
Malam yang sunyi berubah menjadi heboh. Teriakan demi teriakan Rafa menggema di seluruh bagian rumahnya. Rafa panik saat melihat Hana yang mulai mengalami kontraksi. Memang ini bukan kelahiran putra pertama mereka, tapi tetap saja Rafa masih panik melihat air ketuban Hana mulai pecah. Bukan tanpa alasan Rafa panik. Kehamilan kedua Hana sedikit bermasalah. Kondisi tekanan darah tinggi Hana sangat beresiko pada ibu dan bayinya. Sejak awal kehamilan Hana dan Rafa sudah mengetahui resiko yang mungkin terjadi.
Berbanding terbalik dengan Rafa yang panik. Hana justru sangat tenang sedikitpun dia tidak terpengaruh melihat Rafa yang panik. Meski Hana kesakitan, tak terdengar suara rintihan dari bibir mungilnya. Hana tetap tenang, sebab dia tidak ingin menambah kepanikan Rafa. Tanpa sepengetahuan Rafa, Hana sudah menghubungi Diana.
Setelah kepanikan Rafa yang membuat gempar seluruh penghuni rumahnya. Hana dilarikan ke rumah sakit milik Salsa. Diana menunggu Hana di rumah sakit. Dia datang bersama Adrian. Tanpa dikomando Diana mempersiapkan proses persalinan Hana. Termasuk meminta tim dokter bersiap melakukan operasai Cesar. Keadaan Hana masih belum bisa dipastikan. Diana mengantisipasi kemungkinan Hana harus mengalami persalinan dengan jalan operasi.
Pukul 00.00 wib, Hana tiba di rumah sakit. Rizal mengemudikan mobilnya dengan kencang. Rafa panik menemani Hana. Sebab itu Rizal yang mengambil alih kemudi. Kiara duduk tepat di samping Rizal suaminya. Dia tidak kalah panik dari Rafa. Namun Kiara berusaha tetap tenang. Agar kondisi tetap kondusif.
Saat tiba di rumah sakit, Hana melihat Diana sudah berdiri menunggunya. Diana berdiri dengan tim dokter yang akan menangani Hana. Terlihat Naufal dan Cintya ada dalam tim dokter yang akan menangani Hana. Diana sudah menyiapkan segala sesuatunya dengan sangat cermat. Bahkan Diana sudah menyiapkan tim dokter yang handal. Salah satunya dua kakak beradik yang handal dalam bidang masing-masing. Naufal dokter bedah yang sudah sangat teruji kemampuannya. Cintya yanh menjadi dokter pribadi Hana sejak kehamilan pertamanya.
Khusus malam ini, Hana juga melihat Lisa. Adik angkat Rafa yang merawat kakek kandungnya. Seketika Hana tersenyum ke arah Lisa. Rafa yang bersikap canggung. Dia masih merasa Hana menyimpan rasa cemburu pada Lisa. Namun ssbenarnya sudah sejak lama. Hana membuang jauh rasa itu. Hana tidak lagi cemburu, sebab kecemburuaan Hana tidak beralasan. Serta melihat kesungguhan Rafa, sungguh Hana hanya akan membuang-buang waktu.
__ADS_1
"Diana, kenapa ada kak Naufal? Apa kamu memutuskan aku harus di operasi?" ujar Hana lirih, Diana mengangguk pelan. Hana menatap penuh rasa kecewa pada Diana. Dia tidak pernah ingin melahirkan secara cesar. Hana ingin melahirkan dengan cara normal. Meski nyawa yang menjadi taruhannya. Namun Diana tidak lagi sanggup melihat sahabat sekaligus saudaranya menahan rasa sakit lebih lama lagi.
"Hana, maafkan aku harus mengambil keputuşan ini. Aku tidak sanggup lagi melihatmu kesakitan. Cukup kamu menahan rasa sakit selama sembilan bulan. Satu yang pasti, aku tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Aku terlalu takut membayangkan resiko yang harus kamu tanggung. Jadi untuk kali ini, biarkan aku mengambil jalan ini. Agar aku tidak kehilanganmu!" ujar Diana, Hana mengangguk dengan senyum di bibirnya yang mungil. Diana mengusap wajah Hana, dia membungkuk lalu mencium lembut kening Hana.
"Kita akan berjuang bersama. Jangan pernah merasa sendiri. Aku akan ada di luar ruang operasi. Saat ini aku masih bisa menggenggam tanganmu, tapi di dalam ruang operasi. Hanya doaku yang menemanimu. Semangat Hana, kamu pasti bisa!" bisik Diana.
"Terima kasih!" balas Hana, Diana tersenyum membalas perkataan Hana. Para perawat membawa Hana menuju ruang operasi. Rafa menerima berkas-berkas yang harus ditandatangani.
"Tuan Rafa Akbar Prawira, apa maksudmu menolak tim dokter yang sudah aku bentuk? Mereka dokter pilihan dan yang terbaik di rumah sakit ini. Jadi jangan berpikir yang aneh-aneh. Kamu harus mengingat kondisi Hana. Dia tidak bisa menunggu amarahmu mereda. Hana harus segera ditangani!" ujar Diana kesal, Rafa menggeleng. Dia malah membalas tatapan Hana dengan raut wajah marah. Rizal dan Kiara heran mendengar penolakan Rafa. Hanya Adrian yang terkekeh mengetahui penolakan Rafa.
