KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Keteguhan yang Diragukan


__ADS_3

Adrian membawa Rafa ke apartementnya. Sengaja dia tidak membawa Rafa pulang ke rumahnya. Adrian tidak ingin melihat Rafa marah. Kejadian semalam benar-benar takkan mampu diterima oleh Rafa. Adrian sangat mengenal Rafa, sebesar apa cintanya pada Hana? Namun perkataannya semalam sangat keterlaluan.


Pengaruh minuman keras sangat besar, Rafa mengatakan sesuatu yang mungkin disesalinya seumur hidup. Saat Rafa sadar, Adrian yakin Rafa akan brutal dan kalut. Bila mengetahui Hana telah pergi dari kehidupannya. Amarah Rafa akan sulit dikendalikan.


Kejadian di pesta semalam menjadi trending topik majalah bisnis pagi ini. Headline majalah tersebut tak lain foto Rafa dan Sesil yang sedang berdansa mesra. Banyak pengusaha yang memperkirakan penyatuan dua perusahaan besar. Adrian terkejut saat membaca majalah bisnis pagi ini.


Sebaliknya di kamar Rafa sudah sadar dari mabuknya. Rafa terperanjat saat mengetahui, terbangun bukan di kamarnya dan tanpa Hana di sampingnya. Segera Rafa turun dari tempat tidur. Dia keluar mencari tahu, siapa pemilik kamar yang ditempatinya?


"Kamu sudah bangun Rafa! Minumlah jus jeruk ini. Sebagai penetral rasa mabukmu!" ujar Adrian santai, Rafa memegang kepalanya yang terasa pusing. Rafa memijit pelipisnya pelan, dengan perlahan Rafa menerima jus jeruk dari Adrian.


"Kenapa aku ada di apartementmu? Dimana Hana? Apa yang terjadi?" cecar Rafa yang mulai cemas, Adrian berjalan menuju sofa. Rafa meneguk habis jus jeruk, dia memang butuh itu untuk menghilangkan efek alkohol dalam tubuhnya. Setelah merasa sedikit segar, Rafa menyusul Adrian yang berada di ruang tamu.


"Duduklah dulu Rafa, tenangkan dirimu sebelum aku menceritakan semuanya padamu!" ujar Adrian santai seolah tidak terjadi sesuatu semalam. Rafa melihat Adrian mengutak-atik laptopnya. Seakan ada masalah penting, kegusaran Adrian mampu ditangkap Rafa. Persahabatan Rafa dan Adrian, layaknya persahabatan Hana dengan Diana.


"Aku sedang menerima surat pengunduran diri Diana. Dia mengundurkan diri sebagai sekretarismu. Diana mengembalikan semua fasilitas yang telah kantor berikan!" ujar Adrian lirih, Rafa melihat rasa kehilangan seorang Adrian. Mungkin ada rasa cinta yang tumbuh di hati Adrian untuk Diana.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Hana tidak ada, Diana tiba-tiba mengundurkan diri. Kamu memintaku tenang. Adrian katakan yang sebenarnya, sebelum aku semakin frustasi!" ujar Rafa kesal, Adrian menghidupkan laptop di depannya. Sebelumnya dia memberikan majalah yang mengupas pesta semalam. Dimana Rafa dan Sesil menjadi pasangan yang piling romantis.


Kedua mata Rafa membulat sempurna, melihat cover majalah yang menunjukkan dirinya memeluk Sesil mesra. Rafa melempar majalah dengan sekuat tenaga. Dia marah dan kesal, Rafa takut Hana salah paham padanya.


BUKKK


"Brengsek, siapa yang berani menerbitkan majalah ini? Aku akan menuntut mereka. Jika Hana melihatnya, dia pasti terluka. Aku tidak akan memaafkan mereka. Jika Hana marah dan meninggalkanku!" ujar Rafa kesal, Adrian tersenyum sinis mendengar perkataan Rafa. Lalu dengan santai Adrian memutar kejadian semalam.


Rafa melihat semua yang terjadi, kejadian demi kejadian. Setiap perkataan kasar Rafa pada Hana, hinaan Rafa pada Hana. Bahkan tangisan Hana di luar restoran terlihat dan terdengar jelas oleh Rafa. Air mata Hana dan keterpurukannya, luka dan sakit hati Hana. Semua berputar di depan Rafa.


Rafa meradang melihat semua yang terjadi. Dengan mengepalkan tangan, Rafa memukul meja kaca di depannya.


Bugh Bugh Bugh


Darah segar mengalir dari telapak tangannya. Dengan sekuat tenaga Rafa melempar laptop yang menyimpan semua sikap kasarnya pada Hana. Adrian membiarkan Rafa melakukan apapun yang dia inginkan. Percuma melarang atau menahan Rafa. Hanya akan menambah kekesalan Rafa. Adrian sangat paham sifat Rafa saat dia marah.


