KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Dokter Rey


__ADS_3

"Vania!" sapa Farah lantang, Farah berjalan cepat ke arah Vania. Dia datang bersama Faiz. Vania mengangguk pelan menyahuti panggilan Farah.


Farah baru saja datang dari luar kota. Farah tidak mengetahui kondisi Fajar yang sedang sakit. Dengan tergesa-gesa Farah langsung datang ke rumah sakit. Hari ini Fajar akan melakukan perawatan lanjutan. Kondisi Fajar semakin lemah. Faiq tidak bisa terus menunggu, jika tidak akan fatal akibatnya pada Fajar.


"Dimana Fajar?" ujar Farah, sesaat setelah memeluk Vania. Dengan isyarat mata, Vania menunjuk sebuah ruangan yang tertutup rapat.


Faiz berdiri sedikit menjauh dari Vania dan Farah. Dia tidak ingin ada salah paham. Jika Faiz terlalu dekat dengan Vania. Bagaimanapun ada salah paham yang terjadi diantara dirinya dan Raihan? Faiz sibuk dengan ponselnya. Dia tidak peduli dengan pembicaraan antara Vania dan Farah.


"Hari ini dia akan mendapatkan penanganan lanjutan. Aku takut terjadi sesuatu padanya. Aku telah mengabaikannya selama ini. Fajar sakit karena merindukanku!" ujar Vania, Farah melihat lemah Vania.


Vania yang kuat, kini lemah tak berdaya. Menyalahkan semua yang terjadi pada dirinya. Tak ada rasa percaya pada sang pencipta. Farah melihat rasa penyesalan yang begitu besar. Tatapan Vania lurus ke arah keluarga Fajar. Orang yang lebih berhak akan sang putra.


"Apapun yang terjadi? Bukan salahmu dan bukan tempatmu untuk mengeluh. Dimana Vania yang tegar? Kemana Vania yang selalu optimis akan jalan yang tertulis? Bagaimana mungkin kamu mengeluh? Setelah semua yang terjadi pada Fajar dulu!" ujar Farah, Vania menunduk sembari menggeleng.


Vania lemah tak berdaya. Dia bukan hanya takut kehilangan Fajar. Namun rasa bersalahnya seakan membuatnya tak berdaya. Vania menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada Fajar?


"Maksudmu apa?" ujar Vania, Farah mengutas senyum ke arah Vania.


"Vania bukan wanita lemah tak beriman. Dimana keyakinanmu akan ketetapan-NYA takkan pernah salah? Percayalah, apapun yang terjadi pada Fajar bukan salahmu. Melainkan kehendak Allah SWT yang memang harus terjadi. Jika dulu kita mampu membantunya terlahir. Hari ini akan ada tangan lain yang membantunya sembuh!" ujar Farah, Vania mengangguk pelan.


Vania dan Farah saling berpelukan. Keduanya saling menyemangati. Tidak ada yang bisa mengerti kita sebaik sahabat. Vania beruntung bertemu dengan Farah. Setidaknya hatinya jauh lebih tenang sekarang. Dia tidak lagi mengeluh akan yang terjadi pada Fajar.


"Terima kasih, kamu selalu bisa menenangkanku!" ujar Vania, Farah mengangguk.


"Sama-sama!" sahut Farah.


...☆☆☆☆☆...

__ADS_1


"Dokter Rey, kapan kita bisa melakukan perawatan lanjutan pada Fajar?" ujar Chalisa ramah, Rey mengangkat kedua bahunya. Seakan dia tidak peduli pada perkataan Chalisa.


"Aku bersifat membantu, keputusan ada ditangan kalian dokter yang ditunjuk langsung!" sahut Rey dingin, Chalisa mendengus kesal.


Chalisa kesal melihat sikap acuh Rey padanya. Pertama kalinya Chalisa bersikap manis pada laki-laki. Ternyata bukan sikap hangat yang diterimanya, tapi malah diacuhkan tak dianggap.


"Bukankah sebagai dokter, anda wajib memberikan masukan. Kenapa malah anda berkata, seolah anda angkat tangan?" ujar Chalisa ketus, Rey terus berjalan tanpa menoleh pada Chalisa. Seakan Chalisa tak pernah ada di sampingnya.


"Dokter Rey, kenapa anda diam? Bukankah perkataan saya benar?" ujar Chalisa lantang, sontak Rey menghentikan langkahnya.


Rey menatap Chalisa tajam, seakan tatapan Rey menusuk tepat di hati Chalisa. Sekilas Chalisa melihat dua mata indah yang tersimpan di balik kaca mata yang dipakai Rey. Chalisa merasa sesak saat tatapan Rey mengunci dirinya. Jantung Chalisa berdetak sangat cepat.


Gleeeekkk


Terdengar Chalisa menelan ludahnya kasar. Dia terkejut sekaligus takut. Ketika melihat Rey menatap dirinya lekat. Sebaliknya Rey yang mulai kesal melihat sikap Chalisa. Sengaja ingin menunjukkan sikap dinginnya.


Suara Rey bak air es yang menyiram tubuhnya. Terasa dingin menusuk hingga tembus ke tulang-belulangnya. Ketampanan Rey berbanding terbalik dengan dingin dan angkuhnya. Chalisa tidak pernah menduga. Tanggapan Rey akan sedingin ini padanya.


