
"Vania, tangkap!" teriak Fathan dari tengah lapangan basket. Vania langsung menoleh ke arah Fathan. Teriakan Fathan menggema di seluruh bagian kampus.
Fathan berdiri dengan berkacak pinggang di tengan lapangan basket. Fathan sengaja melepas jas yang senantiasa melekat di tubuhnya. Fathan juga melonggarkan dasi yang melekat di lehernya. Lalu menyingsing baju lengan panjangnya sampai siku. Entah kenapa hari Fathan ingin bermain basket? Sejak SMU Fathan dan Faiq selalu menjadi bintang di lapangan basket.
Fathan melempar bola basket ke arah Vania yang sedang duduk di tepi lapangan basket. Hari ini ada acara peresmian gedung baru di kampus yang berada di bawah naungan yayasan keluarga Prawira. Yayasan yang dibentuk oleh Rafa sebagai ungkapan permintaan maafnya pada kedua orang tua Hana. Kompensasi yang diterima Hana dulu menjadi modal awal terbentuknya yayasan ini. Kini yayasan berada di bawah kepemimpinan Faiq.
Hari ini ketiga putra keluarga Prawira sedang berkumpul. Sebagai ahli waris yang harus meresmikan pembukaan gedung baru. Namun sepertinya Fathan merasa bosan. Dia ingin mengingat masa. Dimana dia, Faiq dan Vania bermain basket bersama. Sebagai seorang wanita yang memiliki saudara laki-laki. Sangat tidak mungkin Vania mengenal boneka. Sejak kecil Vania mengenal bola dan permainan para laki-laki. Vania tumbuh menjadi gadis tomboy.
Buuukkk
Suara bola yang terpental, ketika Vania melemparnya kembali ke arah Fathan. Vania menolak ikut bermain basket dengan Fathan. Vania malu melakukannya. Sebab dengan hijab dam cadarnya. Tentu tidak akan baik, bila orang melihatnya bermain basket. Berlari kesana-kemari mengejar bola. Demi mengikuti permintaan Fathan.
"Kenapa Vania pendek dan jelek? Kamu takut kalah denganku!" teriak Fathan lagi, sembari terus bermain dengan bola basket.
Vania menggeleng lemah, bukan dia takug kalah. Namun mengingat penampilannya dan kondisi tubuhnya yang sedang hamil. Sangat tidak mungkin dia akan leluasa mengejar bola. Sebab itu dengan tegas Vania menolak tantangan Fathan. Apalagi kampus masih sangat pagi. Tentu saja dia akan semakin malu dengan banyakanya mahasiswa yang melihat.
"Aku bukan takut kalah. Aku malu dilihat banyak orang. Apalagi aku sedang hamil. Tidak mungkin aku berlari merebut bola darimu!" ujar Vania lirih, Fathan tersenyum simpul. Lalu dia melempar lagi bola basket ke arahnya.
"Kita main tiga putaran saja. Siapa yang kalah? Harus mentraktir para mahasiswa ini. Jika kamu menolak, artinya kamu memang takut!" ujar Fathan, Vania merasa tertantang. Dengan berani, Vania menerima tantangan Fathan. Dia berjalan menuju tengah lapangan basket.
__ADS_1
Vania selalu memakai celana panjang. Dia mengantisipasi apabila dia harus berjalan cepat. Sebab itu Vania masih bisa berlari, meski dia menggunakan hijab dan gamis panjangnya. Vania mengikat ujung hijabnya. Agar tidak tertiup angin dan menghambat pergerakanbya. Hari ini Vania akan membuktikan diri. Bahwa dia bisa mengalahkan Fathan.
"Tepati janji kak Fathan, untuk mentraktir mereka bila kalah. Sekaligus kak Fathan harus mengajakku berbelanja. Aku ingin membeli beberapa gamis. Hampir sebagian gamisku, sudah tidak cukup!" ujar Vania, Fathan mengangguk sembari mengacungkan jempol.
Fathan menyetujui apapun permintaan Vania. Meski tanpa pertandingan ini, seandainya Vania menginginkan. Dengan senang hati Fathan akan membawa Vania belanja. Namun jarak yang ada meski tak terlihat. Membuat semuanya seolah tidak akan pernah terwujud.
Buk Buk Buk
Suara bola yang terpental ketika menghantam lapangan basket. Vania memainkan bola basket dengan sangat terampil. Vania bermain dengan tenang dan santai. Lalu Vania mulai berlari mendekat ke arah Fathan. Bola basket yang dibawanya seakan melekat dengan tangannya. Vania berlari sembari membawa bola basket. Tepat di dekat Fathan, terlihat Vania dan Fathan saling berebut. Vania mencoba menghindar, agar Fathan tak dapat merebut bola basket yang dipegangnya.
