
Assalammualaikum, maaf menungguku lama!" sapa Faiz ramah, Farah mendongak melihat ke arah Faiz. Saat tatapannya bertemu dengan wajah tampan Faiz. Seketika Farah menunduk malu. Lalu Farah menggeleng lemah, isyarat dia baik-baik saja.
Faiz duduk tepat di depan Farah. Dia tidak mengerti alasan Farah memintanya datang. Satu hal yang pasti, Faiz merasa teduh setiap kali bertemu dengan dua bola mata indah Farah. Keteduhan yang tak pernah dirasakan Faiz. Setelah sekian lama, akhirnya Faiz menemukan tambatan hati. Pemilik tulang rusuknya yang hilang.
Farah tiba-tiba menghubungi Faiz. Laki-laki yang berniat menghkitbahnya. Farah meminta bertemu dengan Faiz. Sebelum Faiz datang ke rumahnya meminang Farah pada orang tuanya. Farah merasa perlu menceritakan sesuatu pada Faiz. Segala sesuatu yang berhubungan dengan keluarganya.
Sebab itu sore ini Farah meminta waktu Faiz. Sekadar minum kopi di cafe milik Faiz. Farah akan mengatakan semua ganjalan dalam hatinya. Sesuatu yang harus terungkap dan dipahami oleh Faiz sebagai calon suami Farah. Entah apapun pendapat Faiz? Farah akan menerimanya dengan lapang dada. Selama dia bisa jujur pada Faiz dan hatinya.
Sebenarnya Farah tidak ingin datang sendirian. Dia sudah mengajak Davina, tapi dia urungkan. Kondisi Davina belum stabil. Sangat tidak baik baginya untuk keluar. Farah mencoba mengajak Vania. Namun lagi-lagi dia batalkan, saat Vania menceritakan tentang masa lalu diantara dirinya dengan Faiz. Akhirnya dengan sangat terpaksa, Farah datang sendiri. Dia datang tepat waktu, sebaliknya Faiz datang lima belas menit lebih lama. Farah seolah tidak sabar, untuk menceritakan semua ganjalan di hatinya.
"Waalaikumsalam, tidak apa-apa? Selama kak Faiz bersedia menemuiku dan datang dalam keadaan sehat tak kurang apapun. Aku tidak merasa keberatan menunggu. Lagipula suasana cafe kak Faiz hangat dan nyaman. Seolah aku sedang berada di kamarku, sangat nyaman!" ujar Farah lirih dan sopan, Faiz mengangguk seraya mengutas senyum.
Terlihat raut wajah bahagia Faiz yang berbalut rasa heran. Faiz merasa heran, mendengar Farah yang ternyata banyak bicara. Awalnya dia berpikir pribadi Farah tak jauh beda dengan Vania. Namun sepertinya Faiz salah dalam menilai. Farah sebelas dua belas dengan Vania. Terlihat diam tapi ramah. Namun tetap dengan sikap sopan santun.
Bukan merasa Farah wanita yang sembarangan atau ceroboh. Melainkan ada rasa tertarik yang nyata di hati Faiz. Melihat sikap hangat Farah padanya. Dalam setiap perkataan Farah tersimpan kejujuran yang nyata. Lantang suara Farah menyahuti Faiz. Seakan membuktikan bahwa Farah merasa nyaman dengan Faiz. Tentunya dengan batasan yang masih terjaga. Sikap dingin Farah berubah, kini keduanya menjalin hubungan hangat sebelum ikatan suci yang akan terjalin.
"Aku memang mendesain cafe ini layaknya rumah. Bukan aku ingin pengunjung betah, tapi aku ingin seseorang yang makan atau minum disini. Merasa dirinya sedang makan di rumahnya sendiri. Aku ingin mencari saudara dengan membuka cafe ini. Bukan semata demi keuntungan materi!" tutur Faiz, Farah mengangguk mengerti. Dia merasa nyaman dan tenang ketika berada di cafe milik Faiz.
