
Malam harinya Naufal datang berkunjung ke rumah Hana. Salsa sudah datang sejak sore. Hana sengaja menghubungi Rafa, meminta dia pulang lebih cepat dari kantor. Rafa mengiyakan permintaan Hana. Apalagi saat Rafa megetahui akan kedatangan Naufal yang ingin membicarakan rencana pernikahan dengan Salsa. Rafa memutuskan menunda semua rapat.
Setelah makan malam, semua berkumpul di ruang tengah. Rizal belum terlihat, menurut Kiara dia masih dalam perjalanan pulang. Kebetulan Rizal ada urusan di luar kota. Salsa dan Hana menyiapkan makanan dan minuman untuk Rafa dan Naufal. Sedangkan Kiara bertugas menjaga Fathan yang mulai rewel. Sejak sore Fathan merengek ingin bersama Hana. Dia tidak ingin jauh dari mamanya.
Hana dan Salsa meletakkan makanan dan minuman di depan Rafa dan Naufal. Salsa duduk tepat di depan Naufal. Sedangkan Hana pergi ke kamar Fathan. Dia harus menidurkan Fathan, jika tidak sampai tengah malam Fathan akan terjaga. Sebaliknya Kiara pergi ke dapur menyiapkan makan malam untuk Rizal. Sebab Rizal sudah hampir sampai. Kiara selalu berusaha menjadi istri yang baik untuk Rizal.
"Kak Rafa!" sapa Naufal, Rafa mendelik terkejut mendengar sapaan Naufal. Panggilan kakak terasa sangat aneh di telingan Rafa. Usia Naufal yang lebih tua, serta keakraban yang tak pernah terjalin diantara mereka. Sungguh membuat Rafa heran mendengar panggilan Naufal kepadanya.
"Tunggu, kenapa kamu memanggilku kakak? Usiamu jauh lebih tua dariku. Lagipula telingaku merasa aneh mendengar dirimu memanggilku kakak!" sahut Rafa dingin, Naufal menggelengkan kepala. Sebaliknya Salsa yang berada diantara mereka berdua terkekeh. Melihat Rafa tak terima dipanggil kakak oleh Naufal.
"Meski usiaku lebih tua darimu. Namun statusmu yang kini menjadi kakak dari Salsa dan artinya menjadi kakakku. Bukankah dirimu kini wali dari Salsa calon makmumku!" sahut Naufal santai, Salsa mengangguk setuju. Rafa menepuk jidatnya pelan, merasa heran dengan apa yang terjadi? Rafa tak pernah menyangka, jika dia dan Naufal akan menjadi sauandara. Dulu mereka bersanging mendapatkan Hana. Sekarang mereka harus saling merangkul demi Salsa.
"Kak Rafa harus terima kenyataan. Jika sekarang kak Naufal calon adik iparmu. Jadi panggilan kakak padamu. Harus mulai terbiasa kak Rafa dengar!" sahut Salsa santai, Rafa semakin kesal mendengar perkataan Salsa. Setelah perdebatan panggilan, akhirnya Rafa dan Naufal mulai bicara serius. Hana sudah menyerahkan sepenuhnya keputusan pernikahan Salsa pada Rafa. Selama Rafa dan Naufal saling berbicara. Salsa hanya diam mendengarkan, sepenuhnya dia percaya pada Rafa dan Naufal.
Hampir satu jam pembicaraan serius terjadi. Diputuskan pernikahan Salsa dan Naufal akan dilaksanakan jumat depan. Rafa yang akan mengurus pesta. Sedangkan Naufal bertugas mengurus semua surat-surat yang dibutuhkan. Sedangkan keperluan Salsa akan diserahkan pada Diana. Sengaja Rafa tidak meminta Hana yang mengurus. Sebab kondisi kehamilan Hana yang pernah mengalami masalah. Membuat Rafa tak ingin terjadi sesuatu yang berbahaya untuk Hana dan bayinya.
"Apa kalian sudah selesai membicarakan masalah pernikahan?" ujar Hana, Naufal dan Rafa mengangguk serempak. Hana duduk di samping Salsa. Tanpa dikomando Salsa meletakkan kepalanya dipangkuan Hana. Seolah Salsa ingin merasakan belaian penuh kasih sayang Hana. Rafa dan Naufal terdiam menatap dua saudara yang kini menjadi makmum mereka.
