
Hana terdiam membisu, cemburu hal yang wajar. Tapi bukan cemburu yang membuat Hana terdiam. Luka hati Sesil yang terdengar nyata dari setiap perkataannya. Hana merasa iba, kala dia melihat seorang wanita begitu mencintai suaminya. Tanpa sedikitpun berpikir ingin melupakannya.
"Maafkan aku yang datang diantara kalian. Sejujurnya aku pernah mundur dari pernikahan ini. Aku meminta kak Rafa memilihmu, saat itu aku menyadari cinta yang begitu besar diantara kalian. Namun dengan tegas kak Rafa memilihku, meski tak ada cinta diantara kami. Sungguh aku tak pernah ingin menjadi yang kedua diantara kalian. Jika dulu aku mungkin bisa mengalah, tapi hari ini aku tidak mungkin sanggup. Kak Rafa segalanya dalam hidupku. Aku sangat mencintainya. Napasku berhembus seiring kedua mataku melihat wajahnya. Maaf jika aku harus tega melihat air matamu yang mengalir!" sahut Hana lirih, Sesil tersenyum tipis. Dia menyadari cintanya pada Rafa tidak akan pernah terbalaskan. Rafa dengan tegas dan yakin memilih Hana sebagai pasangan hidupnya. Rafa tidak akan pernah menerima Sesil, meski Sesil menghiba dan bersujud di kaki Rafa. Takkan pernah ada wanita lain dalam hidup Rafa. Hanya akan ada satu nama, sekarang dan selamanya. Nama sederhana dari wanita tanpa kelebihan, Hana Khairunnisa.
"Aku mengatakan semua ini padamu. Bukan berharap belas kasihanmu atau ingin menghiba kembali cinta Rafa. Aku menyadari takkan pernah ada nama Sesil dalam hidup Rafa. Meski kamu hadir atau tidak diantara kami. Rafa tetap akan menjauh dariku. Selamanya dia akan membenciku. Rafa terlanjur terluka dan terhina akan diriku. Aku datang kemari, bukan berharap Rafa iba dan kembali padaku. Aku sengaja datang kemari. Sekadar untuk meluapkan gelisahku. Aku sudah belajar melupakan Rafa. Meski aku sadari sampai detik ini nama Rafa masih melekat dalam benakku. Tempat ini selalu Rafa datangi saat dia gelisah. Aku ingin membuang semua kenangan Rafa. Laut akan membuang semua kenangan Rafa. Angin akan menghembuskan nama Rafa jauh, sampai telingaku tak lagi mendengarnya!" ujar Sesil lirih, Hana terdiam melihat laut dan langit yang tenggelam dalam gelap dan sepinya malam. Hana mendengar betapa besar cinta Sesil. Rafa sengaja membiarkan Hana dan Sesil saling bicara. Sudah saatnya Hana mengetahui, sejauh mana hubungan Rafa dan Sesil berakhir.
"Aku tidak pernah mengetahui alasan perpisahan kalian. Sebab aku tak memiliki hak apapun untuk mengetahuinya. Satu hal yang ingin aku katakan. Jika memang kamu ingin melupakan kak Rafa. Mulailah membuka diri, lihatlah di sampingmu ada seseorang yang mencintaimu. Jangan abaikan hati tulus orang lain, hanya karena hati kita yang terluka. Percayalah dia mungkin laki-laki yang bisa membuatmu bahagia. Terlihat jelas dari tatapannya yang penuh kecemasan!" ujar Hana, Sesil menoleh ke arah Alfian yang berdiri tak jauh dari mereka berdua. Sesil mengangguk pelan mengiyakan perkataan Hana. Memang sejak lama Alfian mencintai Sesil. Bahkan jauh sebelum Sesil bersama Rafa. Alfian juga laki-laki yang selalu ada menghibur Sesil dikala sedihnya. Tanpa sedikitpun dia menjauh atau lelah selalu menjadi pelarian Sesil selama ini.
