
"Sayang, kamu baik-baik saja!" ujar Rafa cemas, Hana mengangguk seraya memejamkan kedua matanya. Tangan kiri Rafa mengelus lembut kepala Hana, sedangkan tangan kanannya tetap menyetir. Rafa khawatir melihat kondisi Hana. Pertemuan Hana dengan nyonya Wirawan. Sedikit banyak membuka lembar kelam masa lalu Hana.
Rafa sangat frustasi dan marah melihat pertemuan Hana dan nyonya Wirawan. Jika bukan karena ingin menjaga Hana. Rafa sudah membalas sikap kasar nyonya Wirawan. Rafa hendak membawa Hana pulang. Namun dengan suara yang lemah. Hana meminta Rafa mengantar dirinya menuju pemakaman kedua orang tuanya. Hana ingin mencurahkan seluruh isi hatinya.
"Kak Rafa, antarkan aku ke makam ayah dan ibu. Aku ingin berziarah sebentar, tapi aku ingin pergi sendiri. Kak Rafa tunggu aku di mobil!" ujar Hana lemah, Rafa mengangguk pelan. Lalu mendekat pada Hana, mencium puncak kepala Hana.
Rafa melajukan mobilnya menuju pemakaman umum di dekat tempat tinggal Hana dulu. Rafa mengemudi dengan sangat hati-hati. Selama perjalanan tak ada suara yang keluar. Rafa dan Hana larut dalam pikiran masing-masing. Rafa melihat Hana terus memejamkan kedua matanya. Tangan Hana meremas ujung hijab, seakan menunjukkan rasa gelisah yang besar.
Sekitar setengah jam lebih mobil Rafa melaju di jalan kota. Setibanya di area pemakaman, Rafa membangunkan Hana yang tertidur. Sesuai permintaan Hana, Rafa akan menunggu di mobil. Rafa akan mengawasi Hana dari kejauhan.
Hana berjalan perlahan diantara makam-makam yang berjejer rapi. Hana berhenti di depan dua nisan yang berdampingan. Nisan sudah terlihat lusuh, menunjukkan lamanya orang yang meninggal. Hampir setiap satu bulan sekali Hana datang berziara. Terkadang Hana datang disaat hatinya gundah. Seperti hari ini, Hana datang sekadar ingin mencurahkan kesedihannya. Berpikir kedua orang tuanya datang memeluk dan menenangkannya.
Hana menatap dua nisan, dimana tertulis nama ayah dan ibunya? Dengan susah payah Hana duduk bersimpuh diantara kedua makam. Hana tak peduli bila gamis yang digunakannya kotor. Tangan kanan Hana memegang gundukan makam ayahnya. Tangan kirinya memegang gundukan tanah makam ibunya. Hana menunduk berdoa untuk kedua orang tuanya.
"Ayah…ibu, maafkan Hana selalu datang dengan kepedihan. Maafkan Hana yang belum mampu melupakan hari kepergian kalian. Hana belum mampu memaafkan keluarga yang menyakiti kalian berdua. Semua salah Hana yang tidak tahu diri ini. Hana lupa akan status keluarga kita. Sehingga kalian harus menerima hinaan demi hinaan dari keluarga itu. Hana sudah ikhlas akan kepergian kalian. Tapi rasa bersalah seolah menggerogoti hati Hana. Hari ini Hana melihat orang itu. Orang yang menunjuk wajah kalian hanya karena diriku. Maafkan Hana, maafkan Hana yang tak pernah mampu menjadi anak yang baik. Hanya doa yang kini mampu Hana berikan untuk ketenangan kalian. Terima kasih telah membesarkan Hana, terima kasih!" batin Hana pilu.
Rafa melihat betapa susahnya Hana duduk bersimpuh diatas tanah. Namun Rafa tak bisa membantunya. Hana sudah melarangnya mendekat, sebaliknya Rafa berpikir Hana butuh ketenangan. Meski Rafa selalu ada untuknya. Ada saat dimana kedua orang tuanya menempati posisi paling penting. Rafa menatap tubuh istrinya berada diantara dua makam orang tuanya. Rafa melihat kepedihan yang seolah ingin Hana katakan pada kedua orang tuanya.
"Sayang, sepilu itukah hatimu sampai kamu datang kepada kedua orang tuamu. Kenapa tidak kamu jadikan tubuhku sandaran? Takkan remuk tulangku menopang dukamu. Hari ini aku diam melihatmu bersimpuh di depan nisan orang tuamu. Lain kali hanya padaku air matamu mengalir. Takkan kubiarkan kamu datang menemui orang tuamu dengan kepedihan. Aku akan menjadi penopang tubuhmu. Takkan kubiarkan kamu menangis sendirian. Sudah cukup selama ini kamu hidup sendiri. Aku dan putra kita akan menjadi teman dalam suka dan dukamu!" batin Rafa sembari menatap tubuh Hana yang diam mematung diantara dua makam.
"Hana, bisa aku bantu!" ujar Naufal sembari mengulurkan tangan. Naufal melihat Hana hendak berdiri. Kondisi perutnya yang membesar, sedikit membuat Hana kesulitan berdiri.
__ADS_1
"Terima kasih, aku bisa berdiri sendiri. Kak Naufal tidak perlu membantuku. Sudah lama tanganmu menjauh dariku dan seharusnya seperti itu. Aku tidak berharap ada darah yang tumpah. Aku permisi kak Naufal!" ujar Hana, Naufal mengangguk. Terlihat Rafa berjalan mendekat ke arah Hana. Naufal terenyuh melihat kehangatan hubungan Rafa dan Hana.