"Kak Hana, terima kasih atas semua kasih sayang yang kak Hana berikan. Aku tidak tahu tanpa dirimu. Mungkinkah aku mendapatkan kebahagian ini. Mencintai dan bertemu dengan laki-laki yang bersedia menerimaku dengan segala kelemahanku. Aku tidak akan pernah dihargai oleh orang lain. Seandainya aku tidak mendapatkan pendidikan. Hanya tatapan hina yang akan aku terima. Sekarang setelah semua yang kak Hana berikan. Sebelum aku sempat membalas budi baikmu. Aku harus menikah dan pergi mengabdi pada suamiku. Sungguh sangat tidak adil untuk kak Hana!" ujar Salsa lirih, Hana menggeleng sembari mengelus kepala Salsa yang tertutup hijab. Dengan penuh kasih sayang Hana mengusap kepala Hana.
__ADS_1
"Salsa, seorang kakak tidak akan pernah meminta balasan akan semua pengorbanan yang diberikan kepada adiknya. Kak Hana sangat bangga padamu. Ada rasa bahagia, saat kak Hana mampu membuatmu berarti dan berharga. Bukan demi sebuah kata pujian, tapi demi rasa tanggungjawab yang ada dipundakku. Kini tanggungjawab itu akan kuserahkan sepenuhnya pada kak Naufal. Dia kini yang akan bertanggungjawab akan kebahagianmu. Jika kamu ingin membalas kebaikan kakak. Bahagialah dengan keluarga kecilmu. Patuhlah pada imammu dan sayangilah Annisa selayaknya putrimu. Jadikan rumah suami istana dalam hidupmu. Jagalah kehormatan keluarga suamimu, selayaknya kamu menjaga kehormatan keluargamu sendiri. Kamu menikah bukan hanya dengan kak Naufal, tapi juga dengan keluarganya. Percayalah takkan ada kata tersiksa atau tertekan. Jika kamu jadikan iman sebagai pedoman dalam hidupmu!" tutur Hana mengingatkan Salsa. Rafa dan Naufal tertegun, mereka melihat dan mendengar kedewasaan Hana sebagai seorang kakak. Salsa yang menganggap Hana segalanya, sebaliknya Hana yang menganggap Salsa sangat berarti. Dua kakak beradik yang saling menghargai dan saling mengagumi.
"Kak Hana demi harapanmu, aku akan mengingat semua perkataanmu. Terima kasih menjadi kakak terbaik untukku!" ujar Salsa, Hana mengangguk pelan.
"Hana, aku akan menjaga Salsa sebaik mungkin. Dia akan menjadi alasan semangat hidupku. Aku tidak akan membiarkan dirimu mempunyai alasan, untuk menjauhkan Salsa dariku!" ujar Naufal berjanji, Hana dan Rafa mengangguk. Sebentar lagi tanggungjawab akan Salsa akan berpindah pada Naufal. Baik buruk jalan hidup Salsa akan bergantung pada Naufal.
"Kak Rafa, papa menelpon! Kondisi kakek drop, kita harus segera kesana. Papa terlihat cemas, aku sudah meminta kak Rizal langsung berangkat kesana!" ujar Kiara cemas, Rafa langsung berdiri. Sedangkan Hana terperanjat kaget. Salsa dan Naufal diam membisu. Mereka tidak tahu harus berbuat apa? Rafa langsung berdiri mengambil kunci. Dia akan pergi ke rumah utama untuk menjenguk sang kakek.
"Sayang, aku akan ke rumah papa bersama Kiara. Kamu tetap di rumah, kasihan Fathan jika ditinggal. Aku akan mengabarimu nanti setelah bertemu kakek!" ujar Rafa, Hana menggeleng lemah. Dia juga berniat akan ikut denga Rafa. Hana juga cemas memikirkan kondisi tuan Ardi.
"Aku ikut, sebentar aku akan mengambil Fathan dari kamarnya. Setelah itu kita berangkat!" sahut Hana dingin, Rafa hanya mengangguk pelan. Takkan Rafa membantah atau melarang. Cukup sekali dia berdebat dengan Hana, yang akhirnya berakibat fatal pada Hana. Saat akan pergi, Hana meminta Naufal mengantar Salsa kembali ke tempat kostnya. Sebab tidak mungkin Salsa pulang sendiri atau ikut pergi dengannya ke rumah keluarga Prawira.
