
"Hana sayang, kamu sedang membuat apa? Sejak tadi kamu tidak keluar dari dapur!" Ujar Rafa lirih, Hana menoleh. Dia melihat Rafa berjalan perlahan ke arahnya.
Hana mengacuhkan kedatangan Rafa. Tangannya terus bekerja, Hana sedang membuat makan malam. Sebentar lagi makan malam, sedangkan Davina dan Annisa belum pulang. Sebab itu Hana sendiri yang akan membuat makan malam.
Rafa mengamati Hana yang terus sibuk mengiris sayuran. Seketika Rafa terdiam, mengingat kenangan dibalik makanan sederhana yang kini dipersiapkan Hana. Sejak dulu Rafa selalu menyukai masakan Hana. Dari masakan pula, Rafa tertarik pada Hana.
"Sayang, aku ada disini. Kenapa kamu mengacuhkanku?" Ujar Rafa, seraya memeluk Hana erat. Rafa menyandarkan kepalanya di bahu Hana. Mencium harum rambut Hana yang masih basah.
"Kak Rafa, aku mohon lepaskan. Kita sedang di dapur. Sebentar lagi anak-anak pulang. Aku tidak sanggup melihat mereka lagi. Jika sampai sikap kak Rafa dilihat mereka!" Ujar Hana lirih, sembari meronta ingin melepaskan pelukan Rafa.
Namun tenaga Rafa terlalu kuat, bukan melepaskan pelukannya. Rafa malah semakin erat memeluk Hana. Lagi dan lagi Hana pasrah menerima perlakuan Rafa. Meski usia mereka tak lagi muda. Rafa masih saja bersikap manis, seolah keduanya masih remaja. Sebaliknya Hana mulai kewalahan dengan sikap Rafa yang terkadang melebihi batas wajar.
Tak berapa lama tangan Rafa mulai bergerilya. Menelusup ke seluruh bagian tubuh Hana. Terdengar rintihan lirih Hana bersamaan dengan geliat geli Hana. Rafa semakin menjadi, seakan suara ******* Hana memintanya lebih. Rafa mulai menyusup di belakang tengkuk Hana. Mencium lembut kulit Hana yang putih. Mengendus mesra rambut Hana yang harum.
Braaaakkk
Suara gebrakan tangan Hana mengagetkan Rafa. Seketika Rafa keluar dari hijab panjang Hana. Raut wajah Rafa pias, dia ketakutan mendengar amarah Hana. Sedangkan Hana merasa berhasil telah menghentikan sikap konyol Rafa.
"Sayang, aku baru saja mulai!" Ujar Rafa, Hana menempelkan telunjuk tepat di tengah bibir merahnya. Hana mencoba memberikan pengertian pada Rafa.
Hana tidak akan menolak melakukan kewajiban seorang istri. Jika itu di tempat yang benar, bukan di dapur yang mungkin dilewati oleh orang lain. Hana terlihat tegas dalam segala hal. Sontak saja nyali Rafa menciut. Lebih baik dia menahan hasrat, daripada dia harus melihat amarah Hana seharian.
"Sekarang kak Rafa keluar, biarkan aku menyelesaikan ini. Nanti malam aku janji, akan mengikuti kemauan kak Rafa!" Ujar Hana, Rafa tersenyum sumringah. Hana hanya bisa menggelengkan kepala tak percaya. Rafa sangat kekanak-kanakan.
"Sayang, kamu sudah berjanji. Jangan sampai kamu ingkari. Kita akan mrmbuatkan adik untuk Faiq. Aku kesepian setelah mereka dewasa!" Ujar Rafa sembarangan, Hana diam tak menyahuti. Hanya menggelengkan kepala yang bisa dilakuakan Hana. Berharap Rafa sadar akan usianya yang tak lagi muda.
"Terserah kak Rafa, asalkan kakak yang akan merawatnya. Aku sudah lelah merawat anak kecil. Sebentar lagi Vania dan Davina melahirkan. Lebih baik aku mengasuh putra mereka. Jadi kalau kak Rafa ingin adik buat Faiq. Kakak harus siap menjadi ibu dan ayah sekaligus!" Sahut Hana santai, Rafa melongo tak percaya. Hana tak lagi polos, dia bisa mengembalikan perkataan Rafa dengan sangat mudah.
__ADS_1
"Sayang!"
"Kak Rafa diam, tunggu di dalam. Aku segera selesai!" Ujar Hana menghentikan ocehan tidak penting Rafa.
Akhirnya Rafa kembali ke dalam rumahnya. Dia duduk di sofa ruang tengah. Sengaja dia menunggu Hana disana, karena letaknya yang tak begitu jauh dari dapur. Sedangkan Hana meneruskan memasak. Sebenarnya ada juru masak di rumah Hana, tapi terkadang Hana ingin memasak sendiri buat keluarga kecilnya.
