
"Mama, kak Faiq sudah datang? Dimana dia sekarang? Aku merindukannya!" teriak Vania lantang dari luar rumah. Vania memeluk Hana dari belakang. Sesaat setelah melihat Hana berdiri di depan pintu rumahnya.
Vania baru saja pulang kerja. Dia melihat banyak mobil yang berjejer di depan rumahnya. Salah satunya mobil milik Faiq. Vania mengetahui jelas, mana mobil milik Faiq? Kedekatan hubungan kakak dan adik anatara Faiq dan Vania tidak bisa diragukan lagi. Semenjak Vania bekerja di perusahaan Fathan. Vania memilih tinggal bersama Hana. Rafa tidak mengizinkan Vania tinggal sendiri. Bagaimanapun Vania keponakan satu-satunya? Rafa dan Hana tidak akan pernah membiarkan Vania hidup sendiri.
Hana tersenyum simpul, saat dia merasakan pelukan Vania. Rasa rindu Vania pada Kiara terobati. Ketika Vania memeluk Hana. Sebaliknya sikap manja dan manis Vania. Memberikan kebahagian tersendiri bagi Hana. Keinginannya memiliki putri terbayar dengan kehadiran Vania. Hubungan keduanya layaknya ibu dan anak, bukan lagi tante dan keponakannya. Bahkan semenjak Vania tinggal di rumah Hana. Hubungannya dengan Fathan jauh lebih baik. Vania mulai membiasakan diri berbicara dengan Fathan dan Annisa. Meski kedekatan Vania dengan Fathan. Tidak sedekat hubungan Faiq dan Vania.
Lama Vania memeluk Hana, dia merasakan kehangatan seorang ibu. Kehangatan yang sangat sulit dia rasakan. Kehangatan yang jauh disana? Terpisah oleh ratusan kilometer. Butuh berjam-jam untuk sampai hanya demi sebuah pelukan. Namun semua tergantikan dengan kehadiran Hana disampingnya. Kasih sayang Hana, membuat Vania merasa lengkap. Dia tidak pernah merasa hidup jauh dari kedua orang tuanya. Vania bersyukur mebdapatkan kasih sayang yang lengkap dari Rafa dan Hana. Serta perlindungan seorang saudara dari Fathan dan Faiq.
Setelah merasa puas memeluk Hana, Vania melepaskan pelukannya. Vania merasa aneh, saat dia menyadari Hana hanya diam saja mendengar pertanyaannya. Entah kenapa Vania merasa ada yang sedang mengawasinya? Dengan ragu Vania menoleh ke samping. Dia terperangah saat kedua mata indahnya. Menatap sosok yang pernah mengusik hati dan pikirannya. Dia juga melihat Rafa dan Fathan yang duduk berdampingan. Sontak Vania menutup mulutnya. Dia merasa malu dengan sikap manjanya. Jauh dari sikap tegas dan mandiri yang selama ini Vania tunjukkan.
"Mama, kenapa ada Raihan disini? Apa yang sedang dia lakukan?" bisik Vania pelan, Hana tersenyum sembari menatap Vania yang tiba-tiba kikuk melihat kedatangan Raihan dan kedua orang tuanya. Rafa dan Fathan tersenyum ke arah Raihan. Seolah ingin mengatakan padanya. Bahwa Vania menyukai kedatangannya. Kedua orang tua Raihan yang kebetulan ikut. Tersenyum bahagia melihat putranya telah menemukan cinta. Wanita yang mereka pilih mampu menggetarkan hati putranya. Meluluhkan hati beku Raihan yang seolah tidak percaya akan adanya cinta.
"Dia kebetulan ada di kota ini. Jadi sekalian mampir bersama orang tuanya. Mama yang meminta mereka makan malam bersama kita. Faiq juga akan makan malam bersama kita. Bahkan malam ini dia akan menginap. Sekarang bersihkan dirimu, pergi ke dapur bantu Annisa dan Davina. Ingat jangan mencari alasan, untuk menghindar dari makan malam ini!" ujar Hana lirih, Vania menunduk malu mendengar perkataan Hana. Bagaimana Vania tidak akan malu? Hana menjawab pertanyaannya bukan dengan berbisik. Sehingga semua orang bisa mendengarnya. Terutama Raihan yang sedang mereka bicarakan.
