
"Kekesalanmu, tidak lebih dari kelemahanmu mengerti dan memahami Annisa. Sadarlah sebelum semua semakin terlambat. Annisa wanita yang menemanimu selama ini. Dia ibu dari putramu. Annisa wanita yang menerima keyakinanmu tanpa banyak bertanya. Berusaha memahami dirimu dan keluargamu. Semua kebaikannya tidak seharusnya kamu acuhkan dan berpikir hubungan kalian hambar. Sebagai seorang yang mencintainya, tidak sepantasnya kamu mencari kenyamanan dari yang lain!" ujar Faiq dingin.
Seketika Fathan menoleh pada Faiq. Dia semakin tidak mengerti arah perkataan Faiq. Kebingungan Fathan tak lain mendengar perkataan Faiq. Perkataan yang seolah menuduh dirinya bersama wanita lain. Entah apa yang Faiq lihat atau dengar? Namun sampai detik ini, Fathan tidak pernah mengkhianati Annisa.
"Tunggu Faiq, apa maksud perkataanmu? Siapa orang lain yang ingin kamu katakan? Lantas apa hubungan diam Annisa selama ini. Jelaskan padaku, aku benar-benar tidak tahu!" ujar Fathan bingung.
Faiq diam menatap langit malam. Terasa gelap dan dingin, layaknya hati Fathan saat ini. Meski bulan bersinar begitu terang dan bintang berkelip indah. Namun semua yang terlihat. Seakan tak mampu meneduhkan dan menjawab kebingungan Faiq. Akan sikap Fathan yang seolah tak memahami permasalahan dalam rumah tangganya.
"Kakak, aku mengagumi semua kelebihan yang kamu miliki. Kepintaranmu dalam menjalankan bisnis keluarga. Terkadang membuatku iri dan cemburu akan kesuksesan yang kamu miliki. Kasih sayang mama yang selalu mengutamakan dirimu sebelum diriku. Sepintas membuat hatiku sakit. Seolah aku bukan putra mereka. Namun lama aku mengenal mereka, aku menyadari sifatmu lebih lembut dariku. Kenyamanan yang mereka berikan sejak kecil padamu. Kini tanpa sadar, telah membuatmu lemah memahami orang disekitarmu!" tutur Faiq, Fathan menoleh manatap Faiq dengan raut wajah penuh tanya.
Selama ini mungkin mereka tumbuh bersama. Namun tak pernah mereka bicara dari hati ke hati. Sekadar ingin memahami satu dengan yang lain. Mungkin malam ini, akan menjadi awal kedekatan yang lama hilang. Atau malah akan membuat jarak yang jauh lebih dalam lagi. Cukup satu alasan, akan membuat Fathan membenci Faiq selama-lamanya. Seandainya Faiq mengatakan sesuatu yang tak pernah ada.
"Faiq, perkataanmu semakin tidak jelas. Kita mungkin saudara sedarah, tapi semua itu tidak lantas membuatku bisa mengerti maksud perkataanmu. Katakanlah dengan jelas, jika memang kamu mengetahui alasan diam Annisa!" ujar Fathan tegas, Faiq mengangguk penuh keyakinan. Seakan dia ingin mengatakan pada Fathan. Dia mengetahui alasan dibalik diam Annisa yang sejatinha menyimpan amarah.
__ADS_1
"Zahra, alasan Kak Annisa. Suara tawa kakak dengannya satu minggu lalu. Terdengar oleh telinganya, bak sayatan pisau di hati kak Annisa. Canda yang terlihat oleh kedua bola mata indah kak Annisa. Membuat tulangnya remuk tak bersisa. Seolah tak lagi mampu menopang tubuhnya. Keceriaanmu bersama Zahra, serta kenyamanan yang tercipta. Seketika membuat semangat hidupnya menghilang. Rasa kecewa dan penyesalan menggerogoti tubuh dan pikirannya. Kak Annisa merasa tak mampu membuatmu bahagia!" tutur Faiq tegas dengan penuh kejujuran.
Sontak Fathan menunduk terdiam. Dia tidak pernah menduga, jika semua yang terjadi. Murni karena kesalapahaman yang tak pernah dijelaskan. Annisa diam tanpa berpikir bertanya akan pertemuannya dengan Zahra. Sebaliknya Fathan bersikap acuh, tanpa berpikir ingin menceritakan tentang pertemuannya dengan Zahra.
"Apa dia melihat aku bertemu Zahra? Kenapa dia tidak menghampiriku? Apa alasan yang membuatnya ragu padaku? Seharusnya kamu mengatakan semua ini sejak awal. Annisa menyimpan amarah dan sakit hatinya dengan menyiksa diri. Padahal semua yang terjadi, tidak seperti yang dia pikirkan. Lagipula aku dan Annisa sudah bersama hampir tiga tahun. Setipis itukah imanku di depannya. Sampai dia berpikir aku selingkuh!" ujar Fathan emosi dan kesal.