Lalu Farah mengedarkan pandangannya ke segala penjuru cafe. Terlihat beberapa kaligrafi yang terlukis indah. Ada beberapa Asmaul Husna yang terpanjang di salah satu dinding cafe. Tempat yang tepat dan mudah terlihat. Seakan Faiz ingin membuat pengunjungnya melihat, lalu sekadar membaca Asmaul Husna. Nama-nama indah Allah SWT, agar kelak tidak menjadi pribadi yang lalai. Faiz menunjukkan nilai-nilai islam dalam setiap sudut cafenya.
"Kak Faiz mampu menciptakan kehangatan dan kenyamanan dalam agama islam. Tulisan kaligrafi yang terpanjang. Jelas menunjukkan bahwa seni dan agama mampu menyatu. Agar kita mampu mengenal islam dengan keindahan. Makna yang tertulis dalam kaligrafi, sejujurnya membuatku malu. Aku telah menjadi pribadi yang lalai selama ini. Sedangkan Asmaul Husna yang sengaja kak Faiz pajang. Membuatku menyesal telah melupakan nama-nama indah itu!" tutur Farah, Faiz tersenyum penuh rasa bangga. Semakin lama di duduk bersama Farah. Semakin dia menganggumi Farah yang hangat dan penuh wawasan.
__ADS_1
Faiz merasa nyaman saat mendengar suara Farah. Ada getaran yang membuatnya tertarik mengenal wanita bercadar di depannya. Pandangan sederhana yang diutarakan Farah. Seketika membuat Faiz kagum akan kepintaran dan kejujuran Farah. Entah kenapa Faiz merasa yakin? Farah makmum yang tepat untuknya. Dengan bismillah, Faiz akan mempercepat pinangannya pada Farah.
Sebaliknya Farah merasa pribadi Faiz sangat santai dan nyaman. Cara dia mengelola cafe mencerminkan pribadi yang bijaksana. Faiz hanya mengingatkan orang menjadi pribadi yang lebih baik. Bukan dengan amarah atau memaksa, Faiz menunjukkan sikap lembut dan damai yang selalu diajarkan dalam islam. Tanpa berpikir orang lain akan langsung mengikuti arahannya. Faiz merasa iman ada dalam hati. Jadi dia menyerahkan sepenuhnya pada pemikiran orang-orang yang melihatnya. Mampukah mereka memahaminya.
"Kamu menarik, cara pandangmu cukup membuatku yakin dirimu yang terbaik. Kapan aku bisa datang meminangmu? Atau kamu ragu akan diriku. Setidaknya katakan semuanya sekarang. Sebelum hatiku terpaut terlalu jauh!" ujar Faiz ramah, Farah menggeleng lemah. Sontak Faiz menghela napas panjang. Menyadari pinangannya ditolak oleh Farah. Seketika Faiz menunduk menatap lantai. Farah mendengar jelas suara hembusan napas Faiz. Seolah ada rasa kecewa yang teramat dalam hati Faiz.
Apa yang dikatakan Farah benar adanya? Meminang Farah bukan hal yang sulit, tapi memahami keluarganya sangatlah sulit. Sebuah keluarga yang menyatu, tapi kenyataannya terpisah oleh jurang yang sangat dalam dan menakutkan. Kehidupan bahagia yang selalu Farah dambakan. Nyatanya tak pernah ada dan takkan pernah dia rasakan dari keluarganya. Pernikahan kedua orang tuanya, ada tapi tak pernah menyatu. Farah lahir dari cinta suci, tapi tumbuh tanpa kasih sayang yang utuh.
Meski Hana mengatakan pada Farah. Semua yang terjadi adil, tapi beban hati yang ditanggung Farah sejak kecil. Terlalu berat dan seakan Farah tak sanggup lagi menanggungnya. Apalagi membaginya dengan laki-laki sebaik Faiz. Laki-laki yang berhak bahagia bersama makmum yang jauh lebih tepat. Farah ingin mengatakan pada Faiz beban hidupnya selama ini. Alasan dia menangis dalam gelapnya. Agar tak ada sesal Faiz ketika mereka menikah kelak.
