KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Sebuah Keputusan


__ADS_3

Sejak semalam Hana mual dan muntah. Tak ada satu makananpun yang berhasil Hana telan. Padahal usia kandungan Hana sudah melewati trimester pertama. Jadi kemungkinan Hana mual sudah terlewati. Berkali-kali Hana bolak-balik ke kamar mandi. Rafa sampai tidak tega melihat Hana lemas. Sungguh kehamilan Hana kali ini tidak mudah. Teekadang sangat tenang. Sampai Rafa merasa tidak di butuhkan. Kadang sangat rewel sampai Rafa tak mampu berkata-kata.


Semalaman Hana tidak memejamkan kedua matanya. Saat akan tertidur, Hana selalu mual dan muntah. Alhasil baik Rafa dan Hana tidak ada yang tertidur. Hana baru terlelap tidur setelah sholat subuh. Baru saat itu Rafa merasa lega. Akhirnya dia bisa melihat Hana terlelap. Setelah yakin Hana terlelap, Rafa turun ke bawah. Dia berniat membuat secangkir kopi. Rafa memutuskan untuk terus terjaga. Sebab sebentar lagi pagi dan Rafa harus pergi ke kantor.


"Kiara, sedang apa kamu? Sepagi ini sudah membantu bibik di dapur!" sapa Rafa, Kiara menoleh dengan tatapan yang heran. Dia melihat jelas kedua mata Rafa yang merah. Wajahnya sedikit lusuh, tapi masih terlihat tampan dan segar. Sebab Rafa baru saja sholat subuh. Jadi dia terlihat segar, meski kedua matanya sangat mengantuk.


"Seharusnya aku yang bertanya, untuk apa kak Rafa datang ke dapur? Kak Rafa membutuhkan sesuatu. Kemana kak Hana aku tidak melihatnya? Biasanya kak Hana yang ada di dapur sebelum diriku!" ujar Kiara heran, Rafa diam menatap Kiara sembari tersenyum. Sebaliknya Kiara semakin heran, bukan menjawab malah Rafa tersenyum.


"Kiara, minta bibik membuatkan aku secangkir kopi. Kak Rafa tunggu di ruang tengah. Mengenai kakakmu Hana, dia baru saja tidur. Sejak semalam Hana mual dan muntah. Baru setelah sholat subuh dia tertidur. Jadi biarkan saja dia tidur, kalau sudah bangun nanti. Kamu siapkan sarapannya!" ujar Rafa lirih, Kiara menngangguk mengerti. Rafa meninggalkan dapur menuju ruang tengah. Tepat setelah Rafa sampai, Rizal juga baru keluar dari kamarnya. Mereka berdua memutuskan berbicara berdua.


Tak berapa lama Kiara datang membawa dua cangkir kopi. Setelah memberikannya pada Kakak dan suaminya. Kiara memutuskan kembali ke dapur. Meninggalkan Rafa dan Rizal duduk berdua. Memang Kiara dan Rizal masih tinggal di rumah Rafa. Kiara belum ingin meninggalkan Rafa. Dia masih ingin tinggal bersama Hana. Dia meminta pengertian Rizal, agar mengizinkan dirinya menemani Hana yang sedang hamil. Rizal layaknya Rafa yang tak pernah ingin membuat Kiara atau Hana kecewa. Sebisa mungkin mereka berdua akan membuat Kiara atau Hana bahagia.


"Rizal, proyek yang di pulau XX itu. Bisakah kamu mengambil alih untukku. Bukankah perusahaanmu bekerja dalam bidang yang sama. Aku tidak ingin mengurusnya lagi. Banyak faktor yang membuatku harus melepasnya!" ujar Rafa tegas, sesaat setelah meminum kopinya. Rizal terdiam membisu, dia terkejut sekaligus heran mendengar Rafa melepas mega proyek itu.


Banyak perusahaan bersaing mendapatkan proyek itu. Bahkan banyak yang melakukan kecurangan hanya demi mendapatkan proyek tersebut. Namun dengan mudah Rafa ingin memberikan proyek tersebut padanya. Meski Rizal bekerja dalam bidang yang sama dengan Rafa. Namun Rizal cenderung mengerjakan proyek-proyek kecil yang kebanyakan berada di dearah-daerah terpencil.


