KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Mama...


__ADS_3

Malam gelap menjadi sangat terang. Saat sang rembulan bersinar terang. Sang bintang berkelip indah, menghiasi langit malam yang kosong. Perpaduan yang saling mengisi kekosongan langit malam yang gelap.


Seperti itulah Annisa bagi Naufal. Dia layaknya bulan yang menyinari gelap hati Naufal. Annisa bintang kecil yang menghiasi hidup Naufal. Dunia Naufal seakan hancur. Satu-satunya alasan bahagianya, tengah berjuang antara hidup dan mati. Langit Naufal seakan runtuh, saat bulannya tak bersinar lagi. Annisa alasana semangat hidup seorang Naufal. Dalam sekejap semua hancur, saat Naufal melihat tubuh Annisa berlumuran darah.


Setelah hampir seminggu lebih Annisa dalam kondisi koma. Akhirnya pagi itu Annisa tersadar dari tidur panjangnya. Rembulan Naufal kembali bersinar. Langit gelapnya terang dengan senyum tipis Annisa. Keindahan malam Naufal kembali, seiring tersadarnya sang buah hati.


Hampir dua minggu Annisa dirawat, pagi ini dia diperbolehkan pulang. Namun semua tak lagi sama. Annisa gadis periang, kini telah menghilang. Menyisakkan gadis kecil pemurung. Tak ada lagi tawa yang terdengar dari bibir mungilnya. Berganti isak tangis yang tak pernah berhenti. Awan mendung seolah tak ingin meninggalkan kehidupan Naufal. Saat dirinya mampu bernapas lega, melihat sang putri tersadar. Kini dia harus melihat sang buah hati lemah tak berdaya.


Hampir setiap hari Hana datang mengunjungi Annisa. Hana datang saat Naufal tidak ada. Dia tidak pernah datang sendiri. Hana selalu datang bersama Salsa atau Diana. Semua dia lakukan demi menjaga perasaan Rafa suaminya. Hana tidak ingin menyakiti hati Rafa. Sepenuh hati Hana menganggap Annisa sebagai putrinya. Namun rasa yang pernah ada diantara Hana dan Naufal. Sedikit banyak akan menyinggung Rafa sebagai suami Hana.


Khusus pagi ini Hana datang bersama Rafa. Semalam mereka membicarakan sesuatu tentang penyembuhan mental Annisa. Rafa memberikan sebuah ide yang tidak pernah Hana duga. Dengan lapang dada Rafa memberikan sebuah pendapat yang mungkin membantu penyembuhan Annisa.


"Annisa sayang, ini nenek Mira. Kita pulang sekarang, papa dan kakek sedang menunggu. Nenek akan membelikan Annisa mainan yang banyak. Kakek akan mengajak Annisa jalan-jalan!" bujuk Mira pada Annisa. Sebaliknya Annisa tak mengnanggapi perkataan Mira. Annisa terus menunduk, sedikitpun dia tidak menyahuti perkataan Mira. Naufal tertunduk lesu melihat kondisi Annisa. Semenjak sadar, Annisa lebih banyak diam. Naufal tidak pernah melihat senyum di wajah putrinya. Suara merdu Annisa tak lagi didengar telingan Naufal.


Annisa Fitri Eka Wirawan tak lagi mampu tersenyum. Dia bahkan tak ingin berbicara dengan keluarganya. Hanya anggukan dan gelengan sebagai jawaban dari pertanyaan yang ditujukan padanya. Annisa tak lagi mampu tersenyum, tak ada lagi kata bahagia dalam hidupnya. Semua musnah sesaat setelah Annisa mengetahui dirinya tak lagi mampu berjalan.


Annisa periang harus mengikhlaskan kedua kakinya. Dia mengalami kelumpuhan, setelah kecelakaan parah yang menimpanya. Rambut indah legamnya tak lagi ada, yang terlihat bekas jahitan yang belum sepenuhnya kering. Annisa terpuruk melihat kondisinya. Naufal merasa lemah sebagai seorang ayah. Annisa memilih diam, menutupi dukanya bahkan untuk setetes air mata saja. Annisa tidak berkenan, seakan menunjukkan hidupnya telah berakhir.

