
"Sayang!" sapa Rafa, Hana menoleh. Rafa melihat Hana sedang mencuci peralatan masak. Rafa terbangun dengan terkejut, saat dia mengetahui Hana tidak ada di sampingnya. Rafa langsung turun mencari Hana. Setelah mencari ke seluruh ruangan, Rafa baru menemukannya di dapur.
"Ada apa?" sahut Hana dingin, Rafa berjalan menghampiri Hana. Dia memeluk Hana erat, Rafa meluapkan kegelisahannya. Hana diam menerima perlakuan Rafa. Percuma menolak, semua yang dilakukan Rafa halal untuknya.
"Sayang, kamu tidak perlu memasak. Kondisimu belum membaik. Aku tidak ingin kamu kelelahan!" ujar Rafa cemas, Hana menggeleng lemah. Sengaja pagi ini Hana menuju dapur. Hana lelah berada di kamar terus. Bukan pribadi Hana jika harus selalu diam di kamar.
"Aku sudah selesai, sebentar lagi aku ke kamar. Lagipula aku hanya membantu, ART kak Rafa semua profesional!" tutur Hana lirih, Rafa mengangguk pelan. ART di rumah Rafa memiliki tugas masing-masing. Sehingga cara kerja mereka sudah sangat bisa dipercaya.
"Sayang, hari ini kamu ikut aku ke kantor. Daripada kamu di rumah bosan. Nanti kamu di kantor bisa bertemu dengan Diana" ujar Rafa, Hana menggeleng lemah.
"Aku tidak ikut, jika hanya akan mengganggu pekerjaan Diana. Kecuali kak Rafa memberikan pekerjaan padaku. Aku akan ikut kak Rafa!" ujar Hana santai, Rafa tersenyum mendengar suara Hana yang mulai terdengar hangat.
"Tugasmu hanya satu, menemani Rafa Akbar Prawira selama sisa hidupmu!" ujar Rafa, Hana menunduk malu. Rafa memutar tubuh Hana menghadap ke arahnya.
Cup
Satu kecupan hangat mendarat sempurna di kening Hana. Rafa menyalurkan seluruh kasih sayangnya pada Hana. Dia lebih rela kehilangan segalanya, daripada kehilangan Hana. Satu-satunya wanita yang mampu mengetuk lubuk hatinya yang dingin.
"Aku tunggu di kamar, kamu harus segera bersiap. Setelah sarapan kita pergi bersama!" ujar Rafa sesaat setelah meencium kening Hana. Sebenarnya Rafa dan Hana tidak berdua di dapur. Namun ART rumah Rafa sangat takut padanya. Jangankan berbicara pada Rafa, mengangkat wajahnya menatap Rafa mereka tidak berani. Sejujurnya mereka mengagumi sekaligus takut pada wibawa Rafa.
Rafa bukanlah majikan yang jahat, tapi dia sangat disiplin dalam tugas. Tidak ada kata salah dalam setiap pekerjaan mereka. Namun Rafa sangat baik, setiap bulan selalu saja ada bonus untuk para pegawai di rumahnya. Itulah kenapa mereka menghormati Rafa yang akhirnya terkesan takut.
__ADS_1
...☆☆☆☆☆...
"Lihatlah pa, wanita itu berani sarapan satu meja dengan kita!" bisik Sabrina, Gunawan hanya mengangguk. Gunawan tidak ingin berkomentar yang akhirnya membuat Rafa semakin marah. Bagaimanapun Rafa pemegang kekuasaan di keluarga Prawira. Gunawan tidak pernah mampu mengembangkan bisnis keluarga Prawira. Di tangan dingin Rafa perusahaan Prawira berada di posisi teratas. Perusahaan yang hampir bangkrut di tangan Gunawan. Berkembang pesat selama dikelola Rafa.
"Diam, jangan banyak bicara! Rafa masih marah pada kita. Jangan membuatnya semakin marah!"
"Aku ingin melihat istri yang dibanggakan kak Rafa. Secantik apa dia? Sampai kak Rafa begitu menyayanginya. Sehebat apa dia? Sehingga kak Rafa begitu membanggakannya!" ujar Kiara ketus, dia menunggu Rafa dan Hana sampai. Selama turun dari kamar, Rafa selalu merangkul Hana mesra. Tidak ada penolakan dari Hana. Terlalu sering menolak yang pada akhirnya meninggalkan luka.
"Assalammualaikum kakek!" sapa Hana ramah, tuan Ardi tersenyum sembari menoleh pada Hana. Pertama kalinya tuan Ardi bersemangat untuk sarapan bersama. Hana membawa nilai positif pada keluarga ini. Hana duduk di samping Rafa berhadapan dengan Sabrina. Kiara menatap tajam ke Hana. Dia memperhatikan Hana dari ujung kepala hingga kaki. Tak berapa lama Kiara menggeleng "Apa yang dipikirkan kak Rafa? Sampai menikah dengan wanita aneh seperti dia. Wanita yang menutup seluruh tubuhnya. Apa tidak gerah memakai pakaian seperti itu? Tidak modis" batin Kiara sinis. Kiara sangat tidak menyangka jika istri kakaknya sangat kampungan.
"Waalaikumsalam!" sahut tuan Ardi. Rafa menggenggam erat tangan Hana. Mengisyaratkan semua akan baik-baik saja.