"Bukan maksudku menolak permintaanmu. Namun kak Rafa mengertahui jelas. Aku tidak pernah mengerjakan proyek sebesar itu. Aku mendengar proyek itu sebuah mega proyek yang melibatkan banyak perusahaan besar. Aku masih belajar dan tak memiliki kemampuan yang cukup untuk menanganinya. Memangnya kenapa kak Rafa ingin melepas proyek tersebut? Bukankah selama ini baik-baik saja!" ujar Rizal sopan, dia benar-benar tidak mampu menerima tanggungjawab sebesar itu. Perusahaannya masih harus belajar, agar bisa menyelesaikan proyek sebesar itu. Sedangkan tim yang dimiliki Rafa, sudah tidak perlu diragukan lagi. Rafa sendiri sudah sangat mampu menyelesaikan proyek itu. Kemampuan Rafa dalam memimpin perusahaan sudah tidak perlu diragukan lagi.

__ADS_1


"Entahlah Rizal aku bingung memikirkan proyek ini. Ketidakmampuanku bukan masalah menyelesaikan proyek ini. Aku lebih kepikiran masalah pribadi yang berputar dalam lingkup proyek ini. Aku tak mungkin meneruskan proyek ini. Meski aku sadar proyek ini menghasilkan keuntungan yang tak sedikit. Namun aku akan rela melepas keuntungan itu. Demi menjaga perasaan Hana. Aku jauh lebih rugi bila kehilangan senyum Hana pelita hatiku!" ujar Rafa lirih, Rizal menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Dia tidak mengerti arah pembicaraan Rafa. Rizal sama sekali tidak memahami, hubungan senyum Hana dengan mega proyek yang dikerjakan Rafa kali ini. Rizal sungguh tak memahami perkataan Rafa, hanya demi sebuah senyum Hana. Rafa melepaskan proyek yang memiliki keuntungan tak sedikit. Disaat Rizal bingung memikirkan maksud dibalik keputusan Rafa. Sebaliknya Rafa terlihat tenang tanpa beban dan sangat santai. Seakan proyek besar yang ditanganinya tidak ada artinya.


"Kak Rafa, apa yang sebenarnya terjadi? Apa kak Hana melarangmu meneruskan proyek ini? Memangnya kenapa dia melarangmu? Aku sungguh tidak percaya. Jika kak Hana akan melarangmu!" cecar Rizal heran, Rafa menggeleng lemah. Rizal semakin bingung memikirkan maksud di balik keputusan Rafa. Tak berapa lama Rizal mengangkat kedua tangannya. Seakan menyerah mencari alasan dibalik keputusan Rafa. Rizal tidak mampu lagi memikirkan kemungkinan alasan Rafa mundur dari mega proyek tersebut. Rafa terkekeh melihat Rizal yang sedang kebingungan. Padahal di hanya ingin menawarkan saja pada Rizal. Bukan malah ingin melihat Rizal kebingungan.


"Baiklah aku akan mengatakan alasan di balik keputusanku. Kamu mengetahui bukan, proyek ini dikerjakan oleh gabungan beberapa perusahaan. Meski semuanya ada di bawah komandoku sebagai perusahaan yang ditunjuk sebagai penanggungjawab penuh!" ujar Rafa lirih, terlihat Rizal mengangguk mengerti.


"Lantas dengan tanggungjawab sebesar itu. Apa alasan yang begitu penting? Sampai kak Rafa ingin melepas proyek ini dan hubungannya dengan kakak ipar apa?" ujar Rizal bingung, Rafa tersenyum simpul. Dia melihat sahabat yang kini menjadi adik iparnya bingung memikirkan keputusannya yang tak masuk akal.


"Proyek ini berada di bawah tanggungjawabku. Namun perusahaan yang tergabung, bukan wewenangku memilih siapa saja rekan yang akan bekerjasama denganku. Aku baru mengetahui siapa saja rekanku? Saat aku mulai mengerjakan proyek ini kemarin. Ternyata perusahaan Sesil dan Alfian terlibat dalam pengerjaan proyek ini. Aku memang mengakui kemampuan Sesil dan Alfian. Mereka berdua memiliki kemampuan yang tak perlu diragukan lagi. Namun hubunganku dengan mereka di masa lalu membuatku takut mendekat pada mereka!" tutur Rafa, Rizal diam menyimak penjelasan Rafa.