"Maaf!" ujar Chalisa dengan suara bergetar.


"Lain kali menjauh dariku. Aku tidak suka kamu menempel terus. Suaramu terlalu berisik!" ujar Rey ketus, seketika Chalisa menunduk lesu. Sejak awal dia hanya ingin bicara dengan Rey. Sedikitpun Chalisa tidak ingin mengganggu Rey.


"Jika aku tahu kamu sombong dan angkuh. Tidak akan aku menyapamu. Sungguh aku menyesal. Aku hanya ingin mengenalmu, tidak lebih dari itu. Kepintaran dan kesuksesaanmu menggugah hatiku. Dokter hebat sekelas dirimu, tentu bisa mengajariku banyak hal. Ilmu yang kamu miliki, mungkin bisa melepas dahaga akan kekuranganku dalam ilmu medis!" batin Chalisa.


"Rey!" panggil Annisa, sontak Rey menoleh. Dia melihat Annisa tengah menggendong Gavi.


Rey berjalan setengah berlari menghampiri Annisa. Rey mengulurkan tangan ke arah Gavi. Dengan gemas Gavi mengulurkan tangan ke arah Rey. Seakan menyambut uluran tangan Rey. Dengan sigap Rey menggendong keponakan lucunya. Rey mencium pipi gimbul Gavi. Memeluk erat Gavi, seolah-olah Rey takkan melepasnya.

__ADS_1


Chalisa tercengang melihat Rey. Sedetik yang lalu Rey begitu dingin dan angkuh. Sedetik kemudian Rey begitu hangat dan penuh kasih sayang. Chalisa tidak percaya, ketika Rey terlihat bahagia dan nyaman di dekat Gavi. Seorang anak yang terkadang menjadi momok bagi seorang laki-laki. Apalagi Rey terkenal sebagai dokter dingin tak berhati.


"Rey, Chalisa seorang perempuan. Tidak sepantasnya kamu memperlakukan dia seperti itu. Dia menyapamu baik-baik. Apa kamu akan suka melihat kakak diperlakukan seperti itu oleh kak Fathan!" ujar Annisa lirih, Rey menoleh ke arah Annisa heran.


Dia tidak mengerti kenapa sikapnya pada Chalisa? Harus disamakan dengan sikap Fathan pada Annisa. Sebab Fathan dan Annisa suami istri. Sedangkan Chalisa bagi Rey bukan siapa-siapa? Dia hanya dokter yang baru saja ada di sekitar rumah sakit ini.


"Jika kak Fathan berani bersikap tak pantas padamu. Aku tidak segan-segan membuat perhitungan dengannya. Aku tidak akan membiarkan siapapun menghina kakak? Termasuk kak Fathan suamimu!" ujar Rey dingin, Annisa mengutas senyum simpul.


Annisa bahagia meski dia dan Rey tak pernah tinggal dalam satu atap. Meski mereka lahir dari rahim yang berbeda. Namun Rey menyayangi Annisa layaknya kakak kandungnya, bukan kakak sambungnya. Annisa mendekat pada Rey, memutar tubuh Rey menghadap ke arah Chalisa yang diam menunduk tak jaiha dari Annisa dan Rey.


"Itu juga berlaku bagi saudara laki-laki Chalisa. Dia tidak akan terima bila melihat saudara perempuannya kamu acuhkan. Seandainya kamu tidak ingin dekat dengan Chalisa. Setidaknya kamu bersikap lebih baik. Dia wanita berhati baik. Dia tidak salah bila ingin mengenalmu!" ujar Annisa mengingatkan.


"Mungkin dia tidak salah, tapi aku tidak pernah ingin mengenalnya. Dia wanita dengan karir yang gemilang. Tidak akan ada kata patuh pada suami sepertiku!" sahut Rey dingin tanpa rasa bersalah.


"Rey, dia hanya ingin mengenalmu bukan menjadi istrimu. Jangan-jangan kamu yang terlalu takut menjadi suaminya. Sebab itu kamu mengacuhkannya, agar rasamu tidak semakin kuat!" sahut Annisa.


"kakak terlalu banyak berpikir!" ujar Rey mengelak, lalu menjauh dari Annisa sembari menggendong Gavi. Rey melewati Chalisa tanpa menoleh.


"Rey laki-laki baik, hanya dia terlalu takut mengenal cinta. Dia tidak pernah berniat menghinamu, maafkan Rey!" ujar Annisa tepat di samping Chalisa.


"Dokter Annisa, anda dan dokter Rey!"


"Dia adik laki-lakiku!" sahut Annisa.


"Pantas kalian berdua sama-sama pintar!" ujar Chalisa lirih, Annisa tersenyum mendengar pujian Chalisa. Lalu merangkul tangan Chalisa. Dengan heran Chalisa menoleh ke arah Annisa.


"Ikutlah denganku, kamu akan melihat Rey dengan sisi yang lain!" ujar Annisa, Chalisa menggeleng menolak.

__ADS_1


"Jangan takut, Rey tidak akan mendekat padamu!" ujar Annisa lalu menarik tangan Chalisa.


__ADS_2