KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Wanita Impian


__ADS_3

FATHAN POV


Sinar mentari sangat terang dan hangat. Setelah bertahun-tahun aku baru merasakan kehangatan sang mentari. Pagi ini saat kedua mataku terbuka. Aku melihat senyum paling hangat dari mama. Wanita yang selalu ada menjadi semangat dan alasanku mendapatkan kesuksesan melebihi papa. Hanya satu tujuan dalam hidup. Menjadi putra kebanggaan mama dan kelak akan menjadi penopang hidupnya. Aku ingin membuat mama bangga padaku. Aku tidak akan bisa membalas budi mama. Namun hanya dengan sukses aku bisa membahagiakan mama.


Namun aku lupa akan satu hal. Mama tidak hanya melahirkanku, tapi ada putra lain yang terlahir dari rahim mama. Adik kandung yang terlahir saat usiaku 2 tahun. Muhammad Faiq Alhakim, putra kedua mama. Alasan pagi itu aku kembali melihat senyum mama. Senyum yang menghilang selama bertahun-tahun. Senyum yang pergi bersama bayangan Faiq kala itu. Semenjak Faiq memutuskan menempuh pendidikan di luar negeri. Mama seakan lupa akan senyum hangatnya. Dia merasa sepi tanpa Faiq putranya yang lain. Bukan mengacuhkan keberadaanku. Mama memiliki porsi sendiri dalam menyayangiku dan Faiq. Mama menyayangi kami dengan cara yang berbeda. Sebab meski kami lahir dari orang tua yang sama. Namun kami memiliki watak dan karakter yang berbeda.


Mama kehilangan senyum yang selalu kunanti. Meski aku ada di sampingnya. Mama masih merasa kesepian tanpa Faiq. Aku sengaja tetap di kota ini. Agar mama tidak terlalu bersedih dan merasa kesepian. Aku tidak pernah melihat mama menangis, tapi aku juga tidak melihat senyum mama. Namun pagi ini semua rasa gelisahku menghilang. Mama tersenyum dengan hangat. Dia memelukku dan memintaku mengantarnya pergi. Faiq adikku kembali membawa senyum mama yang mulai menghilang. Dia kembali membawa cahaya dalam rumah yang meredup.


Setelah bertahun-tahun aku merindukan saat-saat itu. Aku mendapatkan pelukan yang penuh kehangatan. Hari dimana alasan kegelisahan mama kembali? Setelah pergi sangat lama, pagi itu Faiq kembali. Ada rasa iri dalam hatiku, mama tersenyum hanya saat Faiq kembali. Mama seakan lupa, jika aku yang selalu ada disampingnya. Namun demi senyum mama, aku rela menerima ketidakadilan. Sebab mama bukan pribadi yang membandingkan dan pilih kasih. Aku selalu yakin mama punya alasan tersendiri.


Pagi itu aku mengantar mama untuk menjemput senyumnya. Faiq datang dengan penerbangan pertama. Aku dan mama tiba di bandara satu jam sebelum jadwal kedatangan Faiq. Mama sangat antusias dengan kedatangan Faiq. Mama tidak ingin Faiq menunggu, karena itu mama datang lebih dulu. Aku dan mama duduk tak jauh dari pintu kedatangan. Selama kami menunggu, aku melihat raut wajah mama begitu bahagia.


Selama satu jam kami menunggu, pesawat yang membawa Faiq akhirnya tiba. Aku dan mama berdiri tepat di depan pintu kedatangan luar negeri. Kuedarkan pandanganku mencari sosok Faiq diantara para penumpang. Tiba-tiba pandanganku mengunci satu sosok. Entah kenapa hatiku bergetar sangat hebat? Aku tidak pernah bertemu dengannya. Aku tidak mengenalnya, tapi kedua mataku seakan enggan menjauh dari bayangannya.

__ADS_1


Aku menatap lekat sosok wanita yang berdiri mematung di depan pintu kedatangan. Dia ternenung menatap langit biru pagi itu. Lama aku melihatnya berdiri tanpa bergerak sedikitpun. Tangannya memegang erat koper yang dibawanya. Lama aku menatap wanita itu, ada rasa aneh yang menelisik jauh ke dalam hatiku. Ingin aku berjalan mendekat padanya. Mengulurkan tangan perkenalan. Berharap dia menerima uluran tanganku. Namun aku tersadar, saat mama sudah memeluk Faiq adik laki-lakiku. Aku melupakan sejenak rasa penasaranku. Aku berpikir bahwa yang kurasakan hanya sebatas rasa penasaran. Aku merasa kagum akan sosok yang terbalut indah dalam gamis dan hijab panjangnya. Kecantikan yang tersembuyi sempurna di balik cadarnya.


Akhirnya kualihkan pandangan dari sosok bercadar di depanku. Kupeluk tubuh Faiq erat, sang adik yang tiba-tiba menjaga jarak dariku. Aku sangat merindukan Faiq, bagaimanapun dia saudaraku yang kurindukan? Saat kami melangkah pergi, tanpa sengaja mama menemukan barang miliknya. Dengan ramah mama mengembalikannya.