__ADS_1


Mira sejak tadi membujuk Annisa untuk ikut dengannya pulang. Namun bukan mengangguk, Annisa terus menepis tangan Mira kasar. Tatapan tajam penuh rasa kecewa yang diperlihatkan Annisa. Naufal tidak mampu mendekat pada Annisa. Dia tidak tega melihat putrinya tersiksa jiwa dan raganya. Annisa tidak ingin bersandar pada Naufal atau keluarga Wirawan yang lain.


"Sayang, kita harus pulang. Nenek janji akan mengizinkan Annisa bertemu tante Hana. Nenek sendiri yang akan mengantar Annisa menemui tante Hana!" ujar Mira, Annisa menggeleng lemah. Dia menepis tangan Mira kasar, Naufal melihat sikap putrinya yang berbeda. Hanya amarah dan rasa kecewa yang ditunjukkan Annisa. Tidak ada lagi Annisa, gadis kecil ceria pembawa sinar terang dalam hidup Naufal. Sorot mata Annisa memperlihatkan kekecewaan yang begitu besar pada keluarganya.


"Sayang, maafkan papa yang tidak pernah bisa mengerti kesepianmu. Sekarang papa mohon, sekali saja Annisa memberikan kesempatan. Papa akan menebus hari-hari yang telah hilang. Hanya akan ada kita berdua. Papa akan membawamu pergi dari rumah nenek. Kita akan tinggal bersama!" bujuk Naufal, Annisa diam melihat Naufal yang sedang menghiba. Naufal melihat tatapan kecewa sang putri. Seandainya Annisa menangis, mungkin Naufal tidak akan sesakit ini. Diam Annisa bagai sebilah pisau yang menusuk tajam hati Naufal. Sakit yang tak berdarah. Naufal mundur beberapa langkah. Dia tak mampu lagi menatap kedua mata indah putrinya. Kedua mata yang mulai meredup. Naufal tak mampu membayangkan hari-hari sulit yang akan dilalui Annisa. Kursi roda yang akan menopang tubuh gadis kecilnya kini.


"Naufal, hubungi Hana minta dia datang. Sekeras apapun kalian membujuk Annisa. Hanya diam dan tatapan penuh kebencian yang kalian terima. Hanya Hana yang bisa membujuknya. Memohonlah pada Rafa, agar dia mengizinkan Hana datang kemari!" ujar Ilham Wirawan, Naufal menggeleng lemah. Sudah cukup Naufal merepotkan Hana. Dia tidak ingin menjadi alasan pertengkaran antara Hana dan Rafa. Naufal menatap lekat wajah sang putri. Dia yang harus menanggung akibat akan dendam masa lalu. Gadis kecil yang tidak mengerti apa-apa?


"Aku tidak ingin terus dan terus merepotkan Hana. Dia memiliki keluarga yang harus dia jaga. Aku akan berusaha membujuk Annisa. Semoga dia menerima permintaan maafku. Papa yang telah gagal melindunginya!" ujar Nuafal lirih. Annisa memejamkan kedua matanya. Seolah dia tidak ingin melihat atau mendengar apapun. Seiring kakinya yang lumpuh. Annisa merasa jiwa dan hatinya seakan mati. Tak mampu merasakan apapun?


"Tidak perlu kita meminta bantuan Hana. Dia penyebab Annisa seperti ini. Jika ada yang harus bertanggungjawab, orang itu tak lain Hana. Dia yang membuat cucuku membangkang. Sehingga dia memaksa untuk bertemu Hana. Aku tidak akan rela bila dia ada disini!" ujar Mira sinis, Naufal dan Ilham menggeleng lemah. Menyayangkan sikap sombong Mira yang tak pernah berubah. Sikap yang telah menghancurkan kebahagian keluarganya sendiri.


"Mama!" panggil Annisa, Hana mengangguk seraya tersenyum. Annisa merentangkan kedua tangannya. Hana menghampiri Annisa, memeluk tubuh mungil gadis kecilnya. Naufal tertegun melihat kasih sayang Annisa pada Hana. Suara Annisa terdengar oleh Naufal. Meski bukan namanya yang dipanggil. Sudah bisa membuat Naufal bahagia. Rafa melihat jelas kedekatan antara Hana dan Annisa. Kasih sayang seorang ibu pada putrinya.


"Mama, bawa aku pulang. Aku ingin tinggal bersamamu. Jangan biarkan mereka menjauhkan kita. Aku hanya ingin memelukmu. Aku tidak akan mengeluh, meski aku tidak lagi bisa berjalan. Namun biarkan aku tinggal bersama mama. Bawa aku pergi, aku mohon!" ujar Annisa menghiba, Hana mengangguk sembari memeluk Annisa. Mira meradang mendengar perkataan Annisa. Dengan angkuhnya Mira menarik tubuh Annisa menjauh dari pelukan Hana.


"Lepaskan Annisa, dia cucuku. Takkan kubiarkan dia ikut bersamamu. Kamu bukan mamanya, kamu hanya wanita tidak tahu diri. Kamu ingin membalas dendam padaku. Dengan menjauhkan Annisa dariku. Tidak akan pernah aku biarkan!" ujar Mira emosi, Sembari menarik tubuh Annisa. Sebaliknya Annisa memeluk erat Hana. Dia memegang erat baju Hana. Sengaja Hana membiarkan Mira melakukan semua itu. Hana ingin melihat sikap tegas Naufal pada keluarganya. Lama tarik-menarik terjadi. Tiba-tiba Naufal menarik tangan Mira. Annisa menenggelamkan kepalanya dalam pelukan Hana. Naufal melihat ketakutan yang begitu besar di mata putrinya. Naufal telah kehilangan kasih sayang putrinya. Naufal takkan membiarkan senyum menghilang dari wajah putrinya.

__ADS_1


"Mama, cukup biarkan Annisa tinggal bersama Hana. Setidaknya hanya itu yang kini bisa membuat putriku bahagia. Keegoisan mama telah merebut hari-hari bahagianya. Dia telah kehilangan masa anak-anaknya. Lalu sekarang dengan keangkuhan mama. Ingin merebut kembali senyum putriku. Naufal tidak akan tinggal diam. Apapun demi senyum Annisa akan Naufal lakukan. Sudah cukup mama menghancurkan kebahagianku. Tidak akan kubiarkan mama menghancurkan kebahagian putriku!" ujar Naufal emosi, sesaat setelah menarik tangan Mira. Ilham melihat amarah Naufal untuk pertama kalinya. Selama ini Naufal selalu diam menerima keputusan orang tuanya. Meski akhirnya dia harus merelakan kebahagiannya. Salah satunya kehilangan Hana untuk selamanya.


"Tuan Rafa, saya mohon izinkan Annisa tinggal sementara bersama Hana. Aku janji akan menemui Annisa, bila anda sudah mengizinkan. Aku telah gagal melindungi putriku. Dia kehilangan masa anak-anaknya. Biarkan hari ini aku berjuang mempertahankan senyum diwajahnya. Senyum yang hanya akan ada bersama Hana!" ujar Naufal menghiba, dia menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Rafa tersenyum sembari menggendong Fathan. Hana menatap wajah Annisa, terpancar raut wajah bahagia. Sesaat setelah Naufal mengizinkan Annisa tinggal bersama Hana.


"Mama tidak akan setuju. Mereka bukan siapa-siapa Annisa? Kita tidak pernah tahu, apa yang akan mereka lakukan pada Annisa? Naufal kamu jangan bercanda dengan hidup putrimu. Mereka bukan kerabat kita!" ujar Mira emosi, Hana tersenyum sinis mendengar perkataan Mira. Hana melepaskan pelukannya, dia berjalan menghampiri Mira.


"Anda begitu takut kami memperlakukan Annisa dengan buruk. Lalu bagaimana dengan sikap anda? Dengan keegoisan anda, Annisa yang tidak bersalah harus terlibat dalam dendam masa lalu. Dia hanya anak kecil, tapi anda dengan angkuh menjadikan Annisa sebagai bagian dari dendam anda. Apa kedua mata anda buta? Lihat akibat perbuatan anda, cucu anda mengalami kelumpuhan. Anda seharusnya memikirkan masa depannya. Bukan malah mencari kesalahan saya" tutur Hana, Mira meradang mendengar perkataan Hana. Meski yang dikatakan Hana benar, tapi semua itu di luar kendalinya.


"Kak Naufal, aku tidak butuh izin dari orang tuamu. Sebab Annisa putrimu, darah dagingmu. Dia menjadi tanggungjawabmu sampai ada tangan lain yang menggenggamnya. Annisa selamanya putrimu, dalam langkahnya ada ridhomu. Sekarang aku bertanya, apakah kamu mengizinkan Annisa tinggal bersamaku? Setidaknya sampai dia bisa menerima kelemahannya. Aku dan kamu memiliki pemikiran yang sama. Tidak ingin melihat Annisa terpuruk dan frustasi!" ujar Hana, Naufal mengangguk ragu.


"Tapi tuan Rafa!" ujar Naufal lirih, Rafa mendekat. Dia menepuk pundak Naufal pelan. Rafa mengutas senyum simpul ke arah Naufal.


"Sejujurnya kedatanganku kemari bersama Hana. Sengaja untuk meminta pengasuhan dan merawat Annisa untuk sementara waktu. Kami berdua memutuskan akan merawat Annisa. Aku juga sudah menghubungi sahabatku. Dia dokter spesialis saraf. Aku memintanya datang untuk melakukan perawatan pada Annisa. Kurang dari seminggu dia akan datang. Oleh karena itu, secara khusus aku meminta padamu. Izinkan Annisa tinggal bersama kami!" ujar Rafa tegas, Naufal terperangah mendengar perkataan Rafa. Dia tidak pernah menyangka Rafa akan membantu dirinya merawat Annisa. Membiarkan Hana terus berhubungan dengannya dan keluarga Wirawan.


"Terima kasih!" ujar Naufal seraya menangkupkan kedua tangan. Rafa membalas dengan menganggukkan kepala.


"Tidak perlu berterima kasih. Aku melakukan semua ini demi istriku Hana. Dia sangat menyayangi putrimu. Aku tidak ingin Hana kehilangan senyum di wajahnya. Hanya karena memikirkan kondisi Annisa. Sama halnya dirimu yang menganggap kebahagian Annisa segalanya dalam hidupmu. Aku pun sama, hanya senyum Hana yang membuatku mampu berdiri. Temui putrimu kapanpun? Meski tanpa izinku. Bukan aku tidak takut akan kehadiranmu, tapi aku jauh lebih percaya pada istriku!" ujar Rafa lirih, Hana mengangguk pelan. Hana tersenyum pada Rafa. Dia merasa bahagia bisa menikah dengan Rafa.

__ADS_1


"Hana, hanya Rafa yang mampu membahagiakanmu! Dia imam dunia akhiratmu, sungguh kalian pasangan yang sangat serasi. Dengan tangan terbuka dan pikiran terbuka. Rafa mengizinkan dorimu merawat putriku. Buka demi sebuah tanggungjawab. Lebih dia ingin melihatmu bahagia. Sungguh dia bukan laki-laki biasa. Hana, cintai Rafa sebesar dia mencintaimu. Kini akan kubiarkan cintaku untukmu. Abadi di dalam lubuk hatiku yang paling dalam. Melihatmu bahagia, sudah lebih dari cukup untukku!" batin Naufal, saat sekilas dia melihat Hana dan Rafa saling tersenyum.


...☆☆☆☆☆...


__ADS_2