KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Keteguhan...


__ADS_3

Setelah membersihkan diri, Vania turun menuju dapur. Penampilan Vania terlihat santai, tapi dia tetap terlihat menawan. Vania menghampiri Annisa dan Davina yang sedang sibuk memasak di dapur. Vania tersenyum bahagia melihat Annisa dan Davina memasak bersama. Hubungannya dengan Davina sudah lebih baik. Sepenuhnya Davina percaya akan cinta Faiq. Dia tidak lagi cemburu pada Vania. Davina menganggap Vania seperti adiknya sendiri.


Annisa sebagai kakak tertua, selalu mencoba menjadi penengah. Dia tidak memihak dan lebih bersikap santai. Annisa tidak pernah ikut campur urusan adik-adiknya. Dia hanya akan membantu, saat dirinya dibutuhkan. Ketenangan Annisa membuatnya terlihat dewasa. Annisa berbeda dengan Fathan yang selalu heboh. Kedewasaan Annisa yang membuat Fathan terpikat padanya. Fathan menemukan sosok Hana pada diri Annisa.


Tak lama kemudian Faiq masuk ke dapur. Dia melihat Davina sedang membuat jus buah. Sedangkan Annisa sibuk dengan alat masak. Sebaliknya Vania hanya duduk santai sembari menggenggam ponselnya. Dengan langkah pelan, Faiq menghampiri Davina. Lalu dengan sigap Faiq memeluk tubuh ramping Davina. Faiq menyadarkan kepalanya dia atas bahu Davina. Faiq mencium lembut leher Davina yang tertutup hijab. Faiq melakukannya tanpa rasa malu. Seakan dia lupa sedang berada di dapur. Faiq lupa jika mereka tidak berdua di dapur. Entah Faiq sengaja atau memang lupa? Namun Davina jauh lebih tenang dari Faiq.


Sedikitpun Davina tidak terkejut dengan sikap mesra Faiq. Hampir setiap hari Faiq melakukannya. Setiap kali Faiq pulang dari atau akan berangkat bekerja. Faiq selalu melakukan hal-hal kecil yang manis. Terkadang Davina merasa takut semua akan menghilang. Namun saat pikiran itu bermain dalam benaknya. Davina selalu ingat, saat ini Faiq suaminya dan cinta Faiq hanya untuknya. Dengan penuh keyakinan Faiq menyerahkan semua hidupnya pada ketetapan sang pemilik hidup. Hanya dengan begitu semua kembali tenang. Tidak ada rasa takut atau gelisah. Sebab Davina percaya, semua yang terjadi itu yang terbaik.


"Kak Faiq, aku ada disini. Apa kamu tidak malu memeluk kak Davina seperti itu? Lihat itu, kaka Annisa saja melihatmu sembari melotot. Kamu benar-benar tidak pengertian!" ujar Vania kesal, Faiq menoleh tanpa memindahkan kepalanya dari pundak Davina. Dia semakin memeluk Davina erat. Vania kesal melihat sikap Faiq yang tidak peduli pada perkataannya. Sedangkan Annisa hanya tersenyum sembari menggelengkan kepala.


Annisa melotot bukan karena tidak suka Faiq bersikap seperti itu. Annisa merasa tidak percaya, dokter Faiq yang dikenalnya bisa bersikap seperti itu. Dia tidak menyangka dalam dingin sikap Faiq. Ada cinta yang begitu besar untuk Davina istrinya. Sikap acuh Faiq seakan hilang ditelan oleh kepeduliannya pada Davina. Faiq ingin menunjukkan cinta yang begitu besar pada Davina. Faiq tidak lagi dingin dan angkuh bila itu berhubungan dengan Davina.


