
"Assalammualaikum cantik!" Sapa Hanna, Salsa menoleh dengan senyum yang paling manis.
Salsa berhambur memeluk Hanna yang berdiri tak jauh darinya. Salsa memeluk erat kakak yang kini menjadi besannya. Hanna panutan hidup Salsa, wanita yang pernah mengorbankan masa mudanya demi menjaga dirinya. Hanna kakak sekaligus orang tua pengganti bagi Salsa. Keduanya semakin dekat, setelah kakek mereka meninggal.
"Kakak, terima kasih sudah datang!" Ujar Salsa lirih, Hanna mengangguk pelan.
Hanna melepaskan pelukkannya, dengan lembut Hanna menarik tubuh Salsa ke depan menghadapnya. Hanna menangkup wajah Salsa, menatap lekat adik yang sangat disayanginya. Satu-satunya keluarga yang dimiliki Hanna. Selain Rafa dan anak-anaknya.
"Kakak akan datang kapanpun dan dimanapun demi dirimu? Kamu adik tersayangku, tidak ada yang lebih penting darimu. Tidak ada yang mampu menghalangi kakak menemuimu. Termasuk larangan kak Rafa!"
"Kak Rafa melarangmu!" Sahut Salsa lirih, Hanna menggeleng lemah. Dengan seutas senyum Hanna menoleh ke belakang. Tak jauh darinya, terlihat Rafa berdiri dengan gagahnya.
"Jika dia melarangku, tidak mungkin kak Rafa berdiri di sana. Dia akan mendukung keputusan kakak. Jadi tidak akan ada perselisihan diantara kami!"
"Aku pikir kak Rafa masih menyimpan rasa cemburu pada suamiku. Tapi kalau dipikir lagi, pantas kalau kami cemburu. Mengingat hubungan kalian dulu sangat baik dan lama!" Ujar Salsa lirih, Hanna menggeleng lemah. Seolah isyarat perkataan Salsa tidaklah benar. Sejak dulu sampai sekarang, sedikitpun tidak ada rasa Hana untuk Naufal.
Hana menarik tubuh Salsa, merangkulnya erat. Keduanya berjalan menuju meja yang ada tak jauh di depannya. Salsa bergelayut manja di bahu Hana. Seketika suasana menjadi haru, Salsa merasa hangat berada di samping Hana. Selama ini keduanya menjauh, karena Salsa harus menemani Naufal berobat.
"Kamu jelas tahu, aku tidak pernah mencintai Naufal. Kami pernah memiliki hubungan, tapi sebatas sahabat. Seandainya ada cinta diantara kami. Semua itu tak lebih dari cinta semu anak SMP. Cinta yang tak pantas menjadi alasan untuk sebuah ikatan hubungan!" Ujar Hana tegas, Salsa mengangguk.
"Maafkan aku kak, aku hanya bertanya sedikitpun tidak ada niatku menyudutkanmu!" Sahut Salsa, Hana diam membisu.
Hana duduk di salah satu kursi. Dia duduk berdampingan dengan Salsa sang bintang acara. Malam ini sedang diadakan pesta perayaan pernikahan Salsa dan Naufal. Keduanya sengaja mengadakan pesta sederhana. Selain perayaan pernikahan keduanya, juga sebagai tasyakuran kesembuhan Naufal.
Hana menatap lurus ke depan, sekitar 10 meter di depannya. Rafa berdiri gagah bersama para rekan kerjanya dulu. Ada beberapa dokter senior yang dulu bekerja di bawah kepemimpinan Rafa. Dokter yang kebetulan juga rekan kerja Naufal dulu di rumah sakit. Salsa melihat Hana menatap lekat Rafa. Seakan ada ketakutan yang tersimpan jauh dalam hati Hana. Lama Salsa menatap Hana yang larut dalam lamunan. Hana seakan lupa kehadiran Salsa di depannya. Titik lemah seorang Hana yang begitu tegas akan keputusannya.