Raihan tersenyum ke arah Vania yang melirik ke arahnya. Vania masih tidak percaya melihat Raihan duduk di depan Rafa dan Fathan. Dengan langkah lesu, Vania berjalan menuju kamarnya. Pikirannya kacau tak karuan, dia belum siap bila bertemu dengan Raihan. Apalagi duduk satu meja dengannya.
__ADS_1
"Kalau jalan lihat ke depan. Jika kamu menunduk seperti itu. Bukan hanya kamu yang celaka. Orang lain bisa celaka, karena kecerobohanmu. Lagipula kenapa kamu lesu bertemu Raihan? Apa kamu ada rasa dengannya? Tidak bisakah kamu bersikap biasa saja. Raihan saja santai melihatmu. Jangan terlalu percaya diri. Raihan dan orang tuanya datang untuk bertemu papa dan kak Fathan!" ujar Faiq lantang, sontak Vania mendongak. Dia menatap Faiq tajam. Kedua bola mambelut sempurna penuh amarah. Vania semakin malu mendengar perkataan Faiq yang melantur. Dengan sekuat tenaga Vania menginjak kaki Faiq.
"Aawwwwsss!" teriak Faiq sembari mengangkat kaki yang diinjak Vania. Seketika semua orang menoleh ke arah Faiq. Hana terkekeh melihat pertengkaran Faiq dan Vania. Kedekatan yang penuh kasih sayang antara dua saudara. Rafa dan Fathan menggelengkan kepala. Mereka tidak percaya akan sikap kekanak-kanakan keduanya.
"Cerewet, weeekkk!" ujar Vania sembari menjulurkan lidahnya ke arah Faiq yang kesakitan. Vania berjalan penuh amarah meninggalkan Faiq yang menyebalkan. Vania merasa Faiq ingin membuatnya malu di depan Raihan dan orang tuanya. Rasa malu Vania terlalu besar. Seolah dia tidak akan sanggup melihat atau bertemu lagi dengan Raihan. Faiq telah menghancurkan harga dirinya tanpa sisa.
Hana dan Faiq duduk bersama dengan Raihan dan orang tuanya. Kebetulan orang tua Raihan tak lain sahabat Rafa dan Rizal pesantren. Sehingga sangat mungkin bila mereka bertamu ke rumah Rafa. Faiq menatap Raihan yang terus memandang ke arah Vania menghilang. Faiq melihat cinta yang besar untuk Vania. Namun perkataan Raihan telah membuat Vania terluka. Faiq tidak akan bisa membantu Raihan. Agar Vania berubah pikiran menerima Raihan. Sebab Vania selalu teguh pada pendiriannya.
"Vania Aulia Azzahra, wanita yang penuh kejutan. Sebulan yang lalu aku kagum akan keimanan yang ada dalam dirimu. Sikap santunmu menggetarkan hatiku yang hampa. Pandangan yang selalu kamu jaga, membuatku merasa teduh akan prinsip hidupmu. Beberapa hari yang lalu aku terpukau akan kepintaran dan kejujuranmu. Sikap yang membuatku tersadar akan kelalaianku selama ini. Melupakan nilai-nilai moral, dasar dari sebuah hubungan. Hanya demi sebuah keuntungan semata. Hari ini aku melihat sisi lain dirimu. Sikap manja dan ceriamu seketika membuat hatiku bahagia. Sikap hangat yang selalu aku rindukan. Kemanjaan yang akan membuatku merasa dibutuhkan. Sungguh dirimu penuh dengan kejutan. Adakah lagi yang tersimpan dalam dirimu? Masih kurangkah penyesalanku akan kesalahanku. Aku begitu bodoh telah membuat wanita sebaik dan sehebat dirimu menjauh dariku. Kini aku menyadari cinta tidak mudah kita taklukkan. Aku kalah oleh cintaku, aku tidak sanggup lagi menjauh darimu atau bayanganmu!" batin Raihan sembari menatap bayangan Vania yang menghilang.
"Raihan, Vania wanita yang baik. Hanya saja sikap kerasnya, membuat Vania tidak mudah melupakan rasa sakitnya. Vania wanita yang ceria, senyumnya manis seandainya kamu tahu itu. Jika kamu memang mencintainya. Bersabarlah, dia sudah menunggumu selama ini. Kenapa sekarang bukan kamu yang menunggu dan berusaha meraih hatinya? Vania bukan pribadi yang pendendam. Namun dia juga bukan pribadi yang mudah didekati!" ujar Hana ramah pada Raihan. Hana menatap wajah tampan Raihan. Sosok penuh kharisma Rafa seolah ada dalam diri Raihan. Meski Hana menyukai sosok Raihan. Dia tidak akan ikut campur urusan Raihan dan Vania. Dia akan menyerahkan sepenuhnya pada Vania.
