
"Annisa, bisa mama masuk? Apa Gavi sudah tidur?" ujar Hana lirih, Annisa menoleh ke arah Hana. Terlihat Hana berdiri di depan pintu kamarnya.
Hana melihat Annisa sedang menidurkan Gavi. Sejak sore Hana berusaha untuk bertemu dan bicara berdua dengan Annisa. Namun waktu seolah yak pernah ada untuk itu terjadi. Selalu saja ada alasan yang membuat keduanya susah bicara satu dengan yang lain. Setelah makan malam, Hana menyempatkan diri menemui Annisa. Sekadar ingin menjelaskan sesuatu yang terjadi diantara Fathan dan Nuur. Kejadian sore tadi sudah di dengar oleh Hana. Pertemuan Fathan dan Nuur seolah menjadi jalan terbukanya sebuah rahasia yang tidak pernah terkuak sebelumnya.
Hana sudah mendengar dari Vania. Pertemuan Fathan dan Nuur yang dilihat oleh Annisa. Bahkan Vania mengatakan niat Hana yang pernah ingin menjadikan Nuur menantunya. Tasbih yang pernah diberikan Hana pada Nuur. Merupakan tasbih yang dibuat sendiri oleh Hana. Sedangkan Hana tidak pernah memberikan apapun pada Annisa. Sebelum Annisa berpikir sesuatu yang salah. Hana sengaja menemuinya dan menjelaskan semuanya pada Annisa. Bukan untuk membenarkan diri. Melainkan mengatakan kebenaran yang tak pernah terungkap.
"Silahkan masuk, kebetulan Gavi sudah tidur sejak tadi!" ujar Annisa lirih, Hana mengangguk mengerti. Dengan perlahan Hana masuk ke dalam kamar Annisa. Dia melihat Gavi cucu pertamanya tertidur pulas. Sedangkan Fathan belum datang dari kantor.
Annisa tersenyum ke arah Hana. Dia melihat Hana sedang memperhatikan kamarnya. Meski mereka tinggal dalam satu atap. Hana bukan pribadi yang suka ikut campur. Apalagi tentang urusan pribadi putra-putranya. Hana selalu diam mengikuti perkataan mereka. Sebab itu Hana jarang datang ke kamar Fathan. Bila tidak benar-benar ada kepentingan. Hal yang sama terjadi saat ini. Hana sangat ingin bertemu dengan Annisa. Sebab itu dia datang menemui Annisa ke kamarnya. Sekadar ingin melihat kondisi cucunya sekaligus Annisa menantunya. Sumber kebahagian Fathan yang tak lain putra pertamanya
Hana mengedarkan pandangannya ke seluruh bagian kamar Annisa. Kamar sangat rapi dan nyaman. Terlihat foto pernikahan sederhana Fathan dengan Annisa menempel di dinding kamarnya. Hana merasa nyaman duduk di dalam kamar Annisa. Sejenak Hana lupa akan tujuannya datang ke rumah ini.
"Annisa, kebetulan Gavi sudah tidur. Bisa tidak mama bicara denganmu sebentar. Ada beberapa hal yang ingin mama katakan padamu. Kita bicara di balkon kamarmu saja. Agar tidak mengganggu Gavi!" ujar Hana, Annisa mengangguk mengiyakan permintaan Hana.
Seketika Annisa membereskan tempat tidur. Membuat Gavi senyaman mungkin. Agar Gavi tidak terbangun dan dia bisa bicara berdua dengan Hana. Annisa bukan hanya menantu bagi Hana. Keberadaannya telah membuat rasa yang berbeda di hati Hana. Meski Annisa bukan darah dagingnya. Namun dalam darah Annisa mengalir darah Naufal. Laki-laki yang pernah menjadi sahabat sekaligus penolong dalam hidupnya. Satu-satunya laki-laki yang sangat menghargai Hana dengan cintanya. Laki-laki yang pernah memegang teguh rasa cinta pada seorang Hana Khairunnisa.
Hana berjalan menuju balkon kamar Annisa. Hana berdiri menatap langit yang penuh dengan bintang. Malam gelap terasa hangat, ketika ada cahaya bintang yang menyinarinya. Takkan ada kata sepi, tatkala langit masih bersama bintang dan bulan. Langit selalu memberikan ketenangan pada Hana. Tak ada cara Hana menenangkan hati selain menatap langit. Dalam indahnya langit seakan ada obat penenang bagi hati Hana yang kacau. Langit tidak pernah membuat Hana kecewa. Selalu saja Hana tenang sesaat setelah melihat dalam gelap dan indahnya langit.