"Ayo…ayo…ayo…!" teriak para mahasiswa yang kebetulan melihat mereka berdua. Laki-laki dan perempuan berkumpul melihat pertandingan Vania dan Fathan. teriakan lantang mereka menambah semangat Vania untuk mengalahkan Fathan.
"Masuk!" teriak para pendukung Vania yang kebanyakan laki-laki. Fathan mengusap wajahnya kasar. Dia tidak menduga bila Kemampuan Vania sangatlah baik.
Vania dan Fathan terus bermain. Akhirnya bola kedua bisa direbut oleh Fathan. Bahkan masuk ke dalam ring Vania. Skor keduanya seri, Vania dan Fathan tak lagi bermain santai. Keduanya sama-sama ingin menang. Sorak-sorai para penonton membuat semangat Vania dan Fathan kembali. Suasana lapangan yang awalnya sepi. Berubah menjadi sangat ramai dan riuh. Tak terkecuali Faiq dan Raihan yang berjalan menuju ruang dosen. Namun mereka merasa penasaran ketika mendengar teriakan.
"Vania!" ujar Faihan cemas, ketika dia melihat Vania bermain basket bersama Fathan. Faiq dan Raihan berjalan mendekat. Raihan cemas memikirkan kondisi Vania. Sebaliknya terkihat Vania sangat bagus bermain basket.
Raihan melihat Vania dengan raut wajah cemas. Dia melihat betapa Vania berlari kesana -kemari tanpa beban. Tubuh Raihan terasa ngilu, dia takut terjadi sesuatu pada Vania. Faiq menghampiri Raihan, dia menepuk pundak Raihan pelan.
__ADS_1
"Sisi lain Vania yang tidak pernah terlihat. Dia besar bersama dua saudara laki-laki. Jadi sangat pantas, bila Vania hanya mengenal permainan para laki-laki. Salah satunya basket permainan yang sangat dia sukai. Kamu tenang saja Raihan, Vania akan baik-baik saja!" ujar Faiq, Raihan menoleh tanpa mengatakan apapun. Seolah Raihan tak percaya atas apa yang dilihatnya.
"Masuk!" teriak para mahasiswa lantang, bola ketiga akhirnya dimasukkan ke dalam ring Fathan. Secara otomatis pemenangnya Vania bukan Fathan. Raihan mendekat ke arah Vania, dia menatap dengan raut wajah yang tak dapat diartikan.
"Maaf!" ujar Vania lirih, sembari menangkupkan kedua tangannya. Dia merasa bersalah atas sikap kasarnya. Vania tidak peduli pada kehamilannya. Semua demi tantangan Fathan.
"Sayang, aku tidak marah. Aku hanya takut terjadi sesuatu pada dirimu dan calon buah hati kita. Aku tidak bisa membayangkan, bila terjadi sesuatu padamu. Sanggupkah aku hidup!" ujar Raihan sembari menggelengkan kepala. Raihan langsung memeluk Vania erat.
Ketakutan Raihan mengusai seluruh pikirannya. Tidak ada ketakutan yang paling besar selain memikirkan kehilangan Vania dan calon putranya. Vania membalas pelukan Raihan. Setidaknya Vania bertanggungjawab atas rasa khawatir Raihan padanya. Fathan dan Faia melihat Raihan yang memeluk erat Vania. Mereka bahagia melihat ada laki-laki yang sangat mencintai adik kecil mereka.
"Tidak akan ada yang terjadi padaku. Dua buah hati kita akan senantiasa melindungiku. Mereka alasanku kuat, sebab mereka jauh lebih kuat dariku!" ujar Vania lirih, sontak Raihan terkejut. Dia menarik tubuh Vania, Raihan menatap Vania lekat. Dia tidak percaya atas apa yang baru saja Raihan dengar?
"Kamu hamil anak kembar!" ujar Raihan, Vania mengangguk pelan, lalu kembali memeluk Raihan. Seketika Raihan mencium kening Vania. Dia sangat bahagia mendengar Vania hamil anak kembar.
"Vania, jelek dan pendek. Aku sudah transfer uang ke rekeningmu. Kamu bisa menggunakannya untuk membeli beberapa gamis!" ujar Fathan, Vania menggeleng sembari tersenyum.
"Bukan uang yang aku butuhkan darimu. Tapi waktu kak Fathan untukku. Aku bisa meminta suamiku membelikan gamis. Namun kedua buah hatiku menginginkan pamannya yang berbelanja untuk mamanya. Jadi setelah ini kita belanja!" ujar Vania lantang, Fathan kaget mendengar permintaan Vania. Sebaliknya Raihan dan Faiq tersenyum penuh arti melihat raut wajah Fathan gusar.
"Dulu putramu yang menggangguku, sekarang putra adikmu yang mengganggumu. Sungguh keadilan itu memang ada!" ujar Faiq liri.
__ADS_1