"Kak Hana!" Sapa Salsa lirih, Hana berjingkat kaget. Jelas nyata Hana terkejut akan sapaan Salsa. Meski jelas Salsa menyapa Hana sangat pelan. Namun seakan keras terdengar Hana yang sedang melamun.
"Ada apa?"
"Kakak sedang melamun. Tidak biasanya kakak melamun. Kakak sedang ada masalah? Apa hubungan kalian baik- baik saja?" cecar Salsa cemas, Hana mengangguk pelan. Jawaban yang membuat Salsa semakin gelisah.
Hana mencoba melupakan ketakutan yang tersimpan rapat di hatinya. Kegelisahan yang tak pernah bisa dikatakan Hana pada siapapun? Termasuk pada kedua buah hatinya. Ketakutan yang tak berdasar dan sangat tidak perlu. Namun jelas ada, karena hubungan yang berjalan satu arah dan hambar.
"Kakak, apa yang terjadi? Katakanlah padaku, aku janji akan diam. Tidak akan aku bertanya atau menasehatimu. Apapun pemikiranmu, aku akan setuju. Namun aku mohon, ceritakan padaku kegelisahanmu. Agar hatimu lega dan aku menemukan kembali Hana kakakku yang tegas lagi tegar!" Ujar Salsa lirih, Hana diam membisu.
Lagi dan lagi Hana menoleh ke arah Rafa. Tawa Rafa terdengar nyaring di telinga Hana. Raut wajah Rafa yang tiba-tiba hidup, seakan tamparan di pipinya. Sebuah tamparan yang tak pernah nyata dilakukan Rafa. Namun kini terasa menyakitkan di hati Hana. Rasa bersalah yang kini menyeruak, menyusup ke dalam hati Hana. Kala kedua matanya menatap jiwa Rafa yang kembali hidup.
"Kak!"
"Salsa, kakak jahat!" Ujar Hana lirih, Salsa menatap sendu Hana. Perkataan Hana seakan teka-teki yang tak mudah dipecahkan. Salsa terdiam menatap Hana yang seolah larut dalam pemikiran tak pasti.
"Kakak!" Ujar Salsa sembari menggenggam tangan Hana erat. Mencoba menyalurkan semangat pada tubuh lemah Hana.
"Bertahun-tahun kakak menipu diri. Pernikahan kakak tak lebih dari perjanjian. Lihatlah tatapan hidup kak Rafa, tatapan yang selama ini menghilang!"
__ADS_1
"Maksud kakak apa? Kak Rafa sangat mencintaimu. Tidak mungkin pernikahan kalian hanya perjanjian. Sebenarnya apa yang kak Hana takutkan?" Ujar Salsa penasaran, Hana menghela napas panjang.
Hana menoleh ke arah Rafa, terlihat gestur tubuh Rafa yang nyaman dan santai. Tawa Rafa terdengar begitu bahagia ditelinga Hana. Serasa angin yang mendinginkan hati Hana. Membangunkan tidur panjang Hana yang penuh ketenangan.
"Dia sangat mencintaiku, tapi aku mengurungnya dalam cintaku. Kak Rafa melepaskan dunianya, demi bisa berada di duniaku. Dia melupakan dunia bisnis yang menjadi hidupnya, hanya demi menemaniku dalam sepi hidupku. Kak Rafa mengorbankan semua hal demi diriku. Mungkin demi cintanya padaku atau lebih kepada rasa bersalahnya. Namun satu hal yang pasti, dengan keangkuhan aku membalas pengorbanannya. Aku diam tanpa berpikir ingin menjadi bagian hidupnya. Berpikir pernikahan kami baik-baik saja!"
"Kakak terlalu banyak berpikir. Kak Rafa melakukan semua itu dengan ikhlas. Dia tidak merasa keberatan, ketika harus menjauh dari dunianya!" Sahut Salsa, Hana menggeleng lemah. Kedua mata Hana mengisyaratkan pada Salsa untuk menatap Rafa.
