KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Sakit Maag


__ADS_3

Malam ini Faiq kebagian jaga malam. Biasanya setiap dokter akan mendapat giliran jaga. Malam ini Faiq yang bertugas menjadi dokter jaga di rumah sakit. Inilah pengabdian sebagai seorang dokter. Disaat orang lain sedang tidir dengan mata lelah seorang dokter harus tetap siaga. Siap merawat pasien dalam kondisi apapun.


Faiq melihat jam ditangannya sudah menunjukkan pukl 00.00 wib. Tepat tengah malam, tidak lebih dan tidak kurang. Kedua mata Faiq mulai merasa mengantuk, sebab itu Faiq memutuskan keluar menatap langit malam ini. Sekadar ingin mehilangkan rasa kantuk yang mulai terasa. Faiq berjalan keluar dari ruang IGD. Suasana rumah sakit sangat sepi.


Faiq berdiri di bawah langit malam yang gelap. Sembari mendongak Faiq melihat langit malam. Terasa sepi dan sunyi, membuat hati dan jiwa Faiq menjadi tenang. Angin malam bertiup sangat kencang, menyentuh wajah Faiq dan menembus jas putih kebanggaannya. Meninggalkan rasa dingin yang seakan menusuk tembus kulit Faiq.


Lama Faiq merasakan perpaduan alam yang sangat nyata. Langit yang terlihat indah dengan hadirnya bintang-bintang kecil. Langit yang terlihat sangat menakutkan, ketika cahaya tak lagi menyinarinya. Angin yang terasa begitu dingin menembus tulang. Sedingin hatinya yang tak ingin merasakan cinta. Meski sesungguhnya rasa itu nyata dan mulai terasa. Namun dengan tegas Faiq menepisnya. Bukan demi sebuah gengsi, tapi demi sebuah cita-cita yang masih belum terwujud.


Hampir setengah jam Faiq berdiri merasakan angin malam. Dia seakan enggan masuk ke dalam ruang IGD. Rasa kantuk lenyap tak tersisa, kini hanya dingin yang mulai menelisik ke seluruh tubuh Faiq. Lama Faiq terdiam di bawah langit malam. Lalu terlihat sebuah mobil masuk ke arean rumah sakit dan berhenti tepat di depan ruang IGD. Sesampainya di depan ruang IGD, salah satu penumpang turun. Seketika kedua bola mata Faiq membulat sempurna. Dia tidak menyangka jika mobil tersebut tak lain mobil Adrian. Ayah dari Davina Nur Latifa.

__ADS_1


Segera Faiq berlari mendekat, ada perasaan cemas memikirkan siapa yang sakit? Jika bukan keadaan darurat. Tentu Adrian tidak akan datang selarut ini. Sesampainya di samping mobil, keterkejutannya semakin menjadi. Ketika kedua bola mata indahnya melihat Davina yang terbaring lemah tak sadarkan diri. Faiq melihat Diana yang terus menangis sembari memangku Davina. Entah keberanian atau kecemasan yang terlalu besar. Faiq menggendong Davina menuju IGD. Bukan menunggu perawat yang akan membawa Davina ke ruang IGD.


Diana dan Adrian melongo melihat sikap heroik Faiq. Jauh dari kata dingin dan tidak peduli. Dengan penuh kecemasan, Faiq membawa Davina masuk ke dalam ruang IGD. Dengan telaten Faiq memeriksa kondisi Davina. Diana dan Adrian menunggu di luar ruangan. Faiq berusaha setenang mungkin merawat Davina. Hampir setengah jam Faiq melakukan pemeriksaan.


Kecemasan Faiq seolah membuatnya lupa akan batasan yang ada. Faiq mencoba memberikan pertolongan sebisa mungkin. Agara Faiq bisa melihat Hana terbangun dan sadar. Setelah memberikan infus dan suntikan obat. Akhirnya Davina tersadar, dengan suara lirih dia meminta air pada suster. Davina berusaha mengerjapkan kedua mata indahnya. Dia melihat jelas bayangan Faiq.


"Kenapa aku merasa ada Faiq? Apa laki-laki kutub itu sedang mengikutiku. Tapi bukankah aku ada di rumah. Kenapa aku masih harus bertemu Faiq si kutub!" ujar Davina melantur, suster yang menjaga Davina tersenyum. Dia mendengar Davina menganggap Fathan si kutub. Faiq langsung menatap tajam ke arah perawat, dengan menunduk merasa bersalah. Perawat memutuskan untuk pergi mencari infus yang baru.