"Maafkan aku kak Faiz, tidak ada maksudku menyakiti atau menolak pinanganmu. Dalam hidup seorang Farah Nur Fitriya, ada sisi gelap yang tak terjamah cahaya. Cahaya suci yang terkandung dalam namaku. Tak mampu menerangi gelap noda yang tesirat dalam hidupku. Aku merasa tak pantas menerima keyakinanmu. Namun seandainya keyakinanmu begitu kuat. Aku akan ceritakan kisah hidupku. Agar kamu bisa menimbang baik buruknya!" ujar Farah lirih, sedangkan Faiz hanya diam menatap Farah. Sekilas Faiz mendengar suara ragu Farah. Ada ketakutan yang teramat, sehingga dia takut untuk mengatakannya.
Faiz merasa tak perlu lagi mengenal Farah. Kehidupan masa lalunya bukan alasan dia merubah keyakinannya. Pribadi Farah yang merendah dan sederhana. Menyakinkan Faiz dia yang terbaik diantara yang baik. Rasa percaya Faiz seakan tak lagi bisa tergoyahkan. Semua seolah nyata dan tak bisa ditawar. Dalam hati dan pikirannya hanya Farah yang terbaik. Entah ini cinta buta atau sekadar rasa kasihan sesaat? Namun Faiz percaya, dalam sebuah keyakinan akan ada kebahagian yang abadi.
Farah marah dan kecewa mendengar kejujuran Faiz. Namun Faiz berhak mencari kebenaran tentang jati dirinya. Faiz berhak meragukan iman yang dimiliki Farah. Faiz berhak menguji kepribadiannya. Sebab menikah bukan hanya mencari istri, melainkan pasangan sekali seumur hidup. Farah mencoba memahami lagi arti sikap Faiz. Bukan sebagai ujian, tapi cara Faiz mengenal dirinya.
"Farah, aku tahu kamu kecewa mendengar kejujuranku. Namun percayalah, aku melakukan semua ini bukan karena aku meragukanmu. Sebaliknya aku percaya, Faiq tidak salah menilai dirimu. Farah masa lalu yang pernah kamu alami. Bukan alasan aku menolakmu atau merasa jijik pada keluargamu. Sejatinya pernikahan bukan untung atau rugi. Sehingga kita perlu menimbang baik buruknya. Pernikahan itu menyatukan dua hati yang berbeda, agar bisa saling melengkapi. Menerima satu dengan yang lain, bukan menyamakan perbedaan yang hakikatnya tidak akan pernah bisa sama!" ujar Faiz, Farah menunduk. Lalu mengangguk perlahan.
Farah mengerti dengan cara Faiz mengenalnya. Layaknya Farah yang ingin mengatakan kejujuran sebelum adanya pernikahan. Semua itu murni karena rasa takut akan cintanya yang takkan mulus. Farah tidak ingin mengalami kegagalan dalam pernikahannya. Dia hanya ingin semua terjalin setelah kejujuran Farah. Ternyata sebelum kejujuran terucap, Faiz lebih dulu mencoba mengenal Farah. Semua dia lakukan demi keyakinan menuju jannah-NYA.
Faiz mencoba mengenal sang calon makmum. Bukan merendahkan atau meragukan keimanan Farah. Namun mencari cara agar mereka mudah saling mengenal. Pernikahan mereka yang terjalin tanpa cinta di awal. Tidak akan dengan mudah menyatu. Faiz hanya mencari cela. Agar dia bisa menjadi imam yang terbaik ungtuk Farah.
__ADS_1
"Aku anak yang terlahir dalam keluarga yang berantakan!" ujar Farah lirih, Faiz tersenyum simpul. Sekilas Faiz menatap Farah lekat, melihat dua mata indah yang menyimpan duka. Seandainya Faiz mampu, ingin rasanya Faiz mendekap tubuh Farah. Agar sejenak Farah lupa akan beban hidupnya.
Namun harapannya tak sesuai kenyataan. Farah dan Faiz masih belum terikat dalam ikatan suci pernikahan. Apapun yang mereka lakukan masih tidak pantas dan akan menimbulkan fitnah dan zina. Farah dan Faiz tidak akan mudah menyatu. Bila ada ganjalan yang masih belum terungkap. Memang pengertian ada setelah pernikahan. Namun alangkah baiknya bila keduanya saling mengenal sebelum melangkah menuju ikatan yang lebih suci.
