KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Amarah Faiq


__ADS_3

Pagi ini Faiq dan rombongan akan kembali ke kota. Tugas mereka sudah selesai, sudah saatnya semua kembali ke kota. Selama seminggu lebih mereka melakukan pekerjaan mereka dengan sangat baik. Rizal mengucapkan ribuan terima kasih pada Faiq dan Annisa serta rekan-rekan mereka.


Mereka akan pulang saat siang hari. Fathan berencana akan menyusul Annisa. Sengaja dia datang tepat dihari kepulangan. Fathan tidak ingin mencampuradukkan masalah pekerjaan dengan pribadi. Sebab itu dia datang disaat Annisa sudah menyelesaikan tugasnya. Fathan akan meyakinkan Annisa untuk terakhir kalinya. Fathan tidak ingin memaksa Annisa. Dia akan melepaskan Annisa. Bila pagi ini setelah pertemuan mereka. Annisa tetap menolaknya. Fathan merasa semua sudah harus diakhiri. Terkadang cinta itu bahagia bila melihat pasangan kita bahagia. Walau bukan tangan kita yang digenggamnya.


FLASH BACK OFF


"Kenapa dia bisa senyaman itu dengan Vania? Sedangkan bicara denganku, lima menit saja seakan satu jam. Selalu menghindar dan marah bila bersamaku. Apa ini yang dinamakan cinta? Kenapa aku merasa tidak adil? Aku menahan rasa cemburu , sedangkan dia duduk dengan santai bersama Vania. Padahal jelas dia melihatku tadi!" gerutu Davina, Annisa tersenyum mendengar Davina menggerutu. Dia menghampiri Davina, memberikan sebotol air mineral.


"Sebab nyaman dan cinta itu berbeda. Jika dia nyaman dengan Vania, sebab mereka sama dalam sifat dan cara berpikir. Namun jika denganmu Faiq merasakan cinta. Sebab dalam dirimu, Faiq menemukan perbedaan yang membuatnya bahagia!" ujar Annisa lirih, Davina menoleh dengan terkejut. Davina melihat Annisa tersenyum ke arahnya, sebaliknya Davina menggeleng lemah.


"Jika dia mencintaiku, kenapa dia tidak bisa nyaman bersamaku. Bukankah itu artinya, Kak Faiq merasa aku tidak bisa memahami hati dan pikirannya!" ujar Davina lirih.


"Bukan kamu tidak pantas, tapi pribadi seperti Faiq dan Annisa memiliki cara pandang yang berbeda. Begitu juga Vania yang akan merasa nyaman bicara pada Faiq. Daripada mengatakannya pada kami orang tuanya!" ujar Kiara dari dalam rumah. Dengan hangat Kiara merangkul dua calon putri menantu Hana. Calon makmum kedua keponakannya. Satu merasa ragu menjadi makmum, karena merasa kurang sempurna. Sedangkan yang lain merasa ragu akan cinta sang imam.


"Tante Kiara, apa maksud perkataanmu? Apa harus menjadi pribadi yang sama? Kami baru bisa nyaman satu dengan yang lain. Lalu untuk apa sebuah pernikahan terjadi? Bila rasa nyaman sejak awal tidak pernah ada. Akan seperti apa pernikahan tanpa rasa nyaman?" ujar Davina lirih, Kiara tersenyum mendengar perkataan Davina. Dia mengajak Davina dan Annisa duduk di teras rumahnya. Kiara sengaja menemui mereka. Hana telah menghubunginya, dia meminta Kiara membantunya membujuk Annisa. Hana tidak tega melihat Fathan yang seolah kehilangan akal. Hana tidak bermaksud memaksa, tapi dia ingin Kiara mencari tahu alasan dibalik penolakan Annisa.


"Davina, dalam pernikahan rasa nyaman ada disaat perbedaan. Kenapa tante berkata seperti itu? Jika pernikahan terjadi diantara dua hati dan pribadi yang sama. Maka hubungan diantara suami istri akan hambar. Tidak akan suami menghargai istrinya atau seorang istri membutuhkan suaminya. Bila dalam pernikahan itu semua terasa nyaman dan hambar. Kenyamanan antara Faiq dengan Vania, berbeda dengan kenyamanan antara Faiq dengan dirimu. Jika terhadap Vania, Faiq mampu mengatakan sisi paling buruknya. Atau Faiq bisa menunjukkan kelemahannya, tapi dia tidak akan bisa mengatakannya padamu. Sebab rasa takut kehilanganmu akan membuatnya ragu untuk rasa nyaman itu. Sebaliknya Faiq merasa nyaman denganmu, karena dengan berada di dekatmu. Faiq merasa tenang dan bahagia, dua kata nyaman yang berbeda arti. Faiq itu seperti kak Hana yang teguh akan cintanya, tapi disisi lain dia tidak ingin lemah karena cintanya. Dia akan menjadi pribadi yang mandiri, tanpa bergantung pada orang lain termasuk pada kak Rafa!" ujar Kiara lirih, Davina dan Annisa menunduk lemah. Kiara menoleh pada Annisa, dia bisa merasakan cara berpikir Annisa sama denga Faiq. Sehingga sampai saat ini, Annisa belum yakin menerima pinangan Fathan.