"Awwwss, sakit!" teriak Davina kesakitan, Faiq membungkuk menatap kedua mata Davina tajam. Hembusan napas Faiq menyentuh lembut pipi Davina. Suara detak jantung Davina terdengar nyata oleh Faiq. Lama keduanya saling menatap, sangat dekat dan intim. Faiq mengangkat wajahnya menjauh dari Davina.

__ADS_1


"Lain kali kalau ingin bunuh diri jangan tanggung-tanggung. Sudah tahu memiliki riwayat penyakit maag, masih saja mengkonsumsi makanan pedas. Memangnya apa yang coba kamu buktikan dengan mengkonsumsi makanan pedas. Kamu menjadi seorang mahasiswa, bukan semakin. pintar tapi malah semakin bodoh. Kamu sengaja ingin sakit, agar mendapat perhatianku!" ujar Faiq ketus, Davina menggeleng dengan sisa tenaganya. Tubuhnya benar-benar lelah. Dia seakan tidak sanggup lagi bernapas. Davina sudah puluhan kali keluar masuk kamar mandi. Sebenarnya bukan sengaja Davina mengkonsumsi sambal. Tadi sore tanpa sengaja teman kampusnya membeli bakso. Entah kenapa Davina serasa ingin memakannya juga? Akhirnya dia ikut makan bakso semangkok berdua dengan temannya. Sensasi makanan pedas, baru pertama kali Davina mencobanya. Dengan lahap dia dan temannya memakan bakso sampai habis.


Sesampainya di rumah, Davina mulai merasa mual. Sakit perutnya terasa seperti ditusuk jarum. Davina harus merasakan bolak-balik ke kamar mandi. Sampai akhirnya Diana menemukan Davina pingsan dan harus segera dilarikan menuju rumah sakit. Kebetulan juga Faiq bertugas jaga malam ini. Dengan penuh ketelatenan dan ketenangan Faiq merawat Davina. Faiq merasa cemas melihat Davina yang lemas dan tak sadarkan diri.


"Maaf, jika aku merepotkanmu. Sungguh aku tidak sengaja mengkonsumsi makanan pedas. Awalnya aku hanya ingin mencoba, tapi malah aku kebablasan. Aku tergiur akan rasa pedas yang tidak pernah aku rasakan!" tutur Davina lemah, Faiq diam tak menyahuti. Dengan tatapan dingin, Faiq menatap Davina. Seakan ingin mengataka pada Davina. Bahwa dia tidak pernah mencemaskan Davina.


"Kamu salah jika berpikir aku cemas. Bukan aku yang mencemaskanmu. Tante Diana dan om Adrian yang bingung memikirkan dirimu. Lain kali pikirkan orang tuamu. Saat kamu akan terluka. Bukan siapa yang akan terluka, tapi mereka orang tuamu. Aku tidak ada hubungannya denganmu. Sekarang istirahatlah, kamu akan aku pantau terus. Baru kali ini aku melihat, ada orang sehat yang ingin sakit!" ujar Faiq ketus, lalu pergi meninggalkan Davina yang menunduk lesu. Entah kenapa setiap kali bertemu dengan Faiq. Davina selalu dalam masalah.


"Davina, kamu baik-baik saja!" sapa Rey salah satu dokter muda layaknya Faiq. Dia adik sambung Annisa, putri Naufal dan Salsa. Kebetulan malam ini dia berjaga bersama Faiq. Terlihat Davina mengangguk pelan, seraya mengedipkan kedua mata indahnya. Faiq yang berjalan keluar berhenti, saat mendengar Rey menyapa Davina penuh rasa cemas. Faiq bisa melihat kecemasan yang berbeda. Kecemasan yang diisi dengan rasa cinta.

__ADS_1


"Ternyata kamu ingin sakit, hanya demi bertemu Rey. Sungguh pengorbanan yang takkan sia-sia. Lebih baik mulai besok kamu dirawat Rey. Agar kamu tidak melukai dirimu!" ujar Faiq, Rey mengangguk mengerti. Davina menelan ludahnya kasar. Ada rasa sesak, saat Faiq mengira sakitnya hanya demi bisa bertemu Rey. Tanpa menoleh lagi, Faiq meninggalkan Rey dan Davina di ruang IGD. Hanya punggung Faiq yang terlihat oleh Davina.


"Sesungguhnya hatimu terbuat dari apa? Kenapa kamu selalu salah paham padaku? Harus seperti apa aku menjelasakan? Aku bukan Davina yang dulu. Aku benar-benar sakit, Bukan hanya karena ingin bertemu Rey. Dia bukan siapa-siapa aku? Aku ilkhlas menerima sikap dinginmu. Tapi jangan pernah meragukan rasa sakitku!" batin Nissa pilu.


__ADS_2