
Siang hari terasa sangat panas. Matahari bersinar sangat terik. Di dalam sebuah cafe terlihat seorang laki-laki. Dia duduk dengan kegelisahan yang terlihat nyata. Dokter tampan sahabat Faiq. Steven Prajawijaya salah satu rekan Faiq dalam hal kemanusiaan. Entah apa yang mengganggu pikirannya? Dari cara dia duduk terlihat dia sangat gelisah. Ada sesuatu yang seolah dia pikirkan. Tangannya tidak berhenti bermain dengan meja. Jari-jarinya terus mengetuk meja, seolah suara meja akan membuatnya merasa tenang.
Siang ini Steve membuat janji dengan Faiq. Steven ingin mengajak Faiq dan Vania makan siang. Banyak yang ingin dikatakan Steven pada Vania. Sebab itu dia meminta bantuan Faiq. Mempertemukan dirinya dengan Vania. Tidak ada lagi Steven menunggu, dia harus segera mengatakan pada Vania isi hatinya. Semua harus jelas dan pasti. Agar tidak ada lagi rasa yang mengambang.
"Apa kabar Steven? Maaf aku terlambat, aku menunggu bidadari hatiku!" ujar Faiq ramah, dia berniat menggoda Steven. Salah satu sahabatnya, rekan dokter yang memiliki misi yang sama dengannya. Seseorang yang menggunakan jas putih kedokteran hanya untuk menolong sesama. Dia dan Steven bertemu saat terjadi bencana alam. Saat itu Faiq datang menjadi relawan bersama dengan Vania.
Pertemuan yang berawal dari misi dan visi yang sama. Menjadi awal persahabatan diantara tiga hati yang berbeda. Siang ini Steven meminta bertemu untuk makan siang bersama. Sebenarnya Steven harus kembali ke kotanya. Keluarganya meminta Steven untuk kembali mengurus rumah sakit milik keluarga. Sebab itu Steven ingin mengucapkan salam perpisahan pada Faiq terutama pada Vania.
__ADS_1
Pertemuan demi pertemuan diantara Steven dan Vania membuat jarak diantara mereka semakin dekat. Namun jurang yang memisahkan mereka sangatlah dalam. Tidak akan bisa dengan mudah mereka lewati. Steven dan Vania sangatlah berbeda. Meski rasa itu ada, tapi rasa itu seakan tak pantas untuk dirasa. Prinsip dasar yang menghalangi cinta mereka. Tidaklah mungkin bisa ditawar dan diganti dengan apapun?
"Tidak apa-apa? Kebetulan hari ini aku libur. Nanti malam aku berangkat, sangat merugi bila aku tidak bertemu dengan pengantin baru. Aku penasaran pada wanita yang bisa meluluhkan hati beku seorang dokter Faiq. Aku jelas melihat, banyak wanita yang mengejarmu selalu menelan kepahitan. Tak ada satupun diantara mereka yang membuatmu tertarik atau sekadar menoleh. Sejak awal hatimu termiliki dan takkan bisa tergantikan!" ujar Steven, Faiq mengangguk seraya tersenyum. Faiq mengetahui alasan pertemuan diantara mereka saat ini. Bukan hanya acara perpisahan, tapi mencari jawaban dari rasa yang dia miliki untuk Vania. Tak jauh dari mereka duduk, terlihat dua wanita berjalan mendekat. Faiq menatap sang istri dengan senyum yang paling manis. Sedangkan Steven menatap Vania dengan penuh kekaguman. Dua laki-laki yang terpesona akan pancaran teduh dari dua wanita berhijab. Bukan kecantikan wajah yang mereka lihat. Namun hati keduanya yang seakan lembut dan putih. Kecantikan dasar seorang wanita muslimah.