Hana bersandar pada teralis balkon, Annisa berdiri di samping Hana. Annisa melihat jelas kegelisahan hati Hana. Entah apa yang akan dikatakan Hana? Satu hal yang pasti itu bukan sesuatu yang biasa. Annisa bisa merasakan keseriusan yang hendak dibicarakan Hana. Annisa melihat sikap tenang Hana yang seolah menyimpan badai yang begitu besar. Annisa hanya bisa sabar menunggu Annisa bicara. Tidak ada yang bisa Annisa lakukan. Lama keduanya terdiam menatap langit malam ini. Sekilas terdengar Hana menghela napas panjang
"Mama, apa Annisa melakukan kesalahan? Apa yang membuat mama begitu gusar? Mungkinkah tanpa sengaja, Annisa telah menyinggung mama!" ujar Annisa cemas, Hana menggeleng lemah.
__ADS_1
Setelah lama menunggu, Hana yang terus diam dan dingin dengan sikapnya. Akhirnya Annisa memulai pembicaraan. Terus sabar dan berpura-pura tenang seolah tak lagi mampu dilakukan Annisa. Sebab itu dengan satu tekad. Annisa mulai bicara dengan Hana. Mencari tahu alasan kedatangan Hana ke kamarnya. Mencari jawaban dari rasa penasarannya. Annisa butuh jawaban, bukan diam menanti eksekusi dari Hana. Sesuatu yang tidak pernah diinginkan Annisa atau Hana.
Lalu menoleh ke arah Annisa. Tangan Hana mengelus wajah cantik Annisa. Lalu menaarik tangan Annisa duduk di kursi santai yanh ada di balkon kamar Annisa.
Hana duduk berhadapan dengan Annisa. Tangan Hana menggenggam erat tangan Annisa. Lalu menepuk tangan Annisa pelan. Sikap Hana semakin membuat Annisa cemas. Sejujurnya Annisa bingung melihat sikap Hana malam ini. Annisa pribadi yang tidak mudah ditebak. Namun Hana jauh lebih sulit dipahami.
"Sayang, mama menemuimu, karena mama ingin meminta maaf padamu. Mama bersikap tidak adil padmu!" ujar Hana lirih, Annisa termenung tidak mengerti maksud perkataan Hana.
Annisa melihat rasa bersalah Hana. Kedua mata Hana menyimpan sebuah penyesalan yang tidak dimengerti oleh Annisa. Lalu terdengar suara napas panjang Hana. Seakan beban berat sedang Hana pikul. Entah apa yang sebenarnya terjadi. Annisa benar-benar tidak mengerti.
"Apa yang membuat mama merasa bersalah? Mama tidak bersalah padaku, jadi tidak ada yang perlu aku maafkan. Mama menjadi mertua layaknya ibu kandungku. Aku tidak pernah menganggap mama salah. Sebaliknya darimu aku belajar arti menyayangi. Jangan pernah meminta maaf padaku. Sebaliknya akulah yang harus meminta maaf padamu!" ujar Annisa lirih, lalu bersimpuh di depan Hana.
Annisa berlutut di depan Hana, dia mencium punggung tangan Hana. Menciumnya dengan sangat lembut, lalu tidur dalam pangkuan Hana. Annisa bersikap manja pada Hana. Dengan lembut Hana mengusap kepala Hana. Sejak kecil Hana sudah menganggap Annisa layaknya putrinya sendiri.
Annisa mendengar alasan Hana memberikan tasbih pada Nuur. Jadi bukan sebuah kesalahan jika Hana memberikannya pada Nuur. Agar Nuur mencari jati diri dan imannya kembali. Hana tidak salah meski memberikannya tanpa mengatakan dulu pada Annisa.
"Mama tidak salah padaku. Mama berhak memberikan apapun pada siapapun? Termasuk pada Nuur. Aku tidak akan mengelak bila aku cemburu dan marah. Namun aku masih bersyukur memiliki keluarga yang baik disini. Aku menemukan keluarga baruku. Aku mohon jangan meminta maaf, karena mama tidak salah!" ujar Annisa, Hana mengangguk mengerti.
Hana kembali termenung menatap langit malam ini. Keindahan langit seolah takkan pernah tergantkan oleh langit biru esok hari. Hana mulai mengingat, hari pertama Hana bertemu Annisa. Gadis kecil yang menganggap dirinya sebagai ibu yang selalu dirindukan oleh Annisa kecil.