__ADS_1


"Annisa, semua perkataanku benar bukan. Kamu dan Faiq berpikir hal yang sama. Kamu takut menyakiti Fathan dengan sikap dingin dan sifat mandirimu. Kamu tidak ingin Fathan terus merendah demi tetap bersamamu. Sebab Fathan seorang imam yang seharusnya memimpin bukan dipimpin. Kamu sejak kecil hidup mandiri, berdiri sendiri tanpa bertopang pada orang lain. Namun tidak selamanya semua itu berlaku. Ada saatnya kamu harus bersandar pada bahu imammu. Menangis dalam dekapan suamimu. Bukan ingin terlihat lemah, tapi wanita ada untuk bersandar pada laki-laki. Sebaliknya laki-laki untuk melindungi wanita bukan menyakiti. Aku mengerti kamu diam tak bergeming, ketika Fathan meminangmu. Bukan karena kamu ingin menolaknya, tapi kamu takut bila kelak sifat kerasmu menyakiti Fathan. Imam yang kamu hormati dan kamu impikan. Namun tanpa kamu sadari, rasa takut menyakiti yang kamu rasakan saat ini. Bentuk cinta yang mulai terasa dalam hatimu. Annisa kamu harus ingat, pernikahan terjadi tidak hanya dengan persamaan. Namun perbedaan ada untuk dilengkapi. Sikap dingin berbeda dengan sikap hangat Fathan. Sebaliknya sikap manja Fathan pada kak Hana. Berbanding terbalik dengan sikap mandirimu. Annisa tanpa kamu sadari, pertemuan kalian terjadi sebagai jalan untuk melengkapi satu dengan yang lainnya. Jadi cobalah mengerti, kelemahan dan kelebihanmu tidak akan menyakiti Fathan. Namun diammu tidak akan menyelesaikan masalah. Katakan tidak bila kamu menolaknya, katakanlah iya bila kamu menerimanya. Tanya pada hati terdalammu, Fathankah yang ada dalam hatimu. Percayalah, hati tidak akan pernah salah!" tutur Kiara, lalu meninggalkan Annisa dan Davina. Kedua wanita yang begitu dicintai keponakannya.


FLASH BACK OFF


Setelah semalam bertukar pikiran dengan Kiara. Annisa mulai sedikit terbuka, dia mulai memahami kemana arah hubungannya dengan Fathan? Annisa akan memutuskan setelah bertemu dengan Fathan. Annisa akan mengakhiri penantian Fathan. Sebuah keputusan yang diambil dengan banyak pertimbangan.


Sejak pagi Faiq dan rekan sesama dokter sudah bersiap. Pagi ini semua sudah bersiap akan meninggalkan pesantren. Sejak pagi Davina merasa kedinginan. Annisa sudah membujuk Davina meminum obat. Namun Davina meras dirinya baik-baik saja.


Haaaacccimmm....Haaaacccimmm


Terdengar suara bersin Davina, bukan sekali tapi berkali-kali. Hidung Davina terlihat merah layaknya kepiting rebus. Sejak kecil Davina tidak terbiasa begadang. Semalam dia dan Annisa berada di luar rumah sampai larut malam. Keduanya memikirkan perasaan masing-masing. Menentukkan arah hubungan cinta keduanya. Faiq memperhatikan keduanya dari dalam kamar. Faiq tidak ingin terjadi sesuatu pada mereka berdua.


"Terima kasih!" ujar Davina sesaat setelah meminum obat. Faiq mengangguk tanpa menoleh, dia marah dan kesal melihag Davina sakit. Faiq sangat tidak suka Davina melakukan sesuatu yang akan membuatnya terluka.


"Kalau tidak terbiasa begadang. Jangan begadang yang akhirnya membuatku cemas dan repot. Tubuhmu tidak sekuat dokter Annisa, dia sudah terbiasa begadang. Awas saja kamu begadang atau mengkonsumsi makanan pedas. Aku pastikan kamu akan menerima hukuman, karena membuatku khawatir!" ujar Faiq kesal, Davina mengangguk takut. Namun dalam hati dia bahagia, Faiq peduli pada kesehatannya.


Terlihat Annisa keluar dari rumah. Dia menenteng tas sedang. Faiq menghampirinya untuk membawakan tas Annisa. Faiq ingin memasukkannya ke dalam bagasi mobilnya. Annisa akan tetap pulang bersamanya seperti saat datang kemari.

__ADS_1


"Aku sudah memintamu meminum obat, tapi kamu tidak bersedia. Kenapa sekarang saat Faiq yang memintamu meminumnya? Kamu tidak menolaknya!" sindir Annisa lirih, Davina tersenyum membalas sindiran Annisa. Sebaliknya Faiq masuk ke dalam mobil. Dia seakan tidak peduli perkataannya Annisa.