"Dialah Rafa Akbar Prawira, pria tampan dengan kharisma yang tinggi. Meluluhkan jiwa kaum hawa dengan satu tatapannya. Senyum mempesona yang begitu menawan. Menggetarkan hati para wanita yang memujanya. Kepintaran dan kesuksesan dalam dunia bisnis yang nyata ada sejak dia lahir. Lingkungan seperti itu yang mampu membuat Rafa suamiku nyaman. Dia bahagia bersamaku, tapi jenuh tanpa dunianya!"
"Kak Hana, inilah yang sulit aku mengerti darimu. Pemikiran yang terkadang sulit dicerna olehku yang bodoh. Terserah kakak berpikir seperti apa? Nyatanya pernikahan kakak baik-baik saja selama ini. Kedua buah hati kakak tumbuh menjadi pribadi yang sukses. Kebahagian sempurna yang selalu dinanti oleh keluarga lain!" Sahut Salsa, Hana mengangguk pelan.
Hana melihat langkah Salsa menjauh, meninggalkan dirinya sendiri. Sedangkan Rafa tetap bersama para rekannya dulu bercanda dan tertawa bersama. Hana diam menatap Rafa yang seolah hidup. Kembali dari dunia yang nyata ditinggalkannya dulu.
"Mama!"
"Faiq ada apa?"
"Mama baik-baik saja!" Sapa Faiq ramah, Hana mengangguk pelan. Hana melihat Davina berdiri di belakang Faiq. Sejak pertama masuk ke dalam pesta.
Faiq selalu memperhatikan Hana. Apalagi saat Rafa dan Hana terpisah. Faiq seolah mengunci Hana di dalam matanya. Sempat Davina merasa kesal, ketika Faiq mengancuhkannya. Tubuh Faiq di sampingnya, tapi jiwa Faiq tak bersamanya. Namun semua itu mereda, kala Davina tahu. Jika Faiq hanya peduli pada Hana. Bukan pada wanita lain atau hal lain. Sebab itu keduanya menghampiri Hana yang duduk sendirian. Meninggalkan para rekan kerja Faiq yang lain.
"Mama, aku putramu. Tidak perlu mama berbohong, demi ketenanganku. Jika nyatanya mama tak bahagia berada di pesta ini!" Ujar Faiq lirih, Hana menatap sendu kedua mata Faiq.
"Mama bahagia, kata siapa mama tidak bahagia? Mama duduk sendiri, karena mama tidak memiliki teman bicara. Tante Salsa baru saja pergi. Dia harus menemui tamu yang lain. Akhirnya mama sendiri!"
"Mama memang bahagia, semua itu nyata aku lihat. Namun mama sedikitpun tidak nyaman di acara ini. Mama seakan merasa sendirian di keramaian pesta!" Ujar Faiq, Hana menunduk. Tanpa sadar Hana meremas tangan Faiq. Sikap yang seolah membenarkan perkataan Faiq. Jika dirinya tak nyaman berada di acara seperti ini.
"Mama, mungkin mereka semua orang-orang hebat. Mungkin juga mereka berasal dari kalangan elit yang berkelas. Namun bagiku mereka hanya orang biasa. Mereka tak sehebat itu, sampai harus membuat mama merasa rendah diri!" Ujar Faiq tegas, Hana menggeleng lemah.
"Mama tak hebat, buktinya mama meras rendag diri!" Sahut Hana lirih, Faiq menggeleng lemah. Lalu Faiq mencium lembut tangan Hana. Faiq menunjukkan kasih sayang yang nyata pada Hana.
"Mama jauh lebih hebat di mata Faiq. Mama wanita kuat yang mampu bertahan bertahun-tahun dalam rumah tangga yang timpang. Mama jauh lebih berkelas, karena mama tak pernah silau akan harta papa. Hati mama tetap bersih, tanpa sedikitpun rasa sombong. Sedangkan mereka baru sedikit berharta sudah angkuh dan merasa diri mereka hebat. Mereka mungkin teman dan dunia papa, tapi mama surga Faiq. Selamanya mama yang terbaik dan tempat paling istimewa bagi Faiq!"
