KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Derasnya Hujan...


__ADS_3

Pertemuannya dengan Davina pagi tadi. Membuka hati dan pikiran Faiq. Dia merasakan sakit yang tak lagi mampu dia tahan. Faiq gelisah memikirkan kepergian Davina. Dia telah kehilangan cinta sekaligus keyakinan Davina. Faiq merasakan sepi yang teramat. Dia merindukan Davina yang selalu mencintainya. Faiq tidak pernah menyangka. Jika keputusan Davina akan menjadi akhir dari rasa diantara mereka.


Seharian ini Faiq tidak lagi mampu berkonsentrasi. Pikirannya hanya berputar pada Davina. Faiq mengingkari sikap profesionalnya. Dia tidak lagi mampu berpikir jernih. Dia ingin bicar berdua dengan Davina. Faiq ingin meminta maaf, kalau perlu menghiba. Namun semuanya seakan terlambat mengingat keteguhan hati Davina. Keputusan akhir Davina yang ingin pergi meninggalkan Faiq. Entah sementara atau untuk selamanya? Faiq mengingat jelas kata demi kata yang terucap dari bibir Davina. Semua bermain indah dalam benak Faiq.


Sejak siang hari Faiq memutuskan menunggu Davina di depan mobilnya. Dia tidak mungkin menemui Davina di dalam rumah sakit. Tetap bekerja juga tidak mungkin dilakukan oleh Faiq. Lebih baik Faiq menunggu Davina pulang kerja. Dia bersandar pada mobilnya. Faiq berdiri tepat di depan pintu masuk rumah sakit. Semua orang melihat Faiq, tapi tak satupun dari mereka yang berani menyapa Faiq. Sang kepala rumah sakit yang terkenal bertangan dingin dan tegas.


Faiq terus menatap pintu masuk rumah sakit. Dia fokus melihat setiap orang yang keluar masuk. Faiq berharap Davina keluar dari rumah sakit. Dia tidak ingin kehilangan Davina. Bisa saja dia menemui Davina di rumahnya. Namun menunggu sampai nanti malam. Faiq seakan tak mampu, dia benar-benar takut kehilangan Davina. Faiq melihag jelas kesungguhan Davina. Faiq merasakan sakitnya menunggu, sakit yang dia torehkan dihati Davina selama seminggu terakhir. Faiq mencoba mengingat kembali perkataan Davina pagi tadi.


FLASH BACK


"Tunggu, kita harus bicara. Aku tidak bisa bila kamu diam seperti ini!" ujar Faiq sembari menahan tangan Davina. Faiq tidak sanggup melihat sikap Davina yang menjauh darinya. Faiq tidak bisa bila terus melihat amarah dimata Davina. Sebaliknya Davina tidak ingin bertemu Faiq. Dia tidak ingin luluh dengan perhatian sesaat yang diberikan Faiq. Bila kelak hanya luka yang akan ditorehkan Faiq. Sebab semua pasti akan terulang kembali. Davina sudah lelah dengan luka yang sama, diacuhkan dan tidak anggap.


"Maaf dokter Faiq, kita sedang bekerja. Anda seorang dokter dan saya hanya staf biasa. Lepaskan tangan saya!" ujar Davina tegas, sembari menepis tangan Faiq. Tanpa sengaja Davina menyentuh tangan Faiq. Ada rasa aneh yang menelis dalam hati Davina. Pertama kalinya tangan Faiq tersentuh olehnya. Entah kenapa meninggalkan rasa yang berbeda? Davina tidak pernah menyangka. Jika menyentuh tangan Faiq memberikan rasa yang tak dapat diartikan.


Tangan yang pernah dan terus dia harapkan menjadi pelindungnya. Tangan yang kelak mendekapnya dikala sepi dan sunyinya. Tangan yang menuntunnya menuju jannah-NYA. Tangan yang kini mulai menjauh dari angan Davina. Sebuah keputusan yang harus diambil Davina. Bukan ingin menyakiti atau tersakiti, tapi berharap keputusannya menjadi yang terbaik. Keputusan Davina meninggalkan semua rasanya. Hanya demi kebahagian Faiq, agar tidak ada lagi yang mengusik kehidupannya.