"Rafa, amarahmu tidak akan membawa Hana kembali! Apa yang terjadi semalam telah menghancurkan harga diri Hana? Lebih baik lepaskan Hana, itu akan membuatnya bahagia! Takkan ada lagi yang merendahkannya. Setidaknya tidak akan yang meragukan kesucian cintanya padamu!" ujar Adrian santai, Rafa mengangkat kra baju Adrian. Rafa siap melayangkan tinju pada Adrian.

__ADS_1


"Kamu ingin memukulku, pukul Rafa! Puaskan amarahmu, sama halnya semalam kamu puas setelah menghina dan mengusir Hana!" ujar Adrian marah, Rafa melepaskan cekikannya. Dia mengusap wajahnya kasar, Rafa frustasi setelah mengetahui semua kenyataan yang terjadi semalam


"Hanaaaaaaa!" teriak Rafa sekencang mungkin. Dia ingin menjerit sekuat tenaganya. Rafa hancur seiring kenyataan dirinya yang telah menyakiti Hana. Wanita yang paling dicintainya. Adrian memeluk Rafa, mencoba menenangkan Rafa. Meski semua sudah terlambat, Adrian sudah mengetahui jika kemungkinan Hana dan Diana akan meninggalkan kota ini.


...☆☆☆☆☆...


Setelah tenang Rafa mengajak Adrian mencari Hana. Rafa akan meminta maaf, jika perlu dia akan berlutut di depan Hana. Asalkan Hana bersedia menerima permintaan maafnya. Rafa akan melakukan apapun! Dia tidak ingin kehilangan dua orang yang berarti dalam hidupnya. Rafa akan berjuang sekuat tenaga.


"Diana!" sapa Adrian saat melihat Diana keluar dari tempat kostnya. Seketika Diana menghindar, dia tidak ingin bertemu dengan Adrian atau Rafa. Dengan sigap Adrian menahan tangan Diana.


"Lepaskan tanganku, kamu tidak berhak memegang tanganku. Aku bukan bawahanmu lagi!" teriak Diana emosi, Adrian tetap tenang. Kedatangannya bukan hanya mengantar Rafa. Namun Adrian ingin memastikan kondisi Diana. Sekadar ingin menghapus kecemasan dalam hatinya.


"Diana aku datang bukan sebagai bosmu. Aku datang sebagai sahabat dari Rafa. Setidaknya beri Rafa kesempatan berbicara dengan Hana sebentar! Aku sudah tahu rencana kepergian kalian berdua!" pinta Adrian memelas, Diana melihat kesungguhan dimata Adrian. Ada rasa iba dihati Diana.


"Apa yang ingin kalian ketahui? Cepat katakan, aku harus pergi!" ujar Diana sinis, Adrian menoleh pada Rafa yang berada di dalam mobil. Sengaja Adrian meminta Rafa menunggu, setelah Diana setuju untuk berbicara. Rafa akan turun menemui Diana sendiri.


"Diana, aku mohon pertemukan aku dengan Hana. Apa yang aku katakan semalam di luar kendaliku? Beri tahu aku dimana Hana! Aku mohon padamu!" pinta Rafa memelas, dia menangkupkan kedua tangan di depan dadanya. Diana diam membisu, lama Diana tidak membuka suara. Air mata Rafa menetes tanpa mampu dia tahan. Mungkin seorang laki-laki pantang menangis. Namun bayangan kepergian Hana, membuat hati Rafa sakit tak terkira.


"Maafkan aku, Hana tidak ada di sini. Semalam Hana memang tidur di sini. Dia menangis semalaman, setahuku kami baru tertidur dini hari. Tapi saat aku bangun, Hana sudah tidak ada. Dia pergi tanpa pamit padaku!" ujar Diana, Rafa menggeleng lemah. Seolah dia tidak percaya dengan perkataan Diana.


"Aku tidak berbohong, Hana pergi sejak pagi tadi. Aku berniat mencarinya, aku khawatir dengan kondisi kehamilannya. Semalam sempat terjadi kontraksi. Jika kalian tidak percaya, ini surat dari Hana!" ujar Diana lirih sembari memberikan sebuah kertas yang memang ditinggalkan Hana.


^^^to: Diana^^^


"Maaf Diana aku pergi tanpa pamit padamu. Aku tidak sanggup bila terus seperti ini. Untuk sementara aku akan pergi mencari ketenangan. Aku tidak akan lari dari masalah ini. Aku hanya butuh waktu untuk menetapkan hati. Sebagai seorang sahabat kamu telah banyak membantuku. Sangat tidak pantas bila aku meminta sesuatu, tapi jika boleh aku ingin meminta sesuatu darimu. Jangan pernah meninggalkan perusahaan Prawira. Jagalah kak Rafa demi diriku. Ini permasalahanku tidak ada sangkut pautnya denganmu. Jadi jangan pernah korbankan karirmu demi diriku. Terima kasih atas semua kasih sayangmu!"


^^^From: Hana^^^


Rafa membaca tulisan tangan Hana. Air matanya membasahi kertas putih itu. Adrian memeluk tubuh Rafa yang rapuh. Diana melihat sebuah penyesalan yang takkan ada gunanya.