"Faiq, maafkan mama yang tak pernah bisa berubah. Mama tetap Hana yang dulu, sederhana dan tak ingin status. Sampai-sampai papamu harus mengalah. Hanya kerena mama tak pernah ingin merubah diri dan mengenal dunia papa. Mama terlalu angkuh menerima kemewahan dari papa!"
"Mama tidak salah, mama benar dengan sikap seperti itu. Sikap mama menjawab keraguan dunia yang terus menyudutkan. Jika pernikahan kalian tak lebih dari kompromi dan kehausan mama akan harta papa. Nyata bertahun-tahun, mama tetap Hana Khairunnisa. Letak surga yang aku impikan!"
"Faiq, terima kasih. Kasih sayangmu membuat mama merasa nyaman dan hangat!" Ujar Hana lembut, lalu mencium puncak kepala Faiq. Seketika Faiq menggeleng, sesaat setelah Hana mencium kepalanya.
"Sebaliknyan mama, dekapan dan lembut belaianmu yang lebih dulu membuatku nyaman dan hangat. Sebesar apapun pengorbananku, takkan mampu menggantikan kasih sayang darimu. Jika dulu mama selalu mendahulukan kepentinganku, kini saatnya aku yang mendahulukan ketenangan mama!"
"Davina, maafkan mama. Faiq berkata seperti itu, hanya ingin menghibur mama. Jangan masukkan perkataan Faiq. Selamanya kamu yang lebih utama!" Ujar Hana, menyahuti perkataan Faiq. Davina berjalan mendekat ke arah Hana dan Faiq.
Davina mencoba duduk di samping Faiq. Perutnya yang mulai membesar, membuatnya kesulitan untuk duduk. Dengan bantuan Faiq, Davina duduk dibawah kaki Hana. Menemani Faiq yang tengah bersujud di kaki surganya.
__ADS_1
"Mama pantas menerima semua kasih sayang itu. Mama berhak akan kak Faiq melebihi diriku. Layaknya aku yang kelak akan memiliki kasih sayang putraku. Rasa tak nyaman dan sakit yang kurasakan selama mengandung. Membuatku mengerti, betapa pengorbanan mama begitu besar pada kak Faiq? Jadi jangan lagi mama berpikir, aku merasa cemburu dengan kehadiranmu. Nyata dirimulah yang lebih pantas, di samping aku percaya akan cinta kak Faiq. Seorang laki-laki yang begitu memuliakan ibunya, tidak akan pernah bisa menyakiti hati wanita lain. Terutama istri dan ibu dari anaknya!" Tutur Davina panjang lebar, Faiq menoleh ke arah Davina.
"Terima kasih!" Ujar Faiq lirih dan hangat, Davina mengangguk seraya mengedipkan kedua matanya. Hana merasa hangat melihat kebahagian Faiq dan Davina.
"Sudahlah, sekarang kalian berdiri. Mama baik-baik saja. Kalian pergilah, temui teman-teman kalian. Mama akak duduk disini menunggu papa!"
"Kami akan duduk di meja yang sama dengan mama!" Sahut Davina, lalu keduanya berdiri. Duduk di meja yang sama dengan Hana. Mereka tidak akan pernah meninggalkan Hana sendirian.
Memang Hana bahagia, tapi Faiq merasa ada titik sepi dan rendah diri Hana. Ketika berada diantara orang-orang hebat dan berkelas. Bagi Faiq dan Davina, semeriah apapun pesta. Hanya berakhir sia-sia, ketika membiarkan Hana sendiri merasa sepi.
"Kalian berdua wanita hebat dalam hidupku. Jangan pernah berpikir, aku memilih satu dan meninggalkan yang lain. Hatiku memang satu, tapi kalian berdua yang ada di dalamnya. Mengisi penuh hati yang dulu kosong tanpa cinta!" Tutur Faiq lirih, sontak Davina menggenggam erat tangan Faiq. Seolah mengatakan dia akan selalu ada untuk Faiq.