Fathan merasa kecewa dengan cara berpikir Annisa. Keraguan Annisa membuat Fathan marah. Tanpa bertanya demi mencari kebenaran dari Fathan. Malah dengan angkuhnya Annisa menghakimi Fathan. Merasa dirinya telah berbuat salah dengan mengkhianati ikatan suci pernikahan diantara mereka.
"Tapi bukankah kamu mengetahui pasti. Jika Zahra menyukaimu, bukan diriku. Lantas kenapa Annisa harus merasa cemburu? Lagipula dia datang ke kota ini. Bukan hanya bertemu denganku. Bukankah dia juga bertemu denganmu. Bahkan kalian berdua pergi bersama!" ujar Fathan lantang, sontak Faiq mendekat pada Fathan. Dengan kedua telapak tangannya, dia menutup mulut Fathan.
Faiq menggelengkan kepala lemah. Berharap Fathan diam dan mengecilkan suaranya. Tak berapa lama Fathan mengangguk tanda setuju. Akhirnya Faiq melepaskan tangannya dan menjauhkannya dan mulut Fathan.
"Diamlah, jika Davina mendengarnya. Dia jauh lebih cemburu dari kak Annisa. Lagipula aku bertemu Zahra tidak berdua. Kakak yang bertemu berdua dengannya. Sampai akhirnya terlihat oleh kak Annisa!" ujar Faiq cemas, Fathan diam mencoba menelaah perkataan Faiq.
__ADS_1
Sebenarnya apa yang dikatakan Faiq tidaklah salah? Memang seharusnya dia tidak bertemu dengan Zahra atau setidaknya dia menceritakannya pada Annisa. Tentang pertemuan diantara mereka. Sehingga kesalahpahaman tidak perlu terjadi.
"Faiq, kamu belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kamu tidak mengatakan alasan kemarahan Annisa padaku? Apa kamu bahagia melihat Annisa menghukum dirinya sendiri!" ujar Fathan kesal.
"Kak Annisa yang melarangku. Dia ingin melihat sejauh mana dirinya berarti untukmu. Namun sepertinya sikap manja dan zona nyamanmu. Membuatmu sulit memahami amarah dan luka istrimu. Bahkan kakak merasa, kak Annisa baik-baik saja sampai sekarang. Padahal jelas, dia harus memberika ASI ekskulsive pada si kecil!" ujar Faiq, Fathan menoleh dengan raut wajah penuh kekesalan. Dia mendengar Faiq menghinanya, karena sikap manja yanh selama ini melekat dalam diri Fathan.
"Bukan aku yang tidak memahami Annisa. Tapi dia yang seolah menutup diri dariku. Aku tidak akan bisa tertawa dengan Annisa. Selepas dan sekeras bersama Zahra. Aku tidak akan bercanda dengan Annisa. Layaknya aku yang bercanda dan berbicara dengan Zahra. Semua itu tak lebih, karena kedewasaannya yang selalu membuatnya mandiri dan kuat. Aku lelah menghiba padanya. Hanya agar dia bersedia bersandar dan mengeluh padaku. Benteng yang terlanjur dia bangun. Terlalu kokoh dan kuat, sehingga kasih sayangku belum mampu membuatnya hangat dan nyaman!" ujar Fathan dengan sendu, Faiq menepuk pelan pundak Fathan. Lalu dia menunjuk ke langit malam yang penuh bintang. Seakan meminta Fathan menatap langit yang indah malam ini.
"Lihatlah langit itu, apakah dia butuh alasan agar tetap ada? Tidak kak, langit akan ada meski bulan dan bintang tak bersinar. Langit malam akan tetap ada. Meski hanya gelap yang terlihat dan dingin yang terasa. Sebab langit malam ada, hanya demi satu bulan dan beberapa bintang kecil. Semakin gelap malam terlihat, maka semakin terang cahaya bulan dan bintang yang tampak. Semua bersatu demi keindahan malam ini. Layaknya kak Annisa dan si kecil yang membutuhkanmu tanpa alasan. Agar mereka bisa merasa bahagia dan hangat dalam dekapanmu!" ujar Faiq, Fathan mengangguk pelan mengerti perkataan Faiq.
"Jadi menurutmu aku salah bertemu dengan Zahra. Sedangkan cemburu Annisa benar dengan keraguannya padaku!" ujar Fathan, Faiq mengangguk pelan.
"Takkan ada pertemanan diantara laki-laki dan perempuan. Sebab yang ketiga pasti setan dan hawa napsu. Bersyukurlah kakak masih memiliki iman dan tidak tergoda dengan napsu. Jangan pernah lagi bertemu dengan lawan jenis, tanpa ada orang yang ketiga menemani. Sebab diantara dua orang, ada setan diantara mereka!" ujar Faiq lalu meninggalkan Fathan.
__ADS_1