"Dia memang orang yang selalu ada dalam setiap suka dan dukaku. Meski aku selalu mengacuhkannya, tapi tak pernah dia lelah berada di sampingku. Dia alasanku melupakan Rafa, aku semakin yakin saat aku mendengar betapa baiknya dirimu. Rafa pantas bahagia bersamamu. Aku takkan ada diantara kalian berdua. Malam ini terakhir aku mengingat nama Rafa Akbar Prawira dalam hidupku. Aku akan mencoba hidup kembali. Mengejar kebahagian yang telah lama kuabaikan. Namun ada satu hal yang masih mengganggu pikiranku. Rafa selalu tenang saat berada di sini. Padahal aku tak melihat sesuatu yang bisa membuat kita menjadi tenang. Rafa seakan lupa dunia, ketika berada disini!" ujar Sesil heran, Hana mengangguk. Kedua matanya memandang gelap yang tak pernah berujung. Menelan semua keindahan dalam rasa takut dan sepi.
"Aku berada di sini, bukan tanpa alasan. Aku ingin memahami kak Rafa secara menyeluruh. Seandainya kamu menyadari, laut dan langit malam ini. Tak lain gambaran dirinya dulu, sedangkan dirimu bagai bintang kecil yang ada di langit. Bintang kecil yang menambah keindahan langit, cahaya redupnya seakan ingin mengalahkan gelapnya malam. Kak Rafa berdiri di sini, tak lain ingin melihat dirinya sendiri. Laut yang luas dan penus misteri tak lain dirinya. Kak Rafa yang hebat, tapi penuh dengan teka-teki. Namun gelapnya hati dan hidupnya. Seekan menelan semua kebaikan dalam dirinya. Kak Rafa yang dulu gelap tanpa cahaya. Hanya cahaya cintamu yang membuatnya merasa indah. Namun semakin gelap setelah cahaya cintamu menghilang. Ketenangan kak Rafa hanya ada saat dia melihat betapa gelap dan rumit hidupnya!" ujar Hana.
"Aku memang wanita yang tak pantas untuk Rafa. Hana dengan mudah kamu memahami Rafa saat itu. Apa yang kamu katakan memang benar? Cahaya cintaku kalah oleh gelap hati Rafa. Bintang kecil ini tak mampu mengalahkan gelapnya malam. Sampai akhirnya bintang kecil ini memilih menghilang, mencari langit yang lain. Aku yang meninggalkan Rafa, aku mengkhianati langit gelap yang ingin aku terangi. Namun langit gelapku tak lagi gelap, dia sudah menemukan bulan yang mampu menyinari gelap hatinya. Rafa kini telah menjadi langitmu yang selalu terang dengan cintamu!" ujar Sesil, Hana mengangguk pelan. Sesil mengangguk ke arah Alfian, seakan memintanya mendekat. Alfian berjalan perlahan menghampiri Hana dan Sesil. Alfian melihat dua wanita yang mengagumi satu laki-laki. Perbedaannya diantara keduanya, hanya satu yang dicintai Rafa.
"Hana, dia Alfian Hendrawan!" Ujar Sesil, Hana menoleh menangkupkan tangan. Saat Alfian mengulurkan tangan ke arahnya. Setelah melihat wajah Alfian, Hana menunduk. Alfian tersenyum saat dia melihat Hana yang menjaga pandangannya.
__ADS_1
"Aku menyadari betapa berharganya wanita sederhana di depanku bagi Rafa sahabatku. Pantas malam itu aku melihat, Rafa yang terpuruk tanpa memandang wajahmu. Sungguh cinta yang sangat berharga!" ujar Alfia lirih, Sesil mengangguk pelan. Sebaliknya Hana menggeleng lemah. Seakan tak setuju dengan perkataan Sesil dan Alfian. Hana seakan ingin mengatakan bukan hanya Rafa yang bisa terpuruk, tapi sebaliknya Hana jauh lebih terpuruk bila kehilangan Rafa. Namun Rafa mampu mengutarakan kegelisahannya. Sedangkan Hana hanya mampu menyimpan dalam hatinya.