"Sesil dan Alfian dua orang yang begitu dekat denganku. Sesil wanita yang pernah ada dalam hidupku dulu. Jauh sebelum aku mengenal Hana. Dia wanita yang pernah membuatku merasa sangat dicintai. Namun saat aku bertemu Hana, aku mulai menyadari hubunganku dengan Sesil tak lebih dari hubungan penuh napsu. Hubungan yang tak seharusnya terjadi, sesuatu yang sampai detik ini aku sesali. Bahkan secara terang-terangan Sesil masih menyimpan rasa untukku. Meski dia tak pernah berniat merebutku dari Hana. Namun dia telah memintaku menjadikan dirinya yang kedua. Semua hanya demi napsu sesaatnya. Sedangkan Alfian sahabat yang pernah kukenal dalam dunia malam. Bersamanya kulalui hari-hari dengan minuman dan kehidupan malam lainnya. Meski sekarang dia mengetahui aku tidak ingin menyentuh seua itu. Tak pernah Alfian mengajakku ke tempat seperti itu. Namun baik Sesil atau Alfian mampu membuatku kembali ke dunia yang pernah membuatku menjauh dari-NYA. Aku tidak ingin mendekat pada mereka. Jika kelak mereka bisa membuatku kembali ke dalam hidup yang penuh maksiat. Keberadaan Sesil dalam proyek itu bisa membuat Hana terluka. Aku tidak ingin melihat Hana cemburu. Setiap kali memikirkan aku bertemu dengan Sesil. Meski aku yakin, Hana mengetahui jika aku tidak akan tertarik pada Sesil. Sebab itu aku putuskan untuk melepas proyek ini!" tutur Rafa, Rizal terperangah mendengar perkataa Rafa. Dia tidak pernah menyangka, seorang pengusaha sukses. Memikirkan perasaan istrinya, dibalik keuntungan yang selalu menjadi alasan para pengusaha bersaing mendapatkan proyek-proyek besar.


"Aku kagum padamu kak. Kamu lebih memilih menjaga perasaan kak Hana. Daripada mendapatkan keuntungan yang tidak sedikit. Padahal meski kak Rafa terus mengerjakan proyek ini. Kak Hana tidak akan pernah menyadari, bahwa kak Rafa bertemu dengan Sesil. Kak Hana tak pernah ingin ikut campur urusan perusahaan. Aku akan membantumu, tapi bulan mengerjakan proyek ini sepenuhnya. Aku akan menggantikanmu mengambil alih wewenang proyek ini. Namun tetap dibawah arahanmu!" ujar Rizal tegas, Rafa mengangguk pelan. Rizal melihat sisi pengusaha yang lain. Dia mulai belajar sesuatu dari Rafa. Bahwa tidak selamanya keuntungan menjadi hal yang lebih penting dari senyum sang istri. Memang pemikiran yang tidak masuk akal. Namun sangat logis bagi seorang suami yang mengerti pengorbanan seorang istri.


"Terima kasih Rizal, aku akan menghubungi Adrian untuk menyiapkan semua berkasnya. Dia akan membantumu mengerjakan semua proyek ini. Aku akan memantau dan mengawasi dari jauh. Setidaknya sekarang aku bisa fokus memikirkan kondisi Hana. Sejak semalam saat aku melihat Hana kesulitan. Aku tidak tega dan tetap diam bertemu dengan Sesil. Meski aku tak pernah berpikir untuk menjalin hubungan dengan Sesil. Sangat tidak adil menurutku untuk Hana. Ketika aku bisa bertemu Sesil, Hana kesulitan mengandung putraku. Dalam semalam aku melihat pengorbanan Hana, belum saat dia melahirkan. Hana akan merasakan sakit yang aku sendiri tak mampu membayangkan!"

__ADS_1


"Kak Rafa, aku melihat cinta yang takkan mudah goyah. Memang sebaiknya kita menghindar dari sesuatu yang mungkin membuat kita terjebak. Sebuah sikap yang bijak, pemikiran yang tak mudah. Namun inilah hidup yang harus kita jalani. Terkadang memilih itu sulit, apalagi diantara dua pilihan yang sama-sama baik. Namun aku percaya selama menempatkan iman sebagai landasan. Niscaya kita akan menemukan jalan yang terbaik diantara yang baik. Kak Rafa memutuskan melepas tanggungjawab sebagai pengusaha. Demi menjadi seorang suami dan papa yang baik untuk keluarga kecilmu. Sebab tanggungjawab sebagai kepala keluarga jauh lebih besar. Daripada bertanggungjawab menjadi seorang pengusaha sukses. Jika akhirnya hidup tanpa sebuah keluarga!" ujar Rizal lirih, Rafa mengangguk mengerti. Hana terdiam mematung mendengar semua perkataan Rafa. Dia tak pernah menyadari cinta Rafa yang begitu besar padanya. Hana menatao lekat wajah Rafa yang terlihat tenang saat berbicara dengan Rizal. Seakan dia tidak merasa rugi melepas proyek sebesar itu demi menjaga perasaan Hana.