Jantungku berdetak begitu hebat, aku melihatnya berdiri tepat di depanku. Bukan cantik wajah yang membuatku terpesona. Suara lembut penuh keramahan yang menggetarkan hatiku. Suara yang terdengar merdu di kedua telingaku. Aku menatap lekat kedua mata indah dan jernih. Dua mata yang penuh ketulusan dan kesabaran. Aku terpikat akan sinar mata yang begitu tenang. Entah kenapa hatiku merasa tenang dan teduh? Aku melewati tubuhmu saat itu. Seandainya saat itu aku memiliki keberanian. Ingin aku menggenggam tanganmu, menjadikanmu makmum dunia akhiratku. Namun harapanku pupus, saat aku menyadari mungkin ada tangan lain yang sudah menggenggammu.


Hari berganti hari, pertemuan pertama yang takkan pernah bisa aku lupakan telah berlalu. Namun sepertinya sang jodoh ada disekitarku. Aku milihatmu untuk kedua kalinya. Saat itu pertemuan kita bukan untuk yang kedua. Namun pertemuan setelah perpisahan yang lama. Semenjak pertama hatiku terpaut akan dirimu. Tanpa aku peduli, siapa dirimu yang sebenarnya? Rasa cinta yang mulai mengusik, membuatku kehilangan akal. Kusebut namamu dalam setiap sujudku. Berharap kamu pemilik tulang rusukku. Aku tidak peduli akan wajahmu, karena hatiku terpaut akan keimananmu. Aku tidak peduli akan usiamu. Sebab perbedaan ada bukan untuk disamakan, tapi untuk saling melengkapi.


Alasan itulah yang membawaku berdiri disini. Bandara tempat aku melihatmu pertama kali. Bandara pula tempat yang akan memisahkan kita. Seandainya aku tidak mampu meluluhkan hatimu. Aku melihatmu duduk tenang menunggu pesawat yang akan membawamu pergi. Namun akan kupastikan, kamu tidak akan pergi menjauh dariku. Karena cinta dan keyakinanku akan mengikatmu selamanya.


FATHAN POV END


"Kemana kamu akan pergi sekarang? Aku ada untuk menjadi alasanmu tinggal!" ujar Fathan pada Annisa. Seketika Annisa mendongak, dia melihat Fathan berdiri tepat di depannya. Annisa berdiri berhadapan dengan Fathan. Keduanya saling menatap penuh dengan kerinduan.

__ADS_1


"Fathan, aku harus pergi. Bukankah aku sudah mengatakan padamu. Aku tidak bisa menikah denganmu. Kamu pantas bersanding dengan wanita yang jauh lebih baik dariku!" ujar Annisa lirih, dia menarik koper menuju pintu keberangkatan. Meninggalkan Fathan yang sedang termangu. Fathan tertegun melihat Annisa yang teguh akan pergi meninggalkan kota ini.


"Apa yang kamu katakan benar? Banyak wanita yang jauh lebih baik darimu. Mereka cantik dan kaya, mereka tidak akan menolak bila aku ajak menikah. Namun sayangnya aku tidak butuh semua itu. Kecantikan seorang wanita bukan dilihat dari wajahnya. Namun kecantikan yang ada dalam hatinya. Kehormatan yang selalu dia jaga demi imam dunia akhiratnya kelak. Kekayaan seorang wanita bukan dilihat dari seberapa banyak harta yang dia miliki. Namun seberapa besar dia bisa menyedekahkan hartanya. Karena seseorang bisa dikatakan kaya. Bila dia selalu memberi tanpa berharap memberi. Tangannya hanya digunakan menolong, bukan diam mengacuhkan. Orang kaya dan terpandang, ada ketika tidak ada lagi tetangganya yang kekurangan. Sekarang masih adakah keraguan dihatimu akan permintaanku!" ujar Fathan, Annisa mengangguk. Dia mendekat pad Fathan, Annisa meletakkan koper yang dibawanya. Tangannya memegang hijabnya, lalu dia menatap wajah Fathan lekat.


"Jika memang kamu yakin, tataplah wajahku sebelum kamu meminangku. Agar kamu melihat wajah menakutkan yang tersimpan dibalik cadar ini. Setelah kamu melihatnya, kamu berhak untuk memutuskan. Kamu akan terus yakin dengan cintamu atau kamu akan mundur!" ujar Annisa, sontak Fathan memegang erat tangan Annisa. Memintanya agar tidak melepasnya.


"Annisa, cintaku tidak butuh diuji. Rasa cintaku tulus tanpa takut terluka. Wajah yang tersimpan dibalik cadar, akan tetap seperti itu. Aku akan menatap wajahmu, saat aku sudah sah menjadi imammu. Sekarang masihkah kamu ragu akan ketulusanku. Tetaplah tnggal disini. Jadilah ibu dari anak- anakku!" ujar Fathan sembari berlutut di depan Annisa.


"Raihlah tanganku, agar aku bisa merasakan kehangatan hati dan jiwamu. Terimalah cintaku, demi rasa percaya bahwa kamu pemilik tulang rusukku. Aku bukan laki-laki sempurna tanpa dirimu dan cintamu. Aku mohon, terima kesucian cintaku, agar kita bisa bersatu dalam ikatan suci pernikahan" ujar Fathan, Annisa diam membisu.


"Aku bukan yang terbaik untukmu!"


"Kamu bukan yang terbaik, tapi kamu yang aku butuhkan demi kesempurnaan iman. Tanganmu yang kuharapkan, menuntun tangan mungil putra kita. Dekapanmu yang mampu menghangatkan jiwaku yang dingin. Karena dirimu wanita impianku!"

__ADS_1


__ADS_2