Raihan mengangguk seraya tersenyum mendengar perkataan Hana. Dia menyadari setiap perkataan Hana benar adanya. Vania pribadi yang baik, tapi sulit untuk didekati. Walau terkadang Raihan merasa Vania seolah memberikan harapan. Namun keteguhan Vania mengakhiri perjodohan. Seakan menyadarkan Raihan akan harapan yang tidak pernah nyata. Entah kenapa setelah bertemu Rafa dan Hana? Raihan semakin ingin menjadi bagian dari keluarga ini. Sebuah keluarga yang hangat, tapi tidak pernah berpikir saling menguasai. Sebuah pengertian yang terkadang sulit didapatkan dalam keluarga yang berharta. Hubungan antara orang tua dan anak, layaknya hubungan sesama teman. Tanpa ada sekat, tapi tetap dengan kesopanan yang ada.
"Raihan, jika kamu ingin mengenal adik kecilku Vania. Dekati dulu pawangnya, baru kamu bisa menaklukkannya. Aku yang mengenal Vania puluhan tahun. Tidak pernah bisa mengenal dan memahaminya. Jadi akan sulit bagimu memahami Vania, bila tidak mengenal sang pawang!" sahut Fathan menggoda Raihan, seketika Raihan menatap Fathan dengan raut wajah penuh keheranan. Dia tidak mengerti maksud perkataan Fathan. Sedangkan Faiq yang sejak awal tidak peduli akan perjodohan Raihan dan Vania. Hanya diam saja tidak menanggapi pembicaraan yang terjadi. Faiq sangat acuh akan keberadaan Raihan. Dia duduk diantara mereka atas permintaan Rafa. Jika tidak, Faiq akan memilih menghindar dari pertemuan ini. Bahkan dia tidak menyadari, jika yang dimaksud Fathan tak lain dirinya sendiri.
__ADS_1
"Maksud kakak siapa? Memangnya ada orang yang sangat memahami Vania. Apa mama Hana orang itu?" sahut Raihan lirih, Fathan menggeleng lemah. Raihan semakin penasaran, siapa orang yang bisa memahami Vania? Orang yang begitu dekat dengan Vania. Seseorang yang mungkin bisa membantunya. Fathan melihat raut wajah Raihan yang tegang. Dengan isyarat mata, dia menunjuk ke arah Faiq yang sibuk dengan ponselnya. Rafa dan Hana serta kedua orang tua Raihan hanya bisa tersenyum mendengar gurauan Fathan.
"Tidak mungkin, pasti kakak bercanda. Aku pikir orang yang kakak katakan memang ada. Sempat aku berharap, dia bisa membuat aku dan Vania dekat!" ujar Raihan lirih, Fathan tersenyum lalu mengangguk pelan. Dia melihat Faiq yang sibuk bermain dengan ponselnya. Faiq selalu bersikap seperti itu. Dia seakan tidak peduli akan urusan orang lain.
"Raihan, apa yang aku katakan benar? Hanya dia yang bisa menaklukkan hati Vania. Dia sangat dekat dengan Vania. Mungkin kamu tidak percaya. Dia satu-satunya laki-laki yang dikenal Vania. Tidak ada laki-laki yang ingin dikenal Vania selain dia dan dirimu. Aku saja tidak pernah dianggap keberadaannya oleh Vania. Aku dekat dengan Vania baru satu bulan terakhir. Itupun hanya di kantor, jika di rumah kamu lihat sendiri. Siapa orang yang pertama dia tanyakan? Tidak lain sang pawang, Muhammad Faiq Alfarizqi!" ujar Fathan lirih dengan penekanan saat menyebut nama Faiq.
Seketika Faiq mendongak, saat namanya disebut. Dengan wajah santai tanpa beban. Faiq menoleh ke arah Fathan dan Raihan. Sikap dingin dan acuh jelas terlihat. Faiq benar-benar tidak peduli akan hubungan Raihan dan Vania. Jangankan hubungan Raihan dan Vania. Bahkan hubungan Steven dan Vania, Faiq tidak ingin ikut campur. Meski Steven sahabatnya dalam hal kemanusiaan.
