KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Sebuah Keputusan


__ADS_3

Sudah hampir setengah bulan Hana libur bekerja. Namun Zyan tetap menerima Hana kembali bekerja. Dengan seizin Zyan, Hana memilih berada di dapur. Membantu para koki memasak dan mencuci peralatan makan. Hana tidak ingin bertemu orang lain. Terutama keluarga besar Prawira yang merupakan pelanggan tetap restoran Zyan.


Hana bukan pribadi yang sulit beradaptasi. Dia mampu bekerja, dimanapun dan dengan siapapun? Hana pribadi yang luwes, sehingga semua rekan menyayanginya. Tidak ada kata bersaing, karena Hana membuat persatuan sesama rekan. Hana cekatan dalam bekerja, dia tidak pernah mencampurkan masalah priadi dengan pekerjaan.


Hana pribadi yang taat, tapi dia tidak pernah memaksa temannya mengikuti kebiasaannya. Hana mencontohkan sikap yang baik. Dengan begitu teman-temannya akan tergerak untuk melakukan kebaikan juga. Semenjak kehadiran Hana sebagai pekerja. Terjalin persaudaraan yang erat sesama pekerja.


"Hana, bisa kita bicara!" sapa Rafa, Hana menoleh dengan terkejut. Dia melihat Rafa berdiri tepat di depan pintu restoran. Sengaja Rafa menunggu hampir dua jam. Dia ingin menjelaskan kejadian semalam. Rafa mencoba menghubungi ponsel Hana, tapi tidak bisa dihubungi. Rafa datang ke rumah Hana, tapi rumahnya sepi tidak berpenghuni.


"Iya tuan Rafa, ada yang bisa saya bantu!" ujar Hana ramah, Rafa terdiam tak percaya. Hana memanggilnya dengan sebutan tuan Rafa. Memang penampilan Rafa masih menggunakan pakaian kantor. Aura kepemimpinan Rafa jelas nyata terlihat. Tidak ada yang tak mengenal, seorang Rafa Akbar Prawira. Pengusaha bertangan dingin, sukses dengan segala usahanya. Membawa perusahaan Prawira masuk dalam jajaran perusahaan ternama.


"Hana, kita harus bicara! Kenapa harus selalu seperti ini? Tidak bisakah kita berdamai dengan keadaan!" ujar Rafa lirih, Hana mengangguk. Dia mengedarkan pandangannya, melihat adakah orang yang memeperhatikannya?


"Tuan, jika tidak keberatan. Dua blok dari sini ada cafe yang tidak terlalu ramai. Kita bisa bicara di sana. Aku akan sampai di sana sekitar lima belas menit lagi!" ujar Hana ramah, dia meninggalkan Rafa sendiri. Hana berjalan menuju tempat sepeda motornya. Rafa berjalan menuju mobil sportnya. Sepasang istri yang memiliki status sosial yang berbeda.


...☆☆☆☆☆...


"Tuan Rafa, maaf lama menunggu!" sapa Hana, sengaja Hana menggunakan masker. Dia tidak ingin menjadi konsumsi publik. Hana tidak ingin masuk dalam dunia Rafa yang penuh dengan kemewahan dan popularitas.

__ADS_1


"Cukup Hana, sudah cukup kamu mengingatkan aku. Bahwa aku tak layak menjadi suamimu. Aku suami yang tak bisa membela istrinya. Bukankah itu yang ingin kamu katakan padaku!"


"Aku tidak pernah berpikir sehina itu. Bagiku kak Rafa tetap suamiku. Aku tidak butuh pengakuan orang lain. Cukup kak Rafa mengakui aku. Tak ada pengakuan yang lebih baik dari itu!" ujar Hana, Rafa seolah tertampar dengan perkataan Hana. Sebuah isyarat pengakuan yang tak kunjung Hana dapatkan.


"Hana, katakan apa yang harus kulakukan? Aku tidak mungkin mengakuimu di depan keluargaku. Mereka terlalu kejam, hanya harta yang mereka lihat. Harga diri seorang manusia tidak berarti. Haruskah aku membawamu, bertemu mereka yang tak mengenal kasih sayang!"


"Sudah kukatakan, aku tidak butuh pengakuan mereka. Hidupku sudah tidak mampu lagi menahan sebuah hinaan!" ujar Hana, Rafa menggenggam erat tangan Hana. Tangan Rafa terasa dingin, tak ada rasa hangat. Rafa gelisah, bingung apa yang akan dia lakukan?


"Sayang, aku mohon. Katakan apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mungkin menjadi suami yang baik. Masa laluku terlalu buruk, hidupku hina. Keluargaku serakah, hanya harta yang mereka puja. Aku bukan imam yang baik, tapi kehilanganmu menghancurkanku. Aku tidak bisa berpikir, aku lelah. Aku takut kehilanganmu, tapi mengakuimu aku lebih takut. Dunia kejam pada hubungan kita!" ujar Rafa lirih, dia menunduk meletakkan kepalanya di atas meja. Tangannya meremas lembut tangan Hana. Dia butuh sandaran untuk kegalauannya. Rafa sangat rapuh dan butuh dukungan.