"Sayang, jangan dengarkan Vania. Dia cemburu dengan kemesraan kita. Sebab dia tidak bisa memeluk Raihan, seperti diriku memelukmu. Vania terlalu jual mahal. Padahal Raihan laki-laki yang tampan dan kelihatannya baik. Aku berani bertaruh, Vania sebenarnya menyukai Raihan. Namun dia angkuh mengakuinya, Vania ingin melihat Raihan menyesal dan memohon maaf padanya. Semoga saja kelak Vania tidak akan menyesal. Bila Raihan bersanding dengan orang lain. Secara Vania bersikap acuh pada Raihan. Seolah-olah dia ingin mengatakan, Raihan tidak akan pernah menjadi suaminya!" ujar Faiq lantang menggoda Vania, seketika Vania cemberut. Davina menyikut dada Faiq. Dia tidak tega bila melihat Vania ditindas. Annisa hanya menggelengkan kepala mendengar perkataan Faiq. Annisa belum melihat wajah Raihan dengan jelas. Jadi dia tidak bisa memberikan penilaian.

__ADS_1


"Kata siapa dia tampan? Masih tampan om Rafa. Dia juga tidak sehebat itu. Kak Fathan jauh lebih hebat darinya. Satu hal yang benar, dia menyebalkan sepertimu. Aku tidak pernah menyukainya. Dia bukan tipeku, aku menyukai laki-laki yang penyayang dan bekharisma seperti om Rafa. Jadi percuma menjodohkan kami. Aku tidak akan merubah pikiranku. Sekarang aku menganggap dia hanya teman tidak lebih!" ujar Vania kesal, lalu meninggalkan Faiq yang terkekeh melihat kekesalan Vania. Sontak Davina menoleh menatap lekat Faiq. Dia marah melihat sikap usil Faiq pada Vania. Annisa sebagai kakak hanya diam membisu. Annisa tidak terlalu memahami permasalahan Vania dan Raihan.


"Kak Faiq, kamu keterlaluan. Apa yang kamu katakan sangat membuat Vania kesal? Memangnya setampan dan sebaik apa Raihan? Sampai kamu membelanya. Aku sempat mendengar, dia memang orang hebat dalam dunia bisnis. Namun sehebat apapun dia? Vania berhak memutuskan, memilihnya atau tidak. Jangan terus menggoda Vania, aku merasa kak Faiq seakan ingin membantu Raihan!" sahut Davina kesal, Faiq merangkul tubuh Davina. Dia menempelkan keningnya dengan Davina. Suara hembusan napas keduanya terdengar bersamaan. Faiq dan Davina saling menatap penuh cinta.


"Sayang, aku tidak ingin membela Raihan. Aku juga tidak akan membantu Raihan. Apapun keputusan Vania, aku akan mendukungnya. Namun kamu melupakan sesuatu. Aku dan Vania berwatak sama. Jadi aku memahami cara berpikir Vania. Aku juga mengerti arti tatapan Vania pada Raihan. Aku tidak ingin Vania melakukan kesalahan sepertiku. Aku baru mengakui cintaku saat aku akan kehilangan dirimu. Kebodohan yang aku sesali seumur hidupku. Aku tidak ingin Vania kehilangan cintanya hanya, karena status yang terlanjur terkuak dan perbedaan yang tanpa sengaja terucap. Dalam cinta perbedaan bukan jurang pemisah, tapi jalan untuk saling memahami. Aku pernah merasakan sakitnya kehilangan cinta dan aku tidak ingin adikku merasakan hal yang sama. Jika Raihan bisa membuat Vania adik kecilku kesal dan marah tanpa sebab. Itu artinya Raihan juga orang yang bisa membuatnya tersenyum dan menangis. Layaknya dirimu yang membuatku kehilangan akal. Sekarang katakan, salahkah aku yang mencoba mengingatkan Vania? Bahwa rasa itu memang ada, tapi Vania menolak hanya karena takut akan luka dan perbedaan. Posisikan dirimu pada Raihan. Kamu akan mengerti jawaban dari pertanyaanku!" tutur Faiq lirih, lalu mencium kening Davina lembut. Davina mendongak menatap Faiq. Dia kini mulai mengerti, alasan dibalik sikap Faiq kepada Vania. Davina merasa bersalah telah menuduh Faiq yang tidak-tidak. Sebagai seorang istri dia tidak bisa memahami Faiq suaminya.