__ADS_1


Faiq terperangah saat melihat Davina menepis tangannya. Dia tidak pernah melihat Davina melakukan semua ini. Biasanya Davina ingin Faiq menyentuh atau memperhatikannya. Namun sikap yang berbeda diterima Faiq kali ini. Davina mengacuhkan bahkan menolak perhatian dari Faiq. Sikap yang hampir tidak pernah Faiq dapatkan dari Davina. Ada rasa kehilangan yang begitu mendalam. Menelisik jauh ke dalam hati Faiq. Dengan langkah gontai, Faiq berjalan menuju meja kerjanya. Dia mengambil bolpoint. Faiq menandatangani berkas yang diserahkan Davina. Lalu memberikannya pada Davina.


"Ambillah berkas ini, pergilah jika memang itu keputusanmu. Aku sudah menerima surat pengunduran dirimu. Bahkan aku sudah memberikan rekomendasi untuk perusahaan atau rumah sakit di luar negeri. Agar kamu bisa mendapatkan pekerjaan disana. Aku sudah memenuhi semua keinginanmu. Semoga sekarang kamu bahagia. Aku mendoakan yang terbaik untukmu. Dimanapun dirimu berada? Semoga hanya kebahagian yang kamu dapatkan!" tutur Faiq lirih, Davina mengangguk pelan. Dia menerima berkas yang sudah ditandatangani Faiq. Berkas yang membuat Faiq gusar. Sesuatu yang membuat Faiq mengetahui, jika Davina akan meninggalkan dirinya. Meninggalkan kota ini, bahkan negara yang dia tinggali sejak kecil. Davina meninggalkan langit yang sama dengan Faiq.


"Terima kasih, saya permisi dokter Faiq. Sekali lagi, maaf kalau saya mengganggu anda!" ujar Davina lirih, Faiq diam mematung. Davina berjalan keluar dari ruangan Faiq. Namun langkahnya terhenti, saat dia mendengar Faiq berbicara.


"Aku telah salah menilaimu. Aku pikir dirimu berbeda dengan wanita kebanyakan. Aku berharap kamu mampu memahami diriku dan pekerjaanku. Kini aku menyadari, kamu sama dengan wanita lain yang mengutamakan perasaan daripada logika. Sungguh aku tidak pernah berharap kamu bersikap seperti ini. Seseorang yang berpendidikan, akan lebih bisa memahami. Jika merawat pasien atau menolong orang yang membutuhkan itu wajib. Ternyata aku salah telah menyerahkan seluruh cintaku padamu. Semua yang kuberikan padamu. Tidak bisa membuatmu percaya dan yakin akan cintaku padamu. Kamu lebih percaya hati dan pikiranmu, tanpa mempertimbangkan alasan dibaliknya. Kamu menghukumku dengan pergi meninggalkanku. Hanya karena aku lebih mementingkan pekerjaanku. Davina Nur Latifah, tidak pernah aku menduga. Semua harus seperti ini. Kamu pergi tanpa mengatakan apa-apa? Hanya penghakiman sepihak yang kamu berikan. Seorang tahanan layak mendapatkan kesempatan. Sedangkan kamu menghukumku tanpa memberikan kesempatan. Sebesar itukah rasa marahmu padaku. Sampai kamu menganggap diriku, tidak lebih dari laki-laki penebar cinta!" tutur Faiq lirih, sembari menunduk. Kedua tangannya menyangga tubuhnya di atas meja. Faiq berbicara tanpa menoleh pada Davina. Faiq terus menunduk menatap ke arah meja kerjanya. Dadanya terasa sesak. Dia sulit bernapas. Sebaliknya Davina berdiri mematung tepat di depan pintu ruangan Faiq. Dia mendekap erat berkas yang sudah ditandatangani Faiq.


