KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Sikap Tegas Rafa


__ADS_3

Secepat kilat Rafa mengemudikan mobilnya. Tubuh Hana semakin lemas, Rafa menggenggam tangan Hana erat. Rafa merasakan tubuh Hana sangat dingin. Bibir Hana mulai membiru. Darah segar terus keluar dari balik gamis Hana.


Sesampainya Rafa di rumah sakit, dia lanvsung membawa Hana menuju ruang IGD rumah sakit. Hana langsung mendapatkan perawatan, kebetulan juga dokter kandungan yang menangani Hana sedang berada di ruang IGD. Wajah dokter yang cantik berubah menjadi panik.


"Apa yang terjadi dengan nyonya Hana? Bukankah tadi pagi dia baru memeriksakan diri!" ujar dokter Cintya, Rafa mendongak kaget. Dia mendengar fakta bahwa, Hana datang tanpa dirinya ke rumah sakit. Rafa semakin tidak berdaya, dia seolah tak berguna sebagai seorang suami.


"Apa maksud dokter? Kenapa istri saya datang kemari?" tanya Rafa panik, dokter menggeleng lemah. Dia sangat menyayangkan apa yang terjadi pada Hana.


"Sebaiknya saya masuk dulu. Kondisi bu Hana mengkhawatirkan, resiko keguguran sangat tinggi. Bila terlambat mendapatkan penanganan!" ujar dokter Cintya, Rafa mengusap wajahnya kasar. Dia tidak mampu melindungi Hana. Bahkan mengerti rasa sakit Hana. Rafa gagal menjadi seorang suami.


Rafa duduk menunggu Hana yang sedang mendapatkan perawatan. Hem putih Rafa sudah tidak bersih. Darah Hana merubah warna putih hem Rafa. Banyaknya darah semakin mengiris hati Rafa. Dia telah gagal menjaga Hana dan calon bayinya. Jika sampai terjadi sesuatu pada Hana dan bayinya. Seumur hidup dia tidak akan bisa memaafkan dirinya. Terutama seluruh anggota keluarga Prawira.


"Rafa, bagaimana kondisi Hana? Dimana dia sekarang?" ujar tuan Ardi cemas, Rafa hanya menggeleng lemah. Rasa cemas menguasai seluruh pikirannya. Hanya Hana yang sedang Rafa pikirkan. Tuan Ardi melihat Rafa yang terpuruk memikirkan istri dan buah hatinya.


Tuan Ardi duduk di samping Rafa. Dua orang yang sama-sama mencemaskan Hana dan bayinya. Hampir satu jam lebih Hana mendapatkan penanganan. Dokter Cintya keluar dari ruang IGD. Dia berjalan perlahan menghampiri Rafa.


"Bagaimana kondisi istri saya? Apa dia baik-baik saja? Bayi kami bagaimana?" ujar Rafa cemas, dokter Cintya menggeleng lemah. Dia mengajak Rafa menuju ruangannya. Dia ingin menjelaskan kondisi Hana yang sebenarya.


"Tuan Rafa, silahkan duduk. Saya akan menjelaskan kondisi nyonya Hana. Sebenarnya tadi pagi beliau datang kemari. Saya sudah mengatakan pada beliau. Jika kondisi kehamilannya sedikit bermasalah. Dia tidak boleh stres, jika tidak ingin mengalami pendarahan!" ujar dokter Cintya, Rafa menunduk lemas. Dia tidak mengetahui kondisi kehamilan Hana. Keluarganya penyebab utama kondisi Hana yang memburuk. Rafa benar-benar marah pada dirinya yang tidak mampu mrnjaga Hana.

__ADS_1


"Lalu sekarang kondisi istri saya bagaimana? Tolong lakukan yang terbaik, berikan perawatan yang paling baik untuk istri dan anak saya. Selamatkan mereka dengan cara apapun! Jangan biarkan mereka kesakitan!" ujar Rafa memelas, dokter Cintya tersenyum ke arah Rafa.


"Tuan Rafa bisa tenang sekarang. Pendarahannya sudah berhenti, kondisi janin nyonya Hana baik-baik saja. Sebenarnya tadi pagi saya sudah sempat menyuntikkan penguat kandungan pada beliau. Jadi untuk sekarang, kami bisa menyelamatkan ibu dan bayinya. Namun saya ingatkan, jika terjadi hal yang sama. Saya tidak yakin bisa menyelamatkan bayi anda!" ujar dokter Cintya, Rafa mengangguk seraya tersenyum. Rafa bisa bernapas lega, kondisi Hana dan bayinya sudah baik-baik saja. Dia berjanji akan melindungi Hana dan bayinya.


"Terima kasih dokter!"


"Namun saat ini kondisi nyonya Hana masih dalam tahap observasi. Jadi untuk sementara beliau akan berada di ruang IGD. Kami masih menunggu 1x12 jam. Jika kondisi beliau stabil, kami akan memindahkannya le ruang rawat yang anda kehendaki!"


"Terima kasih, lakukan apapun yang terbaik untuk istri saya!" ujar Rafa, dokter Cintya mengangguk. Dia bisa melihat besar cinta Rafa pada Hana. Kecemasan setiap suami yang melihat istrinya terbaring tak berdaya. Dengan langkah gontai, Rafa menghampiri kakeknya.