...☆☆☆☆...
"Kita tunggu sampai besok. Jika kadar gulanya terus mengalami penurunan. Tidak ada pilihan lain, kita harus membawanya ke rumah sakit. Aku sudah memberikan vitamin dan beberapa obat. Jika tubuh tuan Ardi kejang, itu artinya dia menolak obat yang aku berikan. Saat itu kita harus langsung membawanya ke rumah sakit!" ujar Lisa lirih, Rafa mengangguk pelan. Kiara duduk tepat di samping tuan Ardi. Dia menggenggam tangan keriput kakeknya. Tangan yang telah lama menopang keluarga Prawira. Tangan yang kini lemah, seakan lelah menjadi penopang keluarganya.
"Baiklah kalau begitu, aku akan menjaga kakek disini. Papa, istirahatlah di kamar. Pasti papa sudah lelah menjaga kakek selama ini. Sekarang aku dan Kiara yang akan bergantian menjaga kakek!" ujar Rafa, Gunawan diam tak bergeming. Rafa melihat kecemasan yang sama dirasakan oleh papanya. Tak berapa lama Hana masuk ke dalam kamar. Pertama kalinya sejak kehamilannya. Dia bertemu dengan Lisa, dokter cantik yang kini menjadi adik angkat suaminya. Rafa terperangah melihat kedatangan Hana. Sebab di dalam kamar masih ada Lisa. Rafa belum sempat meminta Lisa untuk keluar.
"Kak Rafa, bagaimana kondisi kakek? Apa sudah lebih baik? Atau sebaiknya kita bawa kakek ke rumah sakit!" ujar Hana, Rafa menggeleng. Hana berjalan mendekat pada Kiara, tangannya menyentuh pundak Kiara. Hana ingin memberikan dukungan pada Kiara dan Rafa. Lisa terus mengawasi gerak-gerik Hana. Seakan Lisa sedang mengawasi Hana. Entah apa yang sedang dipikirkannya?
__ADS_1
"Sayang, aku dan Kiara akan menjaga kakek disini. Kamu istirahat di kamarku atau aku minta Rizal mengantarmu pulang bersama Fathan!" tanya Rafa, Hana diam membisu. Sebenarnya Hana tidak ingin berada di rumah ini terlalu lama. Napasnya terasa sesak, dia ingin segera pulang. Namun sangat tidak mungkin dia bersikap egois dengan meninggalkan Rafa sendirian.
"Aku akan menemanimu disini. Fathan sudah tertidur. Aku akan memeriksanya nanti. Sekarang kita fokus pada kesehatan kakek. Aku akan membuatkan kalian kopi. Kita bisa menjaga kakek bersama!" ujar Hana, Rafa mengangguk mengerti. Kiara sudah tidak menangis, hatinya mulai tenang. Napas tuan Ardi juga sudah sangat stabil. Rizal menuntun Kiara duduk di sofa. Agar tidak mengganggu tidur tuan Ardi. Gunawan melihat Rizal begitu menyayangi Kiara. Jauh dilubuk hatinya, Gunawan lega telah menemukan imam yang baik untuk Kiara.
"Sedang apa kamu? Ini bukan rumahmu, jadi kamu tidak bisa seenaknya masuk ke dalam ruangan yang ada disini!" ujar Sabrina sinis, Hana menoleh pelan lalu tersenyum. Sabrina mendekat pada Hana. Dia semakin kesal saat Hana membalas perkataannya dengan tersenyum. Padahal Sabrina ingin melihat Hana marah. Agar pendapatnya tentang Hana benar adanya. Namun sayang, Hana tetap diam tak bergeming.
"Tante, aku tadi sempat membeli beberapa makanan! Aku simpan dulu di lemari pendingin!" ujar Lisa, Sabrina menyahut dengan senyuman. Sikap hangat Sabrina yang sangat berbeda. Kelembutan yang selalu dinantikan Hana. Dengan santai Hana meneruskan pekerjaannya. Dia tidak peduli dengan keberadaan Lisa dan Sabrina.
"Lisa sayang, kamu memang baik. Seandainya tante memiliki putra, pasti sangat senang menjadikanmu menantu. Kamu mengetahui apa yang dibutuhkan keluarga ini?" ujar Sabrina menyindir Hana. Namun sindirannya tak berarti untuk Hana. Sedangkan Lisa hanya tersenyum mendengar perkataan Sabrina. Tangannya terus merapikan makanan ke dalam lemari pendingin. Hana telah selesai membuat kopi.