"Papa, kenapa lesu?" Ujar Fathan, Rafa mendongak menatap Fathan yang baru saja turun dari kamarnya. Fathan tengah menggendong Gavi si tampan. Rafa menjulurkan tangannya. Berharap Gavi bersedia dipangkunya.
"Papa ingin adik buat Gavi, tapi mamamu malah acuh!" Ujar Rafa santai, sembari menimang Gavi. Sontak kedua bola mata Fathan membulat sempurna. Antara sadar dan tidak sadar. Fathan mencubit lengannya pelan, berharap perkataan Rafa hanya bercanda.
"Aawwwsss!" Teriak Fathan keras. Rafa menoleh heran, tapi Rafa memilih diam tak bertanya.
"Papa sedang bercanda, tidak mungkin papa ingin adik buat Faiq. Sedangkan sekarang papa memangku Gavi!" Ujar Fathan tak percaya, Rafa menggeleng lemah. Seakan dia tidak setuju perkataan Fathan. Rafa menghela napas panjang, dia kesal melohat orang-orang terutama Hana. Tidak percaya pada keinginannya.
"Sudahlah, bercanda atau tidak. Mama sudah memutuskan tidak akan menambah lagi. Dia akan membesarkan cucunya!" Ujar Rafa lirih, seolah kecewa dengan tanggapan Fathan.
"Fathan, tidak perlu dianggap serius perkataan papa. Dia sedang mengigau, tidak mungkin mama hamil lagi. Usia mama sudah tidak bisa melahirkan!" Teriak Hana menerangkan, Fathan mengangguk mengerti.
"Kalian tidak sayang papa!"
"Bukan kami tidak sayang, tapi mama sudah berumur. Resikonya sangat tinggi!" Ujar Fathan menerangkan. Rafa mengangguk mengalah, dia tidak lagi ingin berdebat tentang anak.
"Kak Rafa, kita sudah berumur. Sebentar lagi, kita akan memiliki cucu lagi. Jadi kita tidak akan sendirian. Cucu kita akan meramaikan rumah besar ini!" Ujar Hana, sembari duduk di samping Rafa.
Sontak Rafa mengembalikan Gavi pada Fathan. Rafa tidur di pangkuan Hana. Fathan hanya bisa menggeleng tak percaya. Melihat sikap Rafa yang sedikit aneh. Seakan Fathan melihat remaja yang sedang dimabuk cinta.
"Mama, ada dengan papa!" Bisik Fathan, Hana mengangkat kedua bahunya pelan. Jawaban atas ketidaktahuannya. Rafa mengacuhkan rasa penasaran Fathan. Dengan lembut Rafa menelusup ke dalam hijab Hana. Mencium lembut perut Hana yang tak lagi ramping.
__ADS_1
"Papa takut mama pergi. Semalam aku mendengar papa mengigau dalam tidur. Papa berteriak histeris memanggil mama!" Sahut Faiq, Hana menggeleng lemah.
"Ternyata mimpi semalam penyebabnya!" Sahut Hana lirih, Rafa mengangguk pelan.
"Kenapa kamu takut? Bukankah aku ada di sampingmu sampai saat ini!" Ujar Hana, Rafa duduk tepat di samping Hana. Sedangkan Faiq duduk di sebelah Fathan kakaknya.
"Aku takut masa laluku menjadi alasan kamu meninggalkanku!"
"Masa lalu apa? Memangnya papa pernah berselingkuh? Papa punya istri yang lain!" Sahut Faiq santai tanpa dosa. Seketika Fathan menyikut lengan Faiq. Isyarat meminta Faiq, untuk diam tak banyak bicara. Jika perkataannya hanya membuat suasana keruh.
Buuugghhh
"Jangan banyak bicara kamu. Memangnya kamu suka melihat papa dan mama bertengkar!" Ujar Rafa kesal, sesaat setelah melempar bantal sofa ke arah Faiq.
"Jika tidak, kesalahan apa yang dilakukan papa? Sampai papa takut kehilanhan mama!" Ujar Faiq santai.
"Aku tidak akan pergi, dulu atau sekarang. Fathan dan Faiq alasanku bertahan di sampingmu!"
"Kenapa kamu menerimaku apa adanya?" Ujar Rafa, Hana tersenyum simpul.
"Karena aku yakin kamu jodohku!" Ujar Hana tegas.
"Mama, kesalahan papa apa?" Teriak Faiq.
"Papa tidak pernah salah, karena masa lalu ada sebagai pembelajaran. Bukan alasan kita menghakimi orang lain!"
"Mama sangat mencintai papa!" Goda Fathan, Hana menggeleng lemah.
__ADS_1
"Percaya, hanya itu rasaku pada papamu!" Sahut Hana lantang