"Sayang, kamu membiarkan Naufal ziarah ke makam ayah dan ibu. Kenapa kamu malah melarangku?" ujar Rafa dingin, Hana menoleh pada Rafa. Dia tidak menyangka jika Rafa akan bertanya seperti itu.
"Tidak ada yang melarang seseorang berziarah termasuk kak Naufal dan kak Rafa. Aku melarang kak Rafa mendekat, karena aku tidak ingin kamu melihatku bersedih. Sebab air mata kak Rafa jauh lebih menyakitkan untukku!" ujar Hana santai, Rafa terdiam bahagia mendengar perkataan Hana. Sedangkan Hana sudah masuk ke dalam mobil.
"Sebaliknya sayang, air matamu mampu membuatku tiada atau bahkan bisa membunuh. Jangan pernah bersedih, meski sedih dan bahagia akan selalu ada dalam setiap kehidupan!" ujar Rafa lirih.
...☆☆☆☆☆...
"Annisa, kamu harus dengarkan perkataan nenek. Kamu harus menjauhi tante Hana!" ujar Nyonya Wirawan, Annisa berlari menuju kamarnya dengan kesal. Selama perjalanan pulang. Annisa dimarahi habis-habisan oleh neneknya, karena Annisa terus memanggil Hana dengan sebutan mama.
"Tante Hana mama Annisa, tante Hana mama Annisa" teriak Annisa marah, dia langsung menutup pintu. Tuan Ilham tak lain ayah Naufal keluar setelah mendengar keributan. Dia menghampiri Mira istrinya.
"Siapa lagi kalau bukan gadis miskin bernama Hana itu? Naufal sengaja mempertemukan Annisa dengan Hana. Lihat hasilnya sekarang, Annisa memanggil Hana dengan sebutan mama!" ujar Mira kesal, Ilham hanya menggeleng lemah. Sejujurnya Ilham menyesal telah memisahkan Naufal dan Hana. Dia juga menyesal telah menghina Hana dan keluarganya. Kesalahan yang tak pernah Ilham lupakan.
"Kapan kamu bertemu Hana? Lagipula untuk apa kamu marah? Biarkan saja Naufal bersama Hana. Jika memang Hana yang bisa membahagiakan Naufal!" ujar Ilham, Mira meradang mendengar suaminya membela Hana.
"Sampai kapanpun aku tidak akan setuju? Apalagi sekarang Hana sudah menikah, yang lebih hebohnya. Dia menikah dengan Rafa Akbar Prawira. Pengusaha muda sukses di kota ini!"
"Kamu serius Mira, akhirnya Hana menemukan kebahagiannya" ujar tuan Ilham senang, Mira tersenyum sinis mendengar perkataan suaminya.
__ADS_1
"Papa, jangan senang dulu! Sebab Rafa akan meninjau kembali berkas itu. Aku tadi menghina Nissa, sehingga Rafa marah dan mengancam akan meninjau ulang kerja sama diantara kita!" ujar Mira santai tanpa dosa.
"Kamu kehilangan akal, perusahaan kita butuh dana dari mereka. Perusahaan Prawira satu-satunya harapan kita! Sekarang mereka pergi tanpa ingin membantu kita" ujar tuan Ilham marah.
"Semua karena gadis miskin itu. Aku tidak tahu, jika dia istri Rafa. Seandainya aku tahu, tidak mungkin aku menghinanya!"
"Ini akibat dari kesombonganmu. Kamu tamak akan harta, dulu kita menghina orang tua Hana sebelum meninggal. Tidak menutup kemungkinan, sekarang Rafa akan membalas apa yang pernah kita lakukan pada Hana? Aku mendengar Rafa telah menikah, tapi aku tidak pernah tahu siapa dia? Terakhir Rafa menghancurkan nama baik keluarganya. Ketika mereka membuat Hana hampir keguguran! Sekarang pikirkan cara menenangkan Rafa, agar amarahnya mereda. Jika tidak kita akan hancur!"
"Apa yang terjadi? Kenapa kalian tegang?" ujar Naufal santai.
"Semua ini karena gadis miskin yang kamu cintai itu. Kamu juga membawa Annisa bertemu dengannya. Sekarang kita harus berurusan dengan Rafa!" ujar Mira ketus.
"Mama bertemu dengan Hana, mama menghinanya!" ujar Naufal cemas, Mira mengangguk lemah.
"Pantas saja Hana menolak bantuanku!" ujar Naufal, Mira dan Ilham menoleh ke arah Naufal.
"Kamu masih menemuinya!" ujar tuan Ilham, Naufal mengangguk sembari meninggalkan orang tuanya yang sedang bingung.
"Awas saja jika sampai Rafa benar-benar membatalkan kerjasamanya. Maka akan kubuat Hana menyesal telah mengenal keluarga kita!" ujar Mira ketus, Ilham menggeleng seraya meninggalkan Mira.
"Mira sampai kapan kamu akan sombong dengan hartamu? Lama-kelamaan kamu akan lupa jati dirimu. Takutnya putra-putri merasa malu dan menjauh. Kembalilah demi rasa nyaman hubungan kita!" batin Ilham pilu melihat keangkuhan Mira istrinya.
__ADS_1
...☆☆☆☆☆...
TERIMA KASIH😊😊😊