
Malam ini Faiq dan Vania akan menghadiri pesta salah satu rekan seperjuangannya dulu. Rekan selama Faiq dan Vania sering berkeliling membantu korban bencana alam. Pesta malam ini akan sangat meriah. Akan banyak dokter dan perawat yang datang. Ada juga beberapa relawan yang bukan dari tenaga kesehatan. Salah satunya Vania. Mungkin juga Steven akan hadir. Sebab dulu Steven dan Faiq satu tim yang kompak. Vania akan datang sendirian, karena Faiq akan datang bersama Davina.
Sengaja Faiq meminta Vania datang lebih dulu. Faiq masih ada urusan di rumah sakit. Sehingga dia akan pergi setelah selesai dengan urusan di rumah sakit. Vania datang menggunakan taxi. Sengaja dia tidak datang membawa mobil sendiri. Saat pulang nanti, Vania akan pulang bersama Faiq dan Davina. Sekitar pukul 19.30 wib, Vania tiba di tempat acara. Suasana pesta masih sangat sepi. Hanya terlihat beberapa orang yang datang. Vania hanya mengenal sebagain orang. Setelah menyapa sang pemilik acara. Vania mencari tempat duduk di pojok.
Sejak dulu Vania tidak terbiasa dengan keramaian atau pesta. Kehidupan sederhana di pesantren. Membuatnya terbiasa bahkan tidak terlalu suka dengan pesta. Vania duduk dengan nyaman di pojok cafe. Dia memilih tempat yang bisa melihat langit dengan tenang. Acara malam ini diadakan di sebuah cafe berlantai dua. Kebetulan lantai dua tidak memiliki atap. Sehingga langsung beratapkan langit malam. Gelap dan indahnya malam, membuat Vania terhibur. Dia tidak merasa sendiri meski tidak ada yang menemaninya.
Lama Vania duduk sendirian. Tidak ada tanda Faiq dan Davina datang. Para undangan mulai berdatangan. Pesta yang awalnya tenang berubah menjadi riuh. Saat semua orang saling bercanda dan bergembira. Vania malah duduk dengan tenang sembari menatap langit malam. Dia seakan tidak peduli pada keramaian pesta. Vania hanya fokus menunggu Faiq dan Davina. Dia tidak peduli dengan yang lainnya.
Akhirnya setelah menunggu hampir satu jam. Faiq dan Davina datang bersama dengan Steven. Ketika Vania melihat kakak tercintanya datang. Dia merasa sangat lega, seolah batu besar telah terangkat dari dadanya. Vania membuang napasnya, dia sangat lega melihat wajah tampan dan cantik kedua kakaknya. Namun kelegaan Vania hanya sebentar. Tanpa Vania sadari, ada satu sosok yang mengawasinya sejak tadi. Seseorang yang selalu ingin melihat Vania hancur. Namun entah kenapa dia hanya diam mengawasi Vania? Seakan dia sedang menanti waktu yang tepat untuk menghina Vania.
__ADS_1
Tiba-tiba tak berapa lama setelah Faiq dan Davina bergabung bersama Vania. Terjadi kehebohan yanb sangat luar biasa. Para kaum hawa berteriak. Mereka histeris saat melihat Raihan datang. Penampilan Raihan sangat menarik. Pantas para hawa berteriak, mereka ingin menjadi pasangan Raihan. Namun kekaguman dan harapan para tamu wanita berbanding terbalik dengan Vania. Dia satu-satunya wanita yang tidak terpesona, bahkan sangat tidak peduli akan ketampanan dan kesuksesan Raihan.