"Sayang, tidak perlu merasa bersalah. Tidak akan ada yang bisa memahami cara berpikir Vania selain diriku. Aku kakak yang akan selalu menjaga Vania. Aku tidak ingin Vania menangis karena mencintai Raihan. Cukup aku melihatmu menangis saat mencintaiku. Aku sudah tidak akan sanggup melihat adikku menangis. Air matanya akan mengingatkan diriku. Akan kebodohanku yang telah membuatmu terluka!" tutut Faiq lirih, sesaat setelah melihat Davina menunduk. Annisa tersenyum bahagia melihat kehangatan kedua adiknya. Davina memeluk tubuh Faiq. Dia ingin mengucapkan kata maaf, tapi yang paling penting. Davina ingin mendekap erat tubuh laki-laki yang sangat dicintainya. Davina ingin meluapkan rasa cintanya pada Faiq.


"Sudah cukup kalian bermesraan di dapur. Lihat akibat ulah kalian berdua. Masakanku ada yang gosong. Faiq pergilah dari dapur, jika tidak aku akan memelukmu juga. Sekalian saja aku buat kakakmu Fathan cemburu!" ujar Annisa kesal saat melihat Davina dan Faiq terus berpelukan. Sontak Vania dan Faiq melepaskan pelukan mereka. Keduanya terkekeh melihat kekesalan Annisa yang tak cocok dengan sikap tenangnya. Faiq mencium pipi Davina lalu pergi ke ruang tengah. Davina memeluk Annisa, menenggelamkan wajahnya dipunggung Annisa. Davina malu sekaligus bahagia menerima perlakuan Faiq.


Saat Faiq dan Davina bermesraan di dapur. Vania yang kesal mendengar gurauan Faiq. Dia pergi menuju halaman depan. Dia duduk di atas rumput hijau. Vania duduk tanpa alas apapun. Tangannya menopang tubuh mungilnya. Wajahnya mendongak menatap langit. Dia melihat langit yang penuh dengan bintang-bintang kecil. Meski terangnya bintang tak seterang bulan. Tetap bintang yang membuat langit terlihat indah dan menenangkan. Banyaknya bintang seakan ingin menunjukkan betapa luasnya langit. Keindahan tatanan langit, seolah ingin mengingatkan kita akan kebesarannya. Tidak ada kekuatan yang bisa menandingi kekuasaan-NYA.


"Vania, bisa aku minta waktumu sebentar. Aku ingin mengatakan sesuatu. Setelah itu terserah apapun keputusanmu. Aku akan menerimanya, aku tidak akan memaksamu atau mengejarmu. Apa yang aku katakan? Usaha terakhirku agar pantas menjadi imammu!" ujar Raihan lirih, Vania mengangguk pelan. Dia menunduk tanpa menoleh sedikitpun pada Raihan. Sebaliknya Raihan terus menatap sosok wanita yang membuat pikirannya kacau. Raihan tidak sanggup lagi diam melihat sikap acuh Vania.

__ADS_1


"Vania, sekali lagi aku minta maaf atas perkataanku padamu. Aku laki-laki bodoh yang telah mengacuhkan kepercayaanmu. Aku laki-laki yang angkuh. Berpikir diriku lebih baik darimu, tapi ternyata aku tidak ada apa-apanya dibandingkan dirimu? Aku telah kehilangan makmum yang terbaik diantara yang baik. Wanita yang telah mencintaiku dengan ketulusan. Terluka karena sikap aroganku akan kesuksesanku. Malam ini aku sudah memutuskan sesuatu yang tidak mudah. Entah kamu akan memaafkanku atau tidak? Aku akan tetap melakukannya!" ujar Raihan, Vania diam membisu mencoba memahami arah pembicaraan Raihan.