"Mama, terima kasih telah melahirkan dan membesarkan Faiq. Jika tidak, aku tidak akan bertemu wanita secantik dan sehebat Davina!" Ujar Faiq pada Hana, dengan penuh kelembutan Hana mengusap kepala Faiq. Air mata Hana menetes perlahan. Menunjukkan betapa dia terharu melihat kasih sayabg Faiq putranya.
"Davina, terima kasih telah lahir selamat. Jika tidak, aku tidak akan merasakan kebahagian ini. Kamu cinta satu dan selamanya dalam hidupku. Meski aku tidak berjanji padamu. Percayalah kamu kebahagianku dan alasanku menjadi lebih baik!" Ujar Faiq lirih, lalu mengecup pelan perut buncit Davina. Dengan lembut dan hangat, Davina mengusap rambut Faiq yang tengah menunduk mencium perutnya.
"Kalian kebahagian mama!"
"Sedangkan kami!" Sahut Fathan dan Vania lantang, Hana menoleh terkejut. Dia melihat Fathan berdiri berjejer dengan Annisa dan Gavi. Sedangkan Raihan berjejer dengan Vania.
"Kalian lentera mama, pelita dalam gelap hidup mama!" Sahut Hana lantang dan tegas, Hana merentangkan tangan menunggu pelukan Fathan dan Vania. Seketika Fathan dan Vania berjalan setengah berlari. Keduanya seakan lupa dengan kondisi masing-masing.
"Sayang hati-hati jatuh!" Teriak Raihan cemas, ketika melihat Vania yang tengah hamil bedar berlari.
"Kak Fathan, pelan-pelan takut Gavi jatuh!" Teriak Annisa tak kalah cemas, saat melihat Fathan berlari sembari menggendong Gavi.
Namun teriakkan mereka seperti angin lalu. Baik Vania atau Fathan tak ada yang peduli. Keduanya berlomba memeluk Hana. Mengharapkan kasih sayang Hana yang sangat mereka sayangi.
"Aku duluan!" Teriak Fathan dan Vania hampir bersamaan. Faiq terkekeh melihat sikap kekanak-kanakan mereka.
"Kalian bisa peluk mama bersama-sama!" Sahut Hana sembari berdiri menghambur memeluk Fathan Vania bersama-sama. Faiq memeluk Hana dari arah belakang.
"Cecil, kamu bertanya kenapa aku rela menghilang dari dunia bisnis? Melupakan kebahagian masa mudaku demi Hana yang tak berharga menurutmu!"
"Memangnya kenapa?" Ujar Cecil penasaran.
"Karena Hana memiliki cinta para buah hatiku. Jika aku menjauh dari Hana, artinya aku menjauh dari mereka. Selamanya mereka kebahagianku, tumpuan dikala lemahku. Sebanyak apapun harta yang kumiliki, sesukses apapun diriku. Takkan mampu membuat mereka memilihku. Seandainya aku menyakiti hati Hana. Jika Hana segalanya dalam hidup mereka. Sebaliknya mereka dan Hana segalanya dalam hidupku. Aku siap melepas segalanya, demi merasakan kebahagian yang takkan terulang!" Ujar Rafa tenang.
"Setidaknya Hana menyadari, kamu pembisnis hebat. Tidak sepantasnya kamu terkurung di dalam rumah. Kamu butuh duniamu yang dulu!"
"Dia selalu menyadari itu, jika tidak. Hana tidak akan diam duduk sendiri, menjauh dariku yang sedang bicara denganmu. Hana wanita hebat dengan hati yang tak rapuh!" Ujar Rafa final lalu pergi menjauh dari Cecil.
"Cecil, waktu terus berputar dan takkan kembali. Mulailah mencari kebahagianmu, sebelum semuanya terlambat!" Ujar Rafa sesaat setelah beberapa langkah. Rafa berhenti hanya ingin mengingatkan Cecil. Dia tidak ingin melihat Cecil hancur dalam ambisi tanpa batasnya.
"Papa juga ingin memeluk kalian!"
__ADS_1