"Bukan aku yang berharga, tapi cinta kak Rafa yang membuatku berharga dan berarti!" ujar Hana. Akhirnya Sesil dan Hana memutuskan pamit pada Hana. Sebaliknya Hana tetap berdiri di tempat yang sama..
"Rafa, wanita sederhana yang memiliki pengertian yang sangat istimewa. Jangan pernah lengah. Jika tidak tangan itu akan terlepas, sampai kapanpun kamu tidak akan menemukan wanita hebat, tapi berbalut kesederhanaan!" ujar Alfian sembari memeluk Rafa. Pelukan yang lama menghilang dari dua sahabat yang telah lama menjauh.
"Genggam tangan Hana seerat mungkin. Wanita yang selalu menempatkan dirimu di atas segala-galanya. Wanita yang menganggap dirinya tak berharga, tapi menyimpan cinta yang sangat besar untukmu!" ujar Sesil, Rafa mengangguk mengerti.
"Aku tak pernah ingin melepas tangannya. Aku akan menggenggam tangan Hana dengan cinta dan iman!" ujar Rafa, Sesil dan Alfian mengangguk setuju. Kiara dan Rizal tersenyum sembari mengangguk saat Alfian dan Sesil berpamitan.
"Sudah saatnya Sesil melihat sifat Hana. Bukan aku ingin menyakiti Sesil. Namun dia harus mulai belajar menghargai Alfian. Hanya Hana yang bisa merubah pemikiran Sesil. Bahwa ada cinta yang sedang menunggunya. Kak Rafa yakin, hanya dengan pengertian Hana dan ketulusan yang Hana tunjukkan. Sesil menyadari cintanya padaku hanya akan menyakitinya. Namun cinta Alfian akan membuat Sesil bahagia!" ujar Rafa lirih, Rizal dan kiara mengangguk heran.
"Aku seperti tidak mengenalimu. Kak Rafa penuh dengan cinta!" ujar Kiara sembari menggelengkan kepala tidak percaya.
"Hana yang menghangatkan hatiku yang beku. Hanya ada cinta untuknya dalam diriku. Dia yang menerangi gelapnya hidupku. Hana membuatku merasa bearti. Layaknya dirimu yang membuat Rizal merasa dihargai dan dicintai!"
__ADS_1
"Iya itu dulu, sejak menikah kak Rizal semakin dingin padaku. Mungkin dia mulai merasa bosan!" ujar Kiara kesal.
"Sayang, cinta itu ada dalam hati. Hanya hati yang terpaut mengerti akan hadirnya. Aku tak perlu mengatakan cinta padamu. Jika hati dan jiwaku, hanya berisi namamu. Masihkah penting perkataan, jika diriku telah memilihmu!" ujar Rizal, sembari memeluk Kiara erat. Rizal menyusup di belakang tengkuk Kiara. Rizal mencium lembut tengkuk Kiara.
"Memang cinta tidak butuh perkataan, tapi seorang wanita akan lebih bahagia. Bila mengetahui pemilik hatinya selalu hangat. Semua demi kepastian, bahwa dia satu-satunya dalam diri sang imam!" sahut Kiara dingin, Rizal mengangguk mengerti.
"Kalian masih banyak waktu mencari cinta itu. Saling mengerti kunci langgengnya sebuah hubungan!" ujar Rafa lirih, lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Kini kamu yakin, hanya dirimu satu. Wanita yang ada dalam hati dan jiwa seorang Rafa!" bisik Rafa, tangannya memeluk perut Hana yang masih rata. Rafa menempelkan wajahnya pada pipi Hana. Rafa merasakan tangan dan pipi Hana mulai dingin.
"Kita pulang sekarang, kamu sudah kedinginan!"
"Kak Rafa, sedingin inikah hati dan jiwamu dulu. Maafkan aku yang pernah mengacuhkanmu. Seandainya aku menyadari, kehangatanmu lebih cepat. Tentu kamu tidak perlu tersiksa dengan dingin ini!" ujar Hana, Rafa mengangguk pelan.
...☆☆☆☆☆...
__ADS_1