KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Perdebatan


__ADS_3

"Selamat pagi!" sapa Raihan mesra, lalu mengecup puncak kepala Vania. Dengan santau Vania mengangguk tanpa menoleh pada Raihan.


"Assalammualaikum, cara kita menyapa!" ujar Vania dingin, Raihan mengangguk mengerti sekaligus malu. Vania mengingatkan Raihan yang sudah mulai lupa cara menyapa sesama muslim. Sedangkan Raihan merasa aneh dengan sikap Vania yang mudah marah dan merajuk.


Sejak hamil Vania jauh lebih sensitive, bahkan cenderung berlebihan dan posesif. Raihan berusaha mengerti kondisi Vania yang berubah-ubah. Raihan mencoba menjaga emosi dengan sabar yang tidak ada batasnya. Raihan menjadi pribadi yang penyabar di depan Vania. Namun bila di depan para karyawannya. Raihan menjadi dingin tak berhati.


"Waalaikumsalam, maaf sayang lupa!" sahut Raihan ramah. Tak terlihat rasa marah atau kesal Raihan. Ketika Vania mengingatkannya, meski nada bicara yang dingin. Sebab Raihan memahami, Vania tidak akan bersikap seperti itu. Bila tidak ada yang salah dengan dirinya. Raihan duduk di meja makan, tapi tatapannya tidak lepas dari raut wajah Vania yang ditekuk.


"Hari ini aku akan ke luar kota. Ada proyek yang harus aku kerjakan!" ujar Vania singkat dan tegas, seketika Raihan menoleh keget. Tidak mungkin Raihan membiarkan Vania keluar kota. Kehamilannya yang masih sangat awal bisa berbahaya. Raihan begitu khawatir akan kondisi Vania. Sebaliknya Vania terlihat santai dengan kepergiannya.


"Sayang, kamu sedang hamil. Tidak bisakah kepergianmu digantikan orang lain. Aku sendiri yang akan meminta izin pada kak Fathan!" sahut Raihan, Vania menggeleng lemah. Sebagai seorang karyawan biasa, tidak sepantasnya Vania memilih pekerjaan. Apalagi kepergiannya demi proyek keluarga yang digagasnya sendiri.


"Aku akan tetap pergi, sejak awal proyek ini aku yang mengerjakannya. Jadi aku akan tetap bertanggungjawab sampai selesai!" ujar Vania tegas, Raihan menatap lekat Vania. Jawaban yang tidak pernah Raihan harapkan dari Vania.

__ADS_1


"Apa yang sebenarnya kamu kejar dengan bekerja? Aku mampu memenuhi kebutuhanmu. Kamu bisa menghabiskannya sesuka hatimu. Bahkan setiap hari kamu bisa berbelanja. Tidak akan aku menghentikannya. Jadi berhentilah bekerja, bukankah seorang istri harus menuruti perkataan suaminya!" ujar Raihan sedikit emosi, Vania menunduk lemah. Dia melihat amarah Raihan yang tak seharusnya.


Vania berdiri mencium punggung tangan Raihan. Dengan langkah perlahan Vania menjauh dari meja makan. Kepergian Vania semakin membuat Raihan marah. Dia merasa Vania telah meremehkan dirinya. Sikap acuh Vania membuat Raihan tak berharga.


"Tunggu Vania, aku diam bukan berarti aku menerima sikap kerasmu. Aku memang mencintaimu. Bukan berarti rasa cintaku membuatmu benar dengan bersikap keterlaluan. Kamu begitu menghormatiku, tapi itu hanya di bibirmu. Kenyataannya hari ini kamu menentangku. Kamu menganggap angin lalu kecemasan dan kegelisahanku!" tutur Raihan lirih. Tak terdengar amarah, tapi perkataan Raihan tak lebih dari keraguan akan Vania.


Vania membalikkan badannya 180° menghadap ke arah Raihan. Dia berdiri tegak di tempatnya, tanpa menghampiri Raihan. Terlihat Raihan duduk dengan angkuh. Vania melihat sisi lain Raihan yang begitu arogant. Vania menarik napas sekuat-kuatnya, lalu melepaskan dengan perlahan. Seakan melepaskan beban yang sedang dia tanggung.


"Vania, kamu melampaui batasmu!" teriak Raihan emosi, Vania tersenyum simpul melihat amarah Raihan. Kemarahan yang seolah membenarkan perkataan Vania.


