KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Permintaan Maaf


__ADS_3

"Air!" ujar Hana lirih, suara Hana sangat lemah. Selemah tubuhnya saat ini, tapi suara lemah Hana. Bagaikan kekuatan yang sangat besar bagi Rafa dan Diana. Salsa yang kebetulan berada di samping Hana. Langsung mendongak, dia menatap kedua mata indah Hana terbuka sempurna. Rafa dan Diana segera berlari menghampiri tubuh Hana yang lemah.


Diana mencium kening Hana, sebaliknya Rafa diam mematung menatap Hana yang sadar dari bangun panjangnya. Hana melewati masa kritisnya dengan aman. Cintya sejak awal sudah stand by langsung memeriksa kondisi. Tekanan darah Hana masih tinggi, tapi tidak terlalu berisiko. Hana melewati masa kritisnya. Cintya memberikan penenang, agar Hana kembali beristirahat.


Setidaknya kesadaran Hana sudah kembali. Hanya itu yang ingin dilihat semua orang. Atas permintaan Hana, Rafa pulang menjaga Fathan. Tinggalah Salsa dan Diana yang bermalam menjaga Hana. Meski berat hati, Rafa menuruti perkataan Hana. Dia tidak ingin menjadi alasan ketegangan Hana. Cukup sekali Rafa membuat Hana emosi dan tertekan. Tidak lagi Rafa menyulut emosi. Rafa akan melakukan apapun demi Hana, terutama melupakan bayi, yang mungkin bukan rejekinya.


Pagi harinya Hana terbangun dengan kondisi yang jauh lebih baik. Semua terlihat normal hanya dalam semalam. Entah kenapa perubahan hati Hana dengan mudah berubah? Hana kembali ceria dan penuh senyum hanya dalam semalam. Seakan tak pernah terjadi sesuatu padanya. Salsa dan Diana merasa heran, tapi mereka sangat memahami perubahan emosi bumil yang satu ini. Sejak dulu Hana akan dengan mudah menyimpan dukannya, tapi bukan senyumnya. Diana melihat tawa dan senyum yang tulus keluar dari hati Hana. Senyum yang menghiasi wajah cantik sahabatnya.


"Kalian berdua tidak pulang, apa Adrian dan Naufal tidak marah? Kalian bersamaku sepanjang hari. Pasti kalian mengacuhkan mereka, kasihan mereka harus menahan rindu!" ujar Hana sembari tersenyum. Diana dan Salsa membalas perkataan Hana dengan gelengan kepala, seraya mengutas senyum di wajah cantik mereka.


Diana yang sedang menyuapi Hana, melihat jelas kebahagian yang tersirat. Senyum Hana tak pernah hilang dari wajah cantiknya. Diana dan Salsa merawat Hana dengan baik. Bahkan Hana meminta Salsa menghubungi Rafa. Dia ingin melihat Fathan putranya. Semangat hidupnya yang lain. Setelah melihat senyum Fathan, Hana semakin terlihat segar. Diana merasa aneh, tapi bahagia sebab masa kritis Hana sudah terlewat.


"Hana sayang, ada yang sakit? Katakan padaku, aku akan mencari Cintya. Dia ada di rumah sakit. Bahkan semalam dia tidur bersama kami. Maklum saja, dia sedang menjagamu sekaligus calon kakak iparnya. Cintya takut jika Salsa tertarik pada dokter tampan di rumah sakit ini. Secara dia sekarang sudah menjadi pemilik rumah sakit. Sekaligus akan menyandang status nyonya Naufal!" ujar Diana menggoda Salsa, Hana hanya tersenyum mendengar perkataan Diana. Sebaliknya Salsa cemberut mendengar gurauan Diana.


"Kak Hana, kenapa tidak membelaku? Kak Diana terus menggodaku. Sekarang kak Hana tidak menyayangiku. Lalu pada siapa aku harus mengadu?" ujar Salsa merajuk, Hana dan Diana mengangkat kedua bahunya. Salsa memeluk Hana dengan erat. Diana melakukan hal yang sama. Mereka berdua memeluk Hana dengan erat.


"Jika Hana tidak bisa membelamu. Bukankah ada aku yang akan membelamu. Jangan katakan kamu melupakan keberadaanku!" ujar Nuafal yang datang bersama Cintya. Mereka bertiga menoleh bersama. Hana tersenyum saat mendengar perkataan Naufal. Secara tidak langsung Naufal mengakui cintanya pada Salsa. Setelah penantian yang cukup lama, akhirnya rasa itu ada diantara Naufal dan Salsa.


"Nyonya Naufal, sudah dijemput oleh tuan dokter yang terhormat. Sekarang pergi sana, aku juga malas melihatmu!" goda Diana, Salsa semakin kesal pada Diana. Sebaliknya Diana hanya tersenyum melihat ekspresi kekesalan Salsa.


"Kelihatannya bumil kita sudah sembuh. Masih perlukan dia menginap di rumah sakit. Aku rasa bukan obat yang kamu butuhkan. Kehangatan keluarga yang lebih kamu butuhkan!" ujar Cintya, Diana dan Salsa mengangguk serempak. Cintya mendekati Hana, setelah memeriksa tekanan darah Hana dan kondisinya secara menyeluruh. Cintya dengan tersenyum mengatakan pada semua orang. Jika kondisi Hana baik-baik saja.


"Cintya, apa perlu kita lakukan saranmu yang semalam?" ujar Naufal, Cintya mengangguk. Seketika Hana menahan tangan Cintya. Dengan isyarat dari Hana, Cintya diam menunggu perkataan Hana.

__ADS_1


"Aku akan pergi, tapi setelah menjelaskan semuanya pada ayah dari bayiku. Aku telah melakukan kesalahan. Dengan menyembuyikan kondisiku yang sebenarnya. Sudah saatnya dia tahu, semua sudah berjalan di tempat yang salah. Sekalian aku ingin meminta izin padamu. Aku akan membawa Salsa ke kampung kami. Setelah aku betah tinggal di sana. Aku akan meminta Salsa pulang!" ujar Hana lirih, Naufal mengangguk setuju. Diana mendekat pada Hana, lalu memeluk erat Hana.


"Kamu tidak perlu meminta izin Adrian atau siapapun? Sampai detik ini, aku masih sahabatmu yang selalu ada untukmu!" bisik Diana, Hana menoleh seraya mengedipkan mata. Hana mengerti akan perkataan Diana.


"Kalian sedang berbisik apa? Tidak baik melakukan semua itu, selama ada kami di sini!" ujar Salsa kesal, Diana terkekeh melihat Salsa yang kesal. Hana menggeleng melihat tingkah Salsa dan Diana yang selalu bertengkar.


"Tenang saja bu direktur, kami akan mengajakmu mengunjungi tempar favorit tuan Naufal. Agar cinta kalian semakin dalam!" goda Diana, Salsa menunduk malu. Naufal dan Cintya tersenyum melihat kebahagian Hana. Obat yang paling cepat menyembuhkan Hana.


"Sebaiknya aku meninggalkan kalian bertiga. Jika terlalu lama di sini, aku akan ikut gila melihat pertengkaran-pertengkaran kalian. Aku akan pulang, semalaman aku meninggalkan suamiku. Takutnya dia nanti pindah ke lain hati!" tutur Cintya, sontak saja semua tertawa. Mereka tak pernah menyangka. Jika Cintya bisa bergurau seperti itu.


"Cintya, terima kasih telah merawatku. Salam untuk kak Rama, karena diriku kalian harus terpisah. Semoga ini pertama dan terakhir!" ujar Hana, Cintya seraya mengangguk. Entah kenapa semenjak mengenal Hana? Cintya sudah sayang dan ingin selalu mengenalnya sebagai saudara.


Kreeeekkk


"Fathan sayang!" ujar Hana, Rafa berjalan mendekati Hana. Dia memberikan Fathan, ada rasa canggung saat Rafa melihat Hana. Terlihat jelas kebahagian Hana, sesuatu yang berbeda. Seakan sebuah senyum sebelum air mata. Rafa menatap lekat, Hana yang sedang mencium Fathan. Cintya dan Naufal berserta Salsa pamit untuk memulai koordinasi pagi dengan para dokter yang lain. Tinggallah Rafa, Salsa dan Hana serta si kecil Fathan dalam kamar Hana. Rafa diam mematung melihat Hana. Sejujurnya banyak yang ingin dikatakan Rafa, tapi rasa bersalahnya terlalu besar. Rafa canggung menghadapi sikap hangat Hana. Berbanding terbalik dengan sikap Hana sebelum masuk rumah sakit.


"Salsa, bisa minta tolong bawa Fathan keluar. Ada yang ingin aku bicarakan dengan Kak Rafa. Banyak kesalapahaman diantara kami. Sudah waktunya semua diluruskan. Sebelum semakin liar dan tak berarah!" ujar Hana, Diana mengangguk. Dia menggendong Fathan, lalu keluar bersama pengasuh Fathan. Hana melihat Rafa berdiri menjauh, dia terus menunduk. Rafa seakan merasa menjadi orang asing bagi Hana. Perasaan yang tak pernah ingin Rafa rasakan.


"Tuan CEO, kenapa menjauh dariku? Apa kamu tidak senang melihatku sadarkan diri? Maaf jika kesembuhanku membuatmu kecewa!" ujar Hana lirih, Sembari menunduk. Keceriaan Hana seketika lenyap, kala dia melihat sendiri Rafa seakan menjauh darinya.


"Tidak, aku mohon hentikan. Jangan berkata seperti itu!" ujar Rafa sembari menutup mulut Hana. Rafa menatap wajah Hana sendu. Dia tak ingin kehilangan Hana. Dunianya seakan berhenti tanpa Hana. Terlihat jelas kedua mata Rafa yang memerah. Mata yang menandakan Rafa terjaga sepanjang malam.


"Tuan Rafa Akbar Prawira, tataplah aku dengan kedua mata indahmu!" ujar Hana lirih, tangan Hana mengangkat dagu Rafa pelan. Kedua mata Rafa dan Hana bertemu. Tatapan penuh cinta dan kehangatan. Ingin Rafa memeluk tubuh lemah Hana, tapi tangannya kaku. Dia merasa tak pantas, karena Rafa telah meragukan ketulusan Hana.

__ADS_1


"Maafkan aku!" ujar Rafa, Hana menggeleng lemah. Tangannya menggenggam erat tangan Rafa. Dengan lembut Hana mencium tangan Rafa. Tangan yang lelah bekerja demi memenuhi kebutuhan Hana dan Fathan. Tangan yang selalu ada untuk melindungi Hana dan Fathan. Hana menempelkan tangan Rafa pada pipinya. Rafa tertegun melihat sikap hangat Hana. Ketakutan Rafa seakan pertanda kepergian Hana. Sebuah kehangatan sebelum kesepian yang ingin diisyaratkan oleh Hana.


"Bukan kak Rafa yang seharusnya meminta maaf, tapi diriku yang telah kalah oleh rasa takut ini. Maafkan aku yang menutupi kondisi kehamilanku. Aku tidak ingin kamu kecewa, bila mengetahui kebenarannya. Telingaku tak mampu mendengar, seandainya kamu meminta diriku menggugurkan kandunganku demi keselamatanku. Kedua mataku seakan tak sanggup melihat, rasa kecewa yang terlihat dari wajahmu. Meski aku sadar, takkan kamu bahagia bila tanpa diriku. Aku terlalu takut membuatmu kecewa. Alasan yang sangat tidak masuk akal, sehingga aku tega membohongimu. Tak pernah aku berpikir melihatmu terluka. Bayi ini putra yang kamu harapkan. Aku akan berjuang membuatnya terlahir!" ujar Hana, sembari meletakkan tangan Rafa di atas perutnya yang masih rata. Rafa merasakan kehangatan yang tak pernah bisa dikatakan. Rasa bahagia yang tak mampu diutarakan dan digambarkan dengan perkataan. Rafa menyentuh perut Hana, tempat bayi kecilnya tumbuh.


"Sayang, maaf aku belum mampu mengerti dirimu. Seharusnya aku yakin padamu, aku meragukan ketulusanmu. Aku tidak pernah menduga, jika Lisa mengusik ketenanganmu. Maafkan aku!" ujar Rafa, Hana menatap Rafa lekat. Seakan tak ingin menjauh darinya atau bayangan Rafa.


"Bukan salahmu atau salah Lisa. Kecemburuanku memang tidak beralasan. Aku terlalu takut kehilanganmu. Rasa cinta ini membuatku kehilangan akal. Aku tidak ingin menjadi orang lain. Aku tak pernah ingin merasakan cemburu ini. Tak pernah ingin aku membela diri, dengan mengatakan semua karena hormon kehamilanku. Sebab semua yang terjadi, hanya bentuk kelemahanku. Aku terlalu lemah melawan pikiran dan hatiku. Rasaku untukmu, merubah diriku menjadi sangat lemah. Sampaikan pada Lisa, aku minta maaf. Jika aku tak pernah ingin melihatnya, bukan membenci atau menyalahkannya. Namun aku ingin menghindar dari amarah yang tak perlu!" ujar Hana lirih, Rafa tertegun melihat Hana. Dia tidak pernah berpikir Hana bisa berpikir sejauh itu. Menghindar dari Lisa bukan hal yang patut dilakukan.


"Hana, tidak adakah sedikit saja kepercayaanmu padaku? Apa kamu masih tidak yakin akan cintaku padamu? Bukan sekali, dua kali bahkan hampir ratusan kali aku mengatakan padamu. Aku mencintaimu, takkan ada wanita lain dalam hidupku. Tidak Lisa, tidak juga wanita lain. Lantas kenapa kamu masih saja cemburu pada hubunganku dengan Lisa? Kamu seakan menunjukkan keraguan yang begitu besar padaku!" ujar Rafa lirih, Hana beringsut maju. Tanpa aba-aba dia memeluk Rafa. Sontak Rafa terkejut saat Hana bersikap agresif padanya.


"Kak Rafa, aku tidak pernah ragu akan cintamu. Sebaliknya aku sangat percaya padamu. Kamu terlalu berharga, sehingga aku terlalu takut kehilangan dirimu. Aku sangat mencintaimu, mungkin aku naif. Namun itu yang aku rasakan. Aku bukan kak Rafa yang mampu menunjukkan rasa sayang di depan semua orang. Aku hanya wanita yang mencintaimu dalam diam. Cinta yang seakan tak pernah ada untukmu. Berapa lama kak Rafa akan menerima sikap diamku. Suatu saat pasti kak Rafa akan menjauh dan berpikir aku tak pernah mencintaimu. Aku Hana wanita sederhana yang selama hidupnya terkurung dalam rasa takut kehilangan. Satu per satu orang yang kusayangi pergi meninggalkan diriku. Aku tak ingin kamu pergi, sungguh aku sangat mencintaimu!" ujar Hana lirih, tangannya memeluk erat Rafa. Sikap yang sama dilakukan oleh Rafa. Pelukan yang hangat, tanpa berpikir ingin terpisah.


"Sayang, aku tidak ingin kehilangan dirimu atau bayi kita. Namun jika bayi ini bukan rejeki kita. Alangkah bijaknya, kita ikhlaskan dia. Aku tidak ingin kamu tersiksa dengan kehamilan ini!" ujar Rafa, Hana menggeleng dalam pelukan Rafa.


"Dia putraku, takkan aku membunuh putraku sendiri. Aku akan berjuang mempertahankan dia, bukan tidak ikhlas menerima jalan yang tertulis. Namun selama dia masih bernapas dalam rahimku. Aku akan terus berjuang, demi dia terlahir sempurna. Semua kuserahkan pada-NYA, hanya Allah SWT yang berhak memutuskan dan mengambilnya kembali. Sebab semua yang ada di dunia ini, hanya akan kembali kepada-NYA!" ujar Hana, Rafa mengangguk pelan. Hana melepaskan pelukannya, sekejap mata Hana mencium pipi Rafa. Kedua bola mata Rafa membulat sempurana menerima ciuman Hana.


"Sayang, kamu menciumku. Apa aku sedang bermimpi? Atau akan ada rasa pahit yang kurasakan setelah manisnya ciumanmu!" ujar Rafa tak percaya, Hana mengangguk pelan. Rafa melotot menatap ke arah Hana. Rafa menunduk lesu melihat anggukan Hana.


"Aku ingin meminta izinmu untuk tinggal sementara di kampung kakek. Aku ingin hidup tenang di sana. Setidaknya sampai kondisi kehamilanku stabil. Aku ingin hidup dengan kenangan kita. Kampung tempat kita bersatu akan menjadi tempat paling tenang untukku!"


"Aku sudah menduga, rasa manis sebelum rasa pahit. Kamu selalu membuatku bahagia, lalu dalam sekejap membuatku sedih. Aku akan mengizinkanmu pergi, tapi kamu tidak akan pergi sendiri. Aku akan ikut bersamamu. Kamu akan semakin cemburu bila jauh dariku. Secara kamu disana dan Lisa ada disini" ujar Rafa dingin.


...☆☆☆☆☆...

__ADS_1


TERIMA KASIH dan MAAF


__ADS_2