"Vania, aku akan meninggalkan kesuksesan yang aku miliki sekarang. Aku akan memulai semuanya dari nol. Jika perlu aku akan bekerja sebagai staf biasa di perusahaan om Rafa. Aku akan meninggalkan harta dan kedudukan yang menjadi jurang diantara kita. Aku akan menggapai kesuksesanku dari awal. Aku akan menjauh dari kehormatan yang telah menghinamu. Aku akan belajar mengerti orang lain. Membuang jauh kesombongan yang membuatmu menjauh dariku. Aku tidak memintamu mendekat denganku. Setidaknya aku bisa merasakan susahnya hidup. Agar aku tidak meremehkan orang lain lagi!" tutur Raihan lantang, Vania mendongak kaget. Dia terkejut mendengar perkataan Raihan. Dia tidak menyangka Raihan akan sejauh ini. Lama Vania diam membisu. Vania tidak mampu mengatakan apapun? Dia tidak sanggup memahami perkataan Raihan.


"Raihan, aku tidak bisa mengatakan apapun? Keputusan yang kamu ambil terlalu berat. Sejak awal kehidupan kita memang berbeda. Aku tidak meragukan ketulusanmu melakukan semua itu. Namun tidak seharusnya kamu berbuat sejauh itu hanya demi diriku. Kehormatan keluargamu jauh lebih penting. Lihatlah langit malam ini, terlihat indah dengan hadirnya bintang-bintang kecil. Layaknya diriku yang kecil, tapi tidak ada yang tahu. Jika kelak cahaya redupku yang membuat hidupmu bahagia dan terang. Tetaplah jadi langit untuk semua orang. Beban yang kamu tanggung terlalu berat. Banyak keluarga yang bergantung pada kesuksesanmu. Jangan hancurkan hidup mereka demi diriku!" ujar Vania tegas, Raihan menunduk lemah. Semua selesai, Vania memilih menjauh darinya. Meski Raihan akan meninggalkan segalanya demi dirinya. Tetap saja Vania tidak bersedia menerima cintanya.


"Baiklah Vania, aku akan tetap memimpin perusahaanku. Aku akan menjadi langit mereka. Akan kubuat mereka bahagia dengan menyejahterakan mereka. Terima kasih pernah menganggap diriku imam yang baik!" ujar Raihan lirih, Vania menoleh ke arah Raihan yang menunduk lesu.


"Raihan, aku tidak menolak atau menerimamu. Aku menunggumu selama 8 tahun. Apa kamu tidak sanggup bila menungguku untuk beberapa bulan saja? Demi bisa menjadi istrimu, aku sudah memantapkan imanku. Sekarang agar aku merasa pantas mendampingimu. Aku akan menggapai impiaku yang lama kupendam. Setelah aku merasa layak berada disampingmu. Saat itu pinanglah aku di depan kedua orang tuaku. Namun jika kamu menemukan yang lebih baik dariku. Gapailah, aku akan bahagia untukmu!" ujar Vania lalu berjalan menjauh dari Raihan.


"Aku mencintaimu Vania Aulia Azzahra!" teriak Raihan lantang, Vania menoleh ke arah Raihan.


"Aku juga mencintaimu, tapi izinkan aku menata hatiku yang terlanjur terluka. Aku tidak pernah marah padamu. Aku membatalkan perjodohan diantara kita. Agar aku bisa melihat kesungguhan hatimu. Ternyata kamu sungguh-sungguh mencintaiku. Aku tidak menginginkan harta dan nama besarmu. Aku mengharapkan keteguhan cinta dari Achmad Raihan Maulana. Laki-laki yang telah mengkhitbahku sejak putih abu-abu!" sahut Vania lalu berjalan cepat masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Apa aku bermimpi?" ujar Raihan lirih hampir tak terdengar.


__ADS_2