Faiz menatap lekat Farah, raut wajahnya seolah menyimpan ketakutan yang teramat. Rasa remdah diri Farah membuatnya merasa tak pantas dan malu pada Faiz. Meskipun tak pernah Faiz berpikir dia jauh lebih baik dari Farah. Sebaliknya dengan Farah, Faiz ingin menjadi manusia yang jauh lebih baik.
Setiap manusia tercipta dengan kelemahan dan kelebihannya. Tidak ada satupun manusia yang lebih tinggi atau lebih rendah. Hanya iman yang membedakan satu dengan yang lainnya. Bukan harta atau jabatan, setiap manusia memiliki masa lalu yang takkan pernah bisa dipungkiri. Sebab setiap orang mampu melakukan kesalahan dan tak ada yang sempurna dalam dunia ini.
"Seorang anak terlahir suci, dia anugrah yang Allah SWT titipkan. Seandainya sang anak harus hidup dalam keluarga yang tak sempurna. Lalu pantaskah dia menginginkan. Anak lain lahir dengan kemalangan yang sama dengannya. Hidupmu mungkin tak sempurna, tapi hidup putra kita akan sempurna. Aku akan pastikan semua itu. Sekarang katakan, kapan aku bisa melamarmu? Jangan biarkan aku menunggu terlalu lama. Terkadang kenekatan laki-laki bisa berakibat fatal!" ujar Faiz, Farah menggeleng malu.
Perkataan Faiz membuat raut wajah Farah memerah bak kepiting rebus. Seandainya dia tidak bercadar. Tentu Faiz akan bisa melihat rasa malu Farah akan godaan Faiz. Farah terus menunduk. Dia terlalu malu melihat ke arah Faiz. Sebaliknya Faiz semakin nekat, dia tak lagi bisa memalingkan wajahnya dari Farah. Dua mata indah Farah, seakan bius yang membuat Faiz terlena. Larut dalam mimpi indah yang tak terbantahkan.
"Datanglah jika kamu yakin, aku tidak akan melarang atau mengiyakan. Bukan aku yang seharusnya yakin akan dirimu, tapi dirimu yang harus siap menerima lemahku!" tutur Farah, sontak Faiz mengangguk setuju.
Faiz sudah cukup mengenal Farah, tidak ada lagi keraguan dalam dirinya menerima Farah. Sekali Faiz yakin, selamanya dia yakin akan kebaikan dan ketulusan hati Farah. Pikiran Faiz hanya fokus pada Farah. Dia berharap segera meminang Farah. Cukup sekali dia kehilangan cinta. Tak pernah lagi dia ingin kehilangan Farah cinta terakhirnya.
"Nanti malam aku datang, aku akan datang meminangmu. Katakan apa yang kamu inginkan menjadi mahar pernikahan kita kelak?" ujar Faiz lantang, Farah tersenyum dibalik cadarnya. Dia merasa bahagia melihat Faiz begitu yakin akan rasa diantara mereka.
Farah terdiam ketika Fai mengatakan soal mahar. Sebagai seorang wanita, mahar adalah hak yang harus bias dipenuhi imam. Sebagai calon imam Farah. Faiz harus mempu menyanggupinya. Lalu Farah mendongak menatap Faiz.
"Apapun yang kamu berikan akan menjadi rejeki yang tak ternilai. Aku sudah sangat bersyukur bisa menjadi makmummu. Tidak ada lagi rejeki yang lebih besar dari pinanganmu!" tutur Farah lirih lalu menunduk malu. Faiz tersenyum bahagia mendengar perkataan Farah. Dia percaya Farah mampu mengikuti langkah kakinya yang berat.
__ADS_1
"Ana Uhibbuka Fillah!" ujar Faiz lirih, Farah mengangguk seraya tersenyum dibalik cadarnya. Ungkapan Faiz meruntuhkan keraguan yang ada dalam dirinya.
"Pinang aku dengan bismillah, nikahi aku dengan inti Al-Quran dan berikan aku mahar dengan Alhamdullilah!" ujar Farah lirih, Faiz mengangguk mengiyakan.