Vania. Namun Vania tidak terlalu mengenal sang kakak kelas. Raihan dan Vania janji bertemu di cafe itu. Sebab keduanya ada rapat tidak jauh dari cafe. Bertemu di hari aktif, membuatnya keduanya harus pintar mencuri waktu. Mereka tidak ingin demi kepentingan pribadi. Namun mengabaikan kewajiban mereka sebagai seorang pekerja


Raihan sebagai seorang bos tidak pernah memberikan contoh yang tidak baik. Dia tidak pernah cuti tanpa alasan yang jelas. Sebab itu Raihan mampu menjadi pemimpin yang disegani. Perusahaan yang dipimpinnya menjadi perusahaan dengan tingkat keberhasilan yang memukau. Dia dan Fathan menjadi pembisnis yang tidak bisa diragukan lagi. Dalam pandangan karyawannya, Raihan pribadi yang tegas dan hangat. Meski kehangatan Raihan menyimpan dingin yang tidak akan mudah cair. Raihan tidak akan menerima perhatian dari siapapun? Selama perhatian itu pamrih berharap cintanya.

__ADS_1


Vania datang setengah jam lebih cepat. Rapatnya selesai sebelum waktu makan siang. Dia tidak mungkin kembali ke kantor. Akhirnya dia meminta izin pada Fathan untuk makan siang. Vania memutuskan menunggu Raihan di cafe. Kebetulan Vania membawa beberapa buku di dalam tas punggungnya. Setidaknya Vania tidak akan bosan menunggu Raihan yang belum datang. Saat Vania akan sampai ke Cafe. Dia berhenti sejenak di depan sekolahnya dulu. Sebuah SMP yang tidak terlalu populer kala itu. Meski Vania berasal dari keluarga yang berharta. Dia tidak pernah memilih sekolah di tepat favorit. Vania ingin hidup dalam kesederhanaan. Namun sekarang berbeda sekolahnya menjadi SMP favorit. Sekolah dengan fasilitas yang sangat lengkap. Sekolah yang menjadi incaran para orang tua. Agar anaknya kelak menjadi anak yang sukses dalam dunia dan akhirat. Sekolah Vania mengutamakan pendidikan agama. Namun pendidikan formalnya juga bagus.


Setibanya di dalam cafe, Vania memilih duduk di tepi jendela. Dari tempatnya duduk, dia bisa melihat ke luar ke tempat prakiran. Vania bisa melihat Raihan datang. Setelah menemukan tempat duduk. Vania mengeluarkan buku bacaannya. Dia duduk dengan sangat santai. Vania pribadi yang santai akan lingkungan. Dia tidak terlalu peduli akan sekelilingnya. Vania hanyut dalam buku-bukunya. Tanpa dia menyadari, sepasang mata terus mengawasinya. Vania bukan pribadi yang terlalu ingin tahu. Vania tidak ingin ikut campur, lebih tepatnya tidak peduli pada orang lain. Sebab itu dia tidak melihat orang sekelilingnya. Bahkan dia tidak akan pernah menyadari, saat ada yang mengawasinya.


"Vania Aulia Azzahra, gadis yang selalu hidup dalam bukunya. Seorang gadis yang akan lupa dengan sekitar dan menghilang dalam dunianya. Selalu dengan buku yang sama, kisah cinta yang melegenda!" ujar Faiz seraya mengutas senyum. Vania menurunkan buku yang menutup wajahnya. Dengan raut wajah sedikit terkejut, Vania menatap laki-laki di depannya. Vania meletakkan bukunya di atas meja. Sekilas Vania lupa akan batasan diantara keduanya. Vania terus menatap laki-laki yang ada di hadapannya. Senyum dan keramahan yang pernah ada di masa belianya.


"Asthagfirullah!" ujar Vania lirih sembari mengusap dadanya. Sontak Vania menunduk, tatkala dia mengingat batasan pandangannya. Vania larut dalam keterkejutan yang tak sepantasnya ada. Vania seolah lupa akan statusnya kini. Berkali-kali Vania mengucapkan istigfar, dia telah melakukan kesalahan. Vania menatap wajah yang tidak sepatutnya. Vania lupa akan statusnya yang sudah termiliki. Faiz tersenyum melihat sikap kikuk Vania. Dengan santun Faiz menyapa Vania. Dia tak lain pemilik cafe. Sekaligus kakak kelas Vania dulu.