"Sekarang kalian percaya, Hana sudah pergi. Dia tidak ada di sini. Aku ingin pergi ke rumahnya. Mungkin dia ada di sana!" ujar Diana, lalu berjalan melewati Rafa dan Adrian.


"Pak Rafa, anda telah meragukan ketulusan Hana. Meski dia tersakiti dan terhina oleh sikapmu. Hana tidak membencimu, dia masih memintaku menjagamu. Hana memintaku selalu berada di sampingmu. Keteguhan cinta Hana tidak akan pernah anda dapatkan kembali. Cinta yang telah anda sia-siakan." ujar Diana, dia menghentikan taxi.

__ADS_1


"Kami sudah pergi ke rumahnya. Tapi rumah itu kosong, seolah tidak pernah ada yang memasukinya. Kita bisa mencari Hana bersama. Kamu satu-satunya sahabat Hana, pasti tahu dimana Hana kemungkinan berada?" ujar Adrian sembari menghalangi Diana masuk ke dalam taxi. Adrian meminta taxi itu pergi.


Rafa semakin terpuruk dengan kenyataan bahwa Hana tetap teguh berbakti padanya. Meski perkataan Rafa telah melukai harga dirinya. Keteguhan cinta Hana yang diragukan Rafa, berakibat sangat fatal. Hana menjauh pergi seiring tangan Rafa yang melepasnya.


...☆☆☆☆☆...


Terlihat seorang wanita berhijab syar'i duduk diantara dua makam. Di tangannya memegang sebuah buku kecil bertuliskan Surat Yassin. Wanita itu tak lain Hana Khairunnissa. Gadis sebatang kara yang hidup tanpa kedua orang tua sejak SMP. Perjuangan hidup yang tak mudah dia jalani. Meski penuh dengan air mata dan keluh kesah. Hana mampu berdiri hingga detik ini. Hana tidak pernah menengadahkan tangannya pada orang lain. Sekadar ingin meminta belas kasihan.


Namun tulangnya seolah hancur tak berbentuk. Tubuhnya lemah tak bertenaga, saat telinganya mendengar sebuah hinaan dari orang yang paling dia cintai. Sebuah penolakan dari suami tempatnya bersandar. Pundak yang kelak mampu menerima keluh kesahnya. Sejak semalam Hana tersadar, hanya dua nisan ini tempat Hana berkeluh kesah. Mencurahkan semua kegundahana hatinya. Bukan pada Rafa Akbar Prawira, laki-laki yang meragukan keteguhan cintanya.


Lantunan ayat suci AL -Qur'an terdengar lirih dari bibir mungil Hana. Suara lembut Hana mendoakan kedua orang tua yang membesarkan dirinya. Meski air mata terus mengalir, Hana seakan tak peduli. Hana terus menguatkan hatinya untuk mendoakan kedua orang tuanya. Perkataan Rafa menyadarkan Hana, bahwa tubuh dan jiwa kedua orang tuanya telah pergi. Namun kasih sayang mereka tetap ada di dalam hati terdalam Hana.


Setelah melantunkan ayat suci AL- Qur'an. Hana memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Sudah beberapa hari ini, rumah Hana kosong tak berpenghuni. Han sudah setengah hari berada di pemakaman umum. Semenjak subuh Hana sudah berada di sini. Hana memutuskan untuk pulang. Meski dia sadar, Rafa pasti akan datang menemuinya. Hana tidak pernah berpikir mejauh atau mendekat pada Rafa. Sebab hadirnya Rafa bagai sebuah mimpi yang telah berakhir.


"Hana!"


Deg Deg Deg


Jantung Hana berdegub hebat saat sebuah suara memanggilnya. Suara yang telah menyakitinya. Hana mendongak menatap lurus ke depan. Dia melihat Rafa datang bersama Adrian dan Diana. Hana mundur beberapa langkah, dia tidak ingin Rafa mendekat padanya.


"Sayang, aku mohon jangan marah. Maafkan aku!"


"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Semua yang dikatakan tuan Rafa benar. Aku hanya wanita sebatang kara yang ditinggal oleh orang tuanya. Namun anda lupa, meski jiwa dan tubuh mereka pergi. Aku tetap bisa melihat Nisan mereka. Aku tidak akan pernah sendirian!" ujar Hana lirih, Rafa berlutut di depan Hana. Namun Hana tetap tak bergeming.


"Jangan berlutut pada wanita hina ini. Aku tidak pantas mendapatkannya. Aku pernah mengatakan, jika tangan ini telah kamu lepas. Itu artinya kebersamaan kita telah berakhir!"


"sayang, maaf!"


"Tak ada kata maaf yang tersisa, semua telah lenyap bersama harga diriku yang dipertanyakan. Keteguhan cinta yang diragukan, telah menjadikanku wanita kuat!"


"Sayang!" ujar Rafa lirih.


...☆☆☆☆...

__ADS_1


TERIMA KASIH 😊😊😊😊


__ADS_2