"Maaf jika bukan aku wanita yang kamu harapkan. Kamu benar dengan mengatakan, aku tidak berpendidikan layaknya Zahra. Dia seorang guru yang mampu membaca dan memahami perasaan para muridnya. Dia juga wanita yang bisa memahami isi hatimu. Mungkin bukan aku yang pantas untukmu, tapi Zahra wanita yang diam menyimpan cinta untukmu. Aku tidak akan membela diri. Sejak awal kita memang berbeda pandangan. Kamu benar dengan cara berpikirmu dan aku benar dengan pendapatku. Maaf jika aku tidak bisa memahami pekerjaanmu. Aku tidak bisa menahan rasa cemburu yang mengusai hati dan pikiranku. Sehinggga aku tidak bisa lagi memilah mana yang benar dan salah? Satu hal yang aku anggap benar. Ketika kamu menerima telpon dari Zahra. Aku di rumah gelisah memikirkan keadaanmu. Kamu menghilang tanpa kabar, tak ada telpon atau pesan yang kamu balas. Disaat kamu berdua bersama Zahra mencemaskan ayahnya. Aku sendirian menangis merindukan suaramu, tanpa ada yang bisa aku ajak bicara. Seminggu aku menunggu pesan atau telponmu, tapi kenyataannya pahit yang aku terima. Cukup sekali saja kamu mengangakat ponselmu demi diriku. Agar aku merasa berharga dihidupmu. Kesempatan yang kamu minta sudah terlewati, bukan dengan senyuman aku menunggumu. Dengan air mata aku menanti perhatianmu. Namun bukan perhatian yang aku terima, tapi kebersamaanmu dengan Zahra yang selalu aku lihat. Mungkin dia anak pasienmu, tapi dia juga menyimpan cinta untukmu. Kelak dia juga yang bisa membuat jatuh cinta. Lebih baik aku pergi, agar lukaku tidak semakin dalam. Terima kasih atas doa yang kamu berikan. Doa yang sama aku ucapkan untukmu. Imam yang kurindukan dalam setiap sujudku. Semoga kamu menemukan makmum yang terbaik!" tutur Davina, lalu membuka pintu dan pergi meninggalkan Faiq. Perkataan Davina menyayat hati Faiq. Semua seolah benar terdengar ditelinga Faiq. Hampir seminggu Faiq hanya fokus merawat ayahnya Zahra. Tanpa Faiq sadari, dia mengacuhkan Davina. Awalnya Faiq akan menjelaskan hari ini, tapi semua seakan terlambat. Davina telah memutuskan akhir dari semuanya.


Hampir tiga jam lebih Faiq berdiri bersandar di mobilnya. Dia menunggu Davina keluar dari rumah sakit. Staf rumah sakit menunduk menyapa Faiq. Tanpa berani bertanya alasan Faiq berdiri di depan mobilnya. Semua mengubur rapat-rapat rasa penasarannya. Entah kenapa Faiq tidak merasa lelah menunggu Davina dibawah langit yang cerah. Faiq mulai menyadari, bukan hanya cintanya yang sepenuhnya milik Davina. Namun seluruh hidupnya hanya berputar pada Davina.


Jam terus berjalan, tapi tak ada tanda Davina akan keluar dari rumah sakit. Langit yang awalnya cerah berubah menjadi mendung. Tak ada lagi panasnya matahari. Kini dinginnya angin yang terasa menusuk tulang Faiq. Suara petir saling bersahutan, mengawali hujan yang segera turun. Suasana langit yang berubah gelap dan dingin. Bagaikan hati Faiq yang gelap tanpa cinta Davina. Air hujan yang turun seakan ingin menyembuyikan air mata Faiq. Air mata yang turun melepas kepergian Davina.


Faiq tetap berdiri meski air hujan mulai turun. Derasnya hujan turun, tak membuat Faiq bergeming. Annisa dan Zahra berdiri tepat di pintu masuk. Keduanya keluar saat ada staf yang melaporkan kondisi Faiq. Annisa merasa ada yang tidak benar. Dia segera menghubungi Fathan. Dia meminta Fathan menemui Faiq dan mencari tahu, apa yang sebenarnya terjadi? Zahra yang melihat Faiq kehujanan merasa iba. Tanpa banyak berpikir dia segera menghampiri Faiq. Zahra membawakan payung untuk Faiq. Meski Zahra tidak mengetahui alasan sikap Faiq. Namun dia tidak tega melihat Faiq menyiksa dirinya sendiri.

__ADS_1


Seketika seisi rumah sakit gempar. Mereka melihat kepala rumah sakit yang dingin berdiri di bawah hujan. Bukan satu atau dua jam, dia sudah berdiri lebih dari tiga jam. Setiap staf rumah sakit, ingin melihat Faiq. Namun semuanya mundur, saat Annisa dengan tegas meminta mereka pergi. Kegemparan mengenai Faiq terdengar oleh Davina.