"Seharusnya kamu sadar diri. Rumah ini bukan milikmu, tak sepantasnya kamu berada dimanapun kamu suka? Tamu tetap tamu, jangan bersikap layaknya majikan!" ujar Sabrina ketus, Lisa terdiam mendengar perkataan Sabrina yang ketus.
"Maaf jika saya lancang, tapi tuan Gunawan sudah mengizinkan saya masuk ke dapur. Seandainya anda tidak suka. Silahkan katakan pada tuan Gunawan. Namun sebelum itu, anda mungkin lupa sesuatu. Jika aku bukan tamu sembarangan. Aku istri sah Rafa Akbar Prawira. Pewaris sekaligus pemilik separuh rumah ini. Anda bisa menganggapku tamu, lalu apa pendapat anda tentang Lisa? Tamu atau benalu. Anda harus mulai menerima, jika aku bagian dari keluarga ini. Satu hal lagi, anda tidak pernah memiliki putra. Rafa suamiku selama ini besar tanpa kasih sayang anda. Jadi tidak sepantasnya anda mengakui dia sebagai putramu. Apalagi berharap akan menjodohkannya dengan Lisa. Maaf jika saya kasar, sikap anda jauh lebih kasar. Ketika orang tua anda sedang bertarung antara hidup dan mati. Anda disini sibuk ingin mengusirku. Dimana nurani anda? Setelah semua pengorbanan tuan Ardi untuk anda. Tak sedikitpun anda bersimpati!" ujar Hana lirih, Sabrina meradang, sebaliknya Lisa menunduk malu. Dia tidak pernah berpikir ingin menikah dengan Rafa. Sebab sejak pertama, Rafa secara tegas telah menolak dirinya.
"Berani kamu menghinaku. Kamu tidak lebih dari wanita haus akan harta, tanpa kelebihan apapun? Apa yang membuatmu merasa pantas bisa menjadi bagian keluarga ini? Sehingga dengan bangga kamu berpikir Rafa sangat mencintaimu!" sahut Sabrina, Hana tersenyum tipis. Dia semakin merasa lucu melihat sikap Sabrina yang tidak masuk akal.
"Pertanyaan yang sama, ingin aku tanyakan pada anda. Apa yang membuat anda merasa pantas menjadi bagian dari keluarga Prawira yang terhormat? Dengan masa lalu anda yang kelam. Namun keluarga ini tetap menerima anda dengan tangan terbuka. Semua hanya dengan satu alasan, cinta sang pewaris keluarga ini. Jika dulu tuan Gunawan teguh mencintai anda. Tanpa peduli masa lalu anda dan melupakan cinta anak-istrinya. Sekarang kak Rafa teguh mencintaiku dan putra kami. Alasan inilah yang membuatku bangga bisa bersanding dengan kak Rafa. Satu rasa yang kami pegang teguh, cinta suci dalam ikatan yang jauh lebih suci!" ujar Hana, Sabrina mengangkat tangannya hendak menampar Hana. Lisa sudah menutup mata, dia takut melihat amarah Sabrina.
"Turunkan tanganmu, tidak ada yang berhak mengangkat tangannya pada Hana. Terutama dirimu!" sahut Rafa emosi, Hana menggeleng. Berharap Rafa tidak emosi.
__ADS_1
"Sayang, kita tinggalkan dia. Sampai kapanpun dia tidak akan bisa menghargai orang lain! Dia terlalu takut untuk mengakui kelebihanmu!" ujar Rafa mengajak Hana menjauh dari Sabrina. Lisa menatap Rafa dan Hana yang pergi menjauh. Sedangkan Sabrina termangu mendengar bentakan dari Rafa.
"Tidak akan ada yang bisa menggantikan Hana dihatimu. Hati Hana terbuat dari emas murni, terlalu berharga untuk disakiti. Aku melihat betapa bijak dan tenangnya Hana saat mamamu menghinanya. Tidak ada amarah atau kebencian. Sampai kapanpun Rafa hanya untuk Hana? Kalian mengajarkan diriku, cinta itu suci tak ternoda. Namun sucinya cinta butuh pengorbanan yang tak sedikit dan mudah!" batin Lisa menatap kepergian Hana dan Rafa.