"Kamu setia menunggu bukan demi aku, tapi demi sepupu bercadarku. Tentu kamu tidak akan melewatkan siang ini. Setelah sekian lama, akhirnya Vania bersedia bertemu denganmu. Aku ingatkan, jangan sia-siakan kesempatanmu. Katakan semuanya sekarang, buat dia mengerti perasaanmu. Namun jika dia menolak, itu artinya dia bukan yang terbaik untukmu. Rasa cinta akan terasa indah, bila tidak pernah ada rasa terpaksa!" ujar Faiq dengan tegas. Dengan lemah Steven mengangguk. Dia mengerti makna perkataan Faiq. Namun satu hal yang tidak pernah Faiq ketahui. Steven mungkin mencintai Vania, tapi bermimpi memilikinya. Sungguh Steven tidak berani. Jurang perbedaan tidak akan mudah Steven tempuh. Sehingga mereka tidak akan pernah bisa bersama
"Aku tahu!" sahut Steven singkat, Davina dan Vania datang. Keduanya duduk tepat di depan Faiq dan Steven. Davina tersenyum seraya menunduk ke arah Steven. Davina sedikit banyak sudah menceritakan siapa sebenarnya Steven? Serta hubungan antara Zteven dan Zahra. Sebaliknya Vania hanya menunduk tanpa berani menatap wajah Steven.
__ADS_1
Lama mereka berempat saling berbicara. Steven pribadi yang mudah bergaul. Tidak sulit baginya mengenal Davina yang periang. Sejak dulu Davina pribadi yang disukai. Dia sangat ramah dan mudah bergaul. Davina sangat menyukai hal-hal baru. Semua larut dalam hangatnya hubungan pertemanan. Lalu tanpa ada yang menduga, Steven meminta izin pada Faiq. Dia ingin meminta waktu Vania. Steven ingin berbicara berdua dengan Vania.
Lama Faiq terdiam, dia bimbang antara melarang atau mengizinkan. Namun demi persahabatannya dengan Steven. Akhirnya Faiq mengizinkan mereka bicara berdua. Namun dengan catatan harus menjaga jarak. Faiq tidak ingin Steven melakukan hal-hal yang tidak pantas. Dengan penuh rasa bahagia, Steven menyetujui syarat yang diberikan Faiq.
"Vania, maaf jika aku lancang meminta bicara berdua denganmu. Namun aku harus mengatakan semua isi hatiku. Aku tidak ingin pergi dengan rasa penasaran. Siang ini aku ingin mendengar semua alasan. Meski aku harus terluka. Aku sudah siap dengan lahir batin yang kuat!" ujar Steven dengan suara lirih. Dia mengatakannya sesaat setelah Faiq dan Davina pergi. Keduanya memilih jalan-jalan sebagai ganti atas bulan madu yang tidak terlaksana.
"Katakanlah selama itu pantas dikatakan. Jangan simpan semuanya sendiri. Aku tidak akan melarangmu, perkataanmu akan aku dengar. Selama semua itu pantas di dengarkan!" ujar Vania ramah, Steven mengangguk mengerti. Setelah Vania setuju mendengarkannya. Steven mulai mengatakan isi hatinya. Sedangkan Vania mendengarkan, tanpa berpikir ingin menyanggah atau membenarkan.
__ADS_1
"Vania, entah yang kurasakan ini cinta atau apa? Namun semenjak pertama kali aku melihatmu. Aku sudah menaruh hati padamu. Keteduhan yang terpancar dari kedua matamu. Membuat hatiku yang kacau menjadi hangat. Suara lembutmu seakan angin segar yang menyentuh dahaga imanku. Hangat sikapmu dalam merawat orang lain. Membuatku ingin belajar memahamimu. Sejak awal aku sangat mencintaimu, tapi sepertinya kamu selalu mengacuhkan bahkan menghindar driku!" tutur Steven, Vania terdiam mematung. Dibalik cadarnya dia menatap Steven. Dia tidak bingung ingin mengatakan apa? Kenyataan yang tak pernah ingin Vania ketahui. Kini nyata jelas terlihat.
"Prinsip kita berbeda, meski aku menyadari rasa cinta itu ada. Namun prinsip kita berbeda nyata. Jangan mencintai hanya dengan rasa kagum, tapi mencintai dengan iman itu yang terbaik. Aku dan kamu berbeda dalam prinsip, sesuatu yang tidak bisa kita samakan sampai kapanpun?" ujar Vania lirih, Steven menunduk terdiam.