"Aku suaminya, jadi aku mengetahui yang terbaik untuk Hana dan anakku. Aku tidak ingin Naufal tergabung dalam tim dokter yang menangani Hana. Aku tidak ingin dia menyentuh bagian tubuh Hana. Sampai kapanpun aku tidak akan rela. Sekarang ganti Naufal dengan dokter yang lain. Sekali aku menolak, selamanya aku menolak!" ujar Rafa tegas, sontak semua yang mendengar alasan Rafa tertawa. Sungguh alasan yang sangat tidak masuk akal. Diana semakin kesal mendengar perkataan Rafa. Naufal daj Cintya mulai memahami alasan penolakan Rafa.
__ADS_1
"Kamu keterlaluan, Hana sedang kesakitan. Namun bukan memikirkan bagaimana cara mengurangi kesakitan Hana? Kamu malah sibuk cemburu pada Naufal. Apa kamu tidak menyadari? Siapa Naufal sekarang? Tidak pantas kamu cemburu padanya. Dia sudah menikah dengan Salsa. Naufal sudah menjadi adik ipar Hana. Tuan Rafa yang terhormat dan bijaksana. Jangan sampai kecemburuanmu membuat sahabatku menahan rasa sakit. Satu hal lagi kecemburuanmu, bisa menjadi awal keretakan dalam rumah tangga Salsa. Jadi lebih baik, tandatangani saja persetujuan itu. Hana sahabatku sedang menunggu di dalam!" ujar Diana final penuh dengan penekanan. Rafa tetap menggeleng, Adrian mendekat pada Rafa. Dengan penuh wibawa Adrian merangkul pundak Rafa.
"Hana tidak akan berpaling pada Naufal hanya dengan sekali sentuh. Kamu harus bisa berpikir jernih. Hana sedang menunggu, putramu harus segera terlahir. Lagipula dua putra sudah sangat kuat mengingkat Hana tetap disampingmu. Dia tidak akan berpaling pada laki-laki lain. Apalagi Naufal yang kini sudah menjadi adik iparnya. Atau sekarang Rafa Akbar Prawira mulai tidak percaya pada keteguhan cintanya. Dia mulai goyah dan takut kehilangan Hana. Sekarang tandatangani surat itu. Jangan sampai Hana keluar dari ruang operasi. Kamu mengetahui cara berpikir Hana dan apa yang akan terjadi bila Hana yang keluar?" tutur Adrian, Rafa menoleh seraya mengangguk pelan. Rizal dan Kiara langsung menghela napas penuh kelegaan. Naufal dan Cintya tersenyum melihat Rafa menandatangani semua berkas-berkas rumah sakit. Meski dengan terpaksa akhirnya Rafa menandatangani berkas itu.
"Kak Rafa, aku bukan pesaingmu. Aku disini sebagai seorang dokter yang menolong pasien. Bila di rumah, aku tidak lebih dari adikmu. Jadi sangat tidak mungkin aku melakukan hal yang tidak pantas!" ujar Naufal, lalu pergi mempersiapkan diri. Cintya mengekor dibelakang Naufal. Akhirnya setelah perdebatan, Hana akan segera dioperasi.
"Cemburumu tidak pada tempatnya. Meski bukan Naufal dokter yang menangani hana. Kamu juga tidak perlu cemburu, sebab semua sangat terlambat. Diantara kalian ada dua putra, jadi tidak mungkin Hana mengkhianatimu. Kecuali dirimu yang khilaf mengkhinati Hana. Sebaiknya simpan cemburumu, Hana sahabatku teguh mencintaimu. Jadi cemburu tidak diperlukan, cukup doakan Hana baik-baik saja!" tutur Diana, lalu mengambil berkas dari Rafa. Adrian terkeleh melihat Rafa yang melongo mendengar perkataan Diana.
"Rafa kita telah terjebak dalam cinta dua sahabat yang penuh dengan teka-teki. Jadi sebaiknya siapkan hatimu untuk menyimpan rasa cemburumu. Sebab bagi dua sahabat ini, cemburu bukan tolak ukur besarnya cinta. Namum keteguhan yang akan mereka pegang dalam hati!" ujar Adrian lirih. Rafa mengangguk mengerti, dia memahami jika Hana akan memegang teguh cintanya. Namun Rafa juga tidak bisa mengendalikan hatinya. Rasa cemburu hadir begitu saja. Terkadang kita tidak mampu melawannya. Bukan sebagai tolak ukur, terkadang cemburu ada sebagai pemanis hubungan. Agar semua terasa indah dan lebih bermakna.
"Kamu benar, cemburuku tidak diperlukan!" sahut Rafa dingin, Adrian mengangguk pelan. Dia merangkul sahabatnya sebagai cara untuk mendukung, bukan menertawakan.
__ADS_1