FLASH BACK
__ADS_1
"Tante Hana!" sapa seorang anak perempuan manis kira-kira berusia 6 atau 7 tahun. Dia berlari ke arah Hana dengan merentangkan tangan. Hana menerima pelukan hangat dengan wajah penuh keheranan. Hana merasa tidak pernah mengenal anak manis yang berteriak memanggilnya.
"Hai anak manis, siapa namamu?" sapa Hana ramah setelah anak itu melepas pelukannya. Kedua tangan mungil memegang tangan Hana erat. Ada suatu ikatan yang tak terlihat, sebuah kasih sayang yang tak pernah bisa diduga. Hana menatap wajah anak perempuan di depannya. Meski masih kecil, dia sudah belajar menggunakan hijab. Hati Hana teduh saat menatap wajah polos dengan iman yang melekat pada si anak.
"Maaf tante, aku lupa kita belum berkenalan. Aku Annisa, salam kenal tante!" ujarnya sembari mencium punggung tangan Hana. Diana melihat interaksi Hana dengan Annisa. Layaknya hubungan antara anak dan ibu. Hati Hana terenyuh saat bibir mungil Annisa menyentuh telapak tangannya. Ada rasa rindu akan hadirnya putra. Perasaan seorang ibu menelisik ke dalam hati Hana.
"Annisa sayang, kamu cantik dan pintar! Tapi dimana orang tuamu? Apa tante mengenal mereka?" ujar Hana, Annisa mengangguk dengan senyum. Hana terdiam memikirkan putri siapa yang sedang menyapanya?
"Anak cantik, ada tante Diana disini! Kenapa hanya tante Hana yang dipeluk?" ujar Diana lirih, Annisa menggeleng lemah. Diana terperangah melihat gelengan Annisa. Bagaimana mungkin anak sekecil Annisa? bisa memilih ingin memeluk siapa?
"Aku hanya ingin memeluk tante Hana, karena aku ingin tante Hana menjadi mamaku!" ujarnya santai, Hana dan Diana saling menoleh. Mereka berdua terkejut mendengar perkataan Annisa. Hana baru pertama kali bertemu dengan Annisa, tapi anak kecil ini mengatakan ingin Hana menjadi mamanya.
"Sayang, memangnya mama Annisa kemana? Tante Hana tidak mengenal papa Annisa, tidak mungkin tante Hana menjadi mamamu!" ujar Hana ramah, dia berkata selembut mungkin agar Annisa tidak terlalu kecewa.
"Aku hanya ingin tante Hana, bukan tante yang lain!" ujar Annisa, Hana mencium kedua tangan mungil Annisa. Hana berusaha memahami keinginan Annisa.
"Annisa bisa menganggap tante Hana sebagai mama. Sekarang Annisa senang!" ujar Hana, Annisa menggeleng lemah sembari menunduk. Lagi dan lagi Diana dan Hana saling menoleh. Mereka heran dengan sikap Annisa yang seolah sangat mengenal Hana. Sebaliknya Hana tak merasa mengenal Annisa.
FLASH BACK OFF
"Annisa sejak pertama kali kamu memanggjl nama mama. Dan berharap kelak mama akan menjadi orang tuamu. Sejak itu mama menganggapmu layaknya putri mama. Tasbih yang mama berikan pada Nuur. Tidak sebanding dengan kasih sayang mama padamu. Fathan hidup mama dan kini menjadi alasan hidupmu!" ujar Hana.
__ADS_1
"Fathan segalanya dalam hidup mama. Dia hadiah terbaik yang mama berikan padamu. Kamu kini napas dan bahagia Fathan. Sebaliknya Fathan bak darah yang mengalir dalam aliran darahmu. Mama mohon lupakan masa lalu Fathan. Jangan jadikan masa lalu Fathan sebagai jalan yang membuat kalian terpisah. Mama mohon padamu!" ujar Hana lirih, Annisa mengangguk pelan.
"Tidak pernah aku meragukan kak Fathan. Dia segalanya dalam hidupku. Masa lalunya bukan menjadi alasan aku dan dia menjauh. Sebaliknya kami akan bersama dengan terus saling menggenggam tangan. Mama percayalah, kami akan baik-baik saja. Tidak akan kami terpecah. Cinta kami tidak serapuh itu!" ujar Annisa lirih dan tegas.