__ADS_1


Ahmad Faiz Akbar, nama indah yang pernah mengisi hari-hari Vania. Kakak kelas yang mengenalkannya akan iman dan islam. Seseorang yang membuatnya memahami arti iman dan islam. Laki-laki yang membuatnya memahami batasan antara laki-laki dan perempuan. Dia kakak kelas yang aktif dalam kegiatan keagamaan. Suara merdu yang selalu terdengar di speker mushola sekolah. Suara yang mengingatkan penghuni sekolah. Berhenti sejenak dengan tugasnya untuk mengingat sang pencipta-NYA. Fais juga ketua osis yang begitu hangat pada adik-adik kelasnya. Idola para gadis belia yang mengenal cinta monyet. Namun selalu ditolak dengan halus dan sopan. Bagi Faiz hanya pada calon makmumnya. Rasa cintanya akan berlabuh. Prinsip sederhana yang membuat Vania kagum dan terpana akan sosok Faiz.


"Akhirnya setelah sekian lama kita bertemu. Aku tidak menyangka kamu akan datang ke cafeku. Bagaimana kabarmu sekarang? Jujur aku tidak mengenali dirimu. Kamu berubah 180°, kini wajahmu tertutup sempurna dengan cadar. Aku mengenalimu hanya lewat buku yang kamu baca!" tutur Faiz ramah, vania mengangguk pelan. Bukan hanya Faiz yang tidak menyangka akan bertemu dengan dirinya. Vania jauh lebih tidak menyangka. Apalagi Faiz menyapa dan mengenali dirinya melalui buku yang dia baca. Dulu Vania hanya bisa menatap Faiz melalui jendela kelasnya yang kebetulan dekat dengan mushola. Vania selalu mencuri pandang, disaat Faiz berada di dalam mushola. Tak pernah Faiz dan Vania bertegur sapa langsung. Pernah satu kali mereka bertemu tanpa sengaja. Pertemuan pertama dan terakhir bagi keduanya. Juga pertemuan yang membuat mereka saling mengenal satu sama lain.


"Bagaimana kakak bisa mengenaliku hanya dengan buku? Banyak wanita lain yang membaca buku yang sama. Bisa saja kakak salah mengenali!" ujar Vania lirih tanpa sedikitpun menatap wajah Faiz. Sedangkan Faiz tersenyum mendengar perkataan Vania. Tidak akan pernah Faiz salah mengenal. Dua tahun dia melihat Vania membaca buku yang sama. Jadi dia tidak akan salah mengenali orang. Jika Vania menatap Faiz dari jendela kelasnya. Faiz selalu mengawasi Vania saat dia sedang membaca buku. Vania selalu duduk di bawah pohon mangga besar di samping kelasnya. Vania tidak pernah menyadari, saat Faiz memperhatikannya sebab Vania akan larut dalam buku-bukunya. Vania akan lupa waktu dan sekitarnya, bila membaca buku.


"Aku tidak akan salah, selama dua tahun aku melihatmu membaca buku yang sama. Selama dua tahun aku mengagumimu dengan diam. Hatiku tidak akan salah mengenali, hati yang telah mengikatnya!" ujar Faiz tegad, sontak Vania mendongak menatap Faiz. Akhirnya dia melihat dua mata indah Faiz. Sebuah rasa yang seharusnya tidak pernah ada. Sebuah rasa yang salah dan tidak pantas untuk kembali mencuat.

__ADS_1


"Sejujurnya aku bahagia bisa mendengar suara merdumu. Suara yang tak pernah lelah mengingatkan hamba-hamba yang lalai. Suara yang menenangkan hati dengan lantunan ayat-ayat suci. Suara yang selalu menyerukan kebesaran sang pencipta. Tak pernah aku menyesal bertemu denganmu. Sosokmu mengingatkanku akan iman dan islam. Dirimu yang menyadarkan diriku. Betapa aku lalai menjadi seorang hamba. Wajahmu yang pernah membuatku bimbang. Pantaskah sekarang aku bahagia, disaat aku sudah tak lagi halal untuk orang lain. Sekarang semua sudah berubah, rasa ini tak pantas ada. Seandainya kejujuranmu terucap, puluhan tahun yang lalu. Mungkin tanganmu yang aku genggam, tapi semua telah berubah. Aku berbeda, hatiku telah termiliki dan tak pantas dimiliki oleh dirimu lagi. Inikah yang dinamakan jalan takdir! Bertemu disaat tak bisa bertemu. Mencinta ketika tak boleh mencinta. Berharap kala harapan tak boleh lagi ada harapan. Semua sudah berbeda!" batin Vania seraya menatap Faiz, lalu menunduk lemah.


"Maaf!" ujar Vania lirih, satu kata yang menjawab ungkapan hati Faiz.


__ADS_2