"Silahkan Hana, kamu harus mencoba masakan koki keluarga kami. Kamu pasti belum pernah mengkonsumsi makanan seperti ini!" sindir Sabrina, Hana menyahutinya dengan tersenyum Rafa meradang mendengar perkataan Sabrina, dengan cepat Hana menggeleng lemah. Dia tidak ingin terjadi keributan di meja makan. Sikap yang sangat tidak pantas, seolah tidak mensyukuri apa yang sudah menjadi rejeki mereka hari ini!
Semua orang sarapan dengan sangat tenang. Hanya Hana yang tidak sarapan. Sebenarnya dia tidak ingin turun, tapi Rafa memaksanya dengan segala cara. Akhirnya dengan terpaksa Hana mengikuti keinginan suaminya. Semua terlihat sangat lahap, tuan Ardi bahkan menambah makanannya.
"Hana, kenapa kamu tidak sarapan? Bayimu butuh nutrisi untuk berkembang. Kamu jangan takut gendut. Kakek yakin Rafa masih mencintaimu meski kamu berubah menjadi gendut!" goda tuan Ardi, Rafa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia tidak pernah membayangkan jika Hana harus gendut.
"Kenapa kak Rafa heran? Kak Rafa takut aku benar-benar gendut, lalu meninggalkanku!" bisik Hana kesal, Rafa menoleh lalu menangkup kedua pipi Hana. Rafa tidak merasa malu sedikitpun pada anggota keluarga yang lain.
"Sayangku, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Bukannya kamu yang selalu ingin pergi dariku. Aku akan berjuang mempertahankan dirimu di sisiku. Jadi tidak ada alasan diriku untuk meninggalkanmu." ujar Rafa mesra, lalu mengecup kening Hana. Kiara melotot melihat sikap hangat Rafa. Kiara tidak pernah melihat sikap Rafa yang lembut memperlakukan seorang wanita. Bahkan pada Sesil sekalipun. Rafa selalu bersikap dingin dan acuh.
__ADS_1
"Aggghhhmm, ada anak kecil! Bisa tidak dilanjutkan di dalam kamar!" ujar Kiara sinis, Rafa menoleh seraya menatap Kiara tajam. Seketika Kiara menutup mulutnya dengan tangan. Rafa pribadi yang sulit ditebak. Jika dia baik, maka akan menjadi pribadi yang sangat baik. Namun jika dia marah, amarahnya mampu menghancurkan orang lain.
"Berisik!" sahut Rafa ketus. Hana beranjak meninggalkan meja makan. Dia ingin mengambil beberapa buah yang sudah dia kupas. Pagi tadi Hana sudah makan, entah kenapa pagi buta perutnya sudah sangat lapar?
"Pa, jarang sekali aku melihatmu makan dengan sangat lahap. Bahkan papa sampai nambah dua kali! Memang masakannya sedikit berbeda, apa kokinya baru?" ujar Gunawan heran, tuan Ardi mengangguk lemah. Rafa menyusul Hana ke dapur. Dia harus segera berangkat ke kantor. Kebetulan Hana akan ikut dengannya ke kantor. Sekadar menghilangkan jenuhnya.
"Gunawan, masakan yang kamu makan! Tidak lain masakan dari cucu menantuku. Dia yang sengaja bangun pagi buta. Hanya untuk menyiapkan sarapan kita. Mungkin kamu sudah lupa, tapi masakan Hana mengingatkan papa akan ibumu!"
"Apa semua ini benar? Pelayan itu bisa memasak seenak ini!" ujar Sabrina sinis, Hana mendengar jelas hinaan Sabrina padanya.
"Maaf jika kenyataan itu membuat anda terhina. Namun sayangnya memang pelayan inu yang menyiapkan semua sarapan pagi ini. Terkadang nyonya harus melihat sisi baik seseorang. Jangan selalu menghina dan merendahkan yang pada akhirnya akan membuat anda malu. Saya manusia biasa, kesabaran saya ada batasnya. Jika anda terus menguji sejauh mana kesabaran saya, maka saya pastikan hasilnya tidak akan baik untuk anda!" tutur Hana ramah, Rafa berjalan di belakang Hana. Tuan Ardi senang mendengar Hana membela diri. Sabrina meradang mendengar perkataan Hana.
"Anda jangan lupa, Hana si pelayan. Sekarang istri Rafa Akbar Prawira. Semua perkataannya akan menjadi keputusanku. Jadi berhati-hatilah!" ujar Rafa, lalu pergi menyusul Hana yang sudah pergi lebih dulu.
"Sayang, kamu keren! Pertama kalinya aku melihatmu melawan ucapan mereka!"
"Aku mulai lelah terhina, sudah saatnya aku melawan. Seperti halnya jika aku lelah bersamamu. Maka aku akan pergi kemana langkah kakiku melangkah!"
"Sayang, tidak lagi aku mendengar perkataan itu. Kamu dan buah hati kita alasanku hidup. Jangan pernah hancurkan impian dan semangatku!"
"Aku selamanya bersamamu, tapi aku tidak yakin kak Rafa akan selalu bersamaku!"
__ADS_1
...☆☆☆☆☆...
TERIMA KASIH😊😊😊