"Vania Aulia Azzahra, apa kabar? Lama tidak bertemu. Bagaiman kabarmu sekarang?" sapa Amalia, Vania mendongak menatap ke arah suara yang menyapanya. Dia terkejut melihat Amalia berdiri di depannya. Sudah lama keduanya tidak pernah bertemu. Vania dan Amalia teman sejak SMP. Keduanya selalu berselisih paham. Ada saja yang menjadi perdebatan mereka. Namun Vania tidak pernah peduli akan pemikiran Amalia. Bagi Vania sangat tidak penting berurusan dengan Amalia. Sebab Amalia selalu mencari alasan agar terjadi perdebatan diantara keduanya. Meski selama ini Vania selalu diam menerima perlakuan Amalia. Bahkan malam ini, Vania sudah merasa Amalia hanya akan mencari alasan. Agar Vania marah dan mulai perdebat dengannya.
Sebenarnya sebelum Amalia bersikap menyebalkan pada Vania. Mereka berdua dulunya sahabat baik. Namun kecantikan dan sopan santun Vania membuat Amalia tersisih. Laki-laki yang dicintai Amalia lebih memilih Vania. Walaupun Vania sudah mengatakan pada Amalia. Bahwa dia tidak pernah dan tidak akan mencintai laki-laki itu. Amalia tidak pernah percaya. Dia tetap berpikir, Vania selalu ingin mengalahkan dirinya dan ingin melihat dirinya terhina. Sebab itu Amalia sangat membenci Vania. Dia selalu berusaha menyakiti Vania. Namun setiap usahanya selalu gagal. Akhirnya semester akhir kelas dua SMU. Vania memutuskan pindah ke kota kelahirannya. Dia masuk ke pesantren dan meneruskan kuliahnya di luar negeri. Vania pergi bukan takut pada Amalia, tapi dia tidak ingin membuat Amalia marah dan merasa tersisih dengan keberadaannya. Sehingga Vania lebih memilih mengalah dan pergi menjauh. Persahabatan yang pernah terjalin hancur hanya, karena cinta seorang laki-laki. Pertemanan yang indah kini meninggalkan kebencian yang tak pernah ada akhirnya.
"Aku baik, terima kasih Amalia!" sahut Vania santai dan singkat. Terlihat Amalian menyapa Vania sembari menggandeng tangan seorang laki-laki. Tanpa Amalia sadari, laki-laki yang bersamanya tak lain orang yang dicintai Vania. Ketika Vania menjawab pertanyaan Amalia singkat tanpa peduli pada laki-laki yang digandenganya. Malah sang laki-laki yang terus menatap Amalia sembari manahan senyum.
"Aku pikir kamu tidak akan datang. Jujur aku senang melihat namamu ada dalam daftar undangan. Aku menunggu hari ini begitu lama. Setelah aku menahan diri selama ini. Malam ini akan kubalas perbuatanmu padaku. Kamu tidak akan pernah lupa akan malam ini!" ujar Amalia ketus, Vania menghela napasnya panjang.
__ADS_1
"Amalia, aku tidak pernah tahu apa yang membuatmu begitu membenciku? Sampai kamu ingin sekali melihatku hancur. Apa yag akan kamu lakukan sekarang dengan membawa dia? Sungguh aku tidak pernah bisa mengerti jalan pikiranmu!" ujar Vania lirih, Amalia terus menatap wajah Vania yang menunduk. Amalia berpikir Vania sudah merasa malu padanya.
"Vania, kenalkan dia calon suamiku!" ujar Amalia pada Vania. Dia memperkenalkan Vania sebagi Raihan. Terlihat Raihan sedang mengulurkan tangan sembari mencoba tersenyum semanis mungkin. Vania terlihat sangat anggun malam ini. Gamis dan hijab yang senada membuat Vania terlihat menawan.
Seketika Vania menelan ludahnya kasar, tak pernah dia membayangkan. Raihan dan Amalia saling mengenal dan akan segera menikah. Vania hanya diam menunduk, dia tidak ingin orang lain melihat kesedihannya.
"Semoga kalian bahagia!" ujar Vania singkat lalu berjalan menjauh dari Amalia.
"Tunggu kita harus bicara!" ujar Raihan gelisah.
__ADS_1