
Langit begitu indah penuh dengan bintang, bulan bersinar dengan anggunnya. Seakan memahami hati dua pengantin. Malam ini diadakan pesta resepsi pernikahan Rama dengan Cintya. Setelah bertunangan cukup lama, keduanya memutuskan untuk menikah. Mengucapkan janji suci, bersatu dalam hubungan yang halal.
Pesta digelar cukup meriah. Undangan yang hadir, bukan hanya dari kalangan pembisnis tapi juga warga sekitar. Orang tua Rama merupakan warga terpandang. Layak jika banyak warga lingkungan Hana dulu datang mengucapkan selamat.
Hana dan Diana datang bersama, Rama secara khusus mengundang mereka berdua. Hana dan Diana sudah seperti adik bagi Rama. Hubungan yang terjalin tanpa syarat. Hana dan Diana datang menggunakan taxi. Gaun panjang yang mereka gunakan tidak mungkin nyaman bila menggunakan sepeda motor.
Terlihat dua mobil masuk hampir bersamaan. Satu taxi yang membawa Hana dan Diana. Satu mobil lainnya membawa Rafa dan Adrian. Mereka berempat turun hampir bersamaan. Hana mengutas senyum pada Rafa dan Adrian. Sedangkan yang Rafa dan Adrian termangu melihat penampilan Hana dan Diana.
Penampilan Hana dan Diana mampu membius mata Rafa dan Adrian. Mereka berdua terlihat menawan dengan balutan gaun panjang dan hijab panjang. Polesan make up tipis, menambah kecantikan yang tersembunyi. Hana dan Diana menggunakan gaun dengan warna senada, mereka bagaikan dua saudara kembar. Penampilan Hana dan Diana sederhana tapi terkesan elegant.
"Rafa, bidadari kita sangat cantik. Sayangnya amarah mereka belum reda. Jika sudah aku pastikan akan melamar Diana. Sungguh hati ini tidak rela Diana jatuh ke tangan laki-laki lain!" bisik Adrian, Rafa mengangguk setuju. Penampilan Hana terakhir kali mampu membuat Rafa cemburu buta. Entah hari ini apa yang akan terjadi? Rafa akan berusaha setenang mungkin.
"Sudahlah, lebih baik kita masuk! Mereka sudah masuk, jangan sampai mereka bertemu laki-laki di dalam!" ujar Rafa menggoda Adrian.
Rafa dan Adrian berjalan beriringan menuju tempat acara. Hana dan Diana sudah masuk lebih dulu. Mereka berdua ingin segera menyapa sang raja dan ratu semalam. Hana melihat Rama dan Cintya sangat serasi. Pemilihan konsep pernikahan juga sangat indah.
"Selamat kak Rama, kalian pasangan yang paling romantis. Aku suka dengan konsep pestanya!" ujar Diana antusias, Rama tersenyum.
"Terima kasih sudah datang. Lihatlah dua pengawal setia mendampingi kalian. Hana, jangan terlalu keras. Rafa sudah mengetahui kesalahannya! Jangan siksa dirimu terlalu lama!" ujar Rama, Hana dan Diana menoleh ke belakang. Mereka melihat Rafa dan Adrian berdiri tidak jauh dari mereka. Hana tersenyum pada mereka, sebaliknya Diana membuang muka.
"Hana, ayo kita turun. Aku malas satu panggung dengan mereka!" ujar Diana ketus, Rama dan Cintya terkekeh melihat Diana yang marah tidak jelas. Hana mengangguk, lalu menghampiri Cintya. Dia memeluk sang ratu semalam.
"Selamat dokter Cintya, semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, dan warrohmah. Aku doakan segera mendapatkan momongan!" bisik Hana, Cintya mengangguk seraya tersenyum manis.
Hana dan Diana turun dari panggung sang pengantin. Mereka berjalan perlahan menuju meja yang sudah disiapkan. Hana dan Diana mencari tempat duduk yang jauh dari keramaian. Diana tidak ingin melihat Hana kelelahan. Dia meminta Hana duduk sembari menunggu Diana mengambilkan makanan dan minuman untuknya. Diana menjaga Hana dengan sepenuh hati. Semua perlakuan Diana tak luput dari pandangan Rafa.
Hana duduk sendiri menunggu Diana mengambil beberapa hidangan yang sengaja disiapkan. Rafa sengaja tidak mendekat pada Hana. Dia mengawasi Hana dari kejuahan. Adrian diam-diam mengikuti kemana langkah kaki Diana. Adrian sudah tidak bisa menahan lagi untuk tidak menyapa Diana.
__ADS_1
"Cantik, boleh berkenalan!" sapa Adrian, Diana menoleh dengan muka ditekuk.
"Malas, berkenalan dengan pangeran kodok!" sahut Diana ketus, bukannya marah Adrian malah senyum-senyum sendiri. Ada rasa senang setiap kali melihat Diana marah. Adrian seolah mendapatkan semangat yang besar dari setiap kekesalan Diana.
"Cantik-cantik, tapi ketus!" goda Adrian, Diana membuang muka. Dia tidak ingin melihat Adrian yang menyebalkan. Diana benar-benar malas meladeni Adrian.
"Sudah minggir, Hana menungguku. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya. Apalagi harus meladeni pangeran cap kodok sepertimu!"
"Diana, jangan terlalu membenciku. Lama-kelamaan kamu akan jatuh cinta padaku!"
"Sekarang minggir, sebelum aku menyirammu!" ujar Diana kesal sembari membawa segelas air. Sontak saja Adrian mengangkat kedua tangannya isyarat menyerah. Adrian mundur beberapa langkah menjauh. Dia tidak ingin menjadi sasaran kemarahan Diana.