"Tuan Raihan, aku bekerja bukan demi hidup mewah yang nyata bisa aku dapatkan darimu. Aku bekerja bukan demi ingin sejajar denganmu. Aku bekerja hanya demi sebuah ketenangan. Semakin banyak aku bekerja, semakin aku tenang melihatmu bersama wanita-wanita lain. Bukankah kamu sendiri yang memintaku dewasa, berhenti menjadi anak belasan tahun yang manja dan cemburu tidak jelas. Lantas kenapa sekarang anda merasa aku melampaui batasan sebagai seorang istri!" tutur Vania lirih, Raihan menatap Vania penuh amarah.


Semakin Vania memberikan penjelasan, Raihan semakin marah. Raihan seolah tidak menerima penjelasan Vania. Dia tetap berpikir, Vania mengacuhkan dan menganggap dirinya tak bisa membahagiakan Vania. Meski sebenarnya Raihan mampu memenuhi kebutuhan hidup Vania. Tanpa harus Vania bekerja dan membahayakan kandungannya.

__ADS_1


"Perkataanmu semakin keras, kamu dingin dan seolah benar atas sikap tak pantasmu. Apa kamu merasa mampu hidup tanpaku? Sebab keluarga Prawira bukan keluarga sembarangan. Aku menyadari kini, harta keluarga Prawira tak pantas diremehkan. Dengan harta keluargamu kamu bisa hidup tanpa kekurangan. Aku saja yang bodoh, menganggap dirimu sederhan dan berbeda dengan yang lain!" ujar Raihan lirih, lalu kembali duduk.


Vania diam membisu, semakin dia bicara. Raihan semakin merasa Vania menghina dan meremehkannya. Meski sebenarnya tak perlu ada perdebatan diantara keduanya. Semua akan sangat mudah. Bila Raihan menuruti sikap keras Vania. Sebab Raihan sendiri yang berharap Vania mandiri dan keras dengan hidupnya. Agar tak ada rasa cemburu yang selalu membuat Raihan gelisah.


"Harta keluarga Prawira tak pernah membuatku bangga. Sekali lagi, aku bekerja hanya ingin mengisi waktu luangku. Jika anda keberatan, karena aku sedang mengandung darah dagingmu. Percayalah, sampai saat ini aku selalu menjaganya. Tak pernah aku melewatkan jadwal kontrolku. Meski sebagai seorang suami anda tak pernah memiliki waktu untuk pergi mengantarkan. Kegelisahan dan kecemasanmu wajar dan aku menghargai itu. Namun sesungguhnya, bukan hanya kecemasan yang aku butuhkan. Aku juga butuh waktumu, sebab harta yang kamu miliki. Takkan mampu membeli waktu yang hilang diantara kita!" tutur Vania, Raihan terdiam mendengar perkataan Vania. Sebuah kenyataan yang begitu menyayat hatinya.


"Jngan pernah menghina keluargaku, hanya karena sikap kerasku. Selama ini mereka mendidikku bukan dengan harta, tapi kasih sayang tulus. Jadi bukan salah mereka, seandainya hari ini aku keras dan bersikap kasar padamu. Aku memang seorang istri yang harus patuh padamu. Namun alangkah bijaknya, sebelum menuntut padaku. Kamu melihat seperti apa dirimu bersikap sebagai suami?" ujar Vania lalu melangkah pergi.


Praaaayyyrrr


Raihan membanting gelas tepat ke sudut ruangan. Dia benar-benar marah melihat sikap dingin Vania. Raihan tak pernah menduga, betapa keras dan dingin Vania. Dia mengatakan semuanya, tanpa berpikir Raihan akan terluka dengan semua kenyataan itu. Raihan merasa terhina dengan sikap tenang Vania, tapi bak ombak yang ingin memecahkan karang.


"Meski semua barang di rumah ini kamu banting. Tetap saja kamu tidak akan menyadari kesalahanmu. Jangan pernah berpikir ada rasa cemburu atau cinta yang terlihat dariku untukmu. Kemarahan dan sikap angkuhmu, membuatku mengubur dalam-dalam rasa itu. Proyek ini menjadi yanga terakhir aku kerjakan. Sebab bagi hidupku ini bukan sekadar pekerjaan. Impian dan harapan seorang Vania Aulia Azzahra ada menjadi satu. Harapan yang kuharap menjadi senja untuk orang lain. Aku tidak butuh izinmu, aku butuh pengertianmu!"

__ADS_1


__ADS_2