Dia melihat Faiq dari ruangannya di lantai tiga. Davina bisa melihat jelas, Faiq yang berdiri di bawah derasnya hujan sore itu. Tatapan Davina mengunci Faiq lekat. Ada rasa iba dan terluka melihat sikap Faiq. Namun Davina harus kuat, agar tak ada lagi air mata yang menetes. Lama Davina menatap Faiq. Akhirnya dia putuskan menemui Faiq. Meski bukan sebagai kekasih. Dia akan datang sebagai teman yang memberikan selamat. Namun belum sempat dia beranjak dari tempatnya. Davina melihat seorang wanita mendekat pada Faiq. Dengan membawa payung hitam, dia memayungi Faiq. Meski Davina tidak bisa melihat jelas. Davina bisa menebak, siapa wanita yang sedang bersama Faiq? Hanya dua orang yang kini bisa sedekat itu dengan Faiq selain dirinya. Dokter Annisa dan Zahra, hanya Zahra wanita yang akan terluka melihat Faiq terluka. Dengan langkah gontai Davina menjauh dari jendela. Dia duduk di tempat duduknya. Davina bersandar menatap langit rumah sakit


"Dialah yang akan ada pertama kali menemuimu. Dia yang kelak akan bersama denganmu. Menghapus air matamu, mengelap setiap tetes keringatmu. Menyiapkan segala keperluanmu. Dia wanita berpendidiikan yang mampu memahami setiap keluh kesahmu. Dia yang akan mendukungmu dalam setiap langkah hidupmu. Dia yang akan ada dikala hatimu gelisah. Meski sekarang bukan dia yang ada dalam hatimu. Kelak dia yang akan mengetuk pintu hatimu. Siapapun dia? Aku berharap kamu bahagia bersamanya. Percayalah semua akan baik-baik saja!" batin Davina penuh dengan air mata. Bukan hanya kedua matanya yang menangis, tapi hatinya ikut menangis. Semua terasa semakin berat, saat Faiq bersikap seperti itu.


"Dokter Faiq, lebih baik kita masuk. Hujan terlalu lebat, anda bisa sakit bila terus di bawah guyuran hujan. Anda seorang dokter, seharusnya memberikan contoh yang baik. Apapun masalah anda, sebaiknya selesaikan dengan baik-baik. Bukan dengan cara menyiksa diri. Semua ini tidak akan menyelesaikan masalah, yang ada menambah masalah baru!" tutur Zahra mencoba memberikan pengertian. Namun Faiq tetap diam membisu. Dia tidak bergeming atau menyahuti perkataan Zahra. Faiq larut dalam pikirannya. Tatapannya tetap fokus pada pintu masuk rumah sakit.


Lama keduanya berdiri di bawah hujan. Gamis panjang Zahra mulai basah. Bumi seolah tidak mampu menampung air hujan. Lalu tak berapa lama terdengar suara mobil datang. Fathan datang dan memarkir mobilnya tepat di samping mobil Faiq. Fathan melepas jas kantornya, dia melipat hem panjangnya sampai siku. Fathan keluar tanpa memakai payung. Dia menghampiri Faiq dan bersandar pada mobil Faiq. Kini Fathan dan Faiq sama-sama berdiri di bawah derasnya hujan. Zahra meninggalkan du kakak beradik yang sedang berdiri di bawah derasnya hujan.


"Faiq, tante Diana menemui mama. Dia mengembalikan cincin pertunanganmu. Mama sempat kaget saat tante Diana mengembalikan cincin pertunangannya. Namun setelah tante Diana menjelaskan, mama akhirnya setuju. Mama mengizinkan Davina pergi. Aku tidak pernah tahu alasan Davina membatalkan pertunangan kalian. Namun melihat sikapmu sekarang, aku merasa ada yang salah. Lalu apa yang ingin kamu buktikan dengan tetap berdiri disini. Jika memang kamu merasa Davina berharga, kejarlah dan perjuangkan dia!" ujar Fathan, dia menepuk pundak Faiq pelan. Fathan melihat kerapuhan Faiq. Ternyata Davina berpengaruh pada hidup Fathan.


"Ternyata dia benar-benar ingin pergi. Di sudah merencanakan kepergian dengan sangat matang. Bahkan hatinya seolah membeku, dia tidak merasa iba melihatku seperti ini!" tutur Faiq lirih, lalu menunduk. Fathan mendekat pada Faiq lalu memeluknya erat.


"Faiq, bukan Davina matang memikirkan rencana kepergiannya. Tapi kamu yang membuat semua harapannya semakin kuat. Sikapmu yang memasksanya pergi sejauh mungkin dari dirimu. Hatinya tidak pernah membuka, tapi hatinya leleh menunggu perhatian dan kepedulianmu!"

__ADS_1


__ADS_2