"Dokter Annisa, tidak mungkin aku menolak perhatian kak Faiq yang penuh cinta. Jika harus dengan sakit aku mendapatkan perhatiannya. Maka aku rela sakit, agar dia menunjukkan rasa sayang dan cemasnya padaku!" sahut Davina, Faiq seketika menoleh. Annisa terkekeh mendengar jawaban Davina. Sungguh cinta mampu membuat seseorang bersikap nekat. Dia bisa melakukan apapun, hanya demi sebuah perhatian dari sang kekasih hati.


"Jaga bicaramu, apa kamu suka melihatku kehilangan akal melihat kamu sakit? Aku tidak perlu melihatmu sakit, karena sampai saat ini rasa peduliku hanya padamu. Tidak ada seseorang yang membuatku cemas, seperti aku cemas memikirkan dirimu. Jangan pernah melakukan hal yang tidak berguna. Demi pemikiran yang tidak penting. Kamu tidak akan pernah sanggup melihat kegilaanku saat aku mencemaskanmu!" ujar Faiq emosi, Davina menunduk merasa bersalah. Faiq sangat marah mendengar perkataan Davina. Dia merasa Davina ingin bermain dengan kesehatannya hanya demi perhatian Faiq. Kepedulian yang seutuhnya telah Faiq berikan pada Davina.


"Maaf!" sahut Davina lirih, Faiq diam membisu. Dia menatap Davina tajam, Faiq benar-benar marah mendengar perkataan Davina. Annisa melihat jelas amarah Faiq. Amarah yang tak pernah terlihat tertutupi oleh sikap tenang dan dinginnya.


"Jangan pernah kamu bermain dengan dirimu. Jika hanya ingin melihat cintaku. Jika sekali lagi kamu melakukan itu. Bukan kamu melihat cintaku, melainkan kepergianku. Aku mencintai bukan ingin melihatmu terluka. Jadi jangan pernah berjudi dengan kesehatanmu. Sebab lukamu mampu membuatku hancur!" ujar Faiq lalu masuk ke dalam mobil. Davina dan Annisa tertegun melihat amarah Faiq. Mereka berdua tidak pernah menyangka Faiq akan tersinggung dengan perkataan Davina. Perkataan yang sebenarnya hanya gurauan, tapi dianggap seriua oleh Faiq.


"Kamu akan terus di luar atau aku tinggalkan kamu disini!" teriak Faiq dari dalam mobil. Daviba mengangguk pelan, lalu membuka pintu depan. Annisa melakukan hal yang sama, dia membuka pintu belakang. Memang Annisa ingin Davina duduk di depan, agar bisa istirahat selama perjalanan.


"Kita harus bicara, semua harus selesai sekarang juga. Kamu akan ikut dengan mobilku!" ujar Fathan sembari menahan pintu belakang mobil Faiq. Annisa menoleh melihat Fathan sang pemilik hatinya ada disampingnya. Faiq menoleh melihat Fathan sudah berada di samping mobilnya.


"Baiklah, aku akan ikut denganmu. Banyak hal yang harus kita bicarakan. Aku akan mengakhiri penantianmu. Aku sudah menemukan jawaban dari pinanganmu!" ujar Annisa, Fathan mengangguk ragu. Fathan sudah siap dengan kemungkinan penolakan Annisa. Sebab Fathan mencintai Annisa bukan napsu memiliki. Apapun keputusan Annisa Fathan akan menerimanya.


Fathan membukakan pintu depan mobilnya. Annisa mengikuti langkah kaki Fathan. Setelah Annisa masuk ke dalam mobilnya, Fathan memutar lalu masuk juga. Fathan sudah meminta Faiq mengikuti mobilnya dari belakang. Fathan dan Faiq akan saling menjaga. Sebab keduanya bersama wanita yang mengusik hatinya. Banyak hal yang bisa terjadi, tapi baik Fathan dan Faiq tidak ingin kesucian cinta mereka ternoda hanya karena napsu sesaat.

__ADS_1


"Pakai sabuk pengamanmu, kita pulang sekarang. Tidurlah, jangan banyak bicara jika hanya menambah kekesalanku!" ujar Faiq dingin, Davina mengangguk lalu menutup kedua matanya. Faiq menoleh ke arah Davina yang tertidur.


"Wajah teduh yang tidak akan pernah bisa aku lupakan. Jangan menangis karena diriku yang tidak sempurna. Air matamu terlalu berharga. Percayalah tidak ada wanita lain dalam hati dan benak seorang Muhammad Faiq Alhakim. Tanpa kamu meminta atau menghiba, hati dan cintaku telah memilih dan menjadi milikmu. Davina Nur Latifah, aku tidak akan pernah bisa menjauh darimu. Jangankan wajahmu, bayanganmu seakan mengikuti langkahku. Maafkan aku jika dinginku menyakitimu. Tapi yakinlah dinginnya sikapku menyimpan cinta yang besar untukmu!" batin Faiq.


__ADS_2