"Kenapa kamu harus mencintaiku sebesar ini? Aku merasa tak pantas mendapatkan cinta sebesar ini. Aku hanya wanita penuh kekurangan. Aku tak pernah bisa membuatmu merasa tenang. Sebaliknya kamu selalu membuat diriku merasa berharga. Kebaikan apa yang pernah aku lakukan? Aku memilikimu, seseorang yang menempatkan diriku di atas semua kepentinganmu. Sedangkan aku selalu menjadikanmu berada pada posisi salah. Semua orang selalu menyalahkanmu, akan setiap luka dan air mataku. Aku takkan pernah bisa membalas cintamu yang begitu besar. Cintamu membuatku beruntung sekaligus takut. Aku takut kehilangan semua kasih sayang ini. Aku mulai merasa nyaman dan bergantung padamu. Maafkan aku, jika aku telah menempatkanmu dalam posisi yang sangat sulit. Terima kasih telah mencintaiku dengan sepenuh hati!" batin Hana, lalu menghampiri Rafa.


"Sayang, kenapa turun kemari? Aku baru akan menemuimu. Maaf aku lama meninggalkanmu!" ujar Rafa lirih, Hana duduk di samping Rafa. Bersandar pada tubuh Rafa, seketika Rafa merangkul tubuh Hana. membenamkannya dalam dada bidangnya. Hana mendengar detak jantung Rafa. Detak jantung yang seakan selalu memanggil namanya dengan penuh cinta. Rizal melihat kehangatan yang terjalin tanpa sebuah kata.


"Kak Rafa, hanya sebentar kamu meninggalkanku. Namun dengan penuh penyesalan kamu meminta maaf. Bukan dirimu yang seharusnya meminta maaf. Namun diriku, sebab aku selalu merepotkan dirimu. Terima kasih atas cinta yang takkan mampu akan balas. Hanya kesetiaan dan keteguhan hati, yang kujanjikan sebagai balasan besarnya cintamu!" batin Hana sembari mendongak menatap Rafa.


"Kak Rafa, terima kasih!" ujar Hana lirih, Rafa menunduk menatap wajah Hana. Rafa mengeryitkan alisnya tak mengerti. Kiara datang membawa roti bakar. Dia melihat Rafa dan Hana yang duduk berdampingan dengan mesra. Kiara tersenyum bahagia melihat kakaknya hidup dipenuhi kebahagian dan kehangatan.


"Sayang, kenapa berterima kasih? Aku tidak memberimu apa-apa?" ujar Rafa, Hana menggeleng lemah.


"Terima kasih telah memberikan hati ini sepenuhnya padaku. Kamu menjadikanku wanita yang paling berharga dan satu-satunya dalam hidupmu!" ujar Hana sembari meletakkan tangannya tepat di dada Rafa. Hana menempelkan kepalanya, lalu mencium lembut dada Rafa. Seakan mencium hati Rafa yang dipenuhi namanya. Seketika Rafa mencium puncak kepala Hana dengan lembut dan mesra.


"Terima kasih, telah hadir dalam hidupku. Kamu menjadikanku seorang laki-laki yang sempurna. Teruslah ada disampingku, dirimu dan kedua putra kita akan menjadi senyum dan hidupku!" ujar Rafa lirih, lalu mendekap erat Hana.


"Kak, kalian sungguh tidak berperasaan. Kami masih ada disini, tapi kalian sibuk bermesraan. Kak Rizal, kita pergi saja daripada tidak dianggap!" ujar Kiara menggoda Rafa dan Hana. Dia dan Rizal berdiri hendak meninggalkan mereka berdua.

__ADS_1


"Kiara, kamu pergi bukan kesal pada kami. Sebenarnya kamu sedang mencari alasan ingin bersama Rizal!" sahut Rafa, Kiara menoleh manatap Rafa kesal. Sebaliknya Rafa terkekeh, dia merasa menang telah membuat Kiara kesal.


...☆☆☆☆☆...


__ADS_2