"Baiklah Diana, kamu sekarang menang. Aku mengaku kalah, tidak ada gunanya berdebat denganmu!" ujar Adrian, Diana melangkah menjauh dari Adrian.
Sebaliknya Hana sedang duduk sendirian dihampiri oleh Sabrina dan Gunawan. Kedua orang tua Rafa yang tak pernah menerimanya. Hana mengacuhkan keberadaan mereka, percuma meladeni orang tua Rafa.
"Pa, lihat mantan menantumu. Dia duduk sendiri disini untuk mencari mangsa baru. Rafa sudah tidak bisa dia miliki. Rama sudah menikah dengan wanita terpandang. Sekarang dia sendirian, untuk itu dia berada disini mencari laki-laki kaya!" ujar Sabrina, Hana sedikitpun tidak peduli pada perkataan Sabrina. Hana menganggapnya sebagai anjing yang sedang menggonggong.
"Hai Pelayan, apa kamu mendengarku? Siapa sekarang mangsamu? Apa dia jauh lebih kaya dari Rafa putraku?" ujar Sabrina kesal, saat dia melihat Hana tidak menganggap keberadaannya. Sabrina menarik tubuh Hana kasar, agar dia berdiri menghadap ke arahnya. Hana yang tak pernah menduga tindakan Sabrina, terhuyung ke depan. Perutnya menghantam meja.
"Aaaawwwwwsss!" teriak Hana kesakitan, tangannya kanannya menahan perut, tangan kirinya memegang meja agar tak terjatuh. Sabrina kalut melihat tindakannya berakibat fatal.
"Hanaaaa!" teriak Rafa dan Diana bersamaan, Diana membuang semua makanan yang dibawanya. Rafa berlari menghampiri Hana yang sedang kesakitan. Rafa mendekat pada tubuh Hana.
"Hana!" sapanya lirih, Rafa hendak menopang tubuh Hana. Namun langkahnya terhenti saat Hana mengisyaratkan padanya agar tidak mendekat. Rafa termenung melihat penolakan Hana. Diana datang menghampiri Hana, membantunya untuk duduk. Diana mengambilkan minuman untuk Hana. Sekadar untuk menghilangkan rasa sakitnya sebentar.
"Nyonya Sabrina yang terhormat!" panggil Diana kasar, lalu membalik tubuh Sabrina. Diana mengangkat tangannya.
__ADS_1
Plaaak Plaaakk
"Itu balasan untuk setiap hinaanmu pada sahabatku. Sekaligus balasan karena hampir membunuh keponakanku. Jika terjadi sesuatu pada Hana dan bayinya. Anda orang pertama yang akan saya cari!" ujar Diana kasar, dia menunjuk ke arah wajah Sabrina. Sedangkan Sabrina memegang kedua pipi bekas tamparan Diana.
"Satu hal lagi, jangan pernah sangkut pautkan Hana dengan putramu. Hubungan mereka sudah berakhir. Silahkan nikahkan putramu dengan wanita kaya sesuai impianmu!" ujar Diana emosi, Sabrina hendak membalas tamparan Diana. Namun dengan cepat Gunawan mencegahnya. Sikap Sabrina sangat keterlaluan, dia bisa membunuh bayi yang dikandung Hana. Bagaimanapun bayi yang dikandung Hana keturunan Rafa? Apalagi Gunawan melihat Rafa tak jauh dari Hana.
Diana membantu tubuh Hana berdiri. Diana merangkul Hana membantunya berjalan. Rafa terdiam membisu, hatinya hancur melihat penolakan Hana. Tak ada lagi jalan untuknya kembali bersama dengan Hana. Dalam kesakitan Hana tidak membutuhkan bantuannya. Hana menolak uluran tangannya.
"Aaawwwsss!" teriak Hana, tubuhnya jatuh lunglai ke tanah. Tanpa sengaja Cintya melihat Hana. Dengan sigap Cintya turun dari panggung. Dia memeriksa kondisi Hana, bibir Diana bergetar karena cemas. Rafa tak mampu menopang tubuhnya. Dia hampir jatuh, tapi Adrian menopang tubuhnya.
"Hana, kamu harus segera ke rumah sakit! Jika tidak kita akan kehilangan bayimu!" ujar dokter Cintya cemas. Hana menggenggam erat tangan dokter Cintya dan Diana.
"Tolong selamatkan putraku. Dia yang aku miliki, satu-satunya harapanku. Jangan biarkan aku kehilangan dia!" ujar Hana lirih dan lemas, Diana mengangguk pelan.
"Selama aku hidup, tidak akan kubiarkan sesuatu menimpamu. Aku janji, aku akan membawamu ke rumah sakit dengan segala cara!" ujar Diana, air mata Diana menetes membasahi wajah Hana.
"Diana, biarkan aku membawa Hana ke rumah sakit!" pinta Rafa, Diana melihat ke arah Hana. Terlihat Hana menggeleng lemah, Rafa melihat kebencian di mata Hana. Sudah tak ada lagi cinta.
Rafa jatuh ke tanah, dia hancur melihat penolakan Hana. Meski nyawanya dan bayinya sedang dalam bahaya.
"Hana, izinkan aku mengantarmu. Maaf jika aku terpaksa menyentuhmu!" ujar seseorang, Hana mengangguk lemah.
"Diana, kamu buka pintu mobilku. Aku akan menggendong Hana"
"Cintya, minta tim rumah sakit siaga. Katakan aku datang bersama Hana!"
"Hana!" ujar Rafa lirih hampir tak terdengar.
__ADS_1
...☆☆☆☆☆...
TERIMA KASIH😊😊😊