"Jadikan aku teman di luar, anggap aku istri di dalam rumahku. Jadi tidak akan ada yang pernah mengetahui status hubungan kita. Temui aku di saat kak Rafa butuh sandaran. Tetap semangat jalani harimu. Ingat aku istrimu akan selalu mendukungmu. Aku tidak akan menuntut apa-apa? Sebaliknya jangan pernah menuntut apa-apa dariku? Aku akan berbakti sebagai istri yang baik. Namun izinkan aku menjaga kesucian diriku. Sampai hati kak Rafa memilihku sepenuhnya!"


"Kak Rafa, aku tidak butuh bukti! Hatiku akan merasa siap, di saat hati kita telah terpaut! Semua akan tepat, di saat dirimu tidak takut lagi akan dunia ini!" ujar Hana, Rafa menggeleng lemah. Dia tidak menyangka, jawaban Hana akan sangat menyakitkan. Rafa tidak bisa mengubah keputusan Hana.


"Aku mencintaimu Hana, aku mencintaimu! Aku tidak ingin jauh dari dirimu! Aku ingin memelukmu!" ujar Rafa lirih, Hana berdiri menghampiri Rafa. Hana menempelkan kepala Rafa pada perutnya. Hana memeluk kepala Rafa mesra. Dia mencium puncak kepala Rafa. Harum shampo Rafa mampu menggetarkan hati Hana yang beku.


"Kak Rafa, bukan laki-laki lemah. Jangan hancur hanya karena satu wanita sepertiku. Sungguh aku bukan wanita yang layak mendapatkan kegelisahanmu. Hiduplah dengan bahagia. Kita akan selalu bersama. Aku istrimu bukan orang lain. Namun lemahnya hatiku dan jiwaku. Takkan mampu menerima laki-laki dengan kelebihan sepertimu. Semua terasa mustahil, meski sekarang cinta itu samar. Aku yakinkan padamu, hatiku hanya memilih dan milikmu. Percayalah jiwaku menjadi bagian dirimu. Takkan ada laki-laki lain selain dirimu!" ujar Hana mesra, Rafa menenggelamkan kepalanya dalam pelukan Rafa. Tangannya memeluk perut Hana erat. Dekapan Hana hangat terasa oleh Rafa.

__ADS_1


"Kak Rafa, Hana harus pulang. Jika terlalu sore, takutnya Hana kemalaman. Lagipula nanti malam ada pengajian rutin. Jadi Hana harus segera pulang!" pamit Hana, dia menarik tangan Rafa. Dia mencium punggung tangan Rafa. Sebagai berkah dan ridho seorang suami. Santun Hana membuat hati Rafa teriris. Dia memiliki masa lalu yang kelam. Namun Hana tetap meminta ridhonya. Sebenarnya bukan Hana yang tak pantas untuk Rafa. Sebaliknya Rafa yang merasa beruntung memiliki Hana.


"Hana, aku antar pulang! Aku ingin istirahat di rumah. Aku merindukan wangi tubuhmu, nyaman pelukanmu!" ujar Rafa, Hana menggeleng lemah. Dia meletakkan sebuah kunci rumah.


"Aku bisa pulang sendiri, terima kasih. Ini kunci rumah Hana. Kak Rafa bisa datang kapan saja? Pintu rumah Hana selalu terbuka untuk kak Rafa!"


"Hana, kamu sudah memberikan kunci rumahmu. Lalu kapan kamu berikan kunci pintu hatimu? Agar aku bisa masuk dan tinggal di sana!" ujar Rafa, Hana tersenyum.


"Pintu hatiku tidak pernah aku kunci bila itu untuk kak Rafa. Namun sepertinya kak Rafa belum bisa menyentuh hati wanita lemah ini. Aku menganggapmu sebagai seorang imam dunia akhirat. Tidak hanya hati, seluruh tubuhku milikmu. Jika kamu menginginkannya, ambilah aku tidak akan melarang!"


"Bukankah kamu tadi menolak, lalu sekarang kenapa menyuruhku mengambilnya? Aku bisa salah paham!"


"Ambilah sebagai hak seorang suami, bukan laki-laki yang aku cintai!" ujar Hana santai. Dia berlalu meninggalkan Rafa yang diam mematung. Rafa merasa bahagia sesaat, sekejap berikutnya di jatuh ke dasar tanah.


"Cukup satu senyummu, mampu membuatku bahagian. Tidak ada lagi yang ingin aku lihat. Wajah teduh dengan seutas senyum. Semangatku dalam melangkah, aku akan selalu merindukanmu!" batin Rafa. Punggung Hana telah menghilang, tapi harum tubuhnya masih melekat di hidung Rafa.


...☆☆☆☆☆☆...

__ADS_1


TERIMA KASIH😊😊😊


__ADS_2