Rafa menceritakan tentang keadaan Hana. Tentang kemungkinan Rafa kehilangan bayinya. Rafa marah dan kesal, dia menangis dalam pelukan kakeknya. Rafa mencurahkan semua kegelisahannya. Tak berapa lama, Adrian datang bersama dengan Diana. Rafa sempat menghubungi Adrian. Jauh dibelakang Adrian, terlihat kedua orang tua Rafa. Mereka sengaja datang ingin mengetahui kondisi Hana. Mereka takut terjadi sesuatu pada kandungan Hana.


Gunawan pernah melihat amarah Rafa saat ibunya meninggal. Namun usia yang masih sangat kecil, amarahnya tidak terlalu berpengaruh pada orang lain. Tapi jika kali ini, amarah Rafa bisa membunuh orang lain.


"Kondisi sudah melewati masa kritis, tapi dia belum stabil. Hana masih berada di ruang IGD, dia belum bisa dipindahkan ke ruang rawat biasa!" tutur tuan Ardi, melihat Rafa yang tetap diam. Tuan Ardi mewakili Rafa menjawab pertanyaan Adrian.


"Bagaimana kondisi Hana sekarang? Apa dia keguguran?" ujar Gunawan santai. Sedikitpun dia tidak merasa bersalah. Sontak Rafa berdiri tepat dihadapannya. Rafa menatap tajam Gunawan, orang yang menghina Hana dengan sangat keji.


"Jangan pernah sebut nama istriku dengan mulut kotor anda. Bersyukurlah kondisi Hana baik-baik saja. Jika tidak, mungkin saya bisa lupa. Kalau anda ayah kandung saya. Sekarang pergi sejauh mungkin dari hadapan saya. Tunggulah apa yang bisa seorang suami lakukan? Sebagai balasan sikap anda pada istri saya!"

__ADS_1


"Maksud kamu apa Rafa? Aku ayah kandungmu, tidak mungkin kamu melupakan dengan mudah hubungan diantara kita!"


"Bukankah anda yang dengan mudah menghina istri saya. Mencelakai anak saya yang bahkan belum terlahir. Sangat impas, jika saya membalas semua perlakuan keji kalian!" ujar Rafa sinis, lalu menoleh pada Adrian. Rafa meminta Adrian mendekat.


"Adrian, bekukan semua kartu ATM nyonya Sabrina dan putrinya. Hentikan pembayaran sekolah untuk putri nyonya Sabrina. Ambil semua fasilitas yang diberikan dari uang kantor!" titah Rafa, Adrian mengangguk mengerti. Tuan Ardi sudah menduga Rafa akan melakukan semua ini. Gunawan terkejut mendengar perkataan Rafa. Selama ini dia hidup dengan uang dari Rafa. Jika semua dibekukan, akan seperti apa hidupnya nanti?


"Rafa, jangan lakukan semua itu. Aku tidak terlibat atas rencana papamu. Tidak seharusnya kamu menghukumku juga!" ujar Sabrina membela diri, Rafa tersenyum sinis. Sebenarnya Hana meninggalkan kartu ATM dan ponselnya di atas tempat tidurnya. Hana menuliskan sebuah catatan kecil di samping dua benda yang menjadikannya hina.


"Kak Rafa, maafkan Hana jika harus mengecewakanmu. Ambilah kartu ATM dan ponsel ini. Kedua barang ini membuatku hina di depan kedua orang tuamu. Bukan maksudku menghina dirimu dengan mengembalikan semua ini. Sampai detik ini aku masih bisa hidup dengan keringatku sendiri. Ambillah barang yang tak seharusnya menjadi milikku!"


Setelah membaca surat Hana, Rafa merasa ada yang telah terjadi padanya. Maka dari itu Rafa berusaha mencari Hana, tapi dia malah bertemu Hana di restoran tempat keluarga Sesil mengundangnya makan.


"Bukankah kamu menghina istriku hidup dari uangku. Sekarang sudah saatnya, kalian hidup dengan keringat sendiri. Agar kalian mengerti, siapa yang lebih hina dari Hana?" ujar Rafa dingin, Gunawan dan Sabrina meninggalkan Rafa dengan perasaan kesal. Selama ini Sabrina hidup mewah dengan ATM yang diberikan Rafa. Sekarang dia harus hidup tanpa uang dari Rafa.


Adrian mendekat pada Rafa, dia memberikan paper bag berisi pakaian ganti untuk Rafa. Pakaian yang dipakai Rafa penuh dengan noda darah. Selama menunggu Rafa, Adrian mengurus administrasi untuk Hana. Bahkan dia memesan ruang rawat inap untuk Hana.


Tak berapa lama Hana dipindahkan ke ruang rawat biasa. Rafa bergegas menemui Hana. Dia ingin segera menemui Hana. Adrian dan Diana memutuskan pergi dari ruang rawat Hana. Mereka ingin memberikan kesempatan Rafa berdua dengan Hana. Tuan Ardi sudah pergi sejak tadi. Tubuh rentanya tidak terlalu kuat bila harus berada di rumah sakit terlalu lama.


"Sayang, maafkan aku yang hampir membunuhmu. Aku suami yang tidak berguna. Aku tidak bisa melindungimu, hanya luka dan luka yang selalu aku berikan padamu. Maafkan aku, jangan pernah pergi dariku. Aku bisa tiada tanpa dirimu. Jangan hancurkan hati yang telah mencintaimu. Hatiku terlalu lemah untuk terluka bila kamu pergi. Maafkan aku, maaf!" batin Rafa pilu, dia memandang wajah pucat Hana. Rafa mencium lembut kening Hana. Air mata Rafa menetes membasahi kedua mata Hana.

__ADS_1


...☆☆☆☆☆...


TERIMA KASIH😊😊😊


__ADS_2