"Meski aku mengenal Vania, aku tidak akan ikut campur. Raihan dan Vania sama-sama dewasa. Keduanya sudah bisa memutuskan sendiri. Aku percaya Vania mengetahui yang baik dan benar untuk dirinya. Dia tidak akan terus menyimpan dendam. Jika memang Raihan layak untuk dimaafkan. Sebaliknya aku yakin pada keteguhan cinta Raihan. Jika dia memang mencintai Vania dan menyadari akan kesalahannya. Dia akan mencari cara, agar kata maaf itu segera terucap. Dia akan sabar menanti kata maaf itu. Bukankah Vania sudah mencintainya dengan tulus selama ini. Vania layak kecewa, ketika ketulusannya berbalas keraguaan. Satu hal yang ingin aku katakan. Vania layaknya gunung es yang beku dan dingin. Namun sedingin apapun es dan sebeku apapun gunung. Akan mencair dengan sinar matahari yang hangat. Jadilah sinar matahari untuk Vania. Hangatkan dingin sikap dan cairkan hatinya yang beku dengan cahaya cintamu. Dia butuh seseorang yang memahaminya dalam kesederhanaan bukan dengan kemewahan. Pahami kata-kataku, hanya itu yang bisa aku katakan!" tutur Faiq, Raihan mengangguk pelan. Dia merasakan amarah Faiq, tapi disisi lain dia merasakan kehangatan Faiq.
"Raihan, aku tidak peduli kamu atau orang lain yang kelak menjadi suami Vania. Siapapun kelak jodoh Vania? Aku akan menerimanya dengan senang hati. Namun jangan lupa, siapapun yang meneteskan air mata Vania? Dia akan berurusan denganku dan kepastikan dia akan membayar setiap tetes air mata Vania. Selamanya Vania adik kecilku, dia tidak sendiri. Ada aku kakak yang akan melindunginya!" ujar Faiq tegas, lalu berdiri hendak masuk ke dalam rumah. Raihan terdiam membisu mendengar perkataan Faiq. Dalam hati dia yakin akan cintanya. Sedikitpun Raihan tidak takut akan perkataan Faiq. Hanya kebahagian Vania yang menjadi tujuan hidupnya.
"Aku akan mengingat setiap perkataan kakak!" sahut Raihan, Faiq menoleh ke arah Raihan. Lalu dia berjalan menuju dapur menemui Davina dan Vania. Fathan tersenyum penuh kebanggaan mendengar perkataan Faiq. Memang benar selamanya Vania adik kecil mereka. Tidak akan ada yang bisa menyakiti Vania. Sebab Fathan dan Faiq akan melindungi Vania dengan segala cara.
"Salwa, dialah Faiq putra keduaku. Dia dan Vania memiliki karakter dan sifat yang sama. Meski keduanya dingin dan keras dalam hidupnya. Namun hatinya penuh dengan cinta dan kasih sayang pada sesama. Maafkan Faiq yang sedikit kurang sopan. Dia kecewa pada Raihan, sebab Faiq satu-satunya orang yang memahami Vania. Seberapa besar usaha Vania ingin pantas menjadi seorang istri. Faiq hanyalah seorang kakak yang takut melihat adiknya terluka. Baik Faiq dan Vania tidak akan menangis dalam pelukan kami. Mereka memiliki cara menyelesaikan masalah yang sedang terjadi. Faiq jugalah orang yang membuat Vania menyadari akan kemampuannya. Sehingga Vania bangkit dari keterpurukkannya, karena perjodohan yang dibatalkan?" ujar Hana pada Salwa bunda Raihan. Hana tidak ingin sahabat suaminya merasa kecewa dan marah melihat sikap dingin Faiq.
__ADS_1
"Aku bisa memahami kekecewaannya. Tidak ada wanita yang akan menerima bila dihina. Pantas bila Faiq marah, sebab sebagai seorang kakak dia tidak ingin melihat adiknya menangis. Raihan telah melalukan kesalahan. Biarkan dia menemukan cara mendapatkan kata maaf dari Vania!" ujar Salwa, Hana mengangguk setuju. Seketika Raihan menunduk malu. Kebodohannya yang membuat dirinya jauh dari sang makmum.
"Maafkan Raihan!"