KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Hati yang Terpaut


__ADS_3

"Tuan Rafa Akbar Prawira, ini yang ingin anda ketahui. Silahkan anda lihat sepuasnya!" ujar Diana kesal, ternyata Diana memeluk Hana untuk mengambil itu dari tasnya. Hana dan Diana berjalan menjauh dari Rafa. Mereka menghentikan taxi, meninggalkan Rafa yang termenung.


"Hana, dia....!" ujar Rafa, kertas yang dibacanya jatuh.


"Rafa, ada apa?"


"Hana, dia....?"


"Rafa, selamat. Kamu akan segera menjadi ayah. Hana sedang mengandung buah hati kalian. Kenapa kamu diam saja? Kejar Hana, minta maaf padanya! Aku yakin Hana akan memaafkanmu. Dia bukan pribadi yang pendendam!" ujar Adrian pada Rafa. Dia mencoba mengingatkan Rafa akan tanggungjawabnya sebagai seorang suami. Calon ayah bagi janin yang dikandung Hana. Rafa diam mematung, dia membisu seribu bahasa. Tubuhnya kaku, bibirnya kelu mengingat perlakuannya yang hampir saja membunuh Hana dan calon bayinya.


"Tunggu Rafa, aku tidak salah dengar. Hana istrimu dan dia sedang mengandung bayimu. Kamu kehilangan akal Rafa, kamu jadikan istrimu pelayan di restoran milikmu sendiri. Lebih parahnya lagi aku terlibat. Istri pemilik restoran ini, mencuci piring bekas pelanggan. Sungguh kejam kamu Rafa, tak berhati!" ujar Zyan tak percaya. Dia sangat kecewa mendengar sikap Rafa yang kejam. Zyan tak pernah menyangka, jika Rafa bisa memperlakukan istrinya sehina itu.


"Kamu baru sadar jika aku kehilangan akal! Aku malah lebih dari itu. Aku Brengsek, aku hampir membunuh istri dan anakku. Apa kamu puas mendengarnya? Aku brengsek....!" teriak Rafa marah, dengan sekuat tenaga Rafa membanting barang yang ada di depannya.


Pryyaaarrr

__ADS_1


Suara gelas dan piring berjatuhan menghantam lantai dengan sangat kencang. Adrian mendekap erat tubuh Rafa, dia mencoba menghalangi Rafa menghancurkan restoran ini. Para pegawai ketakutan melihat Rafa marah. Zyan melihat sosok lain dari sahabatnya. Sebuah fakta yang sengaja ditutupi, tapi meninggalkan luka yang begitu dalam di hati Rafa.


"Rafa, tenanglah! Sekarang lebih baik kita temui Hana. Dia lebih butuh dirimu sekarang. Simpan amarahmu, seharusnya kamu bahagia. Jangan sampai Hana berpikir, kamu menolak kehadiran bayi yang sedang dia kandung. Kamu akan menyesal seumur hidupmu!" ujar Adrian, sembari menepuk pelan punggung Rafa. Zyan mendekat pada Rafa, dia tidak tega melihat Rafa terpuruk.


"Rafa, apa yang dikatakan Adrian benar? Sebelum semuanya semakin terlambat. Temui Hana, minta maaf atas salah paham yang terjadi. Kamu harus berani menanggung resiko atas sikapmu pada Hana tadi. Segera temui istri dan anakmu. Mereka butuh perlindunganmu!" ujar Zyan, Rafa tetap tak bergeming. Adrian dan Zyan sudah tidak bisa membujuk Rafa lagi. Mereka melihat penyesalan yang begitu besar di kedua mata Rafa.


Tiba-tiba Rafa berlari sekuat tenaga. Adrian menyusul Rafa, dia tidak ingin terjadi sesuatu pada Rafa. Saat Adrian melihat Rafa hendak membuka pintu mobil. Dengan sigap Adrian mendahuluinya. Adrian mengambil alih kemudi. Jika Rafa menyetir dalam kondisi emosi. Takutnya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Sekitar setengah jam lebih Adrian mengemudikan mobil Rafa. Sesampainya mereka di rumah Hana, pintu rumah dalam kondisi terbuka. Rafa berlari masuk ke dalam rumah. Hanya satu yang ingin dia lakukan. Meminta maaf pada Hana, meluapkan kerinduan yang selama ini terpendam.


"Hana!" teriak Rafa sembari berlari ke dalam rumah. Belum masuk sampai ke dalam, Diana sudah mencegah dengan telunjuk menempel pada mulutnya. Seketika Rafa terdiam, entah apa yang membuat Rafa menuruti permintaan Diana? Mungkin ada trauma yang menghantui Rafa. Dia terlalu takut memaksakan sesuatu, yang pada akhirnya membuatnya semakin jauh dari Hana.


Dengan langkah gontai Rafa berjalan menuju kamar Hana. Sebuah kamar kecil tempat penyatuan cintanya dengan Hana. Sebuah pengabdian seorang Hana Khairunnissa melepas kesuciannya hanya untuk laki-laki tak berhati Rafa Akbar Prawira. Tubuh Rafa bergetar hebat, kedua matanya mulai terasa panas. Dia melihat tubuh mungil istri yang sangat dicintainya, meringkuk di bawah selimut yang mulai pudar warnanya.


Sederhana, hanya kata itu yang mencerminka kehidupan Hana. Rafa berjalan mendekat, dia berjongkok di depan wajah Hana. Suara dengkuran halus Hana, bagai menyayat hati Rafa. Mengingatkan betapa tidak bergunanya dirinya sebagai seorang suami. Istrinya tidur tanpa dekapan hangatnya. Melainkan selimut yang mulai usang.

__ADS_1


Suara isak tangis yang masih tersisa, bagai garam yang tertabur sempurna di atas luka Rafa. Perihnya terasa hingga ke ulu hati, sakitnya mengingatkan Rafa akan sikap kasar yang hampir membuat istri dan buah hatinya tiada. Sisa air mata yang menetes, mengingatkan Rafa betapa kejam dirinya. Suami yang seharusnya melindungi, malah dia yang menumpahkan air mata suci istrinya. Rafa seakan tak mampu lagi berdiri. Seluruh tulangnya hancur, dia melukai Hana tanpa ampun.


Tanpa Rafa sadari, air matanya mengalir. Rafa menangis pilu, melihat Hana harus terus tersakiti. Meski sejujurnya Rafa tidak ingin menyakiti, tapi semakin Rafa mencintai Hana. Malah semakin besar pula luka yang Rafa torehkan.


"Sayang, terima kasih kamu menjadikanku laki-laki sempurna. Meski aku tak pernah pantas menjadi suami dan ayah dari putra-putrimu. Aku bukan manusia sempurna, tapi aku ingin sempurna untukmu dan buah hati kita. Sayang, masih adakah cara untukku menjadi bagian dari hidupmu. Aku mencintaimu dengan seluruh hatiku. Tak pernah aku berpikir menyakitimu. Katakan apa yang harus aku lakukan, agar kata maaf terucap dari bibirmu. Buka pintu hatimu, setidaknya beri kesempatan laki-laki brengsek ini berubah. Sayang, jika mencintaiku terlalu menyakitkan untukmu. Bencilah aku, itu jauh lebih baik. Daripada kamu pergi dari sisiku. Akan kutinggalkan semua kemewahan ini, asalkan aku bisa bersamamu dan buah hati kita. Izinkan dia mengenalku sebagai ayahnya. Jangan rampas hak itu dariku. Dunia telah merampas kasih sayang ibu dariku. Jangan buat buah hatiku kehilangan kasih sayangku. Hana Khairunnissa, tidak ada nama lain selain dirimu. Beri aku satu kesempatan. Akan kulawan dunia demi dirimu. Aku tidak akan berjanji bisa membahagiakanmu. Sebab semakin aku ingin membahagiakanmu, semakin aku melukaimu. Namun aku yakinkan dirimu, bahagiamu dan buah hati kita akan menjadi tujuan hidupku. Maafkan aku sayang, maafkan aku yang bodoh ini!" ujar Rafa lirih, suara Rafa sangatlah lemah. Dia tidak ingin membangunkan Hana.


"Rafa, berdirilah kita tunggu di luar. Hana perlu istirahat, setelah dia bangun kamu bisa bicara dengannya. Semua akan baik-baik saja. Jangan pernah mengkhawatirkan apapun!" ujar Adrian lirih, dia membantu Rafa berdiri. Adrian terenyuh mendengar perkataan Rafa, air mata yang menetes menunjukkan betapa besar cinta Rafa pada Hana. Sekian tahun Adrian bersahabat dengan Rafa. Baru hari ini Rafa menangis tanpa sedikitpun rasa malu.


"Minumlah tuan Rafa, anda harus tenang. Setelah Hana terbangun, bicaralah dengan tenang. Namun sekali lagi, jangan pernah membentaknya atau memarahinya. Hana trauma saat ada orang yang memarahinya. Kedua orang tua Hana meninggal, tepat setelah memarahi Hana. Semenjak itu dia takut melihat orang memarahinya!" ujar Diana, sembari memberikan Rafa segelas air putih. Rafa mendongak kaget mendengar penjelasan Diana. Tidak pernah dia menyangka, amarahnya membuka luka lama Hana.


Sebenarnya Diana ingin Hana dan Rafa berpisah. Namun melihat ketulusan Rafa, Diana tidak tega. Dia melihat cinta yang besar untuk Hana. Sejak saat itu, Diana akan menyatukan cinta yang terhalang perbedaan.


Sebenarnya Hana belum terlalu pulas saat Rafa datang. Harum tubuh Rafa, menenangkan hatinya yang sedang kacau. Namun untuk bertemu dengan Rafa, Hana belum siap. Hana mendengar semua perkataan tulus Rafa. Dia mendengar betapa terlukanya Rafa. Hana hanya mampu berkata dalam hati. Hana tidak butuh janji hanya keteguhan akan cinta Rafa yang selalu dinanti Hana.


"Bukan hanya dirimu yang mencintaiku. Tubuh dan jiwaku membutuhkam belaianmu. Tak pernah kamu menyadari, betapa tersiksanya aku. Setiap malam menanti pintu rumah terbuka, berharap kamu pulang dan memelukku. Namun semua hanyalah khayalan tanpa sebuah kenyataan. Saat aku mengetahui, ada buah cinta kita di rahimku. Ingin aku berlari memelukmu. Namun gerbang rumahmu terlalu tinggi, setinggi derajat yang kamu miliki. Lagi dan lagi kutelan rasa pahit. Semakin lama aku tersadar, diriku tak lebih hanya istri di atas kertas. Sekarang tepat di samping telingaku. Kamu mengucap kata cinta, bisakah aku mempercayainya! Rafa Akbar Prawira, yakinkan diriku bahwa cintamu teguh untukku. Karena hatiku telah terpaut sepenuhnya padamu!" batin Hana sesaat setelah Rafa pergi.

__ADS_1


...☆☆☆☆☆...


TERIMA KASIH😊😊😊😊


__ADS_2