
Temaram lampu jalan menghiasi kota. Langit biru tak lagi nampak. Tergantikan jingga senja yang menyapa. Hawa panas tak lagi menyentuh kulit. Tinggallah angin sore yang sejuk menerpa. Menenangkan tubuh yang lelah dan penat. Meninggalkan hari yang padat lagi berat. Senja menyeruak menghapus siang, demi menyambut petang yang datang. Syahdu terasa menyentuh hati. Suara burung kembali ke sarang terdengar merdu.
"Sebentar lagi gelap, tapi belum ada Taxi yang lewat!" batin Vania resah, sesaat setelah dia melirik jam di tangannya.
Huuffff
Helaan napas Vania menandakan berat hari yang dilaluinya. Jam di tangannya menunjukkan pukul 17.15 WIB. Senja mulai beranjak meninggalkan peraduan. Petang mulai menyapa awal malam hari yang akan datang. Namun Vania masih berdiri tegak di depan perusahaan Fathan. Dilla sudah pulang sejak satu jam yang lalu. Keduanya tidak pulang bersama, sebab Vania masih ada pekerjaan tambahan.
Dengan kandungan yang semakin membesar, Vania sedikit mudah lelah. Namun Vania tetap ingin bekerja. Diam di dalam rumah, hanya akan membuatnya stres. Pernah dia memutuskan berhenti. Namun lagi dan lagi, Vania kalah dan memutuskan kembali bekerja. Tentu saja dengan izin dari Raihan.
Lama Vania berdiri menatap ke jalan besar. Ramai kendaraan tak mampu menghapus gelisah Vania. Tak ada satupun taxi yang kosong. Maklum jam pulang kantor, akan sangat sulit mendapatkan taxi. Biasanya Vania baru sampai di rumah saat gelap. Kebetulan hari ini Vania tidak membawa mobil. Tadi pagi dia berangkat bersama dengan Raihan.
Tin Tin Tin
Suara klakson mobil membuyarkan lamunan Nissa. Membangunkan Nissa dari mimpi sejenaknya. Nissa tersadar akan ramai sekelilingnya. Seketika Nissa mendongak menatap mobil mewah berwarna silver di depannya. Lama Nissa terdiam, memikirkan siapa yang ada di dalam mobil?
"Vania!"
"Bapak!" sahut Vania lirih, Vian mengangguk sembari tersenyum. Sontak Vania menunduk, ketika dia melihat Rama duduk di kursi belakang.
Vian menoleh ke belakang, lalu menganggukkan kepala perlahan. Menyadari sikap canggung Vania. Meski keduanya tak begitu akrab, tapi Vian tipe yang mudah bergaul. Sehingga para pegawai nyaman bicara dengannya. Tidak terkecuali Vania yang pendiam dan pemalu.
"Abaikan dia, aku yang menyapamu. Jadi jangan takut kepadanya!" ujar Vian menjawab ketakutan Vania. Dengan anggukan kepala, Vania mengiyakan perkataan Vian.
__ADS_1
"Ada apa bapak memanggil saya? Jam kantor sudah selesai. Rapat tadi sudah menghasilkan keputusan!"
"Aku hanya ingin menawarimu tumpangan. Kamu pasti kesulitan mencari taxi. Suamimu juga tidak menjemputmu!" ujar Vian santai, seketika Rama melotot. Dia tidak pernah mengijinkan siapapun ikut dalam mobilnya? Tak terkecuali itu Vania. Rekan kerja sekaligus teman masa kecilnya.
Rama mengingat jelas pertemuan keduanya. Pertemuan setelah sekian tahun tak bertemu. Rama yang culun kini tampan dan sukses. Sebaliknya Rama terkejut kala melihat Vania tak lagi sendiri. Ada janin yang kini tumbuh di dalam rahimnya. Seorang anak yang pernah diharapkan Rama dulu. Impian bodoh seorang bocah yang nyata ada sampai saat ini.
"Vian, jaga bicaramu. Ini mobilku, seenaknya saja kamu mengajak orang lain!" ujar Rama lantang dan ketus. Vian menghela napas kesal. Kesempatan Vian mengantar Vania pupus sudah. Vian sengaja mengajak Vania pulang bersama. Dia ingin menyadarkan Rama. Jika Vania tak lagi sendiri. Agar Rama tak larut dalam harapan kosongnya.
Vania yang mendengar penolakan Rama, seketika mundur beberapa langkah. Vania sadar diri, jika tidak pantas dirinya pulang bersama kedua bos besar Sanjaya. Vania menggelengkan kepala menolak tawaran Vian. Banyak alasan yang membuatnya harus menolak ajakan Vian. Salah satunya status yang kini disandangnya.
"Baiklah, kamu hati-hati. Seandainya ini mobilku, aku sudah memaksamu pulang bersamaku!" ujar Vian, lalu menutup kembali kaca mobilnya. Rama menatap tajam Vian, seolah tidak terima perkataan Vian.
"Jelas aku menolaknya, dia bukan lagi Vania yang dulu. Aku tahu diri, tidak lagi pantas mengharapkan hubungan dengan Vania. Awas saja, sampai kamu bersikap kurang ajar. Akan kubuat hari-harimu sengsara!" Batin Rama geram, sembari menatap Vian.
Buuuugggghhh
"Gara-gara kamu, aku meninggalkan Vania sendirian di pinggir jalan. Dasar tuan muda arogant!" ujar Vian kesal, sesaat setelah melempar berkas ke pangkuan Rama.
Kedua bola mata Rama membulat sempurna. Menatap tajam Vian, amarah yang seakan siap meledak. Sebaliknya Vian merasa benar dengan sikapnya. Malah mengacuhkan amarah Rama. Sehingga Rama semakin marah dan merasa diacuhkan.
"Vian, jangan kurang ajar kamu. Jelas kamu tahu, siapa Vania sekarang? Apa kamu ingin melihatku hidup sengsara. Aku dan Vania hanya masa lalu. Dia sudah menemukan kebahagiannya. Begitupula aku yang akan menjalani hidup baru!" Ujar Rama lirih, Vian diam membisu.
Vian tak peduli akan perkataan Rama. Nyatanya Vian mengetahui alasan, kenapa Vania masih ada dihati Rama? Vian mengenal Rama melebihi siapapun? Termasuk Rama sendiri.
__ADS_1
"Vania, siapapun kamu saat ini? Aku tidak peduli, satu hal yang aku pahami. Kamu bukan wanita yang peduli padaku. Satu-satunya wanita yang menganggap kelebihanku. Tak lebih dari kelemahan yang ada dalam diriku. Tak ada kekaguman, hanya pesimis yang kamu tunjukkan. Seolah kelebihanku tidak ada artinya!" Batin Rama.
"Jika kamu menyukainya, kenapa tidak kamu dekati? Dengan pesonamu, aku yakin dia akan luluh dalam rayuanmu!" Ujar Rama, Vian menggeleng tanpa ragu.
"Jika dia mudah ditaklukkan, tentu pesonamu jauh lebih menariknya. Tapi tadi pagi aku lihat, sedetikpun dia tidak menatapmu!" sahut Vian meledek, seketika Rama melotot. Vania tetap wanita yang sama. Selalu acuh pada laki-laki yang ingin mendekatinya.
"Diam kamu!" Sahut Rama kesal.
Lama keduanya terdiam, melupakan sejenak Vania yang menjadi bahan perdebatan. Wanita yang tiba-tiba terasa istimewa untuk diperdebatkan. Aditya dan Vian larut dalam pikiran masing-masing. Mencoba mencerna apa yang sedang mereka alami?
"Aditya, Vania bukan wanita kuat. Jangan pernah sakiti dia. Lupakan nama Vania dari benakmu. Jangan anggap dia sama dengan wanita-wanita yang kamu kenal. Wanita yang hanya menjadi pelampiasan napsu sesaatmu!" Ujar Vian lirih memecah kesunyian.
Rama mendongak menatap ke arah spion mobil. Dia melihat raut wajah Vian yang serius. Nada bicara Vian terlihat berbeda. Tidak terlihat Vian yang suka bercanda.
"Apa maksudmu?" Sahut Rama tidak mengerti perkataan vian.
"Aku mengenalmu melebihi siapapun? Tatapanmu pada Vania tadi pagi. Bak mata elang yang siap memburu mangsanya. Penolakan Vania seakan memacu hasrat dalam dirimu. Melampiaskan kekesalan pada makhluk bernama wanita. Membuktikan teori yang ada dalam benakmu. Jika wanita sama, haus akan harta dan status!" tutur Vian, Rama menatap nanar raut wajah Vian.
"Jika kamu sangat mengenalku, tentu kamu juga tahu. Kalau aku tidak akan sanggup melakukan itu. Mungkin Vania membuatku ingin bersamanya. Namun rasaku dulu tulus, tidak akan membuat Vania terlecehkan. Kini Vania telah bahagia bersama imamnya. Jadi jangan pernah berpikir, aku akan merusak hubungan suci itu!"
"Tapi kamu masih mencintainya!